Pages

Melentur Biar Tidak Hancur

Selasa, 26 Juli 2016




"Mbaak, kangen pelukanmu, juga marahmu!" Bunyi pesan di WA dari seseorang yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Selama ini entah sudah berapa orang yang tanpa alasan menjadi dekat dan secara alami hubungan kami berubah ke arah paseduluran.Kalau sudah sedulur, artinya tak ada lagi kata sungkan untuk curhat. Begitulah perempuan, maka hal yang mesti tetap ada sekalipun sudah berkeluarga adalah menjaga hubungan dengan sahabat. Bukan rahasia lagi kan kalau menjadi istri itu problematikanya seabrek, siapa lagi yang bisa memahami wanita lebih gamblang selain kaumnya sendiri? ;-D

Pun dengan adikku yang berkirim pesan di atas. Setelah hampir berbulan-bulan tak memakai memakai WA untuk komunikasi, entah karena apa. Mungkin sebab pernah kumarahi..hihihi...makanya ia jadi takut untuk curhat curhat lagi. Sudah resiko ya kalau jadi orang dekatku, semua sudah hapal sama tabiatku yang blak-blakan, jadi mau nggak mau ya mesti siap mendengar ungkapan keras dan apa adanya, yang seringkali dianggap sebagai kemarahan. Tidak bisa kita pungkiri, hanya mereka yang terlibat emosi mendalam dengan kita yang membuat kita berharap lebih, sehingga saat ada hal yang tak sesuai harapan kita akan mudah kecewa, marah, dlsb. Terlebih jika itu saudara. Wajar saja kalau kita mengharapkan yang terbaik untuknya. Dan salah satu bentuk perhatian dan kasih sayang itu berwujud apa yang kita labeli dengan kemarahan tadi.

Marah yang pada tempatnya itu baik, kecuali marah-marah sama orang yang tak bersalah atau menyimpan kemarahan alias dendam. Bisa serupa neraka hidup kita. Makan nggak enak, tidur nggak nyenyak, melihat orang lain bahagia keluar tanduk di kepala. Lebih-lebih kalau marah sama keadaan. Makin panjang urutan penderitaan kita. Melihat hidup orang lain lebih enak, kita marah. Melihat orang yang semestinya berterima kasih, lupa diri dan melupakan segala yang pernah kita perjuangkan apalagi. Mengapa hidup sebegini tak adil Gusti? Itu yang dulu sering kugaungkan. :-P

Awalnya memang tak mudah untuk tidak marah dengan keadaan, terlebih kalau belum menemukan hikmah di balik perjalanan yang penuh dengan tikungan dan beban. Ngomongin sms, jadi ingat sama obrolanku dengan mbak beberapa hari lalu. "Sepertinya dari cara mendidik yang jauh berbeda sedari kecil kita memang sudah dipersiapkan untuk mengambil peran masing-masing dalam keluarga. Sesuai amanat ibu, aku di rumah mengasuh adik, sementara kamu yang dididik keras menjadi tulang punggung keluarga."

Kalimat mbak mengingatkan gimana kemarahanku pada keadaan. Semua kuanggap sebagai bentuk ketidakadilan. Setelah kemarahan demi kemarahan yang kubawa sepanjang perjalanan itu membenturkanku pada banyak karang-karang terjal, pada suatu tiitik kemarahan itu hancur dan berubah jadi cahaya yang menerangi bilik-bilik jiwaku yang gelap. Hidup sudah sangat adil dan seimbang sesuai takdir kita masing-masing. Kalaupun sekarang belum terlihat, jangan dilawan. Kita lenturkan jiwa kita untuk mengikuti alurnya biar lebih mudah mererima dan menghadapinya.

Meskipun untuk keluar dari situasai ini ( marah kita pada keadaan ) tak semudah curhat-curhat yang kita lontarkan, seenggaknya dengan mengeluarkan sebagian ada rasa plong. Bukankah masih memiliki seseorang atau beberapa sahabat yang bisa kita ajak untuk saling berbagi itu juga bentuk kasih sayang-Nya yang tanpa batas? Sudahlah, jangan lagi memendam amarah, lebih baik menyanyi saja biar hidup penuh nada indah.#catatanfas

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS