Pages

Meretas Batas

Selasa, 30 Agustus 2016






"Setiap diri adalah seorang perantau. Mula-mula ia mengira perjalanan terjauh itu melintasi benua, kemudian pada satu titik ia akan menyadari bahwa perjalanan terjauh itu menuju ke dalam dirinya. Untuk menuju ke sana, kita membutuhkan pengalaman yang benar-benar baru dan 
beda." -FAS-


Belum genap seratus hari merantau, mak bedunduk hari ini ia pulang. "Aku tidak bahagia di sana. Gajinya memang gede, tetapi aku merasa tidak berguna karena tidak bisa menjadi diriku sendiri. Aku salah perhitungan dan tujuan."

"Begitulah pengalaman, terlebih yang pertama. Kita memang mesti membayar mahal. Tetapi tidak apa-apa, karena semua itu akan menjadi hartamu yang tak ternilai. Suatu hari nanti kamu akan menyadari betapa beruntungnya kamu pernah mengalami hal ini. Tahu tidak, kalau kamu telah melewati batas kemampuanmu sebagai gadis 20 tahun?"

"Apakah itu? Iya ya, besok aku ulang tahun. Terimakasih sudah mengingatkan."

"Kamu sudah mengambil keputusan yang sangat hebat karena lebih memilih menjadi dirimu sendiri dan kebahagiaan ketimbang uang."

Dan kulihat wajahnya yang lesu perlahan menjadi cerah. Secerah hatiku ketika menceritakan pengalaman pahit yang sangat mahal ketika pertama kali merantau. Sungguh, saya sangat bahagia karena bisa menceritakan dengan tertawa, artinya luka batin itu telah menguar entah kemana.

Iya, luka batin yang hampir separuh perjalanan menjadi penyebab carut marutnya kehidupan dan perjalananku yang seakan tak bertepi itu bersumber  dari pengalamanku bekerja di Saudi. Peristiwa yang tak mungkin terlupakan karena menjadi pengalaman pertamaku #melampauibatas di usia 20 juga. Ini ceritanya......

                                                                  ********

Hidup adalah petualangan. Terkadang, kita membutuhkan pengalaman yang benar-benar baru dan beda agar bisa menghargai apa yang sudah kita miliki dalam hidup ini. Kebanyakan dari mereka yang sudah mengalami banyak kesulitan dalam melewati perjalanan; seperti kegagalan, kehilangan, atau kesedihan yang mendalam, dari mereka kita bisa belajar bahwa semua keadaan itu hanyalah sementara. Dan orang yang dilahirkan sebagai pemenang akan mampu menerima semua keadaan sebagai jalan memperbesar kekuatan.

Pengalaman pertama saya menjejakkan kaki di Saudi Arabia, merupakan pengalaman yang membuat saya sadar, seburuk-buruknya keadaan saat berada di tengah keluarga masih sangat berharga dibandingkan keadaan di luar sana. Masa itu, saya baru berumur 19 tahun.  Sedari kecil jarak tempuh terjauh yang pernah saya capai hanya kisaran kota saya, Ponorogo. Bergelut dengan keadaan yang tidak pernah terbayangkan, mengatasi ketakutan dan kecemasan menjadikan keadaan begitu sulit dilewatkan. Terlebih dengan diliputi rasa terbuang dan dikorbankan, hari-hari yang ada terasa begitu menyiksa.

Di sela waktu istirahat yang hanya diberikan pada jam-jam sholat, saya mencari cara agar perhatian bisa dialihkan. Beruntung di sebelah kamar ada sebuah gudang yang berisi buku-buku. Sedari kecil, buku memang jadi bagian yang tidak bisa saya lepaskan dari keseharian. Maka di sanalah saya memulai cara temukan terang. Dengan belajar secara otodidak, buku-buku berbahasa inggris itu bisa memberi setitik air dan cahaya.

Tekanan demi tekanan terus mengisi jiwa muda saya yang membutuhkan banyak pengalaman. Ada semacam pemberontakaan yang terus mendesak untuk keluar dari situasi itu. Hati kecil saya mengatakan, tempat itu bukanlah yang pantas untuk dipertahankan. Di tengah cuaca yang ekstrem, saya terus memikirkan jalan agar bisa dipulangkan. Namun mereka keukeuh, sebelum masa kontrak habis, tidak akan diijinkan. Kemungkinan besar karena mereka sudah membayar mahal. Untuk mencegah kemungkinan saya melarikan diri, selama bekerja s sepeserpun tidak dikasih pegang uang. Gaji langsung dikirimkan ke keluarga di rumah. Dan membayangkan wajah-wajah mereka yang terbantu dengan hasil keringat, sedikit memberi semangat dan kegembiraan.

Setahun telah berlalu, keinginan untuk pergi semakin tak terbendung lagi. Perlakuan mereka yang tak manusiawi menjadi pendorong terkuat untuk segera keluar dari situasi. Kata-kata kasar, pukulan dan kekurangan makan menjadi menu yang terpaksa harus saya telan. Apalagi kesehatan semakin mengalami penurunan. Setiap hari darah segar keluar dari hidung. Badan kurus banget, 43 kilogram.  Lengkap sudahlah penderitaan yang saya rasakan.

Dan semua berakhir di bulan ke-13. Saya katakan pada diri sendiri, "Sekarang berjuang atau mati dengan kesia-siaan."

Dengan keberanian yang entah datang darimana, saya ambil kontrak kerja yang mereka simpan. Saya bakar. Mungkin semua sudah menjadi jalan Tuhan untuk mengeluarkanku dari penderitaan. Kamar yang selalu terkunci lupa mereka tutup saat keluar.

Mereka baru menyadari kecolongan setelah saya tantang menunjukkan kontrak mana yang dijadikan alasan. Mereka sangat marah, setelah memukul dan menendang, dikuncilah saya di kamar mandi. Saat itu saya benar-benar pasrah. Namun sangat yakin bahwa Allah akan menolong dan menjaga, entah bagaimana caranya. Bersama air kran hidup mati saya perjuangkan. Dan do'a saya dikabulkan.

 Di hari ketiga, saya tidak akan lupa hari itu. Hari kamis adalah hari kemerdekaan. Mereka akhirnya mau memulangkan. Tidak terpikirkan bagaimana dengan uang yang tersisa sebesar Rp. 17.000 nantinya bisa sampai ke kampung halaman. Setelah terbebas dari sana, saya tekankan, "Tidak ada lagi yang perlu saya takutkan, karena Allah selalu memiliki cara untuk memeluk dan menguatkan."


#catatanfas
#kehidupan

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS