Pages

Kebersamaan dan Kasih Sayang

Senin, 15 Agustus 2016




Kisah ini terjadi beberapa tahun silam.  Hari itu, anak asuhku yang kedua, Nadine,  sedang gladi bersih untuk sebuah acara paling bergengsi yang diadakan sekolahnya setiap tahun. Sebuah sekolah bertaraf internasional yang menjadi kebanggaan sekaligus harapan orang tuanya.
"Alfa, buruan ke Adventist Hospital!" suara bernada perintah lewat telepon dari seberang menerpa telingaku. Suaranya terdengar cemas.
"Okay, Mom. I will get there as soon as possible," jawabku sambil  buru-buru menutup telepon. Kali ini aku memahami perintahnya lebih daripada panggilan darurat. Dalam keadaan normal sekali pun, Mom – begitu aku biasa memanggil bosku - hanya mengenal satu kata waktu, yaitu now. Dia selalu ingin perintahnya dikerjakan segera, tanpa peduli keadaan. Aku sudah terbiasa dengan perlakuan itu, sehingga setiap perintah Mom lebih banyak kuanggap sebagai cara untuk disiplin diri.
Aku bergegas mencari taksi. Sepanjang perjalanan hatiku tak karuan, bertanya-tanya apa yang terjadi di Adventist Hospital. Pasti sesuatu telah terjadi pada Nadine. Sudah hampir tiga tahun keluarga itu menjadi bagian dari hati dan hari-hariku. Kebersamaan kami sudah layaknya sebuah keluarga. Nadine adalah anak yang begitu takut dengan ibunya. Aku sering melihat banyak persamaan di antara kami berdua.  Kami sama-sama anak kedua dan harapan terbesar buat keluarga. Di antara ketiga saudaranya, ia memang paling menonjol. Energetic, smart, dan friendly. Aku merasa cukup dekat dengan Nadine, bahkan dia selalu berbagi rahasia denganku.  Aku berusaha kehadiranku di sini bukan sekedar pengasuh anak-anak, namun aku ingin menjadi sahabat bagi mereka. Kesibukan kedua orang tua, membuat anak-anak itu jarang punya kesempatan untuk berbagi cerita bersama kedua orang tuanya.
Saat dalam perjalanan, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Tadi pagi sebelum berangkat, Nadine mengeluhkan sepatunya yang sudah terlalu kecil untuk dipakai.

"Alfa, aku takut nanti malam penampilanku tidak maksimal," Nadine mengeluh sambil mengikat tali sepatu.

"Kenapa harus takut? Bukankah kamu sudah berlatih dengan baik selama ini?”
"Hmm… sepatuku sudah tidak muat lagi, Alfa!" sahutnya sambil memandangi sepatunya. Ada tatapan cemas di matanya. Aku merasa iba, terlebih karena sikap sederhananya. Mereka tidak pernah mengajukan permintaan atau pun keinginan Satu hal yang membuatku makin sayang kepada Nadine dan anak-anak yang lain. Mereka menerima apa pun pemberian orang tua tanpa banyak bertanya. Sikap yang sangat sulit ditemui di keluarga lainnya. Mereka tidak pernah saling iri. Jika salah satu di antara ketiganya dibelikan sesuatu, misalnya handphone, yang lain cukup menerima barang bekas dari pemakai sebelumnya. Begitupun dalam hal pakaian. Sistem estafet ini menjadikan ketiganya pribadi yang penuh kasih sayang dan saling pengertian.
"Kemarin kamu bilang everything is fine, lalu kenapa baru sekarang kamu cerita?" jawabku setengah mengomel. Kadang-kadang aku lupa bahwa mereka bukan anakku sendiri. Untung anak-anak sudah hafal kalau sikap bawelku adalah sebuah bentuk rasa sayang. Maka mereka pun menerimanya.
"Ah, sudahlah. Forget it! Aku berangkat dulu. Bye!”
"Good luck, Girl. Do your best!”
Seperti yang sudah-sudah, pasti hari ini Nadine tidak bisa fokus karena terlalu khawatir dengan hal-hal kecil yang membuatnya sakit. Dia memang punya obsesi untuk menjadi apa yang ibunya harapkan, meskipun ada banyak hal yang tidak berani ia sampaikan. Seperti soal sepatu tadi, aku yakin sebenarnya ia membutuhkan. Tapi Nadine memilih diam karena takut membebani ibunya. Ia memang paling tak bisa terbuka dengan ibunya.
"Ada apa, Mom? Apa yang terjadi dengan Nadine?" aku berondong Mom begitu aku bertemu dia di rumah sakit.
"Cacar air. Gurunya tadi telepon mengabarkan kalau  tiba-tiba Nadine
demam saat latihan. Selalu. Dia selalu tidak beruntung!” jawab Mom sambil memandangi langit-langit putih rumah sakit. Kegetiran kentara sekali dalam suaranya.
"Mengapa Mom berkata begitu?" sahutku menimpalinya. Entah keberanian dari mana tiba-tiba keluar pertanyaan itu dari mulutku saat itu. Aku merasa tidak adil mendengar
kalimat itu, seakan melihat diriku sendiri yang dulu sering mendapatkan kalimat itu. Aku ingin membela Nadine.
"Lihatlah, Alfa! Dia telah berlatih sedemikian lama, dan nanti malam menjadi acara yang paling penting  buat dia selama belajar di sana."
"Mom, apakah acara itu bagi Mom lebih penting dari kesehatan Nadine?” tanyaku keras memberanikan diri. Aku ingin Mom mengerti bahwa memiliki anak-anak seperti mereka itu lebih dari sekedar beruntung. Mereka adalah anak-anak yang baik dan penuh pengertian. Terlebih Nadine. Tidak seharusnya Mom berkata begitu.
Mom terdiam.
“Memang iya, tapi wajar kan kalau aku kecewa? Enam tahun aku menunggu. Dan setelah sampai titik puncak, momentum ini berlalu begitu saja? Harusnya nanti malam aku menjadi ibu yang paling bangga karena telah mengantarkan dia jadi sang juara." akhirnya suara Mom melunak, sedikit menangis, seolah ingin berbagi perih. Aku memahami perih itu.
"Aku pikir Nadine lebih kecewa dari kita, Mom.  Dia kehilangan kesempatan paling berharga dengan teman-temannya. Dan aku yakin dia juga sedih telah mengecewakan kita semua,  terlebih mengecewakan Mom. Kita semua tahu bagaimana perjuangannya selama sekolah di sana. Semua ia lakukan karena rasa cinta dan baktinya kepada Mom, kan?" suaraku mulai melunak juga, berpura-pura tegar. Aku sedikit memandang langit-langit, menahan air mata yang kurasakan mulai jatuh. Aku memahami rasa sedih anak dan ibu ini.
"Hmm....” Mom melepas nafasnya yang berat. Dia mulai terlihat tenang. “Kamu benar, Alfa. Dia telah berusaha dengan baik, tidak seharusnya aku hanya melihat apa yang terjadi hari ini. Dan dia pasti lebih kecewa dari aku. Terima kasih telah mengingatkanku. Terima kasih telah menjaga dan mengajari mereka dengan kasih sayang.”
"Jangan berkata begitu, Mom. Aku juga merasa sangat beruntung memiliki kesempatan berada di tengah-tengah kalian. Dari kalian aku belajar banyak hal.
Suasana hening. Aku merasa dekat dengan keluarga ini. Hari ini, kembali aku merasa Mom memperlakukanku sebagai pribadi utuh, bukan sekedar pembantu. Selain anak-anak, bosku juga sering curhat masalah perkembangan anak-anak. Terkadang juga masalah, terkadang emosi sering didahulukan. Dengan pendekatan secara hati,masalah suaminya. Pada saat-saat tertentu kami juga layaknya sahabat. Saling menceritakan perasaan kami sebagai wanita.

Hari itu kami menemukan banyak nilai kasih sayang yang tersimpan rapi di hati kami, sebagai pelajaran yang berharga. Mungkin juga salah satu kenangan terindahku bersama mereka. Hari itu kami menemukan makna kebersamaan dan kasih sayang. Bersama saat susah dan senang, tanpa memandang perbedaan.

Selama hidup bersama keluarga ini, ada beberapa tips yang aku dapat untuk menjalin hubungan yang baik antara pembantu dan majikan. Semoga bisa aku bagi dengan siapa pun yang memerlukannya:

  1. Saling memahami sifat dan karakter. Poin ini sangat penting untuk saling menumbuhkan rasa empati dan simpati.
Saling berbicara dengan hati. Saat terjad maka kesalahpahaman akan mudah diatasi.
  1. Saling memahami hak dan kewajiban. Sewajarnya, sebagai pembantu kita menuntaskan dulu kewajiban kita sebelum menuntut hak.
  2. Membekali diri dengan kemampuan yang maksimal (baik bahasa maupun pekerjaan)
  3. Bekerja secara professional dan hati riang
    Pekerjaan apapun akan menjadi hal yang menyenangkan selama kita menjalaninya dengan professional dan hati riang. Dengan keceriaan yang ada, majikan akan lebih mudah memaafkan kekurangan-kekurangan kita.
Dari sisi majikan juga harus mengerti kewajiban mereka. Selain memenuhi kebutuhan makan, tempat tinggal, dan gaji yang sepadan, merengkuh hati pembantu juga mutlak diperlukan. Kedekatan emosional akan membuat mereka nyaman dan tenang dalam bekarja. #catatanfas

*Tulisan ini menjadi nominator cerita inspiratif sebuah event kepenulisan sebuah publisher dan dibukukan dalam buku "Majikan Vs Pembantu, Puput Happy Publishing



S E L E S A I

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS