Pages

PILIHAN ARINI

Kamis, 11 Agustus 2016


"Aku tak memiliki apa pun ketika dilahirkan, kecuali cinta yang Tuhan sematkan agar sayapku terus tumbuh dan mampu terbang" ( FAS )

                                                              ****
   Pertama kali melihatnya, Arini sudah merasakan ada yang salah. Dari raut wajahnya, perempuan yang akan ia panggil "Dai-dai" --sebutan nyonya di Hong Kong-- selama dua tahun sesuai perjanjian kerja itu banyak tekanan hidup.Raut mukanya penuh guratan. Rambutnya tampak kusam. Tak sebanding dengan penampilannya yang nampak "wah" meski terkesan dipaksakan. Lingkaran hitam menghiasi kelopak matanya yang sipit. Menandakan tidurnya tidak bisa tenang. Entah kehidupan seperti apa yang telah dilewatinya. Usianya pasti tidak lebih dari dirinya sendiri tapi bisa juga di bawahnya. Menurut informasi dari Mrs. Che, ibu agen, ia berasal dari daratan China.


   Mendengar keterangan tadi, hati Arini menciut. Bukan rahasia umum lagi, kalau perempuan dari sana memiliki tabiat dan kebiasaan yang jauh beda dengan perempuan Hong Kong yang lebih terdidik dan punya tata krama.

Arini memiliki kekuatiran yang sangat beralasan. Setelah prahara rumah tangganya, dengan setengah hati ia memutuskan pergi ke luar negeri. Ia tinggalkan anak semata wayangnya bersama keluarganya. Seandainya tidak ditinggali hutang oleh mantan suaminya, Arini tidak mungkin kembali memijakkan kaki lagi di sini. Anaknya yang baru berusia dua tahun, sangat membutuhkan perlindungan dan kasih sayangnya. Terlebih semenjak ayahnya tiba-tiba pergi tanpa pesan. Arini tidak punya pilihan. Atau, hidup memang tidak menyediakan pilihan untuknya? Ahhh! Entahlah. Untuk saat sekarang ia tak mau memusingkan pertanyaan demi pertanyaan yang menumpuk dalam pikirannya.  Ia hanya ingin bekerja, melunasi hutang-hutangnya, dan membahagiakan anaknya. Sebagai seorang ibu ia dihadapkan pada situasi yang sulit dan tak pernah terbayangkan. Hidup terasa tak adil bagi mereka berduaa.
Kekuatiran Arini terbukti. Ternyata tabiat Dai-dai memang tidak wajar. Memiliki seorang anak lelaki usia dua tahun yang autis membuatnya frustasi. Terlebih tanpa seorang suami yang bisa diajaknya berbagi. Arini tidak berani memastikan lelaki mana di antara beberapa yang sering berkunjung, yang telah menitipkan anak di hidupnya. Arini jatuh kasihan melihat anak lelaki yang langsung lengket itu. Naluri keibuannya tersalurkan. Ia sering menangis, setiap melihat anak itu dihajar oleh ibunya, naluri keibuannya berontak. Tapi ia tak bisa melakukan apa-apa. Satu kesalahan kecil semisal menumpahkan makanan di baju, akan membuat Dai-dai naik pitam dan memukulnya berulang-ulang. Anak yang tak ia harapkan hadirnya. Mungkin perempuan itu lupa bahwa tak ada seorang anak pun yang lahir tanpa maksud dan tujuan untuk dihadirkan dalam kehidupannya. 

"Anak sial!" Ceracau itu  keluar dari mulutnya setiap kali marah. Perempuan itu sepertinya menjadikan bocah tak berdosa itu sebagai pelampiasan dari kegagalannya menghadapi kenyataan. Ia tak benar-benar sanggup melihat betapa keruwetan demi keruwetan yang seakan tak berujung pangkal itu akibat ulahnya sendiri. Ia belum sanggup berdamai dengan dirinya sendiri atas semua yang terjadi. Ada sakit hati dan dendam yang mengapi.

 Hati Arini semakin sakit saat menyadari bahwasanya perempuan itu adalah refleksi dari dirinya sendiri. Pasti bukan kebetulan kalau mereka berdua dipertemukan. Kaca besar berdiri di depannya. Ia tergugu dalam pilu. Sebongkah magma yang mengendap dalam ruang jiwanya itulah yang membawanya bertemu perempuan itu. Kemarahan yang terendap selama sekian waktu seakan mewujud dalam dirinya dan secara paksa semesta meminta Arini untuk mengambil balik apa yang ia tanam dalam jejaknya.  Dan entah mendapat kekuatan dari mana, Arini ingin berontak dan menyudahi semuanya.

Kesempatan yang ia tunggu akhirnya tiba. Bertepatan dengan hari ia menerima gaji bulan ke tiga, saat anak asuhnya tertidur, Arini memberanikan diri bicara. Ia sudah tidak sanggup lagi menghadapi situasi di rumah ini. Batinnya  semakin tak tenang. Terlebih kemarahan demi kemarahan terus ia terima setiap emosi perempuan ini labil. Arini sendiri memiliki tekanan yang belum mampu ia lepaskan semenjak perceraiannya. Ditambah keadaan yang terus menyudutkannya. Ia sudah memikirkan berhari-hari. Sekalipun ia ingin melindungi anak asuhnya, namun ia tak memiliki lagi kekuatan. Apalah artinya uang, jika harga diri dan hatinya terus diluluh lantakkan oleh perempuan yang sedang menghisap rokoknya ini? 3Perempuan yang entah mengapa, tak memiliki naluri keibuan. Arini tak mau jadi saksi kebiadabannya.

"Dai-dai, besok aku pulang ke agen. Maafkan! Aku tidak bisa membantumu lagi."
"Apaaaa?!" kalimat Arini yang pelan dan takut-takut, serupa halilintar di telinganya.
"Kamu baru tiga bulan di sini. Bagaimana mungkin kamu mau pergi? Kontrakmu dua tahun. Ingat itu!" Suaranya menggelegar. Ia lupa anaknya baru saja tertidur.

 Tapi Arini sudah tak mau lagi jatuh kasihan. Ia harus kuatkan hatinya. Masih ada yang lebih penting untuk ia pertahankan dan lindungi. Anaknya. Kalau kondisi hati dan jiwanya selalu dalam kecemasan, bagaimana dengan anaknya? Dimana tanggung jawabnya sebagai ibu untuk melindunginya? Sementara Arini memahami, gelombang hati ibu dan anak seirama. Sejauh apa pun raga mereka terpisah, jiwa mereka selalu dekat. Apa yang dirasakan dan dilakukan seorang ibu mempengaruhi perkembangan jiwani yakin akan selalu ada jalan yang Tuhan berikan. Sekalipun jalan itu seakan tak memberikan harapan, ia yakin di tengah perjalanan ia akan menemukan jawaban. Demi anak dan hidupnya, Isti melangkah pergi tanpa uang di dompetnya. ‪#‎catatanfas

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS