Pages

PILIHAN ARINI 2

Sabtu, 20 Agustus 2016




"Selama belum mampu melembutkan hati, kekerasan hidup akan terus terjadi. Penderitaan adalah cara-Nya mengusap dan meluruhkan kerak-kerak dalam diri." #FAS

"Ia memberikan gaji dan uang tiketmu. Jadi statusnya dia yang memberhentikanmu, bukan sebaliknya. Tapi ya itu, masalahnya surat pemutusan kerjamu dengan alasan kamu dicurigai mencuri uang." Jelas perempuan paruh baya itu pelan.

Namun kalimat mrs. Che, ibu agen itu seperti halilintar di telinga Arini. Rupanya perempuan itu tidak terima ia menjadi pihak yang kalah dan bagi orang yang merasa bisa mengatasi segalanya dengan uang, kehilangan uang beberapa ribu dolar bukan masalah. Di-phk oleh pembantu baginya suatu kekalahan maka ia menggunakan cara itu untuk memuaskan egonya. Menurut peraturan Hong Kong, pekerja yang memutuskan kontrak sebelum masa kerjanya habis ia wajib memberitahukan lewat surat peringatan sebulan sebelumnya atau tidak menerima gaji sebulan jika berhenti tanpa pemberitahuan. Dalam kasus ini Arini semestinya tidak menerima gaji meskipun mendapatkan uang tiket.

"Mengapa ibuk tidak memanggil saya tadi?! Saya bisa menantangnya untuk membuktikan tuduhan itu. Sebulan yang lalu ia juga menuduhku begitu dan saya minta dia panggil polisi untuk membuktikan tuduhannya. Ia tak berani karena memang tak ada bukti. Lantas malam harinya ia bawa temannya yang anggota geng itu ke rumah. Mungkin untuk menggertak atau apa." Sergah Arini dengan suara gemetar menahan amarah dan tangis.

Demi mendengar penjelasannya Mrs Che terdiam. Bukan rahasia umum lagi mayoritas agensi hanya berpihak pada kepentingan majikan dan uang. Bagi mereka siapa yang bisa menghasilkan, disinilah ia berpihak. Ini sungguh tidak adil bagiku. Dengan surat rekomendasi yang jelek, siapa yang mau memperkerjakannya lagi? Batin Arini geram.

Sebenarnya break contract ataupun terminate  bukan hal yang baru baginya. Dalam masa kerjanya yang dulu-dulu sewaktu ia masih lajang, perasaannya biasa saja menghadapinya. Ternyata ia telah jauh berubah. Nalurinya sebagai ibu membuatnya ketakutan kalau sampai gagal memberi penghidupan yang layak untuk anaknya. Kecemasan menyelimuti dirinya. Bayangan demi bayangan hilir mudik membuat pandangannya semakin gelap dan goyah menyusuri labirin masa depan.

"Mengapa harus aku, Tuhan? Dimana keadilanmu?! Gugatnya dalam kemarahan yang mendalam. Jiwanya terasa rapuh dan luruh dalam ketidakpastian. Hatinya hancur berkeping-keping dalam keputusasaan.

Dendam dan sakit hati kembali membuncah di dadanya.  Seandainya lelaki itu tak membebani dengan hutang, mungkin ia tak akan seberat itu menghadapinya. Kalau sampai ia pulang, dimana mau ia taruh mukanya? Bagaimana cara menyelesaikan angka-angka yang menjerat itu? Kemudian bayangan masa lalu silih berganti datang. Makin banyaklah daftar penyelasannya. Seandainya dan seandainya membuat hatinya makin gulita dan kembali menggugat keadilan Tuhan.

Setelah beberapa hari di Agen dan belum kunjung juga menemukan orang yang mau tanda tangan kontrak sementara visanya tinggal dua hari, Mrs. Che memanggilnya.

"Arini, ini ada satu majikan yang mau tanda tangan dan memperkerjakanmu. Tapi nenek yang nantinya kami jaga ini memiliki penyakit paranoid. Kamu tidak diijinkan membawa uang atau barang berharga karena ia selalu curiga kalau uang yang ada di badan pekerjanya uang hasil curian."
Lakon apalagi ini Gusti?! Haruskah aku menghancurkan diriku lagi dan masuk perangkap yang sama? #catatanfas

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS