Pages

Review Status Facebook Februari 2016

Sabtu, 31 Desember 2016

🖊Asyiknya membangun rumah sendiri itu kita bisa menuangkan ide dan impian, sekalipun terkadang harus melalui diskusi yang panjang dan melelahkan, semua terbayar melihat hasilnya di lapangan. Beruntung memiliki dua lelaki yang memahami kemauanku yang seringkali spontan. Mereka beruntung juga sih, lewat daku kesabaran dan kehebatan mereka sebagai bapak dan suami, bisa diuji dan dibuktikan. :-D :-P

🖊Saat diberitahu bahwa di Ponorogo lagi ada pameran buku, dengan antusias Kresna menimpali,"Di mana, Buk? Terus kapan mau ke sana?"

AHA! Rupanya pelan namun pasti dia sudah mulai ketularan ibu dan Akungnya. Ada gunanya selama setahun terakhir ini ibunya puasa beli buku demi menambah koleksi bacaannya. Semoga, ke depannya teman-temannya juga ketularan virus membaca.

🖊Di saat orang lain bisa meraih harapan, sebagian orang ada yang sinis karena merasa tersaingi atau iri. Sebagian yang lain ikut bahagia dan bersyukur seolah itu terjadi pada dirinya sendiri. Mari bertanya ke dalam diri, kita yang mana? Rasa = Do'a

🖊Sukses ..sukses...sukses. Entah mengapa kita begitu terosebsi dengan kata itu. Banyak orang stres dan tak bisa tidur karena terbebani oleh target-target serta ukuran yang kadang dibuat oleh orang lain. Semakin tinggi ukuran yang dicanangkan, katanya semakin sukses label yang disandang. Begitu berat ya berada di ketinggian itu?

Lebih asyik jadi orang biasa saja kalau begitu. Selama masih bisa menyapa pagi, tersenyum, menyesap kopi, membuat status dan menyapa kalian di sini; suksees ini telah kumiliki....:-D

Selamaat pagiii....

🖊Seseorang dikatakan dewasa dan matang apabila ia sudah mampu membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Kuliner adalah salah satu contoh bentuk dari keinginan yang tiada habisnya. Membuat kita hanya mau dan mengejar yang kita sukai, memanjakan lidah tanpa peduli kesehatan dan masa nanti. Sementara hidup membutuhkan begitu banyak rasa yang seringkali tidak kita sukai agar tercapai kekuatan jasmani dan ruhani. Untuk itu  kita mesti mau "puasa"  dan menahan diri.

Mereka yang mengejar keinginan memang akan merasakan kesenangan dan kepuasan hati, sementara mereka yang mau "berpuasa" akan memperoleh kebahagiaan dan ketenangan batin tersendiri. Apa pun pilihannya, resiko toh diri sendiri yang akan merasakannya. Eh, nggak juga ding, keluarga dan anak cucu nanti juga ikut merasakan akibat dari pilihan-pilihan yang kita buat di masa ini.

🖊Halal itu kalau duit yang dipakai buat mencukupi sandang pangan papan  dari hasil keringat sendiri, bukan dari hasil curian atau riba.

🖊Mengikuti candaan teman-teman sma di grup WA, jadi ingat tulisanku yang ini.....:-D
*****
NOSTALGIA

Wajah cantik itu berkerut-kerut memandangi siapa yang baru saja ditabraknya, mencoba mengingat sosok yang kini berdiri di depannya. Mukanya pucat seakan melihat hantu. "Tidak mungkin?!" Bantah hatinya.

"Mbak tidak apa-apa?" Suara bariton itu mengejutkan lamunannya. Suara yang sama. Suara yang pernah membuatnya begitu ceria setiap dering telpon berbunyi untuknya. Masih tetap sama, meski agak berat intonasinya. Tungguu...apa dia tidak salah dengar?? Mbak?? Barusan lelaki yang bertahun-tahun ia rindukan memanggilnya mbak? Jadi...jadi..ia tak mengenaliku? Sudah sedemikian berubahnyakah diriku hingga ia tak mampu mengenaliku? Batinnya menggugat tak terima.

Tahun demi tahun, Siska, perempuan cantik yang telah di ambang senja itu membawa asa. Mengharapkan sebuah keajaiban membawanya kembali untuk berjumpa dengan lelaki yang terus hadir dalam mimpinya. Dan kini impian itu telah berhasil ia raih. Tanpa diduga pertemuan terjadi. Namun apa realitanya?? Ternyata semua hanya kesemuan belaka. Ia bermimpi sendirian. Mimpi yang telah membuatnya tersesat dan mengabaikan banyak kesempatan untuk menikmati kebahagiaan.

Tanpa menjawab pertanyaan lelaki itu, Siska buru-buru pergi. Hanya satu keinginannya, ingin segera sampai di rumah dan memeluk suaminya. Lelaki yang telah begitu baik dan sabar mencintainya meskipun tahu hati Siska tidak sepenuhnya bersamanya. Siska ingin menyulam hari -hari yang telah ia sia-siakan dengan tekad pengabdian dan kesetiaan.

Nostalgia oh nostalgia...seindah apapun cerita yang ada, semua hanyalah sisa-sisa cerita yang telah usai di telan masa.

Terkadang nostalgia bisa membuat
terlena, membawa rasa untuk merajut kembali cerita-cerita yang belum selesai tertelan masa.

Semanis apapun nostalgia, realita lebih indah untuk diberi makna.

#FAS_08112014

🖊Belajar melihat "kasunyatan" itu tidak diajarkan di sekolah. Kita butuh pengalaman empiris untuk merasakan dan membuktikannya. Seperti rasa cabe, tidak akan mampu dijelaskan atau diwakili oleh kata, kecuali kita merasakan sendiri pedasnya.

🖊Saat berada di pabrik rokok, pandangan Rayya terpukau oleh kecantikan dan kesederhanaan seorang pekerja. Perlahan ia mendekati dan menyapa,"Hallo Mbak. Mbak itu kok cantik bangeet... Namanya siapa? Mbak itu nggak kalah lho dengan artis-artis di Jakarta?"
"Suruh mereka yang kalah sama saya, Mbak."
"Maksudnya?"
"Soalnya kan  bintang-bintang  film  sama artis-artis, nggak ada mbak yang berani jadi buruh pabrik kayak saya."

Jawaban tak terduga dari perempuan bernama Fani itu sontak membuat Rayya, yang notabene salah seorang dari bintang itu terdiam. Raut mukanya menyiratkan keterkejutan yang mendalam.

"Padahal, semua yang kerja di sini banyak yang berani menjadi bintang film, ya mbak Fani, ya?" Sahut Arya menimpali keduanya.
#Rayya #cahayadiatascahaya

"Daya tarik dan kecantikan seorang perempuan tidak terletak pada gemerlapnya dandanan dan gaya hidupnya, melainkan terletak pada kekuatannya bertahan dan berjuang menghadapi kerasnya kehidupan." #cinta_dan_pengabdian

🖊Tautan dan foto selfie, itulah mayoritas isi beranda akhir akhir ini. Apakah itu pertanda kalau kita ini sudah menjadi produk manusia malas berpikir dan menjadi "pengikut" jaman tanpa mau mendengarkan nurani?

🖊Banyak wanita seolah-olah diam dan  mengalah saat diperlakukan tak baik oleh pasangannya. Mereka terlihat sabar, padahal serupa api dalam sekam. Dalam hati kecilnya mereka juga ingin berontak dan mengakhiri drama dalam kehidupannya. Apa daya, sebagian dari mereka memilih diam karena tak memiliki daya tawar untuk keluar dari lingkaran. Daya tawar seorang wanita adalah tekad, kecerdasan, ketrampilan, dan keberanian menghadapi kenyataan. #catatanfas

🖊Kecantikan fisik wanita memang menjadi daya pikat pertama untuk pria jatuh cinta. Namun, seiring masa, kecantikan batinlah yang akan membuatnya bertahan dan bahagia. #catatanfas

Begitulah pengakuan dan rahasia kaum pria....:-D

🖊Sering merasa tidak adil atas perlakuan orang lain? Ya. Mungkin banyak yang merasa demikian jawabannya. Pun dengan yang nulis ini. Awalnya memang terasa sangat menyakitkan dan terjadi penolakan demi penolakan untuk mampu menerimanya sebagai cara yang indah untuk melapangkan dada. Huuft! Tidak adil kok, bagaimana mungkin bisa diterima dengan lapang dada? Oke..oke...sekarang pertanyaaannya, adil itu yang bagaimana? Sama rata, sama rasa, sama haknya? Kalau ukuran adil seperti itu, sudah pasti rasa kecewa dan sakit hati yang mendera. Terus bagaimaanaa biar kita bisa menerimanya sebagai anugerah dan menjadi sumber energi untuk bahagia?

Balik ke status sebelum ini ya...setiap jiwa dilahirkan dengan takdir yang berbeda. Ada yang seperti pohon hias atau pohon jati. So, kebutuhan pohon hias dan pohon jati pasti berbeda. Nah, setelah kita menemukan dan mengetahui kalau hak keduannya tak sama, bagi yang ditakdirkan sebagai pohon jati; segala perlakuan atau keadaan yang awalnya sebagai bentuk ketidakadilan akan dijadikan pemicu untuk terus berkembang dan menunjukkan kualitas terbaiknya. Setelah sampai di titik ini, sebuah kesadaran akan muncul bahwa semua itu memang sudah seharusnya diterima demi kebaikan. So, adil atau tidak adil itu tergantung ukuran mana yang kita pakai untuk memaknainya.

#FAS, 11032015

🖊Tema smart happiness pagi ini adalah Man, Woman, and Love. Saat ditanya mbak Ola, mengapa memilih tema ini, dengan suara khasnya yang ceria pak Arvan menjawab,"Secara sunatullah, hukum alam, cinta seharusnya hanya terjadi antara pria dan wanita. Secara kebenaran universal, tidak ada cinta antara wanita dan wanita, pria dan pria agar peradaban terus terjaga."

🖊Pernikahan yang langgeng dan bahagia harus memiliki tiga unsur cinta yang sempurna. Jika pernikahan bermasalah bisa jadi ada salah satu, dua, atau bahkan ketiganya yang tak lagi ada. Ketiga unsur itu adalah : ketertarikan fisik ( passion), kedekatan emosional ( intimacy), dan komitmen.

Pernikahan yang sehat, menurut pak Arvan, bisa dilihat dengan cara sederhana. Pasangan yang memiliki ketiga unsur tadi; biasanya akan mudah bercanda dan obrolan mereka hal-hal yang ringan-ringan saja. #smarthappiness #arvanpradyansah

🖊Alhamdulillah...Alhamdulillah...rejekine mbanyu mili...mugi panjenengan sami semanten ugi...:-* :-*

🖊Seringkali kita itu disibukkan oleh hal-hal yang sama sekali nggak penting, tetapi sengaja diadakan biar terlihat beda dan penting. Penting untuk gengsi dan label kekinian maksudnya. Coba kita pikir, apa sih pentingnya makanan didekorasi sedemikian rupa, toh ujung-ujungnya dimakan juga? :-D

Kalau berkaitan dengan UUD ( jualan ), kita memang gampang dimanipulasi ya?

🖊Jaré simbah, bojomu durung mêsthi jodhomu. Lha pripun tho, mbah? Dadi ngéné, nduk...jodho kuwi kudu digolèki lan ditemokaké dhewe, senajan gusti Allah sing mènèhi kuncine. Kabèh gumantung teko olehmu angudi daya antara uwong loro karo.  Koyo piyé carané kayu karo gêni, iso amigunani nèk uwes dadi siji masio bedo sifaté. Koyo lêmah karo banyu piyé carané bèn iso cemukul tetanduran, lan sak piturute. Intine, nèk kowé kekaro pingin jêjodhowan selawase, yo kudu gêlêm ngangsu kawruh, nemokake, lan migunakaké kekurangan lan kaluwihan.

"Mêkatên nggih, Mbah?"

🖊Pagi-pagi ngobrol sama Bapak. Begitu menutup telepon ada gelombang bahagia yang menari-nari seperti bocah yang mendapatkan hadiah.Ternyata, bersama beliau, daku masih tetap kanak-kanak berapa pun uban di kepala. :-D

🖊Bagi seorang perempuan di antara sekian banyak hal yang membuatnya berbunga-bunga adalah  mendapatkan pengakuan dari pasangan bahwa kehadirannya sangat bermakna dan membawa banyak perubahan positip dalam hidupnya.

Pun sebaliknya, seorang pria juga akan merasakan hal yang sama kalau mendapatkannya.

Sayangnya tidak semua orang berani mengatakan  hal sederhana ini ya?  :-P :-D
#marisalingmengakuinya

🖊Satus ini mengingatkan percakapanku tadi dengan adik,"tandane nèk jodho ki gampang. Nèk uripmu luwèh apik, tenang, terus rezeki lancar; kuwi berarti hubunganmu oleh Ridho."
Kalimat ini dulu juga kami jadikan pegangan dan Alhamdulillah terbukti...:-* :-*

🖊Tidak pernah ada yang sama. Setiap waktu selalu ada yang berubah pada diri kita dan semesta. Kalau masih ada yang dari masa ke masa begitu-begitu saja kepribadian dan hidupnya; mungkin ia masih belum bangun dari mimpi panjangnya. #elenglanwaspadha

🖊têmên wong ilang yoo...dan kebanyakan adalah mereka yang bekerja di luar negeri. Entah alasan apa yang membuat seorang anak bisa tak menghubungi keluarga, seorang ibu/bapak  tega membiarkan anaknya dalam kecemasan dan kekhawatiran. Menurutku, mereka tidak hanya tegaan, tapi kejam!

Pernah merasakan gimana rasanya mencari orang yang tiba-tiba menghilang. Rasanya sangat menyakitkan dan tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Untung waktu itu Kresna yang entah dapat kekuatan dari mana, di usia yang baru dua tahun bisa menyadarkan ibunya. "Kresna tidak apa-apa tanpa papa, ma!" Walah, ternyata Kresna menepati janjinya. Tak terasa delapan tahun sudah berlalu. Meskipun tanpa setitik kabar pun dari orang yang mestinya bertanggung jawab atas penghidupannnya, ia tetap tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya. Ada banyak Kresna yang lain di luar sana, semoga mereka juga selalu diberi kekuatan dan kebahagiaan.

🖊Jika masih sering terganggu dengan komentar, pendapat, atau prasangka orang lain atas sebuah pilihan; jangan-jangan itu sinyal kalau kita belum yakin benar dengan apa yang sedang kita jalani?

🖊"Urip kuwi koyo numpak sêpéda motor, ndhuk. Awakmu kudu paham kapan nge-rem, kapan nge-gas bèn selamet teko tujuan. Nèk awakmu kuwi kan biasané opo-opo karepé cêpêt, lali ndelok kiwo tengen lan mburi. Untunge, saiki uwes ono wong sing iso nge-rem lan nyêteri awakmu. Ora kabèh uwong beruntung ngunu kuwi, lho. Sing luwih akèh nèkmu bersyukur lan ngabêkti..."

"Nggih, Mbah..." :-* :-)

🖊Berikanlah kepercayaan dan kemerdekaan kepada pasangan, maka ia akan menemukan batasan-batasan untuk setia dan menjaga.

🖊Banyak orang pergi ke tempat-tempat wisata, tetapi tetap saja hidupnya hampa dan merasa kurang piknik penyebabnya. Sebenarnya kalau mau ke satu tempat yang paling penting dan mendasar di dunia, kita akan menemukan banyak keajaiban dan keindahan yang tak terduga. Tempat itu ada di dalam jiwa.

🖊Kedekatan emosi tidak mengenal ruang dan waktu. Selama tidak ada amarah atau kebencian yang menutupi pintu hati, sejauh apa pun raga terpisah akan terasa dekat dan menyatu.

🖊Semakin tidak menuntut keadaan, keadaan akan nurut dan menyenangkan. #myquote

🖊FB itu bisa dijadikan media untuk melatih kekuatan diri. Di tengah samudera berita atau wacana yang mayoritas tak diketahui sumbernya, tak jelas kebenarannya, tak jelas apa motivasi di balik penyebarannya; sejauh mana kita bisa menahan diri untuk tidak tenggelam oleh arusnya?

🖊Perubahan "bungkus" tanpa diiringi perubahan kepribadian serupa gula-gula yang hanya enak dalam pandangan dan mulut, tetapi segera hilang manisnya setelah lewat tenggorokan.

🖊Selama puluhan tahun daku menyimpan ketakutan terhadap kucing. Tidak hanya pada fisiknya, segala macam tulisan atau gambarnya pun sedapat mungkin kuhindari. Naif banget, bukan? :-D

Semuanya bermula dari pengalaman  tak menyenangkan bersama kucing piaraan simbah. Sekitar umur tujuh tahunan,  saat daku tidur bersama simbah, ternyata ia  tidur di sebelahku. Berhubung terbangun dan kaget, secara reflek  memukulnya. Dan sebagai balasannya daku dicakarnya. Begitu dalam trauma itu meninggalkan luka. Bahkan jauh lebih dalam dan lama daripada trauma ditinggalkan yang hanya butuh beberapa tahun saja untuk menyembuhkannya. Eh, :-P

Alhamdulillah setelah sekian tahun terbelenggu oleh ketakutan yang bagi orang lain sangat tidak masuk akal ini, beberapa bulan yang lalu secara total trauma itu lenyap dari hidupku. Semua berawal dari kucing-kucing yang hidup dan beranak pinak di belakang rumah kami. Setiap kali memasak, kucing-kucing itu mendekati minta jatah. Mula-mula memberi mereka makan dari kejauhan. Lama kelamaan kuberanikan diri mulai memanggil mereka meskipun belum berani menyentuhnya. Dan, beberapa hari setelah hari bahagia kami, di rumah emak, Cilegon, melihat anak-anak bermain dengan kucing piaraannya yang manis banget daku berani menyentuhnya. Di situlah secara utuh, trauma itu hilang setelah berani menggendongnya.

Setelah kurenungkan, sepertinya ketakutan yang tersimpan di bawah sadar itu hilang karena terkalahkan oleh rasa nyaman dari dalam diri dan keyakinan bahwa bersamanya semua akan baik baik saja.

🖊Sebaik-baik nasihat adalah tindakan nyata. Tindakan yang didorong oleh niat mulia. Seperti sepasang suami isteri yang kemarin dikirim oleh-Nya ke rumah kami. Menempuh jarak yang lumayan jauh untuk melengkapi dan mengukir jejak indah bagi kami sekeluarga khususnya.

Jadi begini,  berhubung kendaraan di rumah terpakai semua, untuk suatu keperluan ke lain kecamatan bapak meminjam sepeda motor Eko, pemuda sebelah rumah yang kebetulan sedang membantu kami mengerjakan rumah. Saat sedang mengisi bensin bapak tak menyadari kalau stnk yang ditaruh di dalam jok jatuh. Sampai sore harinya saat  mereka menanyakan alamat rumah Eko  dan mengutarakan niatnya untuk mengembalikan stnk yang mereka temukan di jalan, beliau baru ngeh kalau telah teledor.

Alhamdulillah, melalui kebaikan mereka, kami diselamatkan dari kesulitan dan mendapatkan banyak rezeki  baik secara materi atau pun rohani. Secara materi, kami tidak perlu wara wiri untuk mengurus stnk lagi. Secara rohani; kami mendapatkan kenalan dan saudara baru, mendapatkan kesempatan menikmati oase yang menyejukkan di tengah makin langkanya rasa peduli dan tolong menolong antar sesama, serta mendapatkan nasihat mahal dan bermakna agar supaya  lebih peduli lagi kepada sesama. Bukankah ini bukti bahwasanya pintu kebaikan itu bisa dibukakan lewat mana saja atau siapa saja?

🖊Seringkali kita berpikir bahagia itu hanya soal keadaan yang menyenangkan dan sesuai keinginan atau harapan saja. Bahagia adalah saat kita mampu mengambil makna dari setiap keadaan yang ada sehingga batin semakin kaya dan hidup semakin berguna.

🖊"Melihat sesuatu yang tak terlihat mata, mendengar suara yang tak sampai ke telinga, membaca kalimat yang tak diwakili oleh kata." #olahrasa_olahjiwa

🖊Suka menulis bukan berarti ingin jadi penulis. Menulis itu rekreasi yang menyenangkan ( bagiku ). Menulis ya menulis saja, tidak perlu alasan blablabla atau mengikuti teori yang mesti bagaimana. Menulis itu melatih pola pikir dan kerunutan kita dalam memandang suatu persoalan, menjadi media untuk mengukur seberapa mampu kita mengungkapkan pemikiran, menterjemahkan pengalaman, berinteraksi dengan pembaca melalui penyampaian yang sederhana. Menulis adalah cara yang indah untuk mengenang dan meneruskan perjalanan.

🖊Sejauh mana pun kita pergi, keluarga adalah tempat terindah yang kita tuju untuk kembali. Sebanyak apa pun orang yang kita temui,  tetangga adalah orang-orang terdekat setelah keluarga yang akan datang membantu secara nyata. Maka, apalah gunanya terlihat baik di luar sana, tetapi mengabaikan hubungan baik dengan keluarga dan tetangga?

#catatanfas

Review Status Facebook Januari 2016

Jumat, 30 Desember 2016

🖊Di saat rembulan dan bintang bersembunyi di balik awan,  malam seakan tak menyisakan harapan. Namun, temaram lampu kota dan laju roda kendaraan senantiasa mengingatkan, selalu ada yang bisa kita kenang dan tuliskan selama kita terus berjalan dan setia dengan tujuan.

🖊Pelajaran  pertama di awal tahun sudah  dimulai. Di saat pingin fokus memikirkan kepentingan sendiri yang sudah lama terbengkelai, ada saja kepentingan di luar diri yang meminta untuk diberi arti. Okeelah...resolusi mana resolusi? :-D :-P #iniih #kulomanutGusti.

🖊Tak terasa lima belas tahun sudah kita menjalani persahabatan yang penuh dinamika. Begitu banyak suka duka telah kita lewati bersama. Pernah sekian tahun kehilangan kontak, ujug-ujug dipertemukan di tempat yang sama. Begitulah kalau takdir sudah bicara, sejauh apa pun dua jiwa tak saling bersapa, tak tahu dimana kabarnya, akan bersua juga lewat cara tak terduga. So, bagi yang gelisah dan belum ketemu jodho, jangan kuatir yaa...#eh, :-D

🖊Sampai saat ini sepertinya kekecewaan masih menjadi pendorong terkuat untuk mau melakukan hal-hal baru. Berkat makan soto di luar dengan rasa yang jauh dari harapan,  mendorongku untuk memasak sendiri menu itu. Hasilnya.....taraaaa! Enaaak juga. *iyalah enak, bumbu jadi getoo...:-D :-P :-P

🖊Jika hari ini kita masih bisa buang air dengan lancar, buang gas dengan bau yang lumayan, berbahagialah. Kemarin itu seharian daku tepar gara-gara bahu kanan sakit banget. Buat salam nggak bisa noleh. Hiiiiks...asli merana. Dan, obatnya ternyata sederhana. Setelah diingatkan suami tentang khasiat ubi, akhirnya angin yang di dalam bisa keluar dan Alhamdulillah hari ini sudah seger buger, bisa nyetatus dan ngomel lagi...:-D *ups, ngomel itu tanda istri sehat, katanya. Makanya tiap daku sakit suami bilang, cepat sembuh dan ngomel lagi ya, my. Lebih baik dengar omelanmu dari pada melihatmu sakit.
So, para suami, bersyukur dan berbahagialah jika hari ini masih mendengar omelan istri...:-P :-D

🖊Andai perubahan itu semudah ganti dan beli baju, kita tak perlu belajar seumur hidup, mbakyu....:-D

🖊Ibarat handphone setiap orang memiliki kapasitas berbeda dalam membaca data ( situasi ). Nokia 3310 kemampuannya pasti jauh beda dengan samsung S6 atau iphone 6. Sayangnya kebanyakan dari kita belum mampu mengidentifikasi "softwarenya" jenis yang mana. Kalau handphone ku jelas buatan Indonesia, ora "oppo" po...:-D

🖊Seseorang yang baru berniat menikah mungkin tahu dan paham bagaimana peran seorang ibu. Tetapi ia belum mampu menghayati bagaimana menjadi ibu. Begitu pun saat kita baru belajar sesuatu, jangan keburu banyak bicara biar tak dicap sok tahu.

🖊Di jalan raya, biasanya siapa yang sering menimbulkan masalah dan mengakibatkan sesama pengendara senewen dan pusing kepala? Siapa lagi kalau bukan mereka yang lagi senang-senangnya memiliki kendaraan dan baru belajar berkendara. Nah, fenomena itu juga berlaku di beranda. Coba perhatikan siapa yang suka banget bikin gaduh dengan berdebat dan menyalahkan yang beda pendapat dan pandangan dengannya? :-D :-P

🖊CINTA adalah energi yang sangat dahsyat. Dengan cinta kita bisa melakukan apa pun dalam hidup kita. Berbicara tentang cinta; tidak selalu dengan pandangan sempit tentang hubungan lawan jenis. Secara lebih luas cinta memiliki banyak makna.
Tantangan hidup semakin berat maka energi kita juga harus lebih besar. Dari mana sumber energi itu? Dari CINTA

*Sesungguhnya sumber energi itu tidak hanya berasal dari cinta. Ada sumber yang lain yaitu: Takut dan Marah. Takut dan marah bisa membuat kita tergerak untuk melakukan banyak hal yang tak terduga untuk mencapai tujuan; semisal saat orang takut miskin, maka ia akan bekerja keras. Saat kita marah atas hinaan seseorang, kita termotivasi untuk membuktikan kalau kita tak seperti yang ia katakan.

* Tapi keduanya tidak akan mampu membuat kita BAHAGIA. Bahagia hanya bisa dicapai dengan ENERGI CINTA.

*Cinta adalah Energi Tuhan. Tuhan itu adalah sumber Energi yang maha dahsyat. Karena itu kalau kita mencintai, sesungguhnya kita sedang menyerap dan menyebarluaskan energi Tuhan.

*Energi marah itu seperti api. Bergerak cepat dan bisa melahap apa saja. Tetapi, kalau mau lebih cepat, gunakan ENERGI CINTA. Energi cinta menggunakan kecepatan Cahaya. Itulah energi yang berasal dari Tuhan.

*Jadi untuk bisa bahagia kita harus selalu terhubung dengan Energi Cinta yaitu Tuhan. Manusia yang selalu terhubung dengan-Nya akan selalu merasakan CINTA dalam segala hal yang dilakukannya.

*Kita sesungguhnya adalah Media Tuhan untuk menyebarluaskan cinta di muka bumi ini. Jadi tugas kita adalah menyerap cinta-Nya dan membagikan kepada sesama.

#FAS_09012015 #repost #

🖊Namanya juga rumahtangga, ya wajar kalau banyak tanjakannya. Kalau landai landai saja, itu mah rumah tetangga...:-D

🖊Anak-anak adalah guru yang mengajarkan banyak hal baru serta mendorong orangtua untuk terus belajar dan belajar memahami arti kehidupan. Mereka membuka banyak pintu kesempatan agar kita mau meluruhkan ego dan tidak gampang menuduh mereka begini begitu hanya karena berbeda sikap atau kemauan  dengan apa yang kita harapkan.

🖊Pernyataan Mark pemilik FB ini sepertinya juga mewakili suamiku...:-D :-P *abaaiikaan

"Sebagian wanita hanya melihat keburukan orang lain, tidak melihat kecantikan orang lain, dengan demikian, kebahagian akan meninggalkan kalian, tidak berjodoh. Sebab, apa yang ada dalam hati itulah yang ada dalam kenyataan." ( Mark Zuckerberg )

*****
"Sekarang saya menjawab pertanyaan kalian. Pertanyaan pertama, mengapa saya memperisteri seorang wanita tidak berparas cantik.
Pertama-tama saya ingin membahas, apa itu wanita cantik, apa itu wanita tidak cantik.. Saya mempunyai banyak kesempatan bertemu berbagai wanita cantik, namun apa yang disebut wanita cantik kebanyakan berhati seperti kaca, jika sakit manjanya seperti seorang putri raja, dan penyakit angkuh, dan juga akan bertanya kepada saya mengapa begitu kaya namun tidak mau berganti mobil. Saya tahu tujuan mereka adalah mau pamer dilingkungan teman.
Wanita demikian walaupun secantik apapun, bila hatinya hanya menuntut, tetap kelihatan jelek, jiwanya juga kotor. Wanita demikian barulah dikatakan sebagai wanita berparas jelek, diberikan gratispun saya tidak mau.
Kecantikan diluar akan berkurang nilainya seiring bertambahnya usia, namun kecantikan dari dalam akan bertambah nilainya seiring bertambahnya usia. Dalam hal ini para ahli ekonomi di wall street pasti mengerti, makanya saya sama dengan mereka, tidak akan bersentuhan dengan benda yang secara cepat turun nilainya.
Apa yang saya sukai Priscilla Chan isteri saya?
Raut wajah seorang wanita adalah cermin hati seseorang, senyumnya selalu memukau. Sejak hamil, Priscilla sama sekali mengabaikan perobahan yang terjadi pada raut mukanya akibat kehamilannya, tetap berpakaian sederhana, tanpa dandan, namun kebahagiaannya saya rasakan sepenuhnya dan juga nampak kepada orang lain.
Saya mencintai kesederhanaan Priscilla. Saya mencintai penampilannya; bersemangat namun bijak, berani namun penuh kasih, berjiwa pemimpin namun juga bisa mendukung orang lain. Saya mencintai keseluruhannya, saat bersamanya, saya merasa sangat nyaman dan relaks.
Saya sama sekali tidak merasa Priscilla bersanjung kepada saya, selain memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi, dia juga memiliki kecerdasan emosi yang tinggi, jangan lupa bahwa Priscilla adalah lulusan jurusan kedokteran Harvard University, anda bisa coba tes masuk universitas tersebut; jurusan hukum, kedokteran, ekonomi adalah jurusan yang menjadi rebutan orang, walaupun lulus tes masuk belum tentu anda bisa lulus penuh, kalau mau dikatakan bersanjung, lebih tepat saya yang bersanjung kepada Priscilla bukan sebaliknya.
Perkawinan ibarat sepasang sepatu, hanya yang memakainya tahu sepatunya nyaman dipake gak, Priscilla paling cocok buat saya, saya dan Priscilla adalah pasangan yang paling ideal di bumi ini, saya berkenalan dengan Priscilla saat antrian toilet, di mata Priscilla, saya adalah seorang kutu buku. Ini adalah jodoh.
Di mata kalian, Priscilla ada wanita tidak cantik, namun di mata saya, dia adalah wanita cantik dan paling serasi dengan saya.
Saya tidak bisa menahan diri memamerkan foto saya dengan Priscilla yang begitu berbahagia.
Dalam foto nampak saya dan Priscilla begitu bahagia, damai dan alami.
Tips bagi kalian: sebagian wanita hanya melihat keburukan orang lain, tidak melihat kecantikan orang lain, dengan demikian, kebahagian akan meninggalkan kalian, tidak berjodoh. Sebab, apa yang ada dalam hati itulah yang ada dalam kenyataan." ( Mark Zuckerberg )

🖊Masalah adalah pemberitahuan bahwasanya ada hal-hal di dalam diri yang mesti dibenahi. Kalau masalah yang sama terus menerus terjadi, bisa jadi karena belum melihat ke dalam diri dan belum berani mengakui kekurangan diri.

🖊Kita beruntung. Semua yang pernah kita alami sedari kecil, remaja, hingga kini menjelang senja merupakan rencana dan kemauan Tuhan atas hidup kita. Melalui kesulitan dan air mata kita membangun karakter dan mendapatkan nilai-nilai yang menjadi bekal perjalanan. Kita tak gampang menuduh orang lain atau menghakimi atas pilihannya, karena kita pernah mengalami betapa hidup seringkalinya menepikan langkah pada tikungan tajam yang seakan tak menyediakan pilihan kemana arah dan langkah mesti kita kayuh. Di titik itu bukankah kita benar-benar luluh dan sadar bahwa satu-satunya tempat bersandar dan mengadu hanyalah pemilik jiwa raga? Kalau seseorang memilih jalan yang berbeda bisa saja itu memang sudah kehendak-Nya agar kita bisa belajar dan bercermin dari sana. Kita tidak pernah tahu apakah keadaan itu baik atau tidak baik dari penilaian luar saja. Terkadang sesuatu yang nampak menyenangkan itu justru menjauhkan langkah dan hati kita dari kebaikan, pun sebaliknya, di balik segala ketidakmudahan dan kepahitan ternyata tersembunyi mutiara. #catatanfas

🖊"Urip ki koyo roda. Kadang ning ndhuwur, kadang ning ngisor, kadang ning tengah kui biasa. Ora sah nggumunan, kagetan, ngeyelan, opo manèh nggresula; kabèh mung sauntara."

🖊Setelah menikah, perubahan yang bisa dirasakan dan di lihat secara kasatmata adalah berat badan, raut muka, dan financial. Sebagian orang setelah menikah tampak lebih gemuk, sumringah, rezeki lancar. Sebagian lagi sebaliknya. Semua terjadi bukan kebetulan semata. Ada hal-hal dari dalam yang mempengaruhinya; niat, emosi, sudut pandang, pikiran, rasa, dan komunikasi antara keduanya.

Lebih-lebih bagi pasangan yang pernah gagal sebelumnya ( termasuk kami berdua ). Sebelum memulai rumahtangga mesti membersihkan dulu emosi-emosi, persepsi yang dulu keliru, mencari serta menemukan penyebab kegagalan, berani mengakui kesalahan serta bersedia memaafkan pasangan dan kejadian di pernikahan sebelumnya.

Tujuan menikah adalah untuk saling memberi dan menerima kebahagiaan, bukan saling menuntut untuk memberi dan melupakan kebutuhan salah satunya. Kalau kita bahagia, rezeki juga suka mendekati dengan banyak cara.

🖊Hal yang paling membuat ketagihan adalah saat apa yang kita lakukan bisa membuat keluarga atau sesama tersenyum bahagia. Itu lebih dari segalanya...syalalalala...

🖊Untuk berita/sesuatu yang kita tak paham, DIAM!

🖊Tindakan/ kebiasaan seringkalinya dipengaruhi oleh pikiran. Sedangkan pikiran dipengaruhi oleh sudut pandang. Sudut pandang masing-masing orang berbeda, sekalipun objek yang dilihat sama. Dan seringkalinya, pengalaman dan lingkungan mempengaruhi kita dalam memandang keadaan. Maka tak mengherankan, mereka yang memiliki kebiasaan dan prasangka baik, bisa dipastikan memiliki kualitas pikiran yang baik, dan akan baik-baik saja sekalipun keadaan tidak baik.

🖊Maaf yaa, jangan tersinggung...bagi Anda yang bertugas sebagai polisi, tentara, mbok tolong kalau pas jam tugas jangan eksis di FB. Mungkin ini tidak mengenakkan untuk dibaca ya, tetapi, beneran, rasanya memang tidak etis kalau sebagai petugas yang berkewajiban menjaga keamanan rakyat malah sibuk main HP. Waspada ya pak...sekali lagi maaf....:-) :-)

🖊Emang menurut kalian foto wanita yang selfi di saat ada lelaki bersenjata menuju ke arahnya itu beneran, bukan editan? :-O :-O

Logika mana logika?

🖊Kalau rakyat Indonesia kuat, berani, tak takut mati; semua itu terjadi karena kita terbiasa hidup dan berjuang sendirian tanpa campur tangan dan perlindungan negara. Jadi jangan ge er dan berkata, semua ini karena pemimpin yang sekarang, euy!

🖊Di belakang suami yang gendut, ada isteri yang tak banyak menuntut. :-P :-D

🖊Hidup itu harus seimbang; setelah kemarin me-recharge batin dengan liburan dan menikmati kebersamaan, sekarang saatnya menggunakan tenaga dan pikiran untuk menjemput rezeki dan menjadi manfaat bagi semesta. Selamat menjadi manusia seutuhnya. Kerja....kerja..kerja....syalalala...:-D

🖊Mayoritas dari kita mengecam aksi teror, akan tetapi tanpa didasari juga ikut ambil bagian dalam kehidupan sehari-hari, seperti: menyimpan rasa khawatir, cemas, prasangka buruk, membagikan foto atau berita yang tak jelas, membaca hal-hal yang bisa membuat hati dan pikiran tak sehat, mem-bully orang lain, dlsb...bukankah semua itu juga menimbulkan ketidaknyamanan bagi diri sendiri dan sesama?

🖊Jare bang tere:Orang yang suka menjelek2an di belakang itu persis seperti roda belakang yang menatap roda depan. Frustasi, dengki, ingin sekali mengejar si roda depan, apa daya, dia tetap dalam posisi hanya bisa menatap saja semua kelebihan si roda depan.
*Tere liye

Sik to sik baang....roda depan dan belakang itu kan satu tim yang saling bekerja sama membuat kendaraan berjalan, secara logika ya nggak mungkin saling mendahului karena hanya dengan posisi begitu sistem berjalan ( êmpan papan ),  masa iyaaa saling iri dengki?
Piyé to wong kuwi....:-D

🖊Pernikahan itu ibarat mengayuh sepeda. Kaki kanan dan kiri ( suami istri ) harus selaras ( cara pandang dan pemikiran ) agar roda rumah tangga berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Sebelum mengayuh harus ditetapkan apa niatnya, kemana arah dan tujuan, bekal apa saja yang mesti dipersiapkan. Kalau sudah terpeta dan siap lahir batinnya, apa pun rintangan yang akan dihadapi sepanjang perjalanan tidak akan menyurutkan, sebaliknya, malah akan dijadikan media untuk saling menguatkan.

🖊Sah-sah saja kita nge-fans atau suka sama seseorang. Entah penulis, motivator, pemimpin, dlsb...tetapi, mbok jangan sampai membuat lupa kalau mereka itu manusia yang pastinya memiliki kekurangan dan kesalahan. Jadi,  ya jangan hanya manggut-manggut, mengiyakan dan menelan apa yang mereka katakan. Terus apa gunanya nurani dan akal diberikan kalau tidak dimanfaatkan?

"Ngunu yo ngunu, ning ojo ngunu"

🖊Membaca hasil raport madrasah Khrisna, seakan membaca fenomena yang sekarang sedang terjadi dalam kehidupan dunia maya dan nyata. :-D Membuatku garuk-garuk kepala dan seakan ditonjok sedemikian rupa. Bisa jadi ini peringatan untuk kita, eh, kami maksudnya, sebagai orangtua.
Secara keseluruhan nilainya di atas rata-rata, terutama bahasa Arab, Tajwid, dan Qur'an, tetapi ada bagian yang paling penting  (akhlak ) nilainya malah terendah. Kata ayahnya, "ya nggak apa-apa, kan yang lainnya bagus-bagus."
"Iya sih, yah, tetapi itu kan yang paling penting dalam kehidupan.  Bukan hapalan atau kefasihan kita dalam membaca, tetapi yang paling dibutuhkan adalah bagaimana akhlak kita sebagai manusia."
"Ya sudahlah, bisa jadi itu teguran dan pesan buat kita, biar ke depannya lebih memperhatikan sikap kesehariannya."
#obrolanpagi

🖊Ilmu yang banyak tanpa mental yang kuat ibarat air panas dalam cawan yang retak. Bagaimana bisa untuk  menyeduh kopi dan menghangatkan, belum dirasakan manfaatnya saja sudah terbuang percuma? Orang model begini biasanya suka kasar memperlakukan orang lain, bahkan istri atau keluarganya sendiri, tidak peka terhadap perasaan atau sikap orang lain, dan merasa paling benar dengan hapalan-hapalan yang dimilikinya.

🖊Perubahan dari  dalam akan menumbuhkan banyak harapan dan kehidupan baru. Sebaliknya, perubahan yang dilakukan karena sesuatu dari luar atau ikut-ikutan biasanya malah menimbulkan banyak masalah baru.

🖊Setiap perempuan terlahir dengan kecantikannya masing-masing dan unik. Setiap perempuan adalah mutiara. Yang membedakannya, ada yang sudah diasah oleh pengalaman, ilmu, dan pengetahuan. Ada yang masih gamang dan belum mampu menerima dirinya apa adanya, suka membandingkan dirinya dengan wanita lain, serta terpaku dengan ukuran-ukuran yang dibuat oleh manusia, semisal: cantik itu harus putih, kurus, kekinian, dlsb..

Percayalah, sekalipun secara fisik tidak semua perempuan terlahir dengan cantik, namun setiap perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi cantik dan menarik. Cantik hati, cantik pikiran, dan perbuatan. Dan semua itu tidak bisa datang seketika, hanya mereka yang mau terus belajar dan berproses saja yang bisa mendapatkanya. Kecantikan begini yang akan tahan lama, berharga, dan membuat bahagia.

🖊Membaca sebuah  artikel atau kisah yang membuatmu merasa bersalah, lebih-lebih komentar-komentarnya yang seringkali berat sebelah? Semisal tentang perempuan yang bekerja dan segala blablablanya.AHA! Cukup satu kuncinya, kita bukan mereka. Sebuah keadaan selalu ada konteks yang melatarbelakanginya. Cuek saja, mereka bukan siapa-siapa kita dan tak tahu menahu mengapa kita mesti mengambil pilihan ini ( yang mungkin saja sebenarnya ingin dipilihnya juga kalau ada waktu dan kesempatan ), terlebih lagi, bukankah segala konsekuensinya kita sendiri yang merasakan dan menanggungnya? Selama kita tak keluar jalur yang semestinya, mengapa mesti memikirkan komentar mereka? :-D

🖊Tak sabar pengin melihat dedek dedek cantik yang sekarang begitu lurus dan gagah berani itu segera menikah. Cuman pengin tahu apakah setelah menikah mereka dengan mudah bisa mempraktekkan apa- apa yang dibagikan dan diklaimnya yang paling benar itu...:-D :-P

Buruuan too, dek...menikah itu mudah lho, mengapa tidak segera kalian lakukan?

🖊Bersyukur tidak cukup dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan nyata. Seperti, saat senin tiba, semangat kerja harus melebihi hari hari biasanya. Bekerja adalah pertanda kalau kita masih diberi kesempatan berguna bagi sesama, masih diberi ruang untuk berbuat lebih banyak bagi keluarga, dan memiliki pintu untuk bahagia. Syalalala....

Selamaaat pagiiii, semuanya....:-D

🖊Setelah  biru menjadi warna favorit selama ini,  belakangan entah mengapa lebih suka sama warna violet. Mungkin sisi feminim yang dulu lebih suka menyembunyikan diri oleh tuntutan keadaan, setelah ada yang bisa diandalkan lebih dominan. Semenjak itu dimana-mana ketemu orang yang entah baju, jaket, tas, atau sepatunya berwarna violet. Pas kemarin itu bertemu seorang wanita dengan sepatu  warna keren itu. Melihatnya spontan mbatin,"cakep nih!"

AHA! Tak lebih dari enam jam setelahnya, seseorang kasih hadiah sepatu sport dengan warna yang sama persis, sekalipun dengan model berbeda. Apakah ini kebetulan? Bagiku tidak. Momentum seperti seringkali terjadi dan kunamai KEAJAIBAN.

🖊Buku dengan judul dan isi yang sama akan berubah-ubah maknanya saat dibaca di waktu yang berbeda. Lebih-lebih manusia sebagai buku yang belum selesai ditulis dan terus menerus berubah sepanjang masa, bagaimana mungkin kita mampu memastikan sikapnya? Pun dengan pasangan kita.  Hanya dengan kerelaan belajar "membaca" dan bersedia bertumbuh kembang bersamanya, kita mampu memahami dan menjaganya.

🖊Kita disebut meningkat manakala sudah mampu memiliki konsep yang mempertemukan dua paradoks. Sebagai contoh seorang anak yang bingung memilih antara ayah atau ibu. Kebingungannya teratasi ketika dia punya konsep tentang orangtua. Plus minus pada baterai bertemu oleh konsep bahwa semua dibutuhkan baik yang plus maupun yang minus. Atau paradoks iblis dan malaikat, yang bertemu pada konsep pengabdian." #SMDP #PBJan

🖊Hidup ini sederhana dan senda gurau belaka bagi mereka yang sudah mengalami banyak penderitaan, kesulitan, rintangan dan berhasil melewatinya. Dalam rentang perjalanan itulah mereka menemukan kunci-kunci yang membuka pintu kesadaran dan rezekinya.

🖊Seringkali kita menyangka hidup ini tidak adil saat realita berbeda dengan definisi adil yang kita ketahui yakni, sama rata. Keadilan Tuhan dan keadilan menurut kita  ( ternyata ) tidaklah sama. Keadilan itu banyak dimensinya. Saat ukuran kita tak bekerja, mau tak mau kita harus mencari dan menemukan dimensi lain untuk menjawabnya. Sebagai orang jawa kita pasti mengenal, "becik ketitik ala ketara." Keadilan menurut falsafah ini mengajarkan bahwa keadilan yang sebenarnya, menurut hukum dan ketentuan-Nya tidak berlaku serta merta. Melainkan membutuhkan waktu untuk membuktikannya demi menguji kesabaran dan keyakinan kita.

Semisal, saat seseorang menyakiti kita, kita ingin sekali orang itu juga merasakan dan mendapatkan balasan yang sama. Tetapi harapan itu kadang tidak terjadi dan malah menambah kecewa, bukan?  Lain cerita apabila kita  mengejawantahkan pesan sakit hati ( kegagalan ) yang kita terima itu sebagai cara Tuhan memberi kita kesempatan untuk mengeluarkan kualitas terbaik kita sebagai manusia untuk mendapatkan hal-hal berharga yang selama ini kita harapkan. Respon kita pasti berbeda. Kita akan memilki energi dan tujuan yang lebih pasti sehingga lupa akan sakit hati. Pada suatu titik kita menyadari bahwa keikhlasan kita untuk memaafkan dan menerima dibalas dengan kehidupan yang lebih baik oleh-Nya.  Bahkan, kita akan berterimakasih padanya karena sudah menyakiti dan meninggalkan kita. Tanpa itu semua kualitas terbaik kehidupan dan kekuatan batin tidak kita dapatkan. Indah dan adil sekali bukan? #FAS

#terimakasihmantan :-D

🖊

Catatan Akhir Tahun

Catatan Akhir Tahun

Masih segar di ingatan, sesegar kopi yang tengah kusesap pagi ini bagaimana hiruk-pikuknya kita membuat janji-janji manis ala calon bupati, gubernur atau presiden di negeri ini. 😄😛 Begitu berapi-api dan melambungkan impian setinggi bintang. Etapiii...setelah beberapa lama, kemana janji-janji itu pergi?

Orang keren dan modern menyebut proklamasi diri itu dengan resolusi. RE- kembali.  SO- so what gitu loh, LU- lumayaan daripada tidak mengikuti SI- siapa suruh bermimpi. Naah! ....jadi nggak aneh lagi kan, kalau setahun setelahnya, tidak ada perubahan? 🤗🤗

Ups! Tapi tidak seutuhnya seperti itu. Pasti ada perubahan, yang entah kita sadari atau tidak, telah
mengubah pemikiran kita. Bisa jadi, perubahan itu sendiri sangat melenceng dari poin yang kita harapkan. Namun, perubahan tetaplah perubahan, sekalipun yang berubah berat badan yang semakin malu untuk menimbang, itu juga layak kita nikmati sebagai keberhasilan. Bukankah bertambahnya berat badan sebagai tanda kalau hidup kita nyaman? #eh

Intinya, kita tidak harus terikat dengan ukuran-ukuran yang dibuat orang banyak sebagai aturan sukses atau tidaknya kita dalam melewati kehidupan. Sebelum kita dibatasi oleh teori-teori bikinan orang lain, alangkah baiknya jika kita memiliki ukuran sendiri.

Sukses atau bahagia kita tidak bersumber dari sesuatu di luar diri. Melainkan kita sendiri yang harusnya memiliki prinsip- prinsip yang tidak tergoyahkan oleh penilaian orang lain. Bagi saya pribadi, tidak perlu membatasi sukses dengan aturan umum, semisal: bertambahnya saldo, memiliki ini atau itu. Cukup dengan berjanji pada diri sendiri, bahwa setiap waktu yang terlewati harus bermakna maka rezeki akan datang dengan cara yang tak terduga.

Sepanjang tahun ini, merupakan tahun yang bisa dikatakan sebagai tahun pembuktian. Pembuktian
bahwa tanpa yel-yel resolusi yang selayaknya digaung-gaungkan, hanya dengan konsisten berusaha tersenyum dan berbuat dari bangun sampai tidur, hari-hari yang terlewati sepanjang tahun ini begitu ringan dijalani. Dan tanpa disangka, banyak harapan yang menjadi kenyataan. Ternyata,  hanya janji-Nya yang pantas kita jadikan acuan bukan?

Hanya dengan menikmati setiap  proses apa adanya  hidup kaya rayya. Kaya rasa, kaya hati,  kaya makna, syalalalala...💖💖💖🎶🎶🎶 #catatanfas #hidupkayarayya

Mencari Dan Menemukan Koordinat Diri

Kamis, 22 Desember 2016

Ngaji Bareng Cak Nun

Jangan melewati apa pun tanpa menemukan ilmu dan kegembiraan" -EAN-

Memasuki gedung Islamic Chaiwan College  yang bekapasitas 1500 orang itu, kata-kata beliau terngiang dengan jelas. Dalam hati berharap semoga bisa sungkem dengan beliau selain berkesempatan bertatap muka langsung dan menimba ilmu. Separuh gedung sudah terisi saat kami bertiga tiba. Mendadak seorang ibu panitia mempersilakan kami duduk di barisan paling depan. Sungguh, bukan sebuah kebetulan, sejak mendapatkan tiketnya, impian untuk bisa sedekat mungkin dengan tempat  beliau itu sudah ada. Ternyata, temanku yang satu juga begitu. Tadinya ia sudah setengah jengkel karena aku datang telat. Setelah duduk aku berseloroh padanya,"Nah, terbukti kan, mbak. Kalau memang sudah rezeki kita, ya tetap akan diperuntukkan bagi kita..."

Tak seberapa lama, gedung sudah penuh. Sambil cek sound, para vokalis kiai kanjeng: mas Imam Fatawi, Zainul, Doni, dan Islamiyanto melantunkan satu tembang dan puji-pujian agar kami tidak mmenunggu dengan pasif. Acara resmi segera dimulai dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran dari mas Zainul. Disusul dengan bergabungnya mbak Via, Hayya, dan Rampak di tengah panggung. Acara semakin hangat saat para vokalis kiai kanjeng turun dan mengajak kami bersama-sama menyanyi, pepujian, dan shalawatan. Dilanjutkan dengan mbak Novia yang mempersembahkan lagu "Keluarga Cemara". Para hadirin yang mayoritas bekerja demi keluarga, nampak semangat dan gembira menyanyikan bersama beliau.

Dan acara semakin hangat saat sosok yang kami tunggu hadir di tengah kami disambut shalawatan. Dengan nada penuh kasih dan ngemong, beliau menyapa dan membuka pintu kesadaran kami dengan caranya yang khas.

Mula-mula kami diajari cara bersyukur dan menikmati hidup dari hal-hal sederhana dari cara menentukan standar hidup. "Kalau ukuranmu mobil, melihat sepeda motor kamu tidak akan bersyukur. Sebaliknya kalau ukuranmu sepeda pancal, memiliki motor rasanya sudah luar biasa, bukan?"

Pun saat melihat apa yang tidak dimiliki orang Hong Kong; seperti kesadaran akan hidup sesudah mati, tetangga, tanah yang luas dan subur mestinya harus lebih banyak bersyukur. "Jangan dianggap gedung-gedung menjulang itu sebagai kemewahan. Mereka hidup seperti di gupon dara itu karena keterpaksaan. Kasihan mereka. Makanya kalian datang ke sini itu untuk menghibur dan membantu mereka. Ada tugas kemanusiaan dan kemuliaan di balik peran kalian."

Acara jeda kurang lebih satu jam dan dilanjutkan dengan pembahasan tentang ibadah mahdoh, muamalah, bid'ah, serta penjelasan tentang aliran-aliran islam, tentang cara sedekah yang tepat, dan penjelasan bagaimana agar tidak mudah tertipu dengan penampilan. Semua digambarkan dengan cara mudah dan gampang dipahami. Menjelang jam 4:14 acara harus segera diakhiri karena tepat jam 5:00 pm gedung harus bersih. Sebelum diakhiri, di tengah lantunan ilir-ilir, do 'a yang beliau panjatkan membuat suasana syahdu dan kusyuk.

"Hidup itu mudah selama kita tahu porsi, posisi, arah, dan tujuan."

Sekalipun acara sudah  berakhir, masih ada satu hal yang belum terlaksana, yakni: sungkem dengan beliau. Sambil berjalan keluar, aku masih menyisakan harap semoga dikabulkan. Dan “ndilalalah" begitu mau keluar pintu, beliau keluar bersama rombongan. Tanpa membuang waktu saat berada di sebelahnya, kuberanikan bertanya,"Mbah saya mau sungkem dengan panjênêngan" Alhamdulillah.....beliau mengulurkan tangannya. Lengkap sudahlah impianku selama ini.....kabuul ...kabuul....kabuul....:-) :-)

#FAS_22122014

Perceraian Bukan Akhir Dari Kehidupan

Jumat, 02 Desember 2016




Bercerai? Saya yakin tak ada satu orang yang punya cita-cita mengalami perceraian saat membangun rumah tangga.  Tetapi kehidupan seringkali  sangat jauh dari impian sehingga mau tak mau memaksa kita untuk berani menghadapi realita.

Perceraian memang sesuatu yang amat berat bagi perempuan. Terlebih bagi mereka yang mendadak ditinggalkan begitu saja. Dengan harga diri yang luluh lantak, perasaan hancur, belum lagi rasa malu terhadap keluarga dan lingkungan sosial; bagaimana mungkin mampu menghadapi?

Pasca sang mantan meninggalkan saya dengan anak yang baru berumur dua tahun dan hutang puluhan juta; pertanyaan di atas juga terus menerus bergaung di kepala. Semua jalan terasa gelap. Kesedihan, kekecewaan, ketakutan dan kecemasan membuat hati dan pikiran seakan tak memiliki kekuatan untuk melihat dan mencari solusi. Terlebih tanpa uang dan pekerjaan.

Ternyata Tuhan selalu memiliki cara untuk mengetuk pintu kesadaran dan memberikan kekuatan.  Melalui keceriaan si kecil,  mendadak sebuah kesadaran muncul bahwasanya masih ada yang lebih pantas dan penting untuk diperjuangkan dari pada terus menerus meratapi keadaan.

Dengan tekad demi masa depan dan memberikan penghidupan yang lebih baik, kekuatan yang pada dasarnya sudah disematkan dalam diri sejak lahir muncul ke permukaan. Saya memutuskan untuk bekerja dengan resiko harus berpisah dan menitipkan anak ke keluarga untuk sementara. Sebuah keputusan yang berat, namun keadaan tak memberi banyak pilihan.

"Ketika keadaan tak memberi pilihan, teruslah berjalan. Di tengah perjalanan akan ada banyak kejutan yang membawa ke tujuan."

Demikian kutipan yang pernah saya baca dalam sebuah buku. Hidup yang penuh ketidakpastian dan perubahan hanya bisa dihadapi dengan terus bergerak seberat apa pun beban dan terjalnya jalan yang kita lalui. Selama mau bergerak pelan namun pasti solusi akan hadir dengan sendirinya.

Ibarat mengayuh sepeda,  hanya dengan terus menggerakkan kaki, keseimbangan akan terjaga. Dengan fokus pada niat dan tujuan, kita akan terus menerus memiliki semangat dan kekuatan.

Namun, semua itu tak serta merta hadir dalam diri kita. Saya butuh waktu sekian tahun untuk bisa lepas dari  melepaskan trauma sehingga mampu menerima  bahwasanya kegagalan bukan akhir dari kehidupan.
Bagaimana caranya  agar kita bisa terus melangkah dengan harapan dan kebahagiaan?

Bersyukur dan Mendekatakan   Diri  Kepada Sang Pencipta
Dalam keadaan apa pun selalu ada hal yang bisa kita syukuri. Kita masih bernafas itu sudah lebih cukup sebagai modal untuk mensyukuri kehidupan. Dengan bersyukur, kita akan menemukan hikmah dan memahami ternyata di balik kegagalan ada banyak nilai kehidupan yang bisa kita jadikan bekal untuk meneruskan perjalanan. Dengan semakin dekat dengan pemilik kehidupan, hati dan pikiran menemukan ketenangan.

Bergaul Dengan Orang Positip

Setelah nyaris setahun diliputi kemarahan dan dendam,  saya memutuskan untuk menggunakan media sosial facebook sebagai pelipur lara.  Niatan awalnya ingin mengalihkan perhatian. Ternyata lebih dari yang saya bayangkan apa yang saya dapatkan.  Dengan bergaul dengan mereka yang memiliki pemikiran-pemikiran positif dan menebarkan energi kebaikan; pikiran mulai terbuka, cara pandang berubah, dan secara perlahan kebahagiaan kembali hadir.

Berdamai Dengan Diri Sendiri

Tidak ada akibat tanpa sebab.  Pun dengan perceraian. Berdasarkan pengalaman diri sendiri dan mereka yang mengalami,  kasus perceraian terjadi akibat kesalahan kedua belah pihak. Tidak ada keadaan yang ujug-ujug tanpa ada percikan percikan api yang terjadi sebelumnya. Namun sayangnya,  kebanyakan dari kita lebih suka  m9enyebut diri sebagai korban, sehingga memiliki alasan dan pembenaran untuk mencari-cari kesalahan di luar diri.

Alangkah baiknya kalau kita mulai berani instropeksi dan mengakui kekurangan. Dengan menyelam ke dalam diri kita akan menemukan kesadaran bahwasanya hanya dengan memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri akan tercipta rasa nyaman. Dengan kondisi batin yang demikian secara otomatis kita juga akan mudah memaafkan mantan dan keadaan.

Meningkatkan Kualitas dan Kepercayaan  Diri
Setiap yg menikah pasti berpisah. Entah oleh kematian ataupun perceraian. Keduanya sama-sama proses kehilangan.  Namun perceraian lebih menyakitkan,  karena mereka tidak/belum mampu menganggapnya sebagai jalan takdir. Yang lebih menyakitkan lagi sebab rasa tak berharga dan kehilangan kepercayaan diri. Rasa sakit hati pada korban perceraian lebih kepada  ketidakmampuan untuk menerima perlakuan orang yang semula menjadi belahan jiwanya.
Memperbaiki diri, menambah nutrisi jiwa dan hati, dan segera menemukan seseorang untuk membuat hidup kembali berarti; menjadi cara yang tak bisa ditawar lagi bagi kita yang ingin segera bangkit dari keterpurukan.

Berbagi

Ditinggalkan oleh pasangan membuat diri terasa hampa dan kehilangan makna. Merasa diri tak berarti ini yang membuat kita seakan kehilangan harapan dan tujuan.  Berbagi menjadi salah satu cara yang efektif untuk membangkitkan rasa percaya diri.

Berbagi bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Berbagi senyuman,  sapaan, perhatian,  atau waktu untuk mendengarkan orang lain yang sedang membutuhkan.

Melalui media sosial saya menemukan cara berbagi yang efektif dan terbukti berdaya guna. Menulis.  Melalui tulisan saya bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan.  Lewat tulisan,  meskipun hanya sekedar status,  akhirnya dipertemukan dengan mereka yang memiliki persamaan nilai sehingga hidup lebih hidup dan berdaya guna.  Apalagi yang lebih memuaskan batin selain bisa bermanfaat bagi sesama?


Perceraian membuat saya memahami bahwa  kegagalan bukanlah kesuksesan yang tertunda, melainkan kesuksesan yang tak terjadi. Kegagalan adalah sekolah termahal karena mesti di bayar dengan penderitaan lahir batin, pengorbanan yang tidak sedikit,  dan perjuangan yang berat untuk berhasil melewatinya.  Bagi saya pribadi, perceraian menjadi titik balik untuk mewujudkan kehidupan yang selama ini saya impikan . 
#catatanfas




Sebagai Ibu, Apa Yang Bisa Kubanggakan?

Selasa, 29 November 2016



Beribu kisah mengukir dinding. Menggelindingkan tangisan, tawa, canda yang menyuling jiwa-jiwa suci menuju perapian hati  matahari. Cahaya berpendar di langit-langit, menghujani setiap sudutnya dengan  kasih sayang abadi​​​​​​. ( FAS )

Bangga menjadi ibu? Sepertinya tak ada satu pun hal yang bisa aku banggakan atas diriku sendiri semenjak menjadi ibu. Terlalu banyak kekurangan dan hal yang mesti terus dipelajari dan perbaiki untuk sampai pada taraf bangga. Menjadi seorang ibu selalu merasa kurang baik, kurang sempurna, kurang maksimal, dan yang pasti masih sangat kurang stok sabarnya.

Jauh sebelum melahirkan Kresna, aku sudah menjadi ibu, tepatnya dipanggil ibu oleh anak perempuan orang lain. Anak perempuan  suami ( sekarang mantan ). Pertama dipanggil ibu rasanya péngin menjerit dan berkata,"pleasee, jangan panggil aku ibu!"

Naif bangêt ya? Hahaha.. begitulah dilema awal menjalani peran sebagai ibu. Ternyata menjadi ibu yang sesungguhnya  benar-benar tak mudah. Banyak pelajaran yang benar-benar tak terpikirkan sebelumnya.

"Apa sudah kamu pikiran baik-baik keputusananmu itu? Menjadi ibu tiri tidak mudah. Jadi ibu atas anak sendiri saja belum tentu semua orang bisa. Bagaimana mungkin kamu yang masih gadis bisa menjalani peran ibu?"

Pernyataan dan pertanyaan yang diungkapkan bapak sebelum aku menikah dulu ternyata benar adanya. Ketika aku tak bisa mendandani gadis kecil itu dengan ekor kuda misalnya, suara-suara tak menyenangkan sudah berdengung seakan aku ini orang jahat.  Secara, aku yang tak suka dandan dan apa adanya memang tak akrab dengan soal jalin menjalin rambut dan semacamnya.

Bermula dari hal-hal sepele itu rasanya hari-hari perdanaku "mendadak ibu" seperti kawah candradimuka. Ibu mertua dan ipar yang ajaib semacam jadi juri yang terus mengawasi dan menilai gerak gerikku sebagai ibu.

Sampai kemudian hamil Kresna dan melahirkan dengan caesar karena ketuban beracun. Momentum yang nyaris membuat nyawa kami tak terselamatkan karena keluarga suami tak mengijinkan dibawa ke rumah bersalin setelah sekian jam berkutat dengan sakit di bidan desa. Beruntung di detik terakhir suami mau tanda tangan dan menyetujui operasi. Meskipun dengan resiko semakin tak disukai.

Memiliki anak sendiri ternyata berbeda. Bayi yang selama 9 bulan lebih berada dalam kandungan seakan membuatku menjadi manusia baru. Naluri menjadi kuat, insting apalagi. Seperti di hari pertama ia lahir.  Tengah malam ada suara tangisan dari ruang bayi. Meskipun setelah operasi dan sampai menunggu obat bius pengaruhnya hilang belum sempat menggendong dan melihat wajahnya, aku yakin suara tangisan itu anakku. Saat kukatakan pada suami dan mertua, mereka bilang aku mengada-ada.

Ternyata feelingku benar. Sesaat kemudian suster mengabarkan kalau bayi kami mesti dibawa ke rumah sakit umum karena mengalami radang dan harus segera dilakukan tindakan, sementara rumah bersalin tak memiliki peralatannya.

Belum juga kami sempat bertemu keadaan memaksa untuk berpisah dan baru pada hari kelima bisa memeluknya.  Sepertinya, secara alami Kresna memang sudah dilatih "puasa" karena pada perjalanan berikutnya ia memang mesti jauh dari ibunya selama bertahun-tahun.

Menjadi ibu adalah belajar menemukan kekuatan yang tak terduga, belajar menghadapi kecemasan dan ketakutan yang belum pernah ada. Menjadi ibu membuat batin lebih peka, daya juang berlipat ganda. Terlebih jika tiba-tiba mesti mengalami keadaan yang bikin trauma. Saat baru dua tahun menjalani peran sebagai ibu dengan penuh dinamika, lelaki yang semestinya menjadi tiang dan pelindung kami berdua menghilang tanpa pesan.

Dunia terasa kiamat. Kemarahan, ketakutan, kecemasan, dan keputusasaan campur aduk menerpa jiwa. Namun ada satu jiwa yang lebih penting untuk dipikirkan dan diselamatkan dari pada meratapi kenyataan. Kekuatan cinta seorang ibu menjadi energi yang tak pernah kubayangkan untuk tetap kuat dan terus berjuang. Hasrat untuk melindungi, memberi penghidupan yang layak, tak memberikan ruang untuk terus menerus meratapi penderitaan.

Saat itu seorang bocah yang baru berusia dua tahun membuatku sadar; bahwasanya air mata bukanlah jawaban, bahwasanya meratapi seseorang yang tak lagi peduli bukan jawaban.

"Jangan menangis, Ma. Aku tak ada papa tak apa-apa!" Serunya seraya menangis sambil memeluk dan mengusap air mataku.

Hari ini bocah itu sudah berusia sepuluh tahun, empat bulan. Sudah delapan tahun badai itu berlalu dan berganti dengan pelangi yang menghiasi jiwa kami. Sebagai ibu, masih banyak hal yang belum bisa kuberikan untuk permata jiwa yang sudah demikian banyak mengajarkan makna kehidupan dan kebahagiaan. Ia yang senantiasa ceria membuat ibunya ketularan enteng di rasa menikmati perjalanan.

Sebagai orangtua terlebih ibu, dari anak-anaklah sesungguhnya kita belajar dimensi kehidupan yang mendasar. Jiwa mereka yang polos, hati mereka yang tulus, pikiran mereka yang masih jernih; mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang penuh cinta, kasih sayang, kepedulian, dan ketulusan. Jadi, apa yang bisa kita banggakan? #catatanfas



Jangan Ada Blokir Di Antara Kita

Selasa, 22 November 2016

Mumpung masih dalam nuansa Hari Guru, bernostalgia dikit ke masa-masa sma.  Emang pernah sma?!

Enggaak..cuman numpang  rehat setelah kulakan saja kok di sma keren  itu. 😛😁

Sudah sekolah keren, tempat berkumpulnya anak- anak berprestasi sekabupaten ponorogo, kok ndilalah daku disuruh masuk ke kelas fisika pula. Apa coba namanya kalau bukan keberuntungan? 😍😍

Memiliki kesempatan belajar dengan mereka yang mayoritas jenius,  apalah  apalah  daku ini. Hal ini yang membuatku  merasa kadang  tak betah  karena setiap kali pelajaran, kecuali matematika dan kimia,  mata  rasanya sulit  diajak kompromi. Penginnya cepat-cepat istirahat  biar bisa lari ke  perpustakaan untuk berburu novelnya Mira W atau ngelayap ke kelas sosial atau biologi.

  Berada  di sana rasanya diriku merasa betah karena suasananya lebih cair.  Maka  tak heran jika setelah puluhan tahun berlalu, ketahuan kan berapa usianya? 😛 setelah ketemu lagi sama teman- teman sma, daku sering  membatin," jan jane kelasmu ndisik ki ngendi to, Yem? 😁

Beruntung beberapa teman masih meyakinkanku kalau daku ini dulunya kelas fisika meskipun tak ada satu foto pun yang membuktikan hal itu, sebagian dari mereka masih ingat,  "Farida Sayem" sebagai teman sekelasnya.  Itu pun setelah beberapa Farida yang lain diingat duluan.  Mereka ingat bukan karena prestasiku yang hanya  ngantukan  di kelas, tetapi lebih kepada nama julukan yang sejak  smp  dihadiahkan seorang  teman, mungkin  dengan maksud biar  daku bisa "Mingkem" 😁😛. Sayem.  Nama ini yang membuatku gampang diingat  teman-teman sekalipun ada beberapa nama Farida di dua kelas fisika.

Jika dikaitkan dengan ilmu branding, ternyata, sejak dulu daku secara tak langsung sudah mulai  memupuknya  tanpa sengaja. Karena begitu ingat nama Sayem,  otomatis pikirannya ke manusia yang tak bisa mingkem ini. 😛😛

Maka daku ya heran ketika mengetahui diblokir sama teman yang kebetulan namanya sama. Apa mungkin Untuk menghindari kesalahpahaman nama atau yang lainnya? Daripada mikir dan berprasangka, maka dengan akun lain daku meminta maaf padanya.  Dan alasannya karena merasa tidak kenal dengan nama akunku setelah sekian tahun berteman dan guyon. Sediih pastinya, terlebih lagi ia sobat dari masa remaja. Andai seiring waktu kami berbeda pandangan dalam banyak hal, tapi tidak beginìi..'*Sambil nyanyi

Tapi  ya sudahlah, bener kata sabahatku, "Nggak usah sedih jeng. Toh masih banyak sahabat yang lainnya."

Ternyata bener ya, seribu  sahabat memang tak pernah cukup.  Meskipun rasanya sayang kenapa mesti memutuskan tali silaturahmi.

Untuk seluruh sahabatku,  Mohon Maaf Lahir Batin, ya. Di dunia maya atau nyata, beginilah daku apa adanya.  Terima kasih bagi yang masih berkenan menjalin silaturahmi denganku.  😍😍😍😍

#catatanfas_27Nov2016

Dinamika Dalam Menjaga Tali Persaudaraan

Senin, 21 November 2016

Saudara dan persaudaran itu beda. Saudara adalah mereka yang ada pertalian darah, sementara persaudaraan adalah mereka yang terhubung dengan  hati dan perasaan kita.  Maka tak mengherankan kalau ada istilah saudara sendiri jadi musuh, sementara orang lain malah bisa menjadi saudara.

Dalam bersaudara kita tak bisa lepas dari konflik, kesalahpahaman,  pertengkaran, dlsb. Akan tetapi kalau kita bisa cepat kembali akur itu artinya kualitas persaudaraan kita baik. Sebaliknya, kalau dengan saudara atau saudara kita sendiri  tak mudah memaafkan dan terus menerus menyimpan ketidaksukaan, bisa jadi ada yang perlu diubah dari cara kita memaknai keadaan. Kita tidak bisa mengubah orang lain, tetapi kita bisa mengubah pikiran dan cara menyikapi keadaan demi ketentraman.

Kita bisa memaknai kondisi tersebut sebagai cara Tuhan untuk meningkatkan kualitas kita sebagai manusia. Saat orang lain baik ke kita dan kita baik kepadanya itu sudah biasa, khan? Akan berbeda kalau kita bisa tetap baik kepada orang yang tak baik kepada kita. Emang sulit sih untuk merealisasikannya, tetapi bukan kebaikan dan kebahagiaan namanya kalau mudah melakukannya. Seringkalinya jalan kebaikan memang terlihat sulit, berliku-liku, mendaki, dan penuh dengan rintangan. Maka hanya mereka yang terpilih dan mau memilih saja yang mampu melakukannya. #catatanfas

Melati Untuk Arumi

Kamis, 17 November 2016

Bunga melati di depan rumah. Warna dan aromanya adalah kerinduan yang tercurah. Membilas resah dan susah. Membalut luka yang pernah singgah. Fas

***

Senja kembali menyapa. Gelisah yang sempat terlupa oleh kegiatan di ladang seharian kembali singgah. Sambil menghisap rokok yang telah menjadi sahabatnya bertahun-tahun, pandangan Herman singgah di halaman. Di pojok selatan, di bawah pohon kelapa, serumpun kembang melati menguarkan semerbaknya. Bunganya yang putih, memanjakan matanya. Sesosok perempuan berdiri di bawah temaram senja.

"Beberapa bulan ke depan, rumah kita akan selalu berbau wangi jika senja datang, Mas. Dan anak kita akan merasakan nyaman akan aromanya yang menyegarkan," tutur wanita manis itu saat menanam kembang di halaman bertahun-tahun silam kembali terngiang di telinganya. Ada rasa yang menghujam di dada Herman. Sebentuk penyesalan yang kian menggunung, menghantam dadanya. Untuk seberapa lama, ia terbatuk-batuk.

"Kenapa lagi, Mas! Sudah berapa kali Asih bilang jangan merokok sambil melamun. Masih memikirkan wanita itu, ya?!"

Kemunculan istrinya yang tanpa peringatan sambil berkacak pinggang di depannya membuatnya gelagapan dan serba salah. Herman hanya menjawab dengan tatapan kosong. Sekosong jiwanya yang telah bertahun-tahun mati. Hidup serupa malam tak bertepi. 

Impian Arumi, wanita sederhana yang pernah menanam kembang melati di halaman dan jiwa Herman tidak pernah menjadi kenyataan. Rumah ini memang selalu berbau melati sejak bertahun-tahun silam. Namun kenyamanan tidak pernah terwujud sampai detik ini.

"Semua kesalahanku, maafkan aku, Arumi," batin Herman sambil menyesap aroma melati.

Suara jangkrik menandakan malam semakin tenggelam di peraduan. Di bawah cahaya bulan purnama, Herman melihat sesosok perempuan berbaju putih sedang memetik kembang melati. Di pelukannya , bocah lelaki berumur 3 tahunan menyematkan sekuntum melati ke telinganya. Di leher bocah itu, roncean melati melingkari, ada cahaya yang berkilauan dan harum semerbak terluar dari tubuhnya. Sesaat Herman melihat keduanya menoleh ke arahnya sambil melambaikan tangan.

"Arumi, Nakula, Tunggu...tungguu aku!" Namun keduanya melesat tanpa menghiraukannya. Herman berlari mengejar keduanya. Ia menyeberangi hutan jati, sungai, dan ngarai, namun keduanya semakin jauh meninggalkannya dan lenyap tak berbekas. Ia hanya ingin mengucapkan satu kata yang selama bertahun-tahun mengendap di sudut laranya.

Tiba-tiba sebuah suara yang sangat dikenalinya sayup-sayup menerpa telinganya. "Mas, kamu sudah siuman. Alhamdulillah."

"Aku di mana?"

"Mas di rumah sakit. Pak Bakri menemukan Mas pingsan di pinggiran hutan jati."

Herman ingat. Tempat yang dimaksud istrinya adalah tempat ia mengambil bibit bunga melati yang ia bawa pulang dan di tanam Arumi. 

Masihkah sesal ini berguna, Arumi?" Rintihnya dalam hati sambil menatap kosong  dinding putih yang seakan mengejek dan mengingatkan betapa gelap hidupnya.

#FAS, 12022015

Belajar Mencari Dan Menemukan Kunci

Jumat, 11 November 2016

Ketika masalah yang sama terus menerus terjadi dalam hidup kita, pikiran apa yang terlintas dalam benak?

"Mengapa harus aku?"
"Sampai kapan semua ini akan berakhir?"

Alih-alih bertanya,
"Apa yang mesti kuperbaiki?"
"Apa yang salah dengan diriku?"
"Bagiamana aku harus berubah?"

Sebagian dari kita malah terlarut dengan kalimat penenang diri,"Semua akan indah pada waktunya?" #eaaaa terus kapan indahnya kalau tak mau mencari dan mendefinisikan keindahan hidup itu seperti apa?

Baiklah..baiklah..bisa dimaklumi kalau kalimat penenang itu bisa membuat kita seperti kecanduan sehingga setiap kali membutuhkan, menelan dan menelannya lagi. Hiks...menelan terus, kapan mengunyahnya? Hahaha...

Sudah ah..Mau ngomong apa to ini sebenarnya? Nggak sih, cuman mau ngomongin kesalahanku sendiri saja.

Sudah daftar kelas online jauh-jauh hari karena materinya klik di hati dan yang pasti sudah transfer jadi hakul yaqin kalau hari ini bakalan dapat mengikuti kelas dengan lancar apalagi waktunya juga mengijinkan.

Realitanya, apa yang terjadi? Ternyata oh ternyata, belum jatahnya saya dapat ilmu baru hari ini. :-D :-P

Tapii, apa pun keadaannya pantang bersedih berlama-lama dan untuk itu mesti dicari apa penyebab dan maknanya biar segera kembali syalalala.
Dan hasilnya adalah status yang barusan ku tulis:

"Setiap hal itu ada waktunya. Meskipun sudah dijatahkan untuk kita kalau wadahnya belum siap akan di tahan untuk sementara. Tugas kita hanyalah mempersiapkan dan memperbaiki kualitas saja, biar rezeki dan ilmu mendekati dengan cara-cara tak terduga."#selftalk

Apakah kejadian yang kelihatan sepele ini kebetulan? Tidak. Kejadian ini penyebabnya adalah kesalahan diriku sendiri   meskipun secara teknik bagian penyelenggara sudah meminta maaf atas keteledorannya.

Saat kuceritakan sama suami, belio spontan mengantisipasi,"Jangan bilang karena ayah lhoo, My."

"Nggak sih Yah, cuman memang ya ada kena mengenanya."

Jadi begini, pas awal péngin ikut kelas ini, diam-diam aku daftar tanpa meminta ijin atau persetujuan dari belio seperti biasanya. Pas hari itu emang lagi kesel sih, jadi ya gitu deh. Hahaha...

Pun saat transfer dananya. Biasanya setelah Pakne acc, belio yang bagian bayar-bayar, etapi karena lagi kesel, aku minta adik yang bantu transfer melalui atm yang kupercayakan sama dia.

Keesokan harinya aku baru cerita kalau ikut kelas dan sudah di bayar. Pas kejadian itu belio sih maklum dan bilang nggak papa. Tapi tetap saja ada rasa bersalah karena ngomong dan ijinnya belakangan. Secara menurut kesepakatan, apa pun harus dibicarakan terlebih dulu. *Dua kesalahan besar yang perlu digarisbawahi ini ya! #selfreminder

Kejadian hari ini memang membuatku gagal mendapatkan ilmu baru, namun juga memberi banyak pembelajaran yang berarti. Ternyata benar, suami itu "malati".  Bagi seorang istri, do'a dan restu suami itu kunci dalam menapaki hari. Maka kemana pun atau apa pun yang dilakukan harus diketahui dan mendapat ridhonya.

Dan tanpa kejadian barusan sudah pasti nggak bakalan ada tulisan ini. Nah, emang benar adanya bahwa di balik hal yang tak menyenangkan selalu ada nilai  yang bisa kita ambil untuk membuka pintu-pintu kebaikan. Meskipun tidak langsung bisa  kita gunakan, setidaknya bisa kita jadikan bekal jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Sungguh tak ada keadaan yang terjadi tanpa maksud dan tujuan. Semua sudah benar adanya. Sudah pas dan sesuai dengan apa yang kita kerjakan dan niatkan sebelumnya. Bagi diriku pribadi, ini semacam teguran keras, "Jangan mentang-mentang punya penghasilan sendiri, bisa semau-maunya memutuskan sesuatu, sekecil apa pun itu tanpa ijin dan persetujuan suami." #noted

Alhamdulillah banget selalu di beri teguran untuk memperbaiki diri yang membuat hidup dan hubungan semakin bersinergi. Dengan mengalami dan belajar mencari makna, perjalanan yang penuh dinamika terasa enteng menjalaninya. #catatanfas

Perempuan Dan Persimpangan

Rabu, 09 November 2016




"Maafkan saya sebelumnya mbak. Maafkan telah mengganggu kebahagiaan mbak. Saya tidak tahu dari mana harus memulai. Sekali lagi maaf. Sebagai sesama perempuan harusnya saya tidak melakukan hal ini. Saya tahu mbak akan segera menikah dengan Rama. Saya yakin mbak kaget dan bertanya-tanya bagaimana saya tahu ini semua, terlebih lagi mbak pasti terkejut karena saya mengenal calon suamimu."

"Mbak, sudah puluhan kali saya mencoba bersapa denganmu lewat inbox. Namun selalu gagal. Baru kali ini saya kuatkan hati untuk mengatakan kenyataan yang sebenarnya tentang siapa Rama dan saya...

Shinta tak sanggup lagi meneruskan mengeja kata-kata dari perempuan yang tidak pernah dikenalnya ini. Mungkin sebuah kecerobohan membiarkan facebooknya bisa dikirimi pesan oleh publik. Namun semua sudah diatur nampaknya oleh sang pemilik kehidupan. Bukankah tak ada yang benar-benar kebetulan?

Hati perempuan akhir dua puluh itu bergemuruh. Tetes-tetes rasa tak terbendung lagi. Ingin sekali ia tak mempercayai apa yang diungkapkan perempuan itu. Tapi hati kecilnya bisa merasakan kalau sedikitpun tak ada kebohongan dari ceritanya, meski sebagian hatinya yang lain menolak untuk mengakui.

Mendadak sebuah pesan masuk di Whats App. Pesan yang biasanya ia nantikan itu kini bagaikan
jarum yang menusuk jantungnya. 

"Selamat ulang tahun permaisuriku. Kanda berharap pernikahan kita
akan menjadi kado terindah dalam hidupmu. I love you."

Andai pesan itu ia terima sebelum membaca inbox, mungkin ia menjadi perempuan yang paling berbahagia malam ini. Seumur hidupnya. baru kali ini ada yang secara khusus mengucapkan ulang tahun tepat di tengah malam. Sangat romantis. Terlebih bila ingat acara makan malam mereka beberapa jam sebelumnya. Meskipun bertiga dengan sahabatnya, Rahma, sedikit pun tidak mengurangi kegembiraannya. Dan kini, dalam sekejap mimpinya tertelan ombak kenyataan yang tak mampu ia elakkan.

Pernikahan mereka tinggal beberapa minggu lagi. Semua persiapan hampir selesai. Dengan berbagai pertimbangan mereka memang hanya mengundang kerabat dan teman-teman terdekat. Bagaimana mungkin ia berani membatalkan pernikahannya? Terlalu besar resiko dan beban moral yang ia dan keluarganya sandang nanti. Apa ia sanggup dijadikan tertuduh seumur hidup sebagai pembawa tak keberuntungan keluarga? 

 Mungkin semua juga berkat keteledorannya yang kesekian. Ia terburu-buru menerima pinangan lelaki yang baru beberapa bulan dikenalnya. Ia percaya begitu saja ketika sahabatnya mengatakan kalau Rama akan menjadi pendamping yang baik baginya.Terlebih semenjak ia melihat perhatian dan kesungguhan lelaki yang telah menduda tiga tahun itu. Meski awalnya ia sempat ragu demi mengetahui ia telah memiliki anak. Dan setelah kedua orang tuanya bertemu dengan Rama, mereka berdua tak keberatan untuk merestui hubungannya. Shinta yakin salah satu alasan orang tuanya karena umurnya telah lebih dari cukup untuk menikah.

Entah sudah berapa puluh kali setiap ke kondangan mereka ditanya kapan akan ngunduh mantu. Bagi orang tua, pertanyaan itu tidak hanya menyedihkan, namun juga menjadi beban moral. Terlebih mereka hidup di perdesaan yang masih sangat tinggi menjunjung tradisi. 

"Sudahlah, Nak, ibu yakin dia laki-laki baik. Awalnya mungkin akan berat menjadi ibu pengganti buat anak-anaknya. Toh, kamu sudah biasa menghadapi anak-anak di sekolah. Kamu pasti bisa,"Nasehat ibu malam itu kembali terngiang.

Perempuan berparas manis itu semakin gundah. Detak jarum jam seakan mengejeknya. Bagaimana mungkin ia tega menghancurkan impian dan kebahagiaan ibunya? 

Berkali-kali nomer yang sudah ia hapal di luar kepala itu  ditekannya,  namun di detik terakhir ia urungkan. Ia belum siap mendengar pengakuan Rama seandainya ia berani mengatakan kenyataan yang sebenarnya. Terlebih utama ia tak ingin mendengar kebohongan dari lelaki yang telah terlanjur ia yakini sebagai malaikat itu. Sungguh ia belum sanggup.

Sesaat ia berubah pikiran. Sebaiknya ia segera menghapus pesan dari perempuan itu. Anggap saja semua hanya mimpi. Setelah sign in dan masuk ke kotak pesan, sebuah foto telah masuk  ke inboxnya. Kalau sesaat tadi sebagian hatinya bisa menuduh pengakuannya hanya rekayasa. Kali ini ia tak mungkin lagi sanggup menipu kenyataaan. Potret lelaki bermata tajam yang tengah memeluk perempuan muda itu tak bisa ia elakkan. Terlebih bayi mungil yang ada di pelukannya.

#FAS, 03022015

NOSTALGIA

Wajah cantik itu berkerut-kerut memandangi siapa yang baru saja ditabraknya, mencoba mengingat sosok yang kini berdiri di depannya. Mukanya pucat seakan melihat hantu

. "Tidak mungkin?!" Bantah hatinya.

"Mbak tidak apa-apa?" Suara bariton itu mengejutkan lamunannya. Suara yang sama. Suara yang pernah membuatnya begitu ceria setiap dering telpon berbunyi untuknya. Masih tetap sama, meski agak berat intonasinya. Tungguu...apa dia tidak salah dengar? Mbak?! Barusan lelaki yang bertahun-tahun ia rindukan memanggilnya mbak? Jadi...jadi..ia tak mengenaliku? Sudah sedemikian berubahnyakah diriku hingga ia tak mampu mengenaliku? Batinnya menggugat tak terima.

Tahun demi tahun, Siska, perempuan cantik yang telah di ambang senja itu membawa asa. Mengharapkan sebuah keajaiban membawanya kembali untuk berjumpa dengan lelaki yang terus hadir dalam mimpinya. Dan kini impian itu telah berhasil ia raih. Tanpa diduga pertemuan terjadi. Namun apa realitanya?? Ternyata semua hanya kesemuan belaka. Ia bermimpi sendirian. Mimpi yang telah membuatnya tersesat dan mengabaikan banyak kesempatan untuk menikmati kebahagiaan.

Tanpa menjawab pertanyaan lelaki itu, Siska buru-buru pergi. Hanya satu keinginannya, ingin segera sampai di rumah dan memeluk suaminya. Lelaki yang telah begitu baik dan sabar mencintainya meskipun tahu hati Siska tidak sepenuhnya bersamanya. Siska ingin menyulam hari -hari yang telah ia sia-siakan dengan tekad pengabdian dan kesetiaan.

Nostalgia oh nostalgia...seindah apapun cerita yang ada, semua hanyalah sisa-sisa cerita yang telah usai di telan masa.

Terkadang nostalgia bisa membuat terlena, membawa rasa untuk merajut kembali cerita-cerita yang belum selesai tertelan masa.Semanis apapun nostalgia, realita lebih indah untuk diberi makna.

FAS, 08112014




Balada Pahlawan Keluarga

Sabtu, 05 November 2016

Nemu coretan dua tahun silam ini di kenangan Facebook. Perlu di simpan sebagai pengingat diri.

Dalam rentang waktu sebulan dua peristiwa yang menimpa pekerja kita di negara beton menggemparkan sekaligus menggetarkan rasa. Ada rasa sendu, malu, kasihan, dsb. Terlebih bagi keluarga yang ditinggalkan, betapa dalamnya luka yang mereka rasakan. Bagi yang tua mungkin masih bisa mengatasinya, bagaimana dengan anak-anak mereka? Melihat potret anak almarhumah Sumarti Ningsih, salah satu korban mutilasi, air mata tak tertahankan lagi. Melihat kepolosan wajahnya, saya yakin ia belum paham atas apa yang menimpa ibunya. Namun, bagaimana nanti setelah ia tahu kalau cerita ibunya demikian tragis?

Di antara sekian pilihan, merantau sepertinya menjadi alternatif terakhir untuk dilakukan. Terlebih bagi kita ( termasuk yang nulis ) yang sudah berkeluarga. Ada banyak faktor yang harus kita pertimbangkan sebelum kita memutuskannya. Saat masih sendiri, di perantauan kita tidak terbebani oleh banyak pikiran. Berbeda saat sudah memiliki anak, rasa kawatir dan pikiran-pikiran yang tak menyenangkan kerap hadir karena rasa bersalah terhadapnya. Semua itu membuat hati tak tenang dan imbasnya pekerjaan sering keteteran. Belum lagi persoalan dalam beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru. Dengan kondisi demikian, maka liburan  ( seakan ) menjadi satu-satunya ruang yang bisa dijadikan pelepas lelah dan pelampiasan segala resah. Tak ayal, banyak jiwa yang akhirnya mencari penawar dengan sesuatu yang semestinya tabu untuk dilakukan.

Permasalahan berikutnya yang kerap muncul dan menjadi sumber masalah demi masalah yang taky ada ujung pangkalnya adalah uang. Tidak bisa dipungkiri, setiap orang yang melangkahkan kaki ke luar negeri, mereka jadi tumpuan harapan bagi keluarganya. Namun sayang, kebanyakan keluarga tidak/belum mampu memahami bagaimana situasi di perantauan. Mereka hanya berpikir kalau dengan merantau uang mudah didapatkan. Sementara di sisi lain, menurut banyak pengakuan, keluarga sangat jarang memberikan perhatian. Mereka sering lupa kalau berpisah dengan keluarga itu membuat hati demikian nelangsa, perasaan terbuang kerap hadir tanpa diminta. Sikap keluarga yang seakan tak mau tahu ini sering membuat banyak orang frustasi, terlebih kalau keluarga hanya menanyakan hasil kerja. Dalam banyak situasi, perantau seakan tersudutkan di antara buah simalaka. Di satu sisi, mereka ingin tak peduli, jika mengingat sikap yang tak sesuai harapan. Di sisi lain, perasaan malu dan bersalah kerap pula mampir dan membuat mereka nekat mengambil jalan pintas.

Jalan pintas? Yaa...di Hong Kong ada banyak lembaga keuangan yang menawarkan pinjaman dengan persyaratan mudah bahkan cenderung banyak pemalsuan dokumen demi mendapatkan banyak konsumen. Bagi yang mau meminjam, mereka cukup telpon dan membawa satu/dua teman sebagai penjamin, dalam hitungan hari mereka sudah bisa mendapatkan uang yang diinginkan. Cara mudah ini membuat banyak orang tergiur, terlebih bagi yang tak bisa menunggu saat menginginkan sesuatu, finance menjadi solusinya. Dengan gaji yang memadai, HK$4010,  mula-mula jumlah potongan yang harus dibayarkan bukan sesuatu yang memberatkan. Persoalan akan muncul jika salah satu teman yang jadi penjamin, biasanya orang yang bersedia jadi penjamin juga mengambil pinjaman, tidak membayar. Maka, mau tak mau penjamin lain harus menutupinya. Alhasil uang gaji tak lagi mencukupi, belum lagi kebutuhan lain yang seringkali tak bisa diprediksi, dari mana mendapatkan uang untuk menutupi?

Bukan rahasia umum lagi kalau bermula dari persoalan ini banyak orang lupa diri. Ada yang nekat, maaf, melacurkan diri karena tak ingin keluarga di rumah terbebani, ada yang lari dan tak tahu lagi dimana kabarnya, dan bulan lalu bahkan ada yang nekat bunuh diri.

Jadi ingat nasehat seseorang, "sebelum hati dan pikiranmu tenang, seberapa banyakpun uang yang kamu hasilkan tidak akan cukup. Karena hati dan pikiran yang tak tenang akan memunculkan banyak keinginan. Sebaliknya, hati dan pikiran yang tenang, akan menjadi cahaya dalam membedakan keinginan dan kebutuhan. Dan keduanya hanya bersumber dari ilmu dan iman."

FAS, 05112014

Mendadak Mak Comblang

Senin, 31 Oktober 2016


Pernah berperan sebagai perantara kedua belah pihak yang sedang cari pekerjaan atau pasangan? Saya pernah beberapa kali dan endingnya Alhamdulillah  mereka sukses bekerja atau pun  menikah dengan gembira. Ikut gembira dong pastinya?  Bukan gembira, cuman bahagia saja karena bisa menjadi jalan bagi kebaikan hidup orang lain meskipun juga ada suka dukanya.

 Beda ya gembira dan bahagia itu? Jelas beda. Gembira itu saat kita mendapatkan kesenangan dari luar diri dan sifatnya sementara. Sedangkan bahagia itu melalui proses pencarian dalam batin  sehingga menemukan keseimbangan di saat kenyataan tak sesuai harapan. Sifat kebahagiaan itu permanen karena merupakan kekayaan batin yang tak akan habis sekalipun dibagikan.

Jadi begini ceritanya mengapa kok mendadak mak comblang....

Entah karena  alasan apa yang membuat beberapa orang datang dan meminta tolong untuk dicarikan kerja/pekerja. Beberapa lagi juga sama. Datang untuk minta tolong dicarikan kenalan untuk teman hidupnya. Ladalah, mendadak mak comblang ceritanya. :-P :-D

Bakat terpendam ini, yaelah segitunya, hahaha...mulai terlihat sejak SMA. Masa itu pak lik saya yang kerja di luar pulau menggunakan lagu rayuan pulau kelapa untuk mencarikan jodoh untuknya. Maklum pak lik saya ini orangnya selain ganteng juga tidak pernah pacaran. :-D Jadi alhasil sebagai ponakan yang pengen balas budi dan baik hati #uhuuk kami ( saya dan mbak ) mencoba mengenalkan dan menghubungkan dengan orang yang kemungkinan cocok jadi pasangannya.

Mbak yang pertama mengenalkan belio dengan temannya. Entah karena Mbak yang tidak mewarisi bakat ibuk dalam hal percomblangan, ngomong opo iki, hahaha..setelah sekian lama menjalin LDR lewat surat menyurat; masa itu boro boro telepon seluler, telepon rumah saja belum masuk ke desa, mereka tak jadi ke pelaminan. Maka selanjutnya saya yang berusaha mencarikan jodoh. Bukan lewat rubrik jodoh di koran koran yang pada masa itu ngetrend lho ya...:-D entah dapat bisikan dari mana kok malah sahabat satu kelas yang coba saya "bribik" untuk saya jadikan bulik. 

"Ndilalah" kok sahabatku itu mau. Setelah setahun tunangan akhirnya mereka menikah dan anak sulungnya kini sudah masuk  kuliah saja padahal seperti baru kemarin kejadiannya. Mau tak mau ternyata saya sudah tua ya? :-D :-P


Pasangan lainnya yang Alhamdulillah juga nampaknya akan mengikuti jejak paklik saya adalah dua orang yang secara fisik belum pernah ketemu tetapi kenal di dunia maya.  Ternyata di éra yang serba canggih ini masih ada yang menggunakan cara konvensional untuk menemukan jodohnya. Secara GPS sudah ada kenapa pula mesti minta tolong orang lain coba? Hahaha...

Dua tahun lalu ia berkata,"Mbak, tolong dicarikan kenalan biar segera mengikuti jejakmu." Jejak  di sini maksudnya sebagai wanita yang sudah sekian tahun jadi single parent dan ketemu pasangan lagi. Secara kebetulan nasib kami berdua  sama. Pas kebetulan dalam waktu yang bersamaan juga ada dua sahabat pria yang juga minta dicarikan kenalan. Begitulah cara jodoh saling menemukan. Ketika si pria pertama belum membuatnya sreg karena tak sesuai kriteria, pria kedua yang juga sudah lama menjomblo dengan dua anak itu menjadi target berikutnya. Target? Kek bisnis MLM saja...:-D

Lhaa emang mirip sih sistemnya dengan MLM. Kalau ini profitnya bukan nominal melainkan bertambah jaringan paseduluran.

Dua tahun setelah mereka mengalami hubungan yang naik turun, pas naiknya sih jarang tahu, kalau pas turun saya dicolek colek...hihihi..begitulah resikonya, meskipun paiit harus tetap disesap seperti kopi; mereka sepertinya beberapa hari yang lalu sudah ketemuan.

Kok sepertinya? Iyaah, Karena secara kebetulan saya melihat profile si pria (yang sejak mereka jadian demi kenyamanan saya unfriend ) lewat di beranda dan memakai foto mereka berdua. Setelah saya lihat dindingnya, ternyata teman perempuan ini memang sudah balik dari seberang. Syukurlah jika pada akhirnya sang waktu berpihak dengan mereka. 

Mungkin  memang seperti inilah nasib orang yang mendadak mak comblang. Saat mereka telah menemukan muara bahagia kita mesti belajar legawa untuk dilupakan begitu saja.  Dan semoga saat kehidupan lagi turun mereka atau salah satunya tidak menyalahkan saya. Karena bahagia atau tidaknya hubungan rumah tangga bukan siapa yang mengenalkan, melainkan bagaimana kita menjaga cinta dan keseimbangannya.

Coretan akhir oktober ini sebagai pelepasaan rasa biar tetap syalalalala. Oktober sepertinya memang bulan yang penuh dengan keadaan yang menjadi bahan untuk menguatkan jiwa. Selamat tinggal Oktober, selamat datang November, semoga rezeki semakin meluber! #catatanfas


Merayakan Perbedaan

Jumat, 28 Oktober 2016


Perbedaan itu niscaya. Kita diciptakan dengan berbagai perbedaan agar saling melengkapi, kaya sudut pandang, dan kaya pemahaman. Sayangnya sebagian orang entah mengapa sangat anti dengan perbedaan sehingga berusaha memerangi yang berbeda agar supaya semua seragam dengannya.

Mungkin mereka yang anti perbedaan itu perlu sesekali piknik  dan tinggal di negara yang homogen agar paham betapa menjenuhkan dan bosannya hidup dalam satu bahasa, warna kulit, dan tradisi yang sama. Beberapa kali saya pernah ke Tianjin dan Beijing, China. Tinggal sampai hampir sebulan di sana. Berada di antara mereka seperti berada di kerumunan robot. Kaku dan dingin. Waktu terasa melambat, tak ada keindahan yang bisa dirasakan kecuali kebosanan.

Dilahirkan menjadi orang Indonesia itu rahmat luar biasa. Dengan keanekaragaman suku, bahasa, dan budaya kita menjadi manusia yang penuh daya cipta dan daya guna.

Di luar negeri, orang Indonesia akan sangat mudah beradaptasi dengan budaya setempat dan mudah mempelajari bahasanya karena secara alami sudah memiliki kemampuan dan ketrampilan luar biasa dalam menyikapi perbedaan.

Setiap kali ada yang bertanya,"Mengapa orang Indonesia mudah belajar bahasa kami, sedangkan orang dari negara lain mengalami kesulitan?"

Dengan bangga saya  menjawab,"Karena bahasa kami memiliki kesulitan yang lebih tinggi dan lebih kaya kosakata, maka bahasa kalian menjadi hal yang mudah dipelajari."

Jangankan dengan orang lain, mereka yang terlahir kembar saja pasti memiliki perbedaan, bagaimana mungkin yang jelas terlahir dari ibu, daerah, dan suku yang berbeda mau dibuat sama? Bukankah justru yang berbeda itu unik dan menjadi ciri khas yang membuat kita istimewa?

Belajar perbedaan dimulai dari diri sendiri. Dengan belajar menemukan perbedaan dan menerimanya kita akan mudah bertoleransi dan berdamai.

Saya belajar perbedaan sedari kecil. Secara kebetulan hidung saya memiliki bentuk yang unik dan beda sehingga menjadi bahan bully teman-teman sepermainan dan sekolah. Keadaan itu membuat saya bertekad tidak mau sama dengan mereka. Saya membalas olokan mereka dengan prestasi di sekolah. Saya berteman dengan buku-buku di perpustakaan dan mencoba mencari jawaban,"Mengapa saya berbeda, Tuhan?"

Ternyata maksud Sang Pencipta menciptakan perbedaan itu agar saya menggali lebih dalam dan menemukan apa kehendak-Nya. Semenjak saya sadar bahwa secara fisik tak cantik dan memiliki "kelebihan" semangat untuk belajar dan mencari membara di dada. Itu salah satu alasan mengapa saya tertarik dengan ilmu ilmu pemgembangan diri.

Sebelum mampu menerima orang lain  apa adanya, hal pertama yang harus ada adalah belajar berdamai dengan diri sendiri. Dengan memiliki kesadaran tentang siapa diri, Who Am I , kita akan mampu berkata, "Aku menerima diriku apa adanya, karena aku yakin Tuhan tidak pernah salah menciptakan hamba-Nya. Tidak perlu iri atau membandingkan diri dengan orang lain, ya, karena setiap orang terlahir dengan masing-masing keunikannya dan hanya satu-satunya di dunia. Percaya diri saja!"

Percaya diri bukanlah soal tehnik semata, melainkan lebih kepada menguatkan pemahaman yang baik tentang nilai-nilai kehidupan yang membuat diri berguna dan bahagia. Memahami siapa diri dan apa peran kita terlahir ke dunia."

Apakah PD itu datang serta merta? Tidak. Kita butuh proses yang panjang dan melelahkan untuk meraihnnya. Kita butuh mengalami banyak hal untuk menemukan kelemahan, kekurangan, dan kelebihan diri sebagai media pembelajarannya. Kita akan mengalami banyak rintangan, melakukan banyak kesalahan, tetapi semua hanyalah bagian proses yang mesti kita lewati untuk menumbuhkan kekuatan jiwa.

Saya dulu minder luar biasa dalam
penampilan fisik. Saya selalu merasa diri tak memiliki daya tarik karena tidak cantik. Seiring waktu saya sadar kecantikan wanita dan daya tarik wanita itu tak melulu soal fisik semata. Kecantikan bisa dibangun lewat kepribadian, kecerdasan, dan terlebih lagi dari dalam. Selama kita mampu menjaga kebersihan hati, kejernihan pikiran, dan sikap; tanpa diminta kecantikan akan terpancar dengan sendirinya.

Berbagai hal keadaan yang berbeda akan membawa kita pada keindahan dan keajaiban hidup. Terlebih sejak menikah dengan suami yang berbeda suku, karakter, dan budaya; makin warna warni dan indah perjalanan yang ada.

Perbedaan bukan sesuatu yang perlu dihindari. Justru dari perbedaan kita akan menemukan keseimbangan untuk mencapai tujuan.   Mari kita rayakan perbedaan dengan syalalalala. Dengan spirit sumpah pemuda,  saya buat sumpah atau janji kepada sendiri untuk merayakannya agar senantiasa ingat bahwa belajar menerima perbedaan itu akan mudah selama memiliki persamaan nilai yang diperjuangkan bersama.

Kami adalah dua jiwa yang terlahir menjadi satu, oleh rahim cinta dan ruang waktu.

Kami adalah dua jiwa yang berjanji dan bertujuan satu, mencari Ridho-Mu.

Kami adalah dua jiwa yang bersumpah saling mendengar dan  berbahasa satu, bahasa kalbu.

#catatanfas_28 Oktober 2016
#sumpahkamiberdua
#spiritsumpahpemuda

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS