Pages

Kesempatan Kedua Itu Bernama Kemerdekaan Cinta

Selasa, 23 Agustus 2016



Pernikahan kedua itu tak semudah yang pertama. Terlebih bagi yang masing-masing membawa anak dari pernikahan sebelumnya. Tapi karena ketidakmudahan ini konon juga membuat yang mau dan bisa mendapatkan nilai plus pula.  Bukankah, mau melakukan apa yang yang semestinya bukan tugas dan kewajiban kita itu istimewa?

Jadi, sebelum memasukinya mesti dipersiapkan mental baja, hati yang seluas samudera, pikiran seluas cakrawala, dan persiapan materi yang memadai pula. Itu salah satu alasan mengapa kami menunggu sekian lama untuk melangakah ke jenjang pernikahan setelah LDR-an beberapa tahun.

1. Membersihkan Luka Batin

Sebagai dua orang yang pernah mengalami kegagalan dalam berumahtangga, masing-masing pastinya membawa trauma dan kenangan tak mengenakkan dari pernikahan sebelumnya. Mencari dan menemukan sebab musabab terjadinya kegagalan membantu kita lebih mudah mencari solusi. Hal pertama yang mesti dilakukan adalah berdamai dengan diri sendiri dan berani mengakui kesalahan sebagai penyebab terjadinya kegagalan.

Memaafkan diri sendiri memang tidak mudah, terlebih jika memiliki mental blok, semacam perasaan tidak pantas untuk dicintai yang tertanam di bawah sadar yang belum kita ketahui.
Memaafkan memang tak akan mengubah masa lalu, namun menjadi kunci pembuka pintu kebahagiaan. Setelah mampu memaafkan diri sendiri, secara otomatis pandangan kita terhadap mantan dan kegagalan akan berubah sehingga secara tak langsung kita telah memaafkannya. Syukur-syukur bisa berterima kasih padanya.  Damai di hati membawa perubahan hidup yang signifikan, begitulah yang kami rasakan selama ini.Dengan menemukan dan mengambil hikmah dari kegagalan kita termotivasi untuk lebih baik lagi.

2. Mempersiapkan Mental

Menjadi "Emak Tiri?" Saya yakin tak ada satu orang pun yang bercita-cita ingin menjadi emak kedua yang secara umum kadung dinilai tak baik melalui cerita-cerita fiksi ataupun nyata. Kenyaatannya tidak selalu demikian. Masih banyak pula emak tiri yang secara lahir batin bersedia mengasuh dan menyayangi. Contohnya nenek saya sendiri. Semenjak suaminya menikah lagi, berhubung beliau tak bisa memiliki keturunan, anak-anak dari madunya beliau asuh seperti anak sendiri. Mungkin sikonnya beda, tetapi secara mendasar beliau sudah mengajarkan bahwasanya dari rahim siapa pun anak dilahirkan, ia akan menjadi buah hati kita selama disirami dengan kasih sayang dan perhatian.
Bekal ini yang membuat saya lebih kuat dan berani menyikapi keadaan. Meskipun tak serta merta bisa, harus terus belajar dan belajar untuk menjadi wanita yang legawa. Semoga....

3. Mempersiapkan Finansial

Bukan rahasia kalau dalam pernikahan soal uang bisa membuat kita sering salah paham. Lebih lebih jika anak-anak sudah membutuhkan banyak dana untuk proses belajar dan kegiatannya. Berbeda saat pernikahan pertama, hanya mikirin dua orang saja. Demi meminimalisir keadaan ini, semaksimal mungkin kami berusaha mempersiapkannya. Mulai dari tempat tinggal hingga investasi masa depan, Alhamdulillah diberi kelancaran.

4. Mempersiapkan Anak-anak

Komitmen pernikahan kedua pastilah beda dengan yang pertama. Komitmennya mesti lebih kuat karena menyangkut kenyamanan anak-anak. Dari awal kita harus terbuka dengan mereka bahwasanya sekalipun kami berdua telah menikah, tak ada perbedaan atau paksaan untuk memanggil ayah atau ibu. Sampai setahun pernikahan, mereka tetap memanggil saya dengan sebutan "tante". Hal ini malah lebih enteng bagi saya, toh realitanya mereka tetap berhubungan dengan ibu kandungnya meskipun dalam asahan kami berdua. Dengan cara ini kami ingin memberi kebebasan agar mereka tak merasa terpaksa dan merasa tak enak dengan ibu kandungnya.

Apalah arti sebuah panggilan, yang terpenting adalah cerminan sikap kita sebagai ibu bagi mereka. Butuh waktu yang panjang untuk membuktikannya.

5. Terus Belajar

Pernikahan adalah sebuah proses untuk tumbuh dan berkembang bersama. Untuk itu kami terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik, saling menerima kekurangan dan kelebihan apa adanya, saling mengoreksi dan memperbaiki diri masing-masing. Kami menamakan kesempatan kedua ini dengan kemerdekaan cinta. Dengan bekal cinta dan kasih sayang, dan saling memberi keleluasaan untuk berbuat demi keselarasan rumahtangga, kami yakin keluarga yang sakinah akan lebih mudah tercipta. Maka, belajar dan terus belajar menjadi kunci utama.

Demikian yang bisa saya bagikan untuk emaks yang punya takdir seperti saya. Selama ini sayangnya sangat sedikit yang mau berbagi cerita tentang suka duka menjadi ibu kedua. Seorang ibu yang sering dipandang sebelah mata karena sudah kadung dicap sebagai orang yang tak baik perannya melalui dongeng cinderela. Meskipun pada akhirnya muncul kisah baru tentang cerita baik melalui Ashanti, sepertinya belum terlalu kuat untuk mengubah paradigma. Ibarat orang melangkah, menjadi ibu kedua itu, maju mundur bukan hanya cantik, tapi sangaat cantik  karena maju mundurnya mesti dengan menutup mata. Tetap semangat dengan berpegangan pada nilai yang mendasar dan kuat biar langkah semakin asyik dan penuh irama. Syalalala... :-D :-P
#catatanfas

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS