Pages

Manis Tanpa Gula

Kamis, 05 November 2015




Kalau masih marah atau kecewa saat ada yang merendahkan wajah atau fisik kita itu artinya kita belum yakin kalau kemuliaan manusia itu tidak terletak pada penampilannya, melainkan perilaku dan manfaatnya bagi sesama. Setiap orang diciptakan sudah sempurna antara dirinya dan sang pencipta. Ibarat buah, manisnya mangga pasti beda dengan manisnya manggis, keduanya tidak bisa dibandingkan mana yang lebih manis karena meraka sudah manis apa adanya dengan fungsi dan bentuknya. Manis mereka sama-sama tanpa gula dan itu yang membuat mereka menjadi nikmat saat kita menyantapnya.

 Pun dengan manusia, setiap kita sudah dilahirkan apa adanya dan memiliki kadar kemanisan berbeda tetapi tidak mengurangi nilai yang tertanam di dalamnya.  Yang membuat kita sering tak pede dengan diri kita apa adanya itu karena kita sering lupa bahwa label cakep atau tidak itu  parameter yang dibuat oleh sifat manusia yang suka membandingkan meskipun seringkali perbandingan itu berbeda skala dan konteksnya. Selain itu, iklan-iklan yang terus merasuki bawah sadar kita  juga mempengaruhi cara pandang dan ukuran dalam memandang sesama, di samping masih juga ada sisa-sisa peninggalan penjajah yang mendoktrin kita kalau yang putih dan mancung   itu lebih baik daripada orang kita. Maka ya wajar saja kalau produk pemutih wajah laris manis bak kacang goreng. Bahkan ada iklan yang absurd banget, mengatakan kalau kelicinan wajah itu menunjukkan kelasnya, kalau orang yang cara mikirnya kek gitu, pantesnya kelas berapa ya? :-D

Ukuran mulia atau sebaliknya itu bukan menurut kacamata manusia, melainkan menurut-Nya. Hidup terlalu luas, sementara umur terbatas. Tak ada gunanya membuang waktu untuk melayani orang-orang yang tanpa sadar sedang merendahkan dirinya sendiri. Percayalah, kita tidak akan menjadi rendah oleh hinaan selama kita memiliki keyakinan dan ukuran-ukuran yang pas dan sesuai untuk diri kita dan pemilik semesta.

 Hal ini juga mengingatkan daku pada pengalamanku sendiri saat secara langsung mengetahui ada yang mengolok-olok fisik dan wajahku, sesaat memang marah, namun setelah reda kuberi mereka ucapan terimakasih karena dengan suka rela sudah menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya dan secara tak langsung mengurangi dosa-dosa saya atas perilakunya. Maka, ucapan apa lagi yang lebih pantas selain terimakasih sebanyak-banyaknya. Iyo pora? Baru tahu mereka kalau dari sononya daku memang sudah manis apa adanya. #eh :-P :-D
#FAS

Aksara Muksa

Senin, 02 November 2015

Pernah kutitipkan kenangan pada sepotong senja, tentang aksara yang muksa. Sesekali aku menjenguknya. Bukan untuk mencari jejak atau siluetnya. Melainkan untuk berterima kasih karena tiadanya menghadirkan kemilau kemuning senja sepanjang ingatan yang ada. ‪#‎FAS‬

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS