Pages

Sketsa Victoria

Rabu, 21 September 2016

Siluet Senja


"Hitam putihmu adalah bagian yang tak bisa dihapus. Semua dihadirkan sebagai sarana untuk lebih mengenal sketsa utuh wajah kehidupan."

Rasanya tak akan ada habisnya menggali cerita dari Victoria Park. Maka tidaklah mengherankan jika ada pihak yang tertarik untuk mem-filmkan sketsa cerita dari Victoria. Jadi saya pikir sah-sah saja setiap orang menggali cerita dari wajah kehidupan penghuninya.

Victoria Park, dulunya adalah tempat pengungsian kapal-kapal yang berlindung dari badai angin topan yang secara berkala hadir di Hong Kong. Maka pada tahun 1950 pengungsian dan persinggahan pelaut ini direklamasi menjadi taman. Victoria sendiri berasal dari nama ratu inggris. Dan rasanya tak salah jika seiring perkembangan jaman, victoria juga berfungsi sesuai sejarahnya. Menjadi tempat mengungsi para sahabat BMI ( Buruh Migran Indonesia ) dari kejenuhan rutinitas selama sepekan. Di sini mereka bisa berjumpa dengan para saudara dan sahabat atau sekedar duduk santai sambil ngobrol ngalur ngidul sebagai pelepasan rasa.

 Di awal 1998,  saya sudah akrab dengan victoria. Bahkan sejak di penampungan, kami sudah familiar karena konon hanya di victoria kita bisa saling bertemu.

 Maklum, waktu itu komunikasi belum selancar sekarang. Kami masih menggunakan surat untuk menanyakan kabar dan tanggal ketemuan. Dan di awal 2000 Victoria semakin saya kenali sudut-sudutnya karena setiap minggu tiba, saya menambah penghasilan dengan menjajakan makanan dan minuman.

Ternyata, wajah Victoria sudah sangat berubah saat saya kembali lagi empat tahun yang lalu. Di setiap sudut, wajahnya berganti dengan atraksi-atraksi, orang mengaji dan yang tak kalah banyaknya juga bermunculan komunitas funky dan nganeh-nganeh yang menjadi amat menyolok dengan segala keanehan yang mereka miliki.

Berada jauh dari keluarga membuat banyak jiwa merasakan hampa dan terbuang dari akarnya. Terlebih buat mereka yang melangkahkan kaki ke negara Jacky Chan karena alasan sakit hati. Sangatlah bisa dimaklumi jika di tengah carut marut luka mereka mencoba berbagai cara untuk melupakan atau lari dari masalah. Belum lagi dengan masalah pekerjaan.

 Maka, hari minggu membuat banyak jiwa mencari setetes air di gersangnya tembok beton ini.
Dan Victoria menawarkan banyak pilihan buat mereka. Jika takdir membawa kaki pada jalan kebenaran, maka jiwa-jiwa akan  bertemu dalam komunitas yang membawa ke arah kebaikan. Bergabung di majelis taklim, mengikuti latihan kepenulisan.atau komunitas lain yang merangkul dengan tujuan membaikkan. 

Sayangnya, tidak semua jiwa bisa menangkap cahaya. Dan mereka lebih suka berada di gelapnya fatamorgana sambil berharap keajaiban masa membawa mereka keluar dari pekatnya bilik yang mereka buat sendiri.

Sketsa mereka yang sebenarnya minoritas ini, telah mencoreng banyak wajah tak berdosa. Entah sadar atau tidak, mereka merasa sangat biasa melenggang dengan tipuan kenyataan yang dipropaganda sebagai kewajaran semata.

Gemas dan malu. Itu sejujurnya yang saya rasakan saat bertemu dengan komunitas ini. Walau dalam diam saya bisa merasakan kegalauan dan ketidakmengertian mereka tentang lakon apa yang sedang mereka perankan. Saya yakin, saat malam menjelang dan sendirian, mereka juga tak mau menjadi seperti itu. Dan hanya Tuhan yang tahu, bagaimana kelak mereka mendapatkan jalan untuk kembali pada diri sejati mereka.

Sketsa Victoria, hitam putihmu adalah bagian yang tak bisa dihapus. Semua dihadirkan sebagai sarana untuk lebih mengenal sketsa utuh wajah kehidupan.

#Catatanfas, Hong Kong, 13 Juni 2012, dimuat di Berita Indonesia

Catatan Kecil Jejak Perjalanan

Selasa, 20 September 2016


"Mengumpulkan aksara yang berserakan sepanjang perjalanan adalah bagian dari caraku memerdekakan diri. Menepiskan sunyi dengan memasuki realitas hari dan diri sendiri. Mengayun langkah sembari menikmati bias-bias cahaya cinta yang tersebar di setiap titik  jalan yang terlewati." (FAS)


Dalam suatu kajian ilmu yang rutin saya ikuti melalui youtube, Cak Nun berpesan,"Jangan mengalami apa pun tanpa mendapatkan kegembiraan dan ilmu." Sebuah pesan yang singkat namun sangat mengena karena erat kaitannya dengan perintah ayat pertama yang diturunkan "IQRA" 

Membaca tidak selalu melalui buku. Ada banyak media yang bisa kita jadikan untuk bahan bacaan. Membaca juga tak melulu melalui panca indera, sebagian besar membutuhkan akal dan rasa karena dalam hidup yang tersembunyi lebih banyak dari pada yang nampak mata. Untuk itu kita mesti terus belajar mengasah pikiran dan kepekaan agar mampu, setidaknya bisa mengambil sisi baik, dari setiap hal yang kita temui dan alami.

Tiga kisah di bawah ini hanyalah sebagian kecil pelajaran yang kutemukan sepanjang perjalanan. Bagi orang yang percaya bahwa tidak ada yang kebetulan terjadi di dunia ini, saya termasuk orang yang hobby membaca aksara yang tersebar dalam banyak peristiwa keseharian. Dengan siapa dipertemukan, dengan kejadian apa dihadapkan seringkalinya merupakan jawaban dari pertanyaan atau ganjalan yang memenuhi hati dan pikiran. Bagiku, sesuatu yang nampaknya biasa saja sebenarnya mengandung makna tersirat yang semakin membuatku bersyukur. Hidup adalah keajaiban demi keajaiban yang penuh keindahan selama kita tahu cara menikmatinya. 
  
                                                                  *****
Diberi kesempatan menanam itu juga rezeki. Bukan hanya saat menerima saja yang mesti disyukuri. Semestinya lebih bahagia begitu kesempatan itu ujug-ujug menghampiri dari seseorang yang bahkan sama sekali tidak dikenali. Seperti kejadian barusan  yang mengingatkanku pada pengalaman puluhan tahun silam saat perjalanan pulang Jakarta-Ponorogo tanpa uang sama sekali.  Untungnya orang yang duduk di sebelahku  baik hati. 

Jadi begini, tadi sepulang kerja begitu turun dari bis ada seorang wanita yang tergopoh-gopoh menghampiri. Dari raut mukanya jelas ia sedang panik. "Mbak..Mbak....dompetku hilang. Aku baru turun dari bis dan saat ku buka tas,  dompetku sudah nggak ada. Aku ingat benar, tadi pas bayar bis masih ada. Aku harus gimana? Kantor polisi di mana?" Ujarnya bertubi-tubi sambil menumpahkan isi tasnya untuk meyakinkan diri kalau dompetnya apa benar tak ada.

"Kalem mbak..kalem..sampéyan tadi naik bis nomer berapa?" Tanyaku sembari mulai membuka hp untuk mencari nomer hotline bis yang ditumpanginya. Begitu ia menyebutkan nomer bis, secepat itu nomor yang kucari sudah muncul. Sayangnya saat ditelpon tak ada yang mengangkat. Seingatku di tempat ini dulu juga ada mbak yang lain mengalami kejadian serupa. Dan begitu kutelpon hotline, diberitahukan bahwa dompetnya ditemukan dan  disimpan oleh  pak sopir di terminal.

Rupanya mbak yang ini kurang beruntung. Setelah gagal, maka langsung kusambungkan dengan 999 ( nomor SOS Hong Kong ) Perempuan ramah di ujung telepon mendengarkan dengan seksama dan menyarankan untuk ke kantor polisi terdekat.

Kantor terdekat dari kami berada mesti naik bis memutar untuk sampai di sana. Berhubung terburu-buru,  aku hanya bisa  mengantar mbaknya ke stasiun dan meminta pada sopir agar ia berkenan menurunkannya di depan kantor polisi. Di sini sangat besar kemungkinan dompet yang hilang bisa kembali karena mereka terbiasa melaporkan atau menyerahkan barang yang ditemukan ke polisi. Selama ada laporan tertulis, kalau masih rezeki akan dihubungi untuk mengambil barang yang hilang atau ketinggalan.

"Mbak minta nomer teleponmu. Nanti uangnya kukembalikan." Pintanya saat kuberi ongkos untuk naik bis dan pulang ke tempat kerjanya yang lumayan jauh.

"Tidak usah, Mbak. Nggak usah dipikirkan. Kalau nanti dompet sampéyan nggak kêtêmu jangan terlalu dipikirkan ya. Kalau itu rezeki sampéyan, Insya Allah akan ada gantinya."

Dengan berat hati ia mengangguk. Uang hasil kerja sebulan memang tidak sedikit. Semoga mbaknya mendapatkan hikmah dari kejadian barusan. Dan sambil pulang terbersit pikiran,"Sepertinya kehidupan akan selalu memiliki cara untuk menagih dan melunasi hutang budi kita." #catatanfas_18092016
      
                                                                ********

Sapu Tangan Dan Kehilangan


"Faaa...sapu tanganku hilang,"kata si sulung, Cristy, dengan wajah lesu begitu kubukakan pintu sore itu sepulang kuliah.

"Aku tadi selama jam kuliah unhappy, benar-benar sedih memikirkannya." Lanjutnya sambil menghempaskan diri ke sofa dengan gerutuan khas keluar dari mulutnya.

"Wong cuman sapu tangan saja kok segitunya. Ya nanti beli lagi." Sahutku pura-pura tak peduli. 

Entah ada apanya dengan sapu tangan kecil bergambar katak yang setiap hari ia cuci kering itu. Meski diam-diam aku memperhatikan tingkahnya yang tak biasa, namun aku memilih tak bertanya. Di antara ketiganya, ia yang paling susah adat. Butuh trik tersendiri untuk mendekatinya.  Terlebih sejak masuk kuliah. Dia sudah wanti-wanti kalau apa-apa bisa sendiri.

"Beli di mana?! Sapu tangan itu belinya kan waktu aku ke Taiwan dulu." Sahutnya dengan sewot

"Ada apanya sapu tangan itu, apa ada magicnya, kok kamu segitu sayangnya? Coba perhatikan, semakin kamu tak bisa lepas dari sesuatu, ia akhirnya mudah hilang, bukan?"

Ia terdiam. Mungkin sedang mengingat samsung S4 yang dulu baru beberapa saat dinikmati dan pecah. Ingat dompetnya yang hilang. 

"Begitu ya, Fa?" Terus, seharusnya bagaimana?"

"Jangan terlalu melekat sama benda atau orang. Contohlah ibumu. Meski ia tidak selalu bisa menemani dan jarang bersama kalian, Mom tetap happy dan enjoy, bukan?  Karena ibumu tahu cara mencintai bukanlah menggenggam, melainkan membebaskan kalian tumbuh dengan memberikan kepercayaan. Ibarat sapu tanganmu itu. Mungkin selama ini, seandainya ia bisa bicara, dengan caramu yang terus menerus membawa kemana-mana dan tak bisa lepas itu ia tersiksa. Coba pikirkan. Seandainya Mom mengekang dan terus menerus menelponmu, kamu senang nggak?"

"Hmmm...tapii, aku kan butuh sapu tangan itu untuk menyemangatiku, Fa. Melihatnya aku seperti melihat Min Ho.

"Emang kamu pikir, Mom juga tidak menjadikan kalian sebagai penyemangat? Sama. Mom pun begitu, Dear. Tapi toh ibumu tidak membawa kalian ke kantor. Karena Mom sudah membawanya di hati. Maka kemana pun seorang ibu pergi,Ia sebenarnya bersama anak-anaknya. Sapu tanganmu memang sudah hilang, tetapi, kamu masih ingat bentuk, warna, dan kenangan bersamanya, bukan? Secara fisik ia memang sudah tak ada, namun secara batin ia tetap ada. Dan, siapa tahu ia sekarang malah senang karena tak lagi memiliki tugas yang kau bebankan. Kalau kamu benar sayang sama dia, melihatnya bahagia, akan membuat hatimu lebih lega. Aku tahu sulit menerima rasa kehilangan itu. Hanya waktu dan momentum yang akan menyembuhkannya..."
#catatanfas_19092014

                                                                      ******
Jangan Menghakimi

Siang itu supermarket Fusion ramai. Akhir pekan dimanfaatkan mayoritas warga di area Sham Tseng untuk berbelanja setelah aktifitas hari kerja tak memberi ruang dan waktu pada mereka untuk memikirkan kebutuhan sehari-hari. Setelah menengok sana-sini akhirnya ada satu antrian yang memungkinkanku untuk bisa cepat keluar dan pulang. Jam makan siang sudah hampir tiba, anak-anak pasti sudah kesal menunggu. Sambil antri sesekali kuperhatikan wajah-wajah yang antri dengan keterpaksaan. Sekalipun budaya antri sudah menjadi tradisi di sini bukan berarti mereka rela menghabiskan waktu  untuk berlama-lama.

Setelah berapa lama antrian tempatku menunggu tak bergeser juga. Sementara barisan sebelah yang lebih panjang suda berkurang banyak.

“Huuft, dasaar nenek-nenek, beli melon saja kayak beli berlian. Dasar peliit!” Gerutu orang yang antri di depanku.

“Memang ada apa?” tanyaku menimpali omongannya.

“Itu tuh, si nenek. Dia nggak percaya dengan receipt yang diterimanya. Dia ngeyel, kenapa 6.9 ditambah 6.3 bisa 13 dolar lebih. Sudah dijelaskan dari tadi tetap tak percaya.”

Setelah melewati beberapa punggung, pandanganku menangkap seorang  nenek yang masih bersikukuh kalau kasir  keliru menghitung belanjaannya. Bukan rahasia umum lagi kalau nenek-nenek di sini terkenal dengan “keampuhan”  mereka.

Anehnya, sementara kami yang antri menggerutu tak sabar, kasir dengan penuh kesabaran menjelaskan. Sepertinya bukan semata-mata karena profesional, kasir itu memiliki kesabaran yang luar biasa menghadapi ulah  nenek yang benar-benar menjengkelkan.

“Sudah, panggil managermu saja biar dia yang menjelaskan.” Sebuah suara tak sabar mengusulkan.

“Atasanku tak punya waktu untuk urusan begini.” Sahut kasir dengan suara kalem.

Setelah melalui nego yang menyita waktu dan emosi akhirnya nenek menyerah dalam ketidakmengertiaannya. Bagaimana mungkin 6 ditambah 6 sama dengan 13??”, dasaar bodoh!” gerutu sang nenek sambil pergi tanpa rasa bersalah.

Setelah tiba giliranku, seperti biasanya, rasa ingin tahuku kutumpahkan. Daripada penasaran lebih baik diutarakan, kan?" *Ups,dasar orang spontan!

“Cece, bagaimana kamu bisa sabar menghadapi ulah nenek tadi?”

“Haah…aku hanya berpikir kalau sudah tua nanti bisa saja aku begitu. Kita tidak  tahu khan seperti apa setelah tua nanti?”

*Jleeb* kalimatnya benar-benar tepat mengena.  Ternyata, selama ini kita begitu mudah menghakimi orang lain, menganggap pemikiran mereka keliru tanpa mau memahami latar belakang apa yang membuatnya bersikap begitu.  Dan seringkali kita lupa bagaimana kalau kita ada di posisi mereka. Ah, ternyata dalam hidup tidak semua hal bisa terjemahkan dengan logika dan penglihatan mata. Setelah mendengar kata-kata kasir tadi, dalam sekejab si nenek yang menjengkelkan tadi berubah jadi sosok yang inspiratif karena telah memberi pembelajaran berharga.
#catatatanfas_19 September 2013

Cahaya Di Kaki Senja

Jumat, 09 September 2016




Kebenaran tetaplah kebenaran, sejauh apa pun kita mencoba menutupinya,  alam akan mencari keseimbangan untuk memberitahukan. Untuk itu tak perlu terus menerus larut dalam drama kehidupan. Cukup mencari apa yang benar menurut-Nya agar tetap nyaman menjalaninya.


Ini Juni ke- sepuluh, Jo. Juni yang menorehkan prasasti yang dulu pernah kita gadang-gadang sebagai pelangi abadi. Atau, kau sudah tidak ingat lagi apa bedanya Mei dan Juni? Ah, sepertinya tidak. Aku yakin di ruang yang bernama entah, nalurimu akan berontak, mendobrak pintu keegoisan yang kau bangun di atas puing-puing penyesalan dan memaksamu untuk mengingat kejernihan telaga yang kau tinggalkan di antara kebun bunga yang kerontang dicuri kemarau.

Seandainya kamu benar-benar lupa, Jo, itu juga tak mengapa. Kelupaanmu tidak mempengaruhi kejernihan telaga dan keasrian kebun yang kini telah dipenuhi bunga dan kupu-kupu yang penuh warna. Setiap kali melihatnya, ada do'a yang diam-diam kutitipkan lewat angin untukmu, Jo. Sesekali saat senja aku juga menziarahimu dan menabur bunga di antara pokok-pokok randu yang berdiri kokoh mengelilingi kebun sambil memandang bias cahaya kekuningan di antara daun-daunnya. Seperti setiap tetes air hujan yang menumbuhkan benih-benih, menyuburkan lahan, mengaliri sungai-sungai hingga kembali ke laut dengan proses demi proses yang dilewatinya, aku juga memiliki harapan, wangi bunga ini akan sampai padamu lewat putihnya kapas yang bertaburan di angkasa agar kebun dan telaga yang kurawat ini bermakna sehingga aromanya mewangi sepanjang masa. #FAS

Sejujurnya hari ini masih agak melow ketika membaca lagi coretan di atas dan  gegara nonton acara salah satu stasiun televisi swasta di youtube tentang kabar mengejutkan dari sosok yang terkenal itu. Awalnya sih tidak "ngeh" saat di timeline pada ramai ngomongin kasusnya. Akhirnya setelah melihat ke FP yang sudah lama saya unlike, di sana menemukan jawabannya.

Saya biasanya termasuk orang yang males membicarakan berita karena sudah kadung kebal dengan berbagai macam berita hoax. Tetapi untuk kali ini saya benar-benar kepo. Maka setelah suami pamit tidur, saya minta ijin untuk nguprek.

Sedari awal anak itu bercerita sampai menit terakhir, air mata tak henti keluar. Sepertinya sudah lama tidak termehek mehek begini. Mereka yang tidak mengalami saja begitu sedih mendengar penuturannya, terlebih bagi seorang ibu dari anak yang memiliki kemiripan kisah dengannya. Emosi sedemikian kuat menggulung dan semoga ini hanya sesuatu yang bersifat melankolis semata. Memang kenangan tidak akan pernah hilang karena ia merupakan energi yang kekal, sekuat apa pun kita mencoba tak akan pernah mampu melupakan atau menghilangkannya. Dan hanya dengan berdamai, kesedihan atau luka akan berubah menjadi kekuatan dan cinta.

Menjadi seorang anak yang diabaikan atau tak diakui kehadirannya sudah pasti membawa luka batin mendalam. Terlepas siapa pun orangtuanya, terkenal atau tidak, setiap anak pasti merindukan kehangatan kasih sayang dari keduanya. Dan andai kedua orangtua berpisah, tak sedikit yang masih bisa mendapatkan perhatian dengan berbagai jalan. Jadi sangat wajar apabila anak itu pada perkembangannya terus menerus dihantui pertanyaan,"Mengapa ayah/ibuku menolak kehadiranku?"

Hal ini yang menjadi PR terbesar kami buat anak-anak, terlebih Kresna. Sejak lelaki itu ( mantan ) meninggalkan kami tanpa kabar berita, tak secuil pun perhatian dan penghidupan datang darinya. Awal-awal ia pergi, saya mencoba mencari keberadaannya. Seluruh keluarganya berkata tidak tahu. Dan semenjak delapan tahun terakhir, juga tak ada upaya apa pun untuk sekedar mempertanyakan kabar Kresna.

Baiklah, apa pun alasannya sepertinya memang tak ada gunanya berharap terlalu banyak dengan mereka. Toh kita tak bisa mengubah sikap orang lain. Perubahan hanya akan terjadi selama kita mau mengubah cara pandang, pikiran, dan pilihan sikap kita.  Setelah sekian waktu kesadaran perlahan muncul dan sejak itu saya berpesan kepada keluarga agar tak membicarakan kekurangan/ketidakbaikan Ayah kandungnya agar tidak  ada rasa benci atau dendam yang pastinya akan mempengaruhi perkembangan jiwanya.

Apakah cukup begitu saja untuk mengantisipasinya? Beruntung pada perkembangan selanjutnya saya bertemu orang-orang yang berbagi tentang betapa pentingnya kondisi kejiwaan seorang ibu untuk menjaga tumbuh kembang anaknya. Emosi, pikiran, dan perilaku seorang ibu mempengaruhi perkembangan dan masa depan anaknya.  Sejak itu saya mulai belajar untuk melepaskan sakit hati, dendam, dan belajar memaafkan sikap mantan. Alhamdulillah perkembangan Kresna tak jauh beda dengan anak lainnya karena ia mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang cukup dari orang-orang sekitarnya. Terlebih sejak suami hadir dalam kehidupannya, ia kembali merasakan sosok ayah yang dirindukannya. ( Terimakasih Ayah ).

Tetapi PR belum selesai. Masih ada saatnya nanti ia juga akan mencari dan mungkin "menggugat" ayah kandungnya. Tetapi saya tetap yakin dan optimis selama di hatinya tak ada kebencian semua akan baik-baik saja.  Memang tidak mudah menghadapi semuanya. Delapan tahun ternyata belumlah cukup untuk benar-benar terbebas dari kenangan dan luka batin. Terbukti semalam saya masih menangis dan bersedih. Mungkin kesedihan ini sebagai isyarat agar lebih keras lagi belajar legawa. Belajar untuk memaafkan diri sendiri karena disadari atau tidak, selalu anak yang menjadi korban dari keegoisan orangtua. Harus terus menerus belajar mawas diri dan membaca. Selalu ada pembelajaran yang bisa kita ambil dari kesalahan atau pengalaman orang lain. Hidup memang tak semudah kata-kata motivator, tetapi selalu ada hal yang bisa kita jadikan motivasi atau inspirasi untuk terus menerus memperbaiki diri dan mensyukuri hidup ini. Selama kita mau memahami apa maksud dan tujuan kita dilahirkan. Mau mencari apa maksud dan tujuan keadaan dihadirkan, keseimbangan dan kebahagiaan akan mudah menyapa. Bukankah untuk melihat pelangi, kita membutuhkan hujan dan matahari?

Seseorang yang tersisih atau tak mendapatkan apa yang semestinya di dapatkan dari ayah/ibunya biasanya tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan berhasil menghadapi berbagai rintangan dalam hidupnya. Secara tidak langsung sesungguhnya motivator terkuatnya datang dari ia yang mengabaikan kehadirannya. Pun dengan wanita yang gagal dalam berumah tangga. Ketika ia berpisah dan bisa bangkit dari keterpurukannya; orang pertama yang mesti ia beri ucapan terima kasih adalah mantannya. Sesuatu yang tak baik seringkalinya mengandung begitu banyak kebaikan selama kita mau belajar membaca dengan akal dan rasa.
#catatanfas

Cara Menjaga Hubungan Jarak Jauh

Rabu, 07 September 2016




Sudah dari sononya kalau perempuan memang lebih kuat batinnya dibandingkan kaum adam. Masalah demi masalah tidak akan menumbangkan daya tahannya sekalipun secara fisik mereka jauh di bawah lelaki. Perempuan kuat mikir, kuat menahan rasa, kuat bekerja, serta kuat pula ngomelnya.

Terlebih lagi jika ia sudah ke luar negeri untuk merantau. Jangan heran kalau perubahan demi perubahan akan merombak sebagian besar yang ada di dirinya. Bertemu banyak orang, bertemu berbagai pengalaman, berada di lingkungan yang secara kultur dan budaya berbeda jauh dengan kampung halaman akan membuat cara berpikir dan sudut pandangnya berubah drastis.

Akar permasalahan ini yang tidak disadari oleh keluarganya. Bagi yang di rumah, anggota keluarga atau istri yang merantau sama dengan perubahan ekonomi. Titik. Sangat jarang yang mau mengantisipasi atau menyadari bahwa begitu pasangan, saudara, atau anaknya terpisah dari mereka, hal yang mesti dipahami adalah perubahannya.

Maka tidak mengherankan jika setelah ke luar negeri banyak wanita melihat suaminya dengan kaca mata yang berbeda, yang dulu suatu hal yang biasa berubah menjadi hal yang menjengkelkan. Pergeseran cara pandang dan berpikir membuat suaminya jadi orang asing karena mereka tak lagi tumbuh dan berkembang bersama.

Tidak bisa dipungkiri terpisahnya jarak membuat banyak hal tidak lagi bisa dilewati bersama dan menumbuhkan keterikatan emosi, tetapi semua bukan halangan selama mau saling menyadari dan mencari cara agar hal itu bisa dijembatani.

1. Komunikasi

Komunikasi yang baik dibangun oleh rasa saling membutuhkan dan kepercayaan. Komunikasi akan terjaga dengan baik selama kita mau menjadi pendengar yang baik. Kita memang tidak bisa membaca bahasa tubuhnya, akan tetapi kita masih memiliki piranti lain yakni feeling. Jauhnya raga akan membuat kita semakin peka dan menyadari bahwasanya dimensi manusia tak hanya apa yang bisa ditangkap panca indera.

2. Saling Mendo'akan

Hal paling mendasar untuk menghubungkan dua hati adalah rasa. Rasa yang senantiasa disirami do'a akan membuat keduanya menyatu dan saling terhubung sejauh apa pun jarak memisahkan karena keduanya berada dalam satu perlindungan-Nya.

3. Kepercayaan

Tanda cinta adalah percaya dan merdeka. Kalau kepercayaan dan kebebasan sudah diberikan, tanpa diminta, dengan kesadarannya ia akan mencari dan menemukan batasan-batasan agar hubungan terjalin dengan nyaman. Cinta adalah segala tindakan positif yang mengandung tingkatan tertinggi kebaikan di dalamnya.

4. Komitmen

Komitmen dalam pernikahan merupakan hal yang seringkali lupa dibicarakan atau diingat oleh pasangan yang sudah lama menikah atau bahkan mereka yang baru menikah pun tidak tahu betapa pentingnya komitmen dalam pernikahan. Komitmen adalah aturan dalam rumah tangga yang disepakati bersama untuk mewujudkan keluarga sakinah. Setiap keluarga pasti memiliki komitmen yang berbeda dalam meraih kebahagiaan. Komitmen berbeda dengan janji. Di bawah ini ulasan komitmen yang saya tulis dari hasil mendengar talk show Smart Happiness di salah satu stasiun raadio dengan nara sumber pak Arvan Pradiansyah.

Komitmen bukanlah janji yang kita buat di depan penghulu. Yang kita ucapkan saat itu baru janji. Komitmen baru hadir setelah dalam perjalanan kita menghadapi keadaan demi keadaan yang tidak sesuai harapan.

Faktor yang meruntuhkan komitmen adalah:

* Persepsi

Banyak yang menyangka pernikahan adalah puncak sebuah hubungan. Maka banyak yang menurun setelah janji diucapkan. Realitanya Pernikahan adalah awal dari perjalanan yang panjang.

*Mitos pernikahan

Banyak orang yang mengira setelah menikah mereka medapatkan kado yang di dalamnya terdapat cinta, perhatian, keintiman, kasih sayang, dan hal-hal yang kita impikan. Sejatinya, pernikahan adalah kotak kosong yang harus kita isi dengan cinta, perhatian, keintiman selama perjalanannya.

Banyak orang setelah menikah sekian tahun saling menemukan ketidakcocokan yang membuat keduanya saling salah paham. Saat situasi seperti ini kita mesti memahami apa penyebabnya. Penyebabnya adalah tak ada laginya kedekatan emosi di antara keduanya. Kedekatan emosi hadir jika keduanya terus berlomba saling memberi perhatian, cinta, kepercayaan.

Godaan dalam pernikahan terjadi karena kita tak fokus. Maka hendaknya tak menyalahkan pihak luar saat hal ini terjadi. Semua mesti dikembalikan kepada diri sendiri dan mengakui ketidakmampuan dalam menjaga fokus dalam hubungan.
Bertumbuh bersama berarti mempersiapkan diri untuk mau menghadapi konflik demi konflik yang akan terus terjadi sepanjang pernikahan. Konflik adalah media untuk saling memahami di antara suami istri. Untuk meminimalisir konflik, sekecil apa pun unek-unek mesti dikeluarkan dan diselesaikan. #catatanfas

Bahagia Itu (Tidak) Sederhana



Kebahagiaan itu ibarat secangkir kopi. Saat kita mampu memadukan rasa pahit dan manis dengan temperatur panas yang sesuai akan menghasilkan rasa yang aduhai. Kebahagiaan itu bukan dicari, tetapi, untuk diciptakan dan dinikmati. ( FAS )

Bahagia dan gembira itu dua hal yang berbeda. Saat sedang gembira belum tentu kita bahagia. Sebaliknya, orang yang sudah menemukan kebahagiaan di dalam dirinya akan mudah gembira dalam situasi suka maupun duka. Gembira bersumber dari hal-hal di luar diri, sedangkan bahagia berasal dari dalam diri sendiri. 

Kita seringkali juga  mendengar atau membaca ungkapan, bahagia itu sederhana. Bahagia itu cukup mensyukuri keadaan dan menerima apa adanya diri kita. Benarkah semudah itu bahagia itu menjelma? Sepertinya tidak. Untuk benar-benar bisa berkata," Bahagia itu sederhana!" kita mesti melewati proses yang lebih panjang dari waktu kepompong  menjelma jadi kupu-kupu. Untuk membuka pintu kesadaran bahwa bahagia itu ada di dalam diri, bukan karena faktor dari luar atau pemberian orang lain, kita mesti terguncang-guncang dulu dengan pergulatan batin yang luar biasa. Untuk mampu tersenyum antara ada dan tiada pastinya kita harus melewati proses yang panjang dalam membentuk karakter dan mental baja. Sungguh tak ada yang abrakadabra untuk mencapai kebahagiaan jiwa. 

Faktor apa saja yang mempengaruhi kebahagiaan kita?

1. Suka mengukur dirinya dengan ukuran orang lain sedangkan, bisa saja jenis keduanya berbeda. Maka ya wajar saja kalau membuatnya semakin jauh dari muatan-muatan positif yang semestinya berguna untuk membuatnya lebih mensyukuri hidupnya karena banyak hal istimewa yang tak ada pada selain dirinya. Ikan vs burung, gimana mungkin  membandingkan kemampuan berenang dengan terbang? 

2. Suka menilai orang lain dan meyakini itu sebagai kebenaran tentangnya, sedangkan yang ia maksud kebenaran hanyalah asumsi atau representasi  pikirannya sendiri. Sungguh sia-sia dan menghabiskan energi bukan? alih-alih bisa bahagia, kebanyakan mah malah kebalikannya.
Jaré simbah: wong urip ki mung sawang sinawang, ojo mbok pikir sing kok sawang kuwi kasunyatan bèn ora gampang ngajak pêrang ati lan pikiran.

3. Terlalu kaku melihat segala sesuatu dan aturan-aturan  yang diyakini sebagai kebenaran hanya karena mayoritas orang memakainya. Semisal: sukses itu kalau sudah memiliki jabatan, harta, dlsb. Jaré sopo? Sukses itu menurut aturan-Nya bukan pada itu semua, melainkan pada prosesnya. Dan selama kita bisa bermanfaat bagi sesama dan semesta, kita telah sukses menjadi manusia.

4.  Keinginan vs Kebutuhan

Selama ini mayoritas dari kita sulit mengenali apa perbedaan di antara keduanya, jadi ya wajar kalau semakin suliit tidur nyenyak dan bahagia.  

Emang apa hubungannya dengan kebahagiaan? Ya sudah pasti ada dan memang satu bulatan dalam kehidupan kita. Orang yang sudah mampu membedakan keduanya, bisa memilih dan memilah sikap apa yang mesti dimbilnya ketika realita tak sesuai harapannya. Sebaliknya, bagi yang belum mampu membedakan, ujung-ujungnya ya menderita. Bahkan, menurut survey, mayoritas yang masuk ke RSJ gegara tak tercapai keinginannya.

Kebutuhan adalah segala yang bisa diukur dan subtansial dalam kehidupan. Sandang, pangan, papan adalah kebutuhan. Ketiganya akan berubah menjadi keinginan kalau sudah ada embel-embel;  pakaian mahal, rumah mewah, atau makanan enak. Nah kan, benar kan, ya hal hal itu yang pada akhirnya membuat banyak orang nekat kredit sana kredit sini, demi gengsi yang akhirnya tau ah, kok habis gajian saldo malah minus begini? 

Keinginan lainnya yang memuat banyak orang juga sulit tidur adalah péngin pasangan yang sempurna. Péngin punya bojo yang kek di tipi tipi atau yang sering beredar di dunia maya. Saking tingginya keinginan jadi banyak yang lupa memijak bumi, lupa kapan terakhir kali mandi dan bercermin diri?

Kebutuhan juga erat kaitannya dengan pemahaman akan siapa diri. Who Am I? Ibarat tanaman, ada yang diciptakan sebagai pohon jati, bunga hias, pohon mangga, dlsb. Dengan mengetahui kita jenis yang apa, secara otomatis akan mengetahui apa saja yang dibutuhkan untuk menjaga dan memberdayakannya. 


Bahagia memang tak sesederhana mengucapkannya. Tetapi bukan sesuatu yang sulit selama kita mengetahui kuncinya. Happiness is a qualities of thoughs. Bahagia itu tergantung kualitas pikiran. Pikiran adalah sumber dari perilaku dan kebiasaan. Bagi mereka yang sudah menemukan kebahagiaan di dalam hidupnya, pasti sudah terlatih untuk memilih dan memilah isi pikirannya. Mereka yang sudah terlatih mengelola pikiran dan rasa memiliki kematangan jiwa sehingga menemukan bahwasanya kesederhanaan adalah puncak dari pencarian untuk kenyamanan hidupnya. 

AHA!-Bahagia itu syalalala....#catatanfas

Balada Orang Spontan

Selasa, 06 September 2016




Resiko jadi orang spontan ya begini. Kadung dapat ide, nulis dan nulis begitu diunggah jaringan ngadat. Begitulah yang seharian terjadi.  Sudah sreet..sreeeet..nulis, eh, "Ndilalah" nggak bisa. Ya sudah ilang deh tulisannya. Mau di tulis lagi ya rasanya sudah basi...hihihi...ibarat kopi, apa sih enaknya kalau uapnya sudah dibawa angin? Anyep. Begitu pun dalam menulis. Kalau tulisan berasal dari ide spontan, dan dituliskan begitu saja rasanya marêm. Artinya tanpa perlu mikir jari jari bergerak sendiri. Seperti saat menuliskan hal nggak penting ini. Menulis dari hati, mungkin kurang lebihnya begini, ya? Baanyak kurangnya, tetapi memiliki kelebihan enak di rasa. Aslii ngaraang...:-D :-P

Iya sih sekilas emang kejadian barusan terlihat nggak penting. Tetapi, setiap kali kejadian begini terjadi, biasanya nanti, entah sambil ngapain ujug ujug kepikiran tentang bahasan status tadi. Terus mikir, iya ya, seandainya tadi diunggah, bisa saja ada orang yang  nggak suka atau tersinggung karena isinya memang riskan untuk dibaca.

Kita memang tidak bisa menyenangkan setiap orang, terlebih lagi menuliskan apa apa yang hanya ingin mereka dengar atau inginkan. Adakalanya, lebih seringnya ding, tulisan atau status yang kita unggah  memang bisa membuat orang lain berpikiran lain karena seakan-akan ditujukan untuknya. Beberapa hari yang lalu, seseorang juga curhat, ia didiamkan saudaranya gegara status yang ia unggah. Menurutnya, sebenarnya status tadi tak ada kena mengenanya dengan saudaranya itu. Kalau sudah begini jadinya kan nggak enak, Mbak? Tuturnya.

Dulu...jaman masih baperan yang begitu itu sering kualami. Status orang lain seringkali kutanggapi serius karena seakan-akan sedang membicarakan diriku. Ternyata, setelah waras dari kebaperan; saya menyadari kalau mudah baper atau berprasangka, terlebih mudah sakit hati atas perkataan ataupun sikap orang lain itu penyebabnya penyakit hati dan kurangnya rasa percaya diri. Terlebih bagi orang yang sedang dalam keadaan terpuruk. Mudah sekali tersinggung dan merasa dinilai oleh orang lain. Tahu sendiri kan gimana rasanya saat keadaan begini? Merasa terasing dan sendirian. Untuk itu kita mesti lebih  berhati-hati mengahadapi orang begini, meskipun adakalanya kita juga mesti ngomong blak-blakan, biar ia cepat sadar dan keluar dari penderitaan.:-D

Beruntung banget saat saat itu sudah terlewati dengan selamat berkat pertemuanku dengan orang-orang baik di dunia maya ( Terimakasih selalu buat kalian).  Sebagian orang mungkin menganggap dunia maya itu hanya tempat untuk bermain-main atau mengalihkan kejenuhan dari rutinitas dunia nyata. Tapi tidak bagiku. Menurutku, dunia maya ini media yang asyik untuk melatih kepekaan diri. Berinteraksi dengan mayoritas orang yang sama sekali belum pernah kita jumpai secara fisik pastinya sangat riskan. Untuk mengantisipasi semua balik ke dalam diri sendiri apa niat dan tujuan kita di sini.

Selama niat kita baik, hal hal yang kita bagikan apa adanya, imbal baliknya akan sama. Di dunia maya kita berpotensi bertemu dengan siapa saja, tetapi mengapa hanya dengan orang orang tertentu saja kita bisa dekat dan bersahabat dalam waktu yang lama? Tidakkah itu membuktikan bahwa frekuensi yang sama, membawa kita pada mereka yang sama gelombangnya? Sebagai orang yang spontan, saya biasanya kalau sudah "klik" pas awal kenalan, seterusnya bisa nyambung. Karena mereka yang ujug ujug akrab begini yang bisa menerima diriku apa adanya. Syalalala..lumayan, berkat gagal unggah status bisa update blog lagi.  :-D
#catatanfas

Catatan Seorang Mantan Demonstran

Senin, 05 September 2016



Setiap orang memiliki cara pandang berbeda. Apa yang menurut kita benar dan sepenuh hati kita perjuangkan, bisa jadi bagi orang lain itu sesuatu yang biasa saja. Salah satu contohnya adalah demo minta kenaikan gaji. Jangan heran jika ada yang pro dan kontra soal ini.

Saya termasuk yang kontra. Maaf. Bukan bermaksud mengecilkan arti perjuangan kalian. Pasti ada alasan mendasar mengapa saya memilih sikap ini. Sikap yang didasari keyakinan dan pengalaman akan menjadi prinsip dalam mengahadapi berbagai keadaan. 

Pun soal besar kecilnya gaji. Mayoritas orang beranggapan bahwa rezeki itu melulu soal gaji. Maka begitu tanggal muda mereka semangat bekerja karena mendapatkan apa yang dijadikan tujuannya. Setelah berganti hari dan minggu, semangat mengendur seiring berkurangnya nonimal di dompet. Maka, tanpa mau mencari sebab musababnya di dalam diri, akhirnya "menuduh" bahwa gaji yang tak sesuai yang menjadi penyebabnya.

Sementara dengan gaji yang sama, lingkungan kerja yang tak jauh beda; mengapa sebagian orang tetap bisa menabung dan tercukupi kebutuhannya? Dari mana akar masalahnya?

Masalah adalah jarak yang tercipta antara harapan dan kenyataan. Saat harapan yang kita berikan terlalu tinggi dan realitanya tak sesuai, masalah akan lebih sering mendatangi. Pun sebaliknya, saat kita tak terlalu berharap, dan realita yang terjadi sama dengan yang pertama tadi, kita akan biasa-biasa saja menghadapi. Keadaan yang sama akan menjadi berbeda jika ukuran yang kita pakai rasa syukur dalam hati.

Selain kurangnya rasa bersyukur; gaya hidup, kepribadian, niat dan tujuan bekerja juga sangat mempengaruhi kualitas rezeki. Bagi yang bekerja karena niatan untuk berguna dan sebagai media menjadi manusia seutuhnya, biasanya akan lebih semangat dalam menjalani hari. Seberat apa pun pekerjaan tidak akan mengeluh. Bahkan, mereka yang sudah begini, tak lagi memikirkan besarnya gaji, karena menyadari rezeki tak hanya berasal dari gaji. Kesehatan, anak-anak yang sehat, keluarga yang bahagia semua merupakan rezeki dari bersumber dari hati yang legawa. Mereka ini juga berjuang lho, bahkan lebih hebat, karena berjuang melawan ego dan hawa nafsu.

Sebagai orang yang pernah menjadi "demontran", sering menggugat keadilan, dan terus menerus mencari jawaban apa itu adil. Akhirnya pada suatu titik saya menyadari, bahwasanya percuma saja menuntut perubahan dari luar. Selama diri sendiri tidak pernah mau berubah, kalau pun ada perubahan soal besarnya gaji, itu hanyalah perubahan semu semata.  Semakin besar gaji, semakin besar keinginan, semakin jauh dari tujuan. Itulah realitanya. Maka, kawans, jangan marah jika ada yang tak setuju dengan perjuangan kalian ya. Kemungkinan besar karena mereka sudah menemukan keadilan itu ada pada keseimbangan hati, pikiran, dan perbuatan.

Teruslah berjuang, selama yang kau yakini itu benar. Jangan mencari siapa yang benar, tetapi apa yang benar.  Dengan begitu hidup akan lebih bersinar. #catatanfas

Permintaan Kedua

Minggu, 04 September 2016




"Tidak! Bapak tidak setuju kamu menikah lagi. Cukup sekali kamu bikin malu keluarga. Sekarang yang terpenting, kamu baik-baik kerja di sana dan pulang bawa uang. Titik. Jangan pernah bicarakan lagi niatmu itu."

"Braaak..." Suara telpon ditutup dengan kemarahan yang menyisakan gerimis di hati Sisi. Sebegitu tak berharganyakah semua pengorbanan dan pengabdiannya selama ini? Hati sisi bergemuruh. Terulang lagi putaran-putaran kisah hidupnya di kepala. Begitu lama ia terombang-ambing di lautan. Timbul tenggelam dihempaskan gelombang dan badai. Siapa peduli kalau jiwanya kering kerontang rindukan kasih sayang dan perhatian?? Tidak ada!! Hanya uang dan uang yang mereka pikirkan, dan melupa kalau ia juga membutuhkan masa depan.

Wanita mana yang tidak bermimpi hidup bersama dengan lelaki, sekalipun kegagalan pernah ia alami? Lima tahun telah berlalu sejak hari itu. Membawa luka dalam ia melangkahkan kaki ke Hong Kong. Meninggalkan anaknya yang baru berumur 2 tahun. Sebuah perpisahan yang menyakitkan. Dalam hitungan bulan, dua perpisahan yang tak diharapkan menenggelamkannya di lautan kenyataan.

Kegagalan dalam rumah tangga bukanlah keinginan, apalagi cita-cita manusia. Begitupun dengan Sisi. Di usia 30, setelah pernikahannya membuahkan seorang anak, suaminya pergi tanpa kabar. Berbagai cara telah ia lakukan untuk mendapatkan secuil kabar dan kepastian. "Kami tidak tahu. Tidak ada pesan apanpun yang ia tinggalkan. Kami pikir ia menyusulmu ke Semarang..." Feeling Sisi mengatakan, ada yang mereka sembunyikan. Terlebih mertua dan iparnya yang ajaib memang tidak pernah menyukainya.

"Enak benar ya, kamu. Begitu menikahi kakakku langsung menikmati kemewahan," kata iparnya, Rumi, suatu hari. Kemewahan yang ia maksud adalah rumah yang telah siap huni. Mereka sungguh tak rela karena tanpa bersusah payah, Sisi menikmati kemudahan. Sungguh pemikiran yang picik. Tapi semua sudah resiko baginya, mengingat niatan awalnya ia mau menikah dengan Deni.Tetapi kata menikahi membuatnya merasa terusik.

Menikahi?? Bukankah dengan diantar keluarga, Roni datang meminang dan memboyongnya ke Malang? Tukas Sisi dalam hati. Dan kepergiaan Roni tanpa kabar seakan memberitahukan, usaha keluarganya untuk memisahkan keduanya telah umumkan kemenangan. Seraut wajah sendu itu ternyata tak mampu lagi bertahan di antara dua pilihan.

Berhari-hari Sisi menangis dan tenggelam dalam kesedihan. Namun Tuhan masih menyayanginya.Malam itu, tangisan Sisi dihentikan oleh suara anaknya. "Jangan menangis lagi, Mama.Aku tidak apa-apa tanpa Papa," sambil mengusap airmata di wajah ibunya, anak lelakinya memeluknya sambil menangis. Hati Sisi tercekat. Suara kecil itu menyadarkannya, bahwa ada yang masih pantas ia perjuangkan untuk menapaki hari. Ia adalah sumber kekuatan yang dianugerahkan Tuhan.

"Maafkan Mama, Nak. Mama berjanji tidak menangis lagi. Mama masih punya kamu" Jerit hati Sisi sambil memeluk erat buah hatinya. Sepertinya kerasnya hidup yang telah ia rasakan sejak dalam kandungan, menempanya menjadi anak yang lebih kuat dan mandiri. Sisi merasakan semangat kembali mengapi di hatinya.

Dengan setengah hati, tiga bulan kemudian ia memutuskan untuk ke luar negeri. Sebuah keputusan yang tak mudah. Namun harus ia lakukan. Selain pergi tanpa pesan, suaminya juga meninggalkan hutang. Usaha Roni untuk kembali bekerja ke Luar Negeri mempertemukannya dengan calo yang semakin membawanya ke arah yang tak terduga. Nafsu ingin cepat membuatnya bertindak tanpa berpikir dan nekad.

Hari-hari yang sulit ia lewati dengan sepenuh keyakinan. Untuk sementara ia melupakan kebutuhan jiwanya sebagai wanita normal. Hari-harinya diisi dengan kerja dan kerja. Sampai seorang sahabat mengenalkannya dengan Deni. Bersama Deni hari-harinya terasa berbeda. Deni juga mengalami kegagalan yang sama dalam rumah tangga. Bahu membahu mereka menutup luka yang pernah ada. Saling memperbaiki kesalahan apa yang menjadi sebab kegagalan. Dan sekian waktu bersama, sayap-sayap patah mereka kembali mengepak dengan indahnya. Sekalipun belum pernah bertemu, ruang dan waktu tidak menjadi penghalang. Terbukti kebersamaan mereka telah membawa perubahan dalam kehidupan. Sisi merasakan kenyamanan yang selama ini ia impikan.

Sampai hari dimana kepulangannya   tinggal hitungan bulan, Sisi memberanikan diri untuk mengutarakan keinginannya untuk kembali menata masa depan. Namun kesabarannya kembali diuji. Orang yang selalu ia jaga dan turuti keinginannya, menolak permintaan keduanya. Permintaan kedua yang baru ia utarakan selama ia gagal menjadi anak kebanggaan. #catatanfas

Listyorini, Perempuan Inovatif Dari Desa Kami

Kamis, 01 September 2016




"Kita melanjutkan hidup dari apa yang kita dapatkan, namun kita akan terus hidup lewat perbuatan." ( unknown )

Di antara deretan rumah penduduk  Desa Lembah, Kecamatan Babadan, Ponorogo, ada satu rumah istimewa yang tak pernah sepi dari keceriaan anak-anak sepanjang hari. Mulai dari balita hingga remaja,  setiap harinya mereka bergantian mengisi hampir seluruh bagian rumah yang difungsikan pemiliknya sebagai ruang belajar mereka. Rumah perubahan yang memberi banyak inspirasi dan kebahagiaan.


Dua puluh tahun terakhir, hampir separuh ibu-ibu di desa kami merantau ke luar negeri. Secara ekonomi pendapatan rata-rata penduduk memang mengalami perubahan yang signifikan. Tetapi, di sisi lain juga menimbulkan berbagai permasalahan yang seringkali tidak disadari, baik oleh keluarga atau pemerintah daerah setempat. Salah satunya adalah masalah kurangnya pengawasan dan pendampingan anak-anak dalam proses belajar sepulang sekolah.

Berangkat dari keprihatinan itulah Listyorini, seorang mantan Buruh Migran, mengambil langkah untuk inovasi daerah kami. Upaya yang ia lakukan menjadi kabar baik bagi warga desa  karena keresahan mereka mendapatkan solusi. Terlebih bagi orangtua yang tak bisa mengikuti perkembangan mata pelajaran di sekolah anaknya.

  Anak-anak yang haus kasih sayang ibunya disentuhnya lewat nasehat, pelajaran moral, disiplin yang ia sisipkan dalam kegiatan belajar yang santai dan penuh suasana kekeluargaan. Jika orangtua yang berada di Luar Negeri ingin mengetahui perkembangan anaknya, ia juga menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan mereka.

Bagian keceriaan bocah-bocah kampung kami

"Lembaga ini didirikan bukan semata-mata untuk kepentingan materi, saya lebih menekankan dan mengarahkan semua ini untuk media mengembangkan dan memperluas jangkauan untuk saling berbagi. Anak-anak tidak hanya kami ajari untuk mengejar angka atau prestasi di sekolah, secara tidak langsung kami juga menanamkan nilai-nilai kehidupan, karakter, dan agama dalam proses belajar mengajar. Manfaat lainnya secara tidak langsung lembaga ini juga bisa menambah lapangan kerja. Dengan merekrut tenaga pengajar yang mayoritas masih mahasiswa atau guru-guru honorer. Tak ketinggalan saudara atau tetangga yang lain juga bisa ikut memiliki pemasukan tambahan. Mereka menitipkan jajanan di warung yang kami sediakan untuk memenuhi kebutuhan anak didik." Tuturnya lugas dan tegas sebagaimana karakternya yang menyukai tantangan saat saya telepon beberapa hari yang lalu.


Apa yang ia ungkapkan di atas sesuai dengan  nama dan motto lembaga belajar " LBB SIMPLY MISSION, TAKE AND GIVE."

Banner Lembaga Belajar
suasana di dalam kelas


Bersentuhan dengan sosoknya yang ramah dan ramai siapa saja pasti bisa langsung akrab dengannya. Anak-anak di kampung kami memanggilnya dengan Bu Rin. Pemilik akun facebook Sekar Mlathi ini  empat tahun terakhir perannya dalam membawa perubahan di daerah kami sangat besar. "Ingin bahagia dan bermanfaat bagi sesama" menjadi alasan utamanya dalam mendirikan lembaga belajar. Sebuah cita-cita sederhana tetapi tak setiap orang mampu mewujudkannya.

Perjalanan perempuan yang senantiasa semangat ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Melihat kiprahnya di dunia pendidikan ini, perjalanannya tak sesederhana misinya untuk memberi cahaya bagi warga sekitar. Mbak Rin, begitu saya memanggilnya adalah anak pertama dari enam bersaudara. Ia menyadari sebagai kakak tertua tanggung jawab yang ada di pundaknya besar. Maka selepas SMU demi mendapatkan biaya sekolah untuk adik-adiknya ia memutuskan merantau. Satu tekad lahir di hatinya, adik-adiknya harus sekolah lebih tinggi dan menjadi orang yang berguna.

Tahun 1995 menjadi tonggak perjuangannya dalam membawa perubahan. Masa itu sangat jarang warga di kampung kami yang merantau ke Hong Kong, dan sudah jadi jalan hidupnya kalau perempuan berkulit kuning langsat ini menjadi sosok yang menginspirasi dan penuh inovasi.
Pekerja keras, ulet, disiplin, dan bertanggungjawab membuatnya  dipercaya bos dan agency. Lewat perpanjangan tangannya, banyak jiwa telah ia tolong untuk bekerja di keluarga besar bosnya. Kerja keras dan ketulusannya dibalas dengan manis lewat kesuksesan adik-adiknya. Mereka bisa menyandang sarjana dan mewujudkan harapannya.

Formasi utuh keluarga Lisytorini
Setelah adik-adiknya mentas, Mbak Rin memutuskan pulang. Sebelum memulai langkah baru dalam hidupnya, ia diberi kesempatan istimewa melaksanakan ibadah haji. Sebuah langkah yang luar biasa dan langka dilakukan oleh kebanyakan orang. Semua semakin mengukuhkan sosoknya sebagai perempuan yang beda dan berkarisma.

Langkah yang diambilnya mematahkan pandangan banyak orang bahwa sukses tidaklah tertera pada banyaknya harta benda yang dikumpulkan dan dinikmati sendirian, melainkan sukses sejati milik mereka yang mau berbagi dan mengutamakan pandangan sang pemberi rezeki.
Tidak penting apa pekerjaan yang sedang kita hadapi, selama niat kita bekerja untuk kebaikan, disinilah tugas mulia kita sebagai manusia  menemukan makna sukses yang sesungguhnya. Tidak penting seberapa banyak harta yang kita miliki, selama mau berbagi, kekayaan yang sejati telah dimiliki. #catatanfas



 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS