Pages

Kemerdekaan Cinta

Rabu, 17 Agustus 2016



Image may contain: bicycle, outdoor and one or more people
Dengan jari yang patah, semangat terus tergenggam


Setiap kali menghadapi sesuatu yang tak menyenangkan, hendaknya kita segera menemukan titik keseimbangan dengan kembali pada nilai yang kita genggam. Hal ini sangat membantu  agar supaya tak berlarut-larut dalam masalah. Istilah'e orang maiyah, "Meruhanikan segala materi atau dengan kata lain menemukan sambungan dari setiap apa saja dengan Allah."


Sepertinya cara jitu itulah yang selama ini dipakai suami dalam  menyikapi keadaan. Sebagai orang yang taktis dan terbiasa praktis, ia termasuk pribadi yang tak suka mengungkit atau mengingat-ingat sesuatu yang sudah berlalu atau tak lagi ada dalam genggaman. Sebuah kebiasan yang tak mudah karena membutuhkan keluasan jiwa. Hanya mereka yang sudah merdeka dari penjajahan ego saja yang mampu bersikap legawa. Pun saat menyikapi keadaan yang terjadi setahun lalu. Kejadian yang masih menyisakan perasaan bersalah setiap kali mengenangnya. Maafkan Amy ya, Yah....

 Siang itu kami berdua berboncengan dengan niatan mau ke rumah adik. Kota Cilegon yang panas rasanya semakin terpanggang oleh padatnya kendaraan yang menuju Pantai Anyer. Di jalanan yang sempit untuk ukuran kota industri, Kami menuju arah yang berlawanan. Belum sepuluh menit melaju mendadak terdengar benturan disusul pecahan kaca melayang.

 Demi melihat darah yang menetes di tangan kanan suami,daku baru ngeh kalau mobil yang berusaha mendahului mobil lainnya barusan tak melihat motor kami sehingga spion kanannya menyenggol tak terkendali. Di detik terakhir, rupanya suami memilih menahan benturan demi keselamatan nyawa istrinya. Seandainya tidak, kemungkinan besar kami berdua akan terguling dan tak terbayangkan bagaimana keadaannya sementara motor yang kami kendarai jenis sport. Meskipun pilihannya itu dengan resiko jari manisnya patah, mendapat sebelas jahitan dan sampai detik ini belum atau tidak kembali seperti semula.


Setiap kali mengingat momentum itu, bagaimana beliau masih sanggup tersenyum  sambil menahan sakitnya jari yang dijahit, sementara di pojokan istrinya mewek bae,  rasanya tak ada yang lebih pantas kuberikan baginya selain cinta dan pengabdian. Belum pernah sekalipun beliau mengeluhkan keadaannya bahkan dalam keadaan semarah apa pun tak ada kata penyesalan keluar untukku. Apalah apalah diriku ini, Pakne, sehingga dikau sebegitunya menjagaku? Terimakasih untuk seluruh cinta dan pengorbananmu...Terimakasih sudah mengajarkanku apa kemerdekaan cinta.

Inikah kemerdekaan sesungguhnya yang selama ini kita cari. Leluasa memberi tanpa tanpa memikirkan kepentingan diri sendiri. Menerima dengan senang hati apa pun kekurangan atau keadaan yang seringkali tak sesuai kemauan diri. #catatanfas








Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS