Pages

Magnet Kehidupan

Rabu, 20 Juli 2016

Belajar melihat  kejadian sebagai isyarat atau tanda yang tak beres di dalam diri kita. Melihat benang merahnya sehingga apa yang kita alami berguna untuk diambil pembelajaran dan nilainya.

Kejadian ini sudah setahun lebih, kalau tak salah Februari 2015. Sore itu mak bedunduk, ujug ujug, sebuah motor yang mau mendahului suami menabrak sisi kiri bemper mobil dan tak ayal terjadi hal yang tak diinginkan. Sebagaimana hukum di jalan raya, kendaraan yang lebih besar selalu disalahkan sekalipun yang melakukan kesalahan pengendara motor. Demi kemanusiaan suami membawanya ke klinik terdekat, menunggu dan membayar pengobatannya, serta mengantarkannya pulang yang jarak rumahnya lumayan jauh.

Kami pikir masalah selesai begitu saja karena bapak itu awalnya juga mengakui kalau dia yang bersalah. Selang seminggu istrinya telpon minta biaya pengobatan. Oke, kami masih berusaha memahami karena si bapak sebagai tulang punggung dan belum bisa bekerja kami bantu. Suami datang ke rumahnya dan membawa bapak itu ke tukang urut. Sepulangnya, di rumah sudah menunggu istri dan salah seorang kerabatnya yang konon seorang tentara. Mereka secara tak langsung seperti menekan suami agar mau bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak dilakukannya dengan minta biaya pengobatan dan ganti rugi materi selama si bapak tidak bekerja. Ini semacam pemerasan. Suami belum mengiyakan. Beliau minta waktu untuk berdiskusi dengan keluarga.

Awalnya kami merasa khawatir juga karena mereka punya "beking". Mereka bergantian telpon tiap hari untuk menagih seakan kami punya hutang. Pada hari yang ke sekian kukatakan pada suami,"Kita tak usah takut. Toh kita benar. Jangan takut sama gertak sambal mereka. Nanti kalau mereka telpon lagi ayah gertak dan bilang, kalau mereka bisa membuktikan ayah yang bersalah, oke, kita kasih ganti rugi. Tapi kalau mereka tak bisa membuktikan, bilang kalau ayah punya bukti bemper mobil yang rusak dan minta mereka yang bertanggung jawab."

AHA! Rupanya cara kami berhasil dan mereka tidak berani lagi "memeras". Dari awal kejadian kami sudah mencoba introspeksi apa sebabnya. Saat itu kami memang lagi sering salah paham. Masalah sedikit bisa langsung memicu kemarahan. Ruwetlah pokoknya. Dari sana kami menyimpulkan, bahwa yang menarik kejadian tak menyenangkan itu sebenarnya diri kita sendiri. Sejak itu suami yang biasanya tak percaya sama yang "kebetulan" mulai belajar bahwa segala hal itu saling berkaitan dan mempengaruhi keseimbangan. #FAS #sinauurip

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS