Pages

Meretas Batas

Selasa, 30 Agustus 2016






"Setiap diri adalah seorang perantau. Mula-mula ia mengira perjalanan terjauh itu melintasi benua, kemudian pada satu titik ia akan menyadari bahwa perjalanan terjauh itu menuju ke dalam dirinya. Untuk menuju ke sana, kita membutuhkan pengalaman yang benar-benar baru dan 
beda." -FAS-


Belum genap seratus hari merantau, mak bedunduk hari ini ia pulang. "Aku tidak bahagia di sana. Gajinya memang gede, tetapi aku merasa tidak berguna karena tidak bisa menjadi diriku sendiri. Aku salah perhitungan dan tujuan."

"Begitulah pengalaman, terlebih yang pertama. Kita memang mesti membayar mahal. Tetapi tidak apa-apa, karena semua itu akan menjadi hartamu yang tak ternilai. Suatu hari nanti kamu akan menyadari betapa beruntungnya kamu pernah mengalami hal ini. Tahu tidak, kalau kamu telah melewati batas kemampuanmu sebagai gadis 20 tahun?"

"Apakah itu? Iya ya, besok aku ulang tahun. Terimakasih sudah mengingatkan."

"Kamu sudah mengambil keputusan yang sangat hebat karena lebih memilih menjadi dirimu sendiri dan kebahagiaan ketimbang uang."

Dan kulihat wajahnya yang lesu perlahan menjadi cerah. Secerah hatiku ketika menceritakan pengalaman pahit yang sangat mahal ketika pertama kali merantau. Sungguh, saya sangat bahagia karena bisa menceritakan dengan tertawa, artinya luka batin itu telah menguar entah kemana.

Iya, luka batin yang hampir separuh perjalanan menjadi penyebab carut marutnya kehidupan dan perjalananku yang seakan tak bertepi itu bersumber  dari pengalamanku bekerja di Saudi. Peristiwa yang tak mungkin terlupakan karena menjadi pengalaman pertamaku #melampauibatas di usia 20 juga. Ini ceritanya......

                                                                  ********

Hidup adalah petualangan. Terkadang, kita membutuhkan pengalaman yang benar-benar baru dan beda agar bisa menghargai apa yang sudah kita miliki dalam hidup ini. Kebanyakan dari mereka yang sudah mengalami banyak kesulitan dalam melewati perjalanan; seperti kegagalan, kehilangan, atau kesedihan yang mendalam, dari mereka kita bisa belajar bahwa semua keadaan itu hanyalah sementara. Dan orang yang dilahirkan sebagai pemenang akan mampu menerima semua keadaan sebagai jalan memperbesar kekuatan.

Pengalaman pertama saya menjejakkan kaki di Saudi Arabia, merupakan pengalaman yang membuat saya sadar, seburuk-buruknya keadaan saat berada di tengah keluarga masih sangat berharga dibandingkan keadaan di luar sana. Masa itu, saya baru berumur 19 tahun.  Sedari kecil jarak tempuh terjauh yang pernah saya capai hanya kisaran kota saya, Ponorogo. Bergelut dengan keadaan yang tidak pernah terbayangkan, mengatasi ketakutan dan kecemasan menjadikan keadaan begitu sulit dilewatkan. Terlebih dengan diliputi rasa terbuang dan dikorbankan, hari-hari yang ada terasa begitu menyiksa.

Di sela waktu istirahat yang hanya diberikan pada jam-jam sholat, saya mencari cara agar perhatian bisa dialihkan. Beruntung di sebelah kamar ada sebuah gudang yang berisi buku-buku. Sedari kecil, buku memang jadi bagian yang tidak bisa saya lepaskan dari keseharian. Maka di sanalah saya memulai cara temukan terang. Dengan belajar secara otodidak, buku-buku berbahasa inggris itu bisa memberi setitik air dan cahaya.

Tekanan demi tekanan terus mengisi jiwa muda saya yang membutuhkan banyak pengalaman. Ada semacam pemberontakaan yang terus mendesak untuk keluar dari situasi itu. Hati kecil saya mengatakan, tempat itu bukanlah yang pantas untuk dipertahankan. Di tengah cuaca yang ekstrem, saya terus memikirkan jalan agar bisa dipulangkan. Namun mereka keukeuh, sebelum masa kontrak habis, tidak akan diijinkan. Kemungkinan besar karena mereka sudah membayar mahal. Untuk mencegah kemungkinan saya melarikan diri, selama bekerja s sepeserpun tidak dikasih pegang uang. Gaji langsung dikirimkan ke keluarga di rumah. Dan membayangkan wajah-wajah mereka yang terbantu dengan hasil keringat, sedikit memberi semangat dan kegembiraan.

Setahun telah berlalu, keinginan untuk pergi semakin tak terbendung lagi. Perlakuan mereka yang tak manusiawi menjadi pendorong terkuat untuk segera keluar dari situasi. Kata-kata kasar, pukulan dan kekurangan makan menjadi menu yang terpaksa harus saya telan. Apalagi kesehatan semakin mengalami penurunan. Setiap hari darah segar keluar dari hidung. Badan kurus banget, 43 kilogram.  Lengkap sudahlah penderitaan yang saya rasakan.

Dan semua berakhir di bulan ke-13. Saya katakan pada diri sendiri, "Sekarang berjuang atau mati dengan kesia-siaan."

Dengan keberanian yang entah datang darimana, saya ambil kontrak kerja yang mereka simpan. Saya bakar. Mungkin semua sudah menjadi jalan Tuhan untuk mengeluarkanku dari penderitaan. Kamar yang selalu terkunci lupa mereka tutup saat keluar.

Mereka baru menyadari kecolongan setelah saya tantang menunjukkan kontrak mana yang dijadikan alasan. Mereka sangat marah, setelah memukul dan menendang, dikuncilah saya di kamar mandi. Saat itu saya benar-benar pasrah. Namun sangat yakin bahwa Allah akan menolong dan menjaga, entah bagaimana caranya. Bersama air kran hidup mati saya perjuangkan. Dan do'a saya dikabulkan.

 Di hari ketiga, saya tidak akan lupa hari itu. Hari kamis adalah hari kemerdekaan. Mereka akhirnya mau memulangkan. Tidak terpikirkan bagaimana dengan uang yang tersisa sebesar Rp. 17.000 nantinya bisa sampai ke kampung halaman. Setelah terbebas dari sana, saya tekankan, "Tidak ada lagi yang perlu saya takutkan, karena Allah selalu memiliki cara untuk memeluk dan menguatkan."


#catatanfas
#kehidupan

Kesempatan Kedua Itu Bernama Kemerdekaan Cinta

Selasa, 23 Agustus 2016



Pernikahan kedua itu tak semudah yang pertama. Terlebih bagi yang masing-masing membawa anak dari pernikahan sebelumnya. Tapi karena ketidakmudahan ini konon juga membuat yang mau dan bisa mendapatkan nilai plus pula.  Bukankah, mau melakukan apa yang yang semestinya bukan tugas dan kewajiban kita itu istimewa?

Jadi, sebelum memasukinya mesti dipersiapkan mental baja, hati yang seluas samudera, pikiran seluas cakrawala, dan persiapan materi yang memadai pula. Itu salah satu alasan mengapa kami menunggu sekian lama untuk melangakah ke jenjang pernikahan setelah LDR-an beberapa tahun.

1. Membersihkan Luka Batin

Sebagai dua orang yang pernah mengalami kegagalan dalam berumahtangga, masing-masing pastinya membawa trauma dan kenangan tak mengenakkan dari pernikahan sebelumnya. Mencari dan menemukan sebab musabab terjadinya kegagalan membantu kita lebih mudah mencari solusi. Hal pertama yang mesti dilakukan adalah berdamai dengan diri sendiri dan berani mengakui kesalahan sebagai penyebab terjadinya kegagalan.

Memaafkan diri sendiri memang tidak mudah, terlebih jika memiliki mental blok, semacam perasaan tidak pantas untuk dicintai yang tertanam di bawah sadar yang belum kita ketahui.
Memaafkan memang tak akan mengubah masa lalu, namun menjadi kunci pembuka pintu kebahagiaan. Setelah mampu memaafkan diri sendiri, secara otomatis pandangan kita terhadap mantan dan kegagalan akan berubah sehingga secara tak langsung kita telah memaafkannya. Syukur-syukur bisa berterima kasih padanya.  Damai di hati membawa perubahan hidup yang signifikan, begitulah yang kami rasakan selama ini.Dengan menemukan dan mengambil hikmah dari kegagalan kita termotivasi untuk lebih baik lagi.

2. Mempersiapkan Mental

Menjadi "Emak Tiri?" Saya yakin tak ada satu orang pun yang bercita-cita ingin menjadi emak kedua yang secara umum kadung dinilai tak baik melalui cerita-cerita fiksi ataupun nyata. Kenyaatannya tidak selalu demikian. Masih banyak pula emak tiri yang secara lahir batin bersedia mengasuh dan menyayangi. Contohnya nenek saya sendiri. Semenjak suaminya menikah lagi, berhubung beliau tak bisa memiliki keturunan, anak-anak dari madunya beliau asuh seperti anak sendiri. Mungkin sikonnya beda, tetapi secara mendasar beliau sudah mengajarkan bahwasanya dari rahim siapa pun anak dilahirkan, ia akan menjadi buah hati kita selama disirami dengan kasih sayang dan perhatian.
Bekal ini yang membuat saya lebih kuat dan berani menyikapi keadaan. Meskipun tak serta merta bisa, harus terus belajar dan belajar untuk menjadi wanita yang legawa. Semoga....

3. Mempersiapkan Finansial

Bukan rahasia kalau dalam pernikahan soal uang bisa membuat kita sering salah paham. Lebih lebih jika anak-anak sudah membutuhkan banyak dana untuk proses belajar dan kegiatannya. Berbeda saat pernikahan pertama, hanya mikirin dua orang saja. Demi meminimalisir keadaan ini, semaksimal mungkin kami berusaha mempersiapkannya. Mulai dari tempat tinggal hingga investasi masa depan, Alhamdulillah diberi kelancaran.

4. Mempersiapkan Anak-anak

Komitmen pernikahan kedua pastilah beda dengan yang pertama. Komitmennya mesti lebih kuat karena menyangkut kenyamanan anak-anak. Dari awal kita harus terbuka dengan mereka bahwasanya sekalipun kami berdua telah menikah, tak ada perbedaan atau paksaan untuk memanggil ayah atau ibu. Sampai setahun pernikahan, mereka tetap memanggil saya dengan sebutan "tante". Hal ini malah lebih enteng bagi saya, toh realitanya mereka tetap berhubungan dengan ibu kandungnya meskipun dalam asahan kami berdua. Dengan cara ini kami ingin memberi kebebasan agar mereka tak merasa terpaksa dan merasa tak enak dengan ibu kandungnya.

Apalah arti sebuah panggilan, yang terpenting adalah cerminan sikap kita sebagai ibu bagi mereka. Butuh waktu yang panjang untuk membuktikannya.

5. Terus Belajar

Pernikahan adalah sebuah proses untuk tumbuh dan berkembang bersama. Untuk itu kami terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik, saling menerima kekurangan dan kelebihan apa adanya, saling mengoreksi dan memperbaiki diri masing-masing. Kami menamakan kesempatan kedua ini dengan kemerdekaan cinta. Dengan bekal cinta dan kasih sayang, dan saling memberi keleluasaan untuk berbuat demi keselarasan rumahtangga, kami yakin keluarga yang sakinah akan lebih mudah tercipta. Maka, belajar dan terus belajar menjadi kunci utama.

Demikian yang bisa saya bagikan untuk emaks yang punya takdir seperti saya. Selama ini sayangnya sangat sedikit yang mau berbagi cerita tentang suka duka menjadi ibu kedua. Seorang ibu yang sering dipandang sebelah mata karena sudah kadung dicap sebagai orang yang tak baik perannya melalui dongeng cinderela. Meskipun pada akhirnya muncul kisah baru tentang cerita baik melalui Ashanti, sepertinya belum terlalu kuat untuk mengubah paradigma. Ibarat orang melangkah, menjadi ibu kedua itu, maju mundur bukan hanya cantik, tapi sangaat cantik  karena maju mundurnya mesti dengan menutup mata. Tetap semangat dengan berpegangan pada nilai yang mendasar dan kuat biar langkah semakin asyik dan penuh irama. Syalalala... :-D :-P
#catatanfas

PILIHAN ARINI 2

Sabtu, 20 Agustus 2016




"Selama belum mampu melembutkan hati, kekerasan hidup akan terus terjadi. Penderitaan adalah cara-Nya mengusap dan meluruhkan kerak-kerak dalam diri." #FAS

"Ia memberikan gaji dan uang tiketmu. Jadi statusnya dia yang memberhentikanmu, bukan sebaliknya. Tapi ya itu, masalahnya surat pemutusan kerjamu dengan alasan kamu dicurigai mencuri uang." Jelas perempuan paruh baya itu pelan.

Namun kalimat mrs. Che, ibu agen itu seperti halilintar di telinga Arini. Rupanya perempuan itu tidak terima ia menjadi pihak yang kalah dan bagi orang yang merasa bisa mengatasi segalanya dengan uang, kehilangan uang beberapa ribu dolar bukan masalah. Di-phk oleh pembantu baginya suatu kekalahan maka ia menggunakan cara itu untuk memuaskan egonya. Menurut peraturan Hong Kong, pekerja yang memutuskan kontrak sebelum masa kerjanya habis ia wajib memberitahukan lewat surat peringatan sebulan sebelumnya atau tidak menerima gaji sebulan jika berhenti tanpa pemberitahuan. Dalam kasus ini Arini semestinya tidak menerima gaji meskipun mendapatkan uang tiket.

"Mengapa ibuk tidak memanggil saya tadi?! Saya bisa menantangnya untuk membuktikan tuduhan itu. Sebulan yang lalu ia juga menuduhku begitu dan saya minta dia panggil polisi untuk membuktikan tuduhannya. Ia tak berani karena memang tak ada bukti. Lantas malam harinya ia bawa temannya yang anggota geng itu ke rumah. Mungkin untuk menggertak atau apa." Sergah Arini dengan suara gemetar menahan amarah dan tangis.

Demi mendengar penjelasannya Mrs Che terdiam. Bukan rahasia umum lagi mayoritas agensi hanya berpihak pada kepentingan majikan dan uang. Bagi mereka siapa yang bisa menghasilkan, disinilah ia berpihak. Ini sungguh tidak adil bagiku. Dengan surat rekomendasi yang jelek, siapa yang mau memperkerjakannya lagi? Batin Arini geram.

Sebenarnya break contract ataupun terminate  bukan hal yang baru baginya. Dalam masa kerjanya yang dulu-dulu sewaktu ia masih lajang, perasaannya biasa saja menghadapinya. Ternyata ia telah jauh berubah. Nalurinya sebagai ibu membuatnya ketakutan kalau sampai gagal memberi penghidupan yang layak untuk anaknya. Kecemasan menyelimuti dirinya. Bayangan demi bayangan hilir mudik membuat pandangannya semakin gelap dan goyah menyusuri labirin masa depan.

"Mengapa harus aku, Tuhan? Dimana keadilanmu?! Gugatnya dalam kemarahan yang mendalam. Jiwanya terasa rapuh dan luruh dalam ketidakpastian. Hatinya hancur berkeping-keping dalam keputusasaan.

Dendam dan sakit hati kembali membuncah di dadanya.  Seandainya lelaki itu tak membebani dengan hutang, mungkin ia tak akan seberat itu menghadapinya. Kalau sampai ia pulang, dimana mau ia taruh mukanya? Bagaimana cara menyelesaikan angka-angka yang menjerat itu? Kemudian bayangan masa lalu silih berganti datang. Makin banyaklah daftar penyelasannya. Seandainya dan seandainya membuat hatinya makin gulita dan kembali menggugat keadilan Tuhan.

Setelah beberapa hari di Agen dan belum kunjung juga menemukan orang yang mau tanda tangan kontrak sementara visanya tinggal dua hari, Mrs. Che memanggilnya.

"Arini, ini ada satu majikan yang mau tanda tangan dan memperkerjakanmu. Tapi nenek yang nantinya kami jaga ini memiliki penyakit paranoid. Kamu tidak diijinkan membawa uang atau barang berharga karena ia selalu curiga kalau uang yang ada di badan pekerjanya uang hasil curian."
Lakon apalagi ini Gusti?! Haruskah aku menghancurkan diriku lagi dan masuk perangkap yang sama? #catatanfas

Kemerdekaan Cinta

Rabu, 17 Agustus 2016



Image may contain: bicycle, outdoor and one or more people
Dengan jari yang patah, semangat terus tergenggam


Setiap kali menghadapi sesuatu yang tak menyenangkan, hendaknya kita segera menemukan titik keseimbangan dengan kembali pada nilai yang kita genggam. Hal ini sangat membantu  agar supaya tak berlarut-larut dalam masalah. Istilah'e orang maiyah, "Meruhanikan segala materi atau dengan kata lain menemukan sambungan dari setiap apa saja dengan Allah."


Sepertinya cara jitu itulah yang selama ini dipakai suami dalam  menyikapi keadaan. Sebagai orang yang taktis dan terbiasa praktis, ia termasuk pribadi yang tak suka mengungkit atau mengingat-ingat sesuatu yang sudah berlalu atau tak lagi ada dalam genggaman. Sebuah kebiasan yang tak mudah karena membutuhkan keluasan jiwa. Hanya mereka yang sudah merdeka dari penjajahan ego saja yang mampu bersikap legawa. Pun saat menyikapi keadaan yang terjadi setahun lalu. Kejadian yang masih menyisakan perasaan bersalah setiap kali mengenangnya. Maafkan Amy ya, Yah....

 Siang itu kami berdua berboncengan dengan niatan mau ke rumah adik. Kota Cilegon yang panas rasanya semakin terpanggang oleh padatnya kendaraan yang menuju Pantai Anyer. Di jalanan yang sempit untuk ukuran kota industri, Kami menuju arah yang berlawanan. Belum sepuluh menit melaju mendadak terdengar benturan disusul pecahan kaca melayang.

 Demi melihat darah yang menetes di tangan kanan suami,daku baru ngeh kalau mobil yang berusaha mendahului mobil lainnya barusan tak melihat motor kami sehingga spion kanannya menyenggol tak terkendali. Di detik terakhir, rupanya suami memilih menahan benturan demi keselamatan nyawa istrinya. Seandainya tidak, kemungkinan besar kami berdua akan terguling dan tak terbayangkan bagaimana keadaannya sementara motor yang kami kendarai jenis sport. Meskipun pilihannya itu dengan resiko jari manisnya patah, mendapat sebelas jahitan dan sampai detik ini belum atau tidak kembali seperti semula.


Setiap kali mengingat momentum itu, bagaimana beliau masih sanggup tersenyum  sambil menahan sakitnya jari yang dijahit, sementara di pojokan istrinya mewek bae,  rasanya tak ada yang lebih pantas kuberikan baginya selain cinta dan pengabdian. Belum pernah sekalipun beliau mengeluhkan keadaannya bahkan dalam keadaan semarah apa pun tak ada kata penyesalan keluar untukku. Apalah apalah diriku ini, Pakne, sehingga dikau sebegitunya menjagaku? Terimakasih untuk seluruh cinta dan pengorbananmu...Terimakasih sudah mengajarkanku apa kemerdekaan cinta.

Inikah kemerdekaan sesungguhnya yang selama ini kita cari. Leluasa memberi tanpa tanpa memikirkan kepentingan diri sendiri. Menerima dengan senang hati apa pun kekurangan atau keadaan yang seringkali tak sesuai kemauan diri. #catatanfas








Kebersamaan dan Kasih Sayang

Senin, 15 Agustus 2016




Kisah ini terjadi beberapa tahun silam.  Hari itu, anak asuhku yang kedua, Nadine,  sedang gladi bersih untuk sebuah acara paling bergengsi yang diadakan sekolahnya setiap tahun. Sebuah sekolah bertaraf internasional yang menjadi kebanggaan sekaligus harapan orang tuanya.
"Alfa, buruan ke Adventist Hospital!" suara bernada perintah lewat telepon dari seberang menerpa telingaku. Suaranya terdengar cemas.
"Okay, Mom. I will get there as soon as possible," jawabku sambil  buru-buru menutup telepon. Kali ini aku memahami perintahnya lebih daripada panggilan darurat. Dalam keadaan normal sekali pun, Mom – begitu aku biasa memanggil bosku - hanya mengenal satu kata waktu, yaitu now. Dia selalu ingin perintahnya dikerjakan segera, tanpa peduli keadaan. Aku sudah terbiasa dengan perlakuan itu, sehingga setiap perintah Mom lebih banyak kuanggap sebagai cara untuk disiplin diri.
Aku bergegas mencari taksi. Sepanjang perjalanan hatiku tak karuan, bertanya-tanya apa yang terjadi di Adventist Hospital. Pasti sesuatu telah terjadi pada Nadine. Sudah hampir tiga tahun keluarga itu menjadi bagian dari hati dan hari-hariku. Kebersamaan kami sudah layaknya sebuah keluarga. Nadine adalah anak yang begitu takut dengan ibunya. Aku sering melihat banyak persamaan di antara kami berdua.  Kami sama-sama anak kedua dan harapan terbesar buat keluarga. Di antara ketiga saudaranya, ia memang paling menonjol. Energetic, smart, dan friendly. Aku merasa cukup dekat dengan Nadine, bahkan dia selalu berbagi rahasia denganku.  Aku berusaha kehadiranku di sini bukan sekedar pengasuh anak-anak, namun aku ingin menjadi sahabat bagi mereka. Kesibukan kedua orang tua, membuat anak-anak itu jarang punya kesempatan untuk berbagi cerita bersama kedua orang tuanya.
Saat dalam perjalanan, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Tadi pagi sebelum berangkat, Nadine mengeluhkan sepatunya yang sudah terlalu kecil untuk dipakai.

"Alfa, aku takut nanti malam penampilanku tidak maksimal," Nadine mengeluh sambil mengikat tali sepatu.

"Kenapa harus takut? Bukankah kamu sudah berlatih dengan baik selama ini?”
"Hmm… sepatuku sudah tidak muat lagi, Alfa!" sahutnya sambil memandangi sepatunya. Ada tatapan cemas di matanya. Aku merasa iba, terlebih karena sikap sederhananya. Mereka tidak pernah mengajukan permintaan atau pun keinginan Satu hal yang membuatku makin sayang kepada Nadine dan anak-anak yang lain. Mereka menerima apa pun pemberian orang tua tanpa banyak bertanya. Sikap yang sangat sulit ditemui di keluarga lainnya. Mereka tidak pernah saling iri. Jika salah satu di antara ketiganya dibelikan sesuatu, misalnya handphone, yang lain cukup menerima barang bekas dari pemakai sebelumnya. Begitupun dalam hal pakaian. Sistem estafet ini menjadikan ketiganya pribadi yang penuh kasih sayang dan saling pengertian.
"Kemarin kamu bilang everything is fine, lalu kenapa baru sekarang kamu cerita?" jawabku setengah mengomel. Kadang-kadang aku lupa bahwa mereka bukan anakku sendiri. Untung anak-anak sudah hafal kalau sikap bawelku adalah sebuah bentuk rasa sayang. Maka mereka pun menerimanya.
"Ah, sudahlah. Forget it! Aku berangkat dulu. Bye!”
"Good luck, Girl. Do your best!”
Seperti yang sudah-sudah, pasti hari ini Nadine tidak bisa fokus karena terlalu khawatir dengan hal-hal kecil yang membuatnya sakit. Dia memang punya obsesi untuk menjadi apa yang ibunya harapkan, meskipun ada banyak hal yang tidak berani ia sampaikan. Seperti soal sepatu tadi, aku yakin sebenarnya ia membutuhkan. Tapi Nadine memilih diam karena takut membebani ibunya. Ia memang paling tak bisa terbuka dengan ibunya.
"Ada apa, Mom? Apa yang terjadi dengan Nadine?" aku berondong Mom begitu aku bertemu dia di rumah sakit.
"Cacar air. Gurunya tadi telepon mengabarkan kalau  tiba-tiba Nadine
demam saat latihan. Selalu. Dia selalu tidak beruntung!” jawab Mom sambil memandangi langit-langit putih rumah sakit. Kegetiran kentara sekali dalam suaranya.
"Mengapa Mom berkata begitu?" sahutku menimpalinya. Entah keberanian dari mana tiba-tiba keluar pertanyaan itu dari mulutku saat itu. Aku merasa tidak adil mendengar
kalimat itu, seakan melihat diriku sendiri yang dulu sering mendapatkan kalimat itu. Aku ingin membela Nadine.
"Lihatlah, Alfa! Dia telah berlatih sedemikian lama, dan nanti malam menjadi acara yang paling penting  buat dia selama belajar di sana."
"Mom, apakah acara itu bagi Mom lebih penting dari kesehatan Nadine?” tanyaku keras memberanikan diri. Aku ingin Mom mengerti bahwa memiliki anak-anak seperti mereka itu lebih dari sekedar beruntung. Mereka adalah anak-anak yang baik dan penuh pengertian. Terlebih Nadine. Tidak seharusnya Mom berkata begitu.
Mom terdiam.
“Memang iya, tapi wajar kan kalau aku kecewa? Enam tahun aku menunggu. Dan setelah sampai titik puncak, momentum ini berlalu begitu saja? Harusnya nanti malam aku menjadi ibu yang paling bangga karena telah mengantarkan dia jadi sang juara." akhirnya suara Mom melunak, sedikit menangis, seolah ingin berbagi perih. Aku memahami perih itu.
"Aku pikir Nadine lebih kecewa dari kita, Mom.  Dia kehilangan kesempatan paling berharga dengan teman-temannya. Dan aku yakin dia juga sedih telah mengecewakan kita semua,  terlebih mengecewakan Mom. Kita semua tahu bagaimana perjuangannya selama sekolah di sana. Semua ia lakukan karena rasa cinta dan baktinya kepada Mom, kan?" suaraku mulai melunak juga, berpura-pura tegar. Aku sedikit memandang langit-langit, menahan air mata yang kurasakan mulai jatuh. Aku memahami rasa sedih anak dan ibu ini.
"Hmm....” Mom melepas nafasnya yang berat. Dia mulai terlihat tenang. “Kamu benar, Alfa. Dia telah berusaha dengan baik, tidak seharusnya aku hanya melihat apa yang terjadi hari ini. Dan dia pasti lebih kecewa dari aku. Terima kasih telah mengingatkanku. Terima kasih telah menjaga dan mengajari mereka dengan kasih sayang.”
"Jangan berkata begitu, Mom. Aku juga merasa sangat beruntung memiliki kesempatan berada di tengah-tengah kalian. Dari kalian aku belajar banyak hal.
Suasana hening. Aku merasa dekat dengan keluarga ini. Hari ini, kembali aku merasa Mom memperlakukanku sebagai pribadi utuh, bukan sekedar pembantu. Selain anak-anak, bosku juga sering curhat masalah perkembangan anak-anak. Terkadang juga masalah, terkadang emosi sering didahulukan. Dengan pendekatan secara hati,masalah suaminya. Pada saat-saat tertentu kami juga layaknya sahabat. Saling menceritakan perasaan kami sebagai wanita.

Hari itu kami menemukan banyak nilai kasih sayang yang tersimpan rapi di hati kami, sebagai pelajaran yang berharga. Mungkin juga salah satu kenangan terindahku bersama mereka. Hari itu kami menemukan makna kebersamaan dan kasih sayang. Bersama saat susah dan senang, tanpa memandang perbedaan.

Selama hidup bersama keluarga ini, ada beberapa tips yang aku dapat untuk menjalin hubungan yang baik antara pembantu dan majikan. Semoga bisa aku bagi dengan siapa pun yang memerlukannya:

  1. Saling memahami sifat dan karakter. Poin ini sangat penting untuk saling menumbuhkan rasa empati dan simpati.
Saling berbicara dengan hati. Saat terjad maka kesalahpahaman akan mudah diatasi.
  1. Saling memahami hak dan kewajiban. Sewajarnya, sebagai pembantu kita menuntaskan dulu kewajiban kita sebelum menuntut hak.
  2. Membekali diri dengan kemampuan yang maksimal (baik bahasa maupun pekerjaan)
  3. Bekerja secara professional dan hati riang
    Pekerjaan apapun akan menjadi hal yang menyenangkan selama kita menjalaninya dengan professional dan hati riang. Dengan keceriaan yang ada, majikan akan lebih mudah memaafkan kekurangan-kekurangan kita.
Dari sisi majikan juga harus mengerti kewajiban mereka. Selain memenuhi kebutuhan makan, tempat tinggal, dan gaji yang sepadan, merengkuh hati pembantu juga mutlak diperlukan. Kedekatan emosional akan membuat mereka nyaman dan tenang dalam bekarja. #catatanfas

*Tulisan ini menjadi nominator cerita inspiratif sebuah event kepenulisan sebuah publisher dan dibukukan dalam buku "Majikan Vs Pembantu, Puput Happy Publishing



S E L E S A I

PILIHAN ARINI

Kamis, 11 Agustus 2016


"Aku tak memiliki apa pun ketika dilahirkan, kecuali cinta yang Tuhan sematkan agar sayapku terus tumbuh dan mampu terbang" ( FAS )

                                                              ****
   Pertama kali melihatnya, Arini sudah merasakan ada yang salah. Dari raut wajahnya, perempuan yang akan ia panggil "Dai-dai" --sebutan nyonya di Hong Kong-- selama dua tahun sesuai perjanjian kerja itu banyak tekanan hidup.Raut mukanya penuh guratan. Rambutnya tampak kusam. Tak sebanding dengan penampilannya yang nampak "wah" meski terkesan dipaksakan. Lingkaran hitam menghiasi kelopak matanya yang sipit. Menandakan tidurnya tidak bisa tenang. Entah kehidupan seperti apa yang telah dilewatinya. Usianya pasti tidak lebih dari dirinya sendiri tapi bisa juga di bawahnya. Menurut informasi dari Mrs. Che, ibu agen, ia berasal dari daratan China.


   Mendengar keterangan tadi, hati Arini menciut. Bukan rahasia umum lagi, kalau perempuan dari sana memiliki tabiat dan kebiasaan yang jauh beda dengan perempuan Hong Kong yang lebih terdidik dan punya tata krama.

Arini memiliki kekuatiran yang sangat beralasan. Setelah prahara rumah tangganya, dengan setengah hati ia memutuskan pergi ke luar negeri. Ia tinggalkan anak semata wayangnya bersama keluarganya. Seandainya tidak ditinggali hutang oleh mantan suaminya, Arini tidak mungkin kembali memijakkan kaki lagi di sini. Anaknya yang baru berusia dua tahun, sangat membutuhkan perlindungan dan kasih sayangnya. Terlebih semenjak ayahnya tiba-tiba pergi tanpa pesan. Arini tidak punya pilihan. Atau, hidup memang tidak menyediakan pilihan untuknya? Ahhh! Entahlah. Untuk saat sekarang ia tak mau memusingkan pertanyaan demi pertanyaan yang menumpuk dalam pikirannya.  Ia hanya ingin bekerja, melunasi hutang-hutangnya, dan membahagiakan anaknya. Sebagai seorang ibu ia dihadapkan pada situasi yang sulit dan tak pernah terbayangkan. Hidup terasa tak adil bagi mereka berduaa.
Kekuatiran Arini terbukti. Ternyata tabiat Dai-dai memang tidak wajar. Memiliki seorang anak lelaki usia dua tahun yang autis membuatnya frustasi. Terlebih tanpa seorang suami yang bisa diajaknya berbagi. Arini tidak berani memastikan lelaki mana di antara beberapa yang sering berkunjung, yang telah menitipkan anak di hidupnya. Arini jatuh kasihan melihat anak lelaki yang langsung lengket itu. Naluri keibuannya tersalurkan. Ia sering menangis, setiap melihat anak itu dihajar oleh ibunya, naluri keibuannya berontak. Tapi ia tak bisa melakukan apa-apa. Satu kesalahan kecil semisal menumpahkan makanan di baju, akan membuat Dai-dai naik pitam dan memukulnya berulang-ulang. Anak yang tak ia harapkan hadirnya. Mungkin perempuan itu lupa bahwa tak ada seorang anak pun yang lahir tanpa maksud dan tujuan untuk dihadirkan dalam kehidupannya. 

"Anak sial!" Ceracau itu  keluar dari mulutnya setiap kali marah. Perempuan itu sepertinya menjadikan bocah tak berdosa itu sebagai pelampiasan dari kegagalannya menghadapi kenyataan. Ia tak benar-benar sanggup melihat betapa keruwetan demi keruwetan yang seakan tak berujung pangkal itu akibat ulahnya sendiri. Ia belum sanggup berdamai dengan dirinya sendiri atas semua yang terjadi. Ada sakit hati dan dendam yang mengapi.

 Hati Arini semakin sakit saat menyadari bahwasanya perempuan itu adalah refleksi dari dirinya sendiri. Pasti bukan kebetulan kalau mereka berdua dipertemukan. Kaca besar berdiri di depannya. Ia tergugu dalam pilu. Sebongkah magma yang mengendap dalam ruang jiwanya itulah yang membawanya bertemu perempuan itu. Kemarahan yang terendap selama sekian waktu seakan mewujud dalam dirinya dan secara paksa semesta meminta Arini untuk mengambil balik apa yang ia tanam dalam jejaknya.  Dan entah mendapat kekuatan dari mana, Arini ingin berontak dan menyudahi semuanya.

Kesempatan yang ia tunggu akhirnya tiba. Bertepatan dengan hari ia menerima gaji bulan ke tiga, saat anak asuhnya tertidur, Arini memberanikan diri bicara. Ia sudah tidak sanggup lagi menghadapi situasi di rumah ini. Batinnya  semakin tak tenang. Terlebih kemarahan demi kemarahan terus ia terima setiap emosi perempuan ini labil. Arini sendiri memiliki tekanan yang belum mampu ia lepaskan semenjak perceraiannya. Ditambah keadaan yang terus menyudutkannya. Ia sudah memikirkan berhari-hari. Sekalipun ia ingin melindungi anak asuhnya, namun ia tak memiliki lagi kekuatan. Apalah artinya uang, jika harga diri dan hatinya terus diluluh lantakkan oleh perempuan yang sedang menghisap rokoknya ini? 3Perempuan yang entah mengapa, tak memiliki naluri keibuan. Arini tak mau jadi saksi kebiadabannya.

"Dai-dai, besok aku pulang ke agen. Maafkan! Aku tidak bisa membantumu lagi."
"Apaaaa?!" kalimat Arini yang pelan dan takut-takut, serupa halilintar di telinganya.
"Kamu baru tiga bulan di sini. Bagaimana mungkin kamu mau pergi? Kontrakmu dua tahun. Ingat itu!" Suaranya menggelegar. Ia lupa anaknya baru saja tertidur.

 Tapi Arini sudah tak mau lagi jatuh kasihan. Ia harus kuatkan hatinya. Masih ada yang lebih penting untuk ia pertahankan dan lindungi. Anaknya. Kalau kondisi hati dan jiwanya selalu dalam kecemasan, bagaimana dengan anaknya? Dimana tanggung jawabnya sebagai ibu untuk melindunginya? Sementara Arini memahami, gelombang hati ibu dan anak seirama. Sejauh apa pun raga mereka terpisah, jiwa mereka selalu dekat. Apa yang dirasakan dan dilakukan seorang ibu mempengaruhi perkembangan jiwani yakin akan selalu ada jalan yang Tuhan berikan. Sekalipun jalan itu seakan tak memberikan harapan, ia yakin di tengah perjalanan ia akan menemukan jawaban. Demi anak dan hidupnya, Isti melangkah pergi tanpa uang di dompetnya. ‪#‎catatanfas
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS