Pages

LDR-an Itu Keajaiban

Jumat, 29 Juli 2016




Bagi yang belum pernah menjalani hubungan jarak jauh yang lebih dikenal dengan istilah LDR- Long Distance Relationship itu sesuatu yang tak bisa dicerna oleh logika. Secara gimana bisa menjaga sebuah hubungan jika secara fisik tidak melihat gerak geriknya? oke..oke...bisa dimaklumi sih karena sentuhan fisik bagi pasangan itu hal yang mempengaruhi kemesraan. Hmmm...etapi kenapa juga yang tiap hari ketemu, bersama, masih juga tidak saling jatuh cinta atau merasa saling memiliki ya?

Mungkin banyak yang melupa bahwa dimensi manusia itu bukan hanya fisik semata. Ada bagian-bagian lain yang tak bisa disentuh oleh panca indera dan hanya bisa disentuh oleh RASA. Dan sisi inilah yang sering diabaikan oleh mereka yang menganggap bahwa fisik itu segalanya. Mereka yang menjalani LDR memiliki perjalanan jiwa yang seringkali tidak disadari pula oleh pelakunya. Semisal, saat ujug-ujug pengin nelpon pasangan, baru pegang HP sudah ada panggilan atau pesan masuk. Apakah ini kebetulan? sepertinya tidak. Rasa tidak mengenal ruang dan waktu.Sejauh apa pun dua raga terpisah, selama hati berada pada frekuensi yang sama atau lebih kita maknai sebagai cinta, keduanya akan saling terhubung dan memiliki feeling yang kuat untuk saling merasakan. Feeling itulah yang membuatnya juga merasa kalau kita sedang mengingatnya dan pengin menghubunginya.

LDR bukan hanya soal terpisahnya jarak dan waktu. LDR juga mengajarkan kita tentang melepaskan diri dari kemelekatan. Banyak orang, terlebih wanita, sangat melekat dan tergantung dengan anak-anak, pasangan, harta benda sehingga hidupnya penuh dengan kekuatiran dan ketakutan. Banyak yang merasa kesepian, hampa saat mereka jauh dari sisinya. Bukankah semua yang kita miliki ini sifatnya hanya sementara, titipan semata? LDR membuat kita memahami bahwa semakin kita belajar melepaskan ketergantungan dari semua itu, perjalanan semakin mudah dinikmati.

Meskipun tak bisa dipungkiri, LDR juga memiliki banyak sisi tak menyenangkan yang seringkali bikin keki sendiri, uring-urngan, bahkan yang lebih parah krisis kepercayaan. Bagaimana menyiasatinya? Menurut pengalaman pribadi dan mengamati orang- orang terdekat, kepercayaan itu lebih erat hubungannya dengan kepercayaan diri. Ketika rasa curiga atau kekuatiran kalau kalau pasangan melakukan hal-hal yang tidak kita harapkan, sepertinya itu adalah signal dari dalam bahwasanya ada yang mesti kita perbaiki dalam hati dan pikiran. Satu hal yang mesti kita garisbawahi, dalam hidup ini ada keadaan yang bisa kita kendalikan dan ada banyak hal yang hanya bisa kita serahkan pada kendali-NYA. Dan hanya do'a yang bisa menjadi solusinya. Kalau sudah kita pasrahkan pengawasannya pada sang pemilik kehidupan, apa lagi yang mesti dicemaskan? Dari sini kita belajar makna iman.

Sifat hidup itu mengalir dan penuh dengan ketidakpastian. Semakin kita bersikeras ingin mengendalikan keadaan atau pasangan, semakin keras pula perjalaan akan membenturkan kita pada berbagai keadaan. Keindahan hidup bertahta dari cara kita menikmati perjalanannya. Tidak perlu menunggu bertemu untuk bahagia. Bahagia adaalah saat kita mampu melihat kejaiban demi keajaiban hidup ini dengan mata batin kita. Terus belajar bersyukur dan syalalalalala...

#catatanfas_29072016

Pulanglah, Na

Kamis, 28 Juli 2016






Masihkah bersikukuh dengan egomu sementara hujan begitu jelas membiaskan rasamu? Tidak. Kamu tidak akan pernah mampu menjawab selama yang kamu lihat bayangan di belakang cerminmu. Sampai kapan kamu menunggu untuk kembali ke rumah sejatimu? Pulanglah Na!
Na, 
Masihkah senja mendulang rasa yang sama? Aku berharap kali ini kau telah mampu berdamai dengan semuanya. Tidak ada yang lebih sia-sia selain meratapi seseorang yang tak peduli padamu, Na.

Masihkah kau menatap bangku kosong sambil berharap ia datang meminta maaf dan membawa sekeranjang bunga? Terlalu naif mewujudkan itu dalam realita, Na. Ia bahkan telah lupa bagaimana wajahmu yang mempesona. Berpalinglah Na!
Kau masih saja kukuh kalau cintamu untuknya tiada duanya? Maaf. Kalau mau aku ingin tertawa mendengarkan semua ilusimu yang sempurna, tetapi bagaimana mungkin aku sanggup tertawa melihat wajahmu yang pias dan tak lagi berwarna?
Na, 
Cinta itu bukan bagaimana kau menggenggam erat kenangan yang pernah ada. Itu bukan cinta. Lihatlah kemilau kemuning senja yang jatuh di batas cakrawala. Itulah cara senja mencintai dan menjadi kekasih abadi alam raya. Ia tak berharap memiliki siang, ia juga tak menolak ketika malam memeluknya dalam peraduan. Yang ia tahu, hanya dengan cara itu kehadirannya bermakna.

Kembalilah ke rumah darimana cinta kau kenal untuk kali pertama. Kenali kembali nada-nada yang membuatmu bernyanyi dan menari di sana. Hanya itu cara satu-satunya.#catatanfas_28072015

Melentur Biar Tidak Hancur

Selasa, 26 Juli 2016




"Mbaak, kangen pelukanmu, juga marahmu!" Bunyi pesan di WA dari seseorang yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Selama ini entah sudah berapa orang yang tanpa alasan menjadi dekat dan secara alami hubungan kami berubah ke arah paseduluran.Kalau sudah sedulur, artinya tak ada lagi kata sungkan untuk curhat. Begitulah perempuan, maka hal yang mesti tetap ada sekalipun sudah berkeluarga adalah menjaga hubungan dengan sahabat. Bukan rahasia lagi kan kalau menjadi istri itu problematikanya seabrek, siapa lagi yang bisa memahami wanita lebih gamblang selain kaumnya sendiri? ;-D

Pun dengan adikku yang berkirim pesan di atas. Setelah hampir berbulan-bulan tak memakai memakai WA untuk komunikasi, entah karena apa. Mungkin sebab pernah kumarahi..hihihi...makanya ia jadi takut untuk curhat curhat lagi. Sudah resiko ya kalau jadi orang dekatku, semua sudah hapal sama tabiatku yang blak-blakan, jadi mau nggak mau ya mesti siap mendengar ungkapan keras dan apa adanya, yang seringkali dianggap sebagai kemarahan. Tidak bisa kita pungkiri, hanya mereka yang terlibat emosi mendalam dengan kita yang membuat kita berharap lebih, sehingga saat ada hal yang tak sesuai harapan kita akan mudah kecewa, marah, dlsb. Terlebih jika itu saudara. Wajar saja kalau kita mengharapkan yang terbaik untuknya. Dan salah satu bentuk perhatian dan kasih sayang itu berwujud apa yang kita labeli dengan kemarahan tadi.

Marah yang pada tempatnya itu baik, kecuali marah-marah sama orang yang tak bersalah atau menyimpan kemarahan alias dendam. Bisa serupa neraka hidup kita. Makan nggak enak, tidur nggak nyenyak, melihat orang lain bahagia keluar tanduk di kepala. Lebih-lebih kalau marah sama keadaan. Makin panjang urutan penderitaan kita. Melihat hidup orang lain lebih enak, kita marah. Melihat orang yang semestinya berterima kasih, lupa diri dan melupakan segala yang pernah kita perjuangkan apalagi. Mengapa hidup sebegini tak adil Gusti? Itu yang dulu sering kugaungkan. :-P

Awalnya memang tak mudah untuk tidak marah dengan keadaan, terlebih kalau belum menemukan hikmah di balik perjalanan yang penuh dengan tikungan dan beban. Ngomongin sms, jadi ingat sama obrolanku dengan mbak beberapa hari lalu. "Sepertinya dari cara mendidik yang jauh berbeda sedari kecil kita memang sudah dipersiapkan untuk mengambil peran masing-masing dalam keluarga. Sesuai amanat ibu, aku di rumah mengasuh adik, sementara kamu yang dididik keras menjadi tulang punggung keluarga."

Kalimat mbak mengingatkan gimana kemarahanku pada keadaan. Semua kuanggap sebagai bentuk ketidakadilan. Setelah kemarahan demi kemarahan yang kubawa sepanjang perjalanan itu membenturkanku pada banyak karang-karang terjal, pada suatu tiitik kemarahan itu hancur dan berubah jadi cahaya yang menerangi bilik-bilik jiwaku yang gelap. Hidup sudah sangat adil dan seimbang sesuai takdir kita masing-masing. Kalaupun sekarang belum terlihat, jangan dilawan. Kita lenturkan jiwa kita untuk mengikuti alurnya biar lebih mudah mererima dan menghadapinya.

Meskipun untuk keluar dari situasai ini ( marah kita pada keadaan ) tak semudah curhat-curhat yang kita lontarkan, seenggaknya dengan mengeluarkan sebagian ada rasa plong. Bukankah masih memiliki seseorang atau beberapa sahabat yang bisa kita ajak untuk saling berbagi itu juga bentuk kasih sayang-Nya yang tanpa batas? Sudahlah, jangan lagi memendam amarah, lebih baik menyanyi saja biar hidup penuh nada indah.#catatanfas

Pokokmen Go

Sabtu, 23 Juli 2016



Pernah memakai GPS dan memperhatikan bagaimana sistemnya bekerja? Suatu hari,  dalam perjalanan pulang Yogya-Ponorogo kami menggunakan jalur alternatif, lewat jalur selatan/wonogiri. Berhubung suami belum pernah lewat maka kami memutuskan untuk menggunakan GPS sebagai penunjuk jalan. Setiap kali kami salah dalam mengikuti petunjuk arah, secara otomatis rute jalan berubah drastis. Adakalanya saat mau belok ke arah yang sudah sesuai petunjuk, mendadak muncul perintah yang berlawanan arah. Di titik ini menimbulkan kebingungan, arah mana yang mesti kami ambil dan ikuti? Sebagai jalan tengah kami memutuskan untuk mengikuti naluri. Dengan keyakinan dan nekat akhirnya dalam waktu kurang lebih tiga jam kami sampai rumah.

Mengingat perjalanan kami hari itu; mendadak terbesit pikiran, sepertinya perjalanan hidup kita sedari lahir itu sudah dibekali GPS oleh-Nya. Bagaimana kita menemukan, menentukan, dan mau dibawa kemana perjalanan ini; semua tergantung kelihaian kita membaca peta, mendengarkan nurani, serta keberanian kita menghadapi setiap pilihan yang kita ambil untuk sampai ke tujuan. Seringkali  kita salah mengambil keputusan dan secara otomatis kisah hidup kita berubah. Namun semua bukan akhir dari perjalanan karena Tuhan telah menyediakan begitu banyak kemungkinan jalan untuk kita tempuh. #FAS #sinauurip #life #journey

Wajah Kekasih

Kamis, 21 Juli 2016

Sejak aku menemukan wajahmu di kesunyian senja, sungguh, aku lupa rupa jenuh itu seperti apa.

Dalam diammu kutemukan banyak keindahan, serupa malam yang syahdu dengan cahaya rembulan.

Dalam senyumanmu kutemukan banyak sentuhan, serupa fajar yang membawa embun dan pijar harapan. -FAS-

Belajar Melatih Kesabaran

Rabu, 20 Juli 2016

Belajar sabar itu dimulai dari hal-hal kecil dan kelihatan sepele, tetapi memiliki dampak yang besar bagi keselarasan. Misalnya: tidak membeli barang hanya karena keinginan.

Berdasarkan pengalaman pribadi dan orang lain, perempuan sangat susah mengekang nafsu balanja. Setiap kali melihat model baju, tas, sepatu, atau asesoris lainnya, mendadak seperti lupa kalau di rumah barang-barang itu menumpuk dan tidak semua dimanfaatkan.

Perempuan memang makhluk yang lebih mengedepankan perasaan dibanding rasio. Tapi semua itu bukan sebagai alasan untuk pembenaran atas apa yang dilakukan secara berulang dan melupakan akibat-akibat yang ditimbulkan. Dulu, sebelum menghayati perilaku ini sebagai sumber masalah yang berkesinambungan, aku pribadi termasuk orang yang menggampangkan soal belanja. Tidak peduli nanti gimana, setiap kali merasa sreg, langsung beli. Bertahun-tahun perilaku ini menjadi kebiasaan yang akhirnya membawa pada permasalahan besar yang seakan tiada berkesudahan.

Bagaimana akhirnya aku bisa keluar dari "lingkaran setan?" Pertamanya, kita harus mampu menemukan benang merah atas kejadian demi kejadian tak menyenangkan. Setelahnya, berani mengakui kesalahan dan berdamai dengan diri sendiri/memaafkan. Setelah dua hal di atas mampu kita lakukan, berkumpul dengan orang-orang yang memiliki ilmu, wawasan, dan kearifan akan menjadi penguat untuk mampu mewujudkan harapan. Jauhi tempat-tempat yang menggoda keinginan belanja, semisal:mal. Jauhi teman yang suka belanja dan cenderung berpikir instan. Dan hal yang tidak kalah penting: jadikan rasa malu atas kegagalan sebagai cambuk untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Sabar itu memang tidak mudah karena godaannya banyak dan besar. Tapi bukan berarti kita tidak bisa. Selama mau belajar dan berproses, kebaikan demi kebaikan akan menemukan jalan sebagai jawaban.

#FAS #catatanfas

Magnet Kehidupan

Belajar melihat  kejadian sebagai isyarat atau tanda yang tak beres di dalam diri kita. Melihat benang merahnya sehingga apa yang kita alami berguna untuk diambil pembelajaran dan nilainya.

Kejadian ini sudah setahun lebih, kalau tak salah Februari 2015. Sore itu mak bedunduk, ujug ujug, sebuah motor yang mau mendahului suami menabrak sisi kiri bemper mobil dan tak ayal terjadi hal yang tak diinginkan. Sebagaimana hukum di jalan raya, kendaraan yang lebih besar selalu disalahkan sekalipun yang melakukan kesalahan pengendara motor. Demi kemanusiaan suami membawanya ke klinik terdekat, menunggu dan membayar pengobatannya, serta mengantarkannya pulang yang jarak rumahnya lumayan jauh.

Kami pikir masalah selesai begitu saja karena bapak itu awalnya juga mengakui kalau dia yang bersalah. Selang seminggu istrinya telpon minta biaya pengobatan. Oke, kami masih berusaha memahami karena si bapak sebagai tulang punggung dan belum bisa bekerja kami bantu. Suami datang ke rumahnya dan membawa bapak itu ke tukang urut. Sepulangnya, di rumah sudah menunggu istri dan salah seorang kerabatnya yang konon seorang tentara. Mereka secara tak langsung seperti menekan suami agar mau bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak dilakukannya dengan minta biaya pengobatan dan ganti rugi materi selama si bapak tidak bekerja. Ini semacam pemerasan. Suami belum mengiyakan. Beliau minta waktu untuk berdiskusi dengan keluarga.

Awalnya kami merasa khawatir juga karena mereka punya "beking". Mereka bergantian telpon tiap hari untuk menagih seakan kami punya hutang. Pada hari yang ke sekian kukatakan pada suami,"Kita tak usah takut. Toh kita benar. Jangan takut sama gertak sambal mereka. Nanti kalau mereka telpon lagi ayah gertak dan bilang, kalau mereka bisa membuktikan ayah yang bersalah, oke, kita kasih ganti rugi. Tapi kalau mereka tak bisa membuktikan, bilang kalau ayah punya bukti bemper mobil yang rusak dan minta mereka yang bertanggung jawab."

AHA! Rupanya cara kami berhasil dan mereka tidak berani lagi "memeras". Dari awal kejadian kami sudah mencoba introspeksi apa sebabnya. Saat itu kami memang lagi sering salah paham. Masalah sedikit bisa langsung memicu kemarahan. Ruwetlah pokoknya. Dari sana kami menyimpulkan, bahwa yang menarik kejadian tak menyenangkan itu sebenarnya diri kita sendiri. Sejak itu suami yang biasanya tak percaya sama yang "kebetulan" mulai belajar bahwa segala hal itu saling berkaitan dan mempengaruhi keseimbangan. #FAS #sinauurip

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS