Pages

Catatan Kecil Jejak Perjalanan

Selasa, 20 September 2016


"Mengumpulkan aksara yang berserakan sepanjang perjalanan adalah bagian dari caraku memerdekakan diri. Menepiskan sunyi dengan memasuki realitas hari dan diri sendiri. Mengayun langkah sembari menikmati bias-bias cahaya cinta yang tersebar di setiap titik  jalan yang terlewati." (FAS)


Dalam suatu kajian ilmu yang rutin saya ikuti melalui youtube, Cak Nun berpesan,"Jangan mengalami apa pun tanpa mendapatkan kegembiraan dan ilmu." Sebuah pesan yang singkat namun sangat mengena karena erat kaitannya dengan perintah ayat pertama yang diturunkan "IQRA" 

Membaca tidak selalu melalui buku. Ada banyak media yang bisa kita jadikan untuk bahan bacaan. Membaca juga tak melulu melalui panca indera, sebagian besar membutuhkan akal dan rasa karena dalam hidup yang tersembunyi lebih banyak dari pada yang nampak mata. Untuk itu kita mesti terus belajar mengasah pikiran dan kepekaan agar mampu, setidaknya bisa mengambil sisi baik, dari setiap hal yang kita temui dan alami.

Tiga kisah di bawah ini hanyalah sebagian kecil pelajaran yang kutemukan sepanjang perjalanan. Bagi orang yang percaya bahwa tidak ada yang kebetulan terjadi di dunia ini, saya termasuk orang yang hobby membaca aksara yang tersebar dalam banyak peristiwa keseharian. Dengan siapa dipertemukan, dengan kejadian apa dihadapkan seringkalinya merupakan jawaban dari pertanyaan atau ganjalan yang memenuhi hati dan pikiran. Bagiku, sesuatu yang nampaknya biasa saja sebenarnya mengandung makna tersirat yang semakin membuatku bersyukur. Hidup adalah keajaiban demi keajaiban yang penuh keindahan selama kita tahu cara menikmatinya. 
  
                                                                  *****
Diberi kesempatan menanam itu juga rezeki. Bukan hanya saat menerima saja yang mesti disyukuri. Semestinya lebih bahagia begitu kesempatan itu ujug-ujug menghampiri dari seseorang yang bahkan sama sekali tidak dikenali. Seperti kejadian barusan  yang mengingatkanku pada pengalaman puluhan tahun silam saat perjalanan pulang Jakarta-Ponorogo tanpa uang sama sekali.  Untungnya orang yang duduk di sebelahku  baik hati. 

Jadi begini, tadi sepulang kerja begitu turun dari bis ada seorang wanita yang tergopoh-gopoh menghampiri. Dari raut mukanya jelas ia sedang panik. "Mbak..Mbak....dompetku hilang. Aku baru turun dari bis dan saat ku buka tas,  dompetku sudah nggak ada. Aku ingat benar, tadi pas bayar bis masih ada. Aku harus gimana? Kantor polisi di mana?" Ujarnya bertubi-tubi sambil menumpahkan isi tasnya untuk meyakinkan diri kalau dompetnya apa benar tak ada.

"Kalem mbak..kalem..sampéyan tadi naik bis nomer berapa?" Tanyaku sembari mulai membuka hp untuk mencari nomer hotline bis yang ditumpanginya. Begitu ia menyebutkan nomer bis, secepat itu nomor yang kucari sudah muncul. Sayangnya saat ditelpon tak ada yang mengangkat. Seingatku di tempat ini dulu juga ada mbak yang lain mengalami kejadian serupa. Dan begitu kutelpon hotline, diberitahukan bahwa dompetnya ditemukan dan  disimpan oleh  pak sopir di terminal.

Rupanya mbak yang ini kurang beruntung. Setelah gagal, maka langsung kusambungkan dengan 999 ( nomor SOS Hong Kong ) Perempuan ramah di ujung telepon mendengarkan dengan seksama dan menyarankan untuk ke kantor polisi terdekat.

Kantor terdekat dari kami berada mesti naik bis memutar untuk sampai di sana. Berhubung terburu-buru,  aku hanya bisa  mengantar mbaknya ke stasiun dan meminta pada sopir agar ia berkenan menurunkannya di depan kantor polisi. Di sini sangat besar kemungkinan dompet yang hilang bisa kembali karena mereka terbiasa melaporkan atau menyerahkan barang yang ditemukan ke polisi. Selama ada laporan tertulis, kalau masih rezeki akan dihubungi untuk mengambil barang yang hilang atau ketinggalan.

"Mbak minta nomer teleponmu. Nanti uangnya kukembalikan." Pintanya saat kuberi ongkos untuk naik bis dan pulang ke tempat kerjanya yang lumayan jauh.

"Tidak usah, Mbak. Nggak usah dipikirkan. Kalau nanti dompet sampéyan nggak kêtêmu jangan terlalu dipikirkan ya. Kalau itu rezeki sampéyan, Insya Allah akan ada gantinya."

Dengan berat hati ia mengangguk. Uang hasil kerja sebulan memang tidak sedikit. Semoga mbaknya mendapatkan hikmah dari kejadian barusan. Dan sambil pulang terbersit pikiran,"Sepertinya kehidupan akan selalu memiliki cara untuk menagih dan melunasi hutang budi kita." #catatanfas_18092016
      
                                                                ********

Sapu Tangan Dan Kehilangan


"Faaa...sapu tanganku hilang,"kata si sulung, Cristy, dengan wajah lesu begitu kubukakan pintu sore itu sepulang kuliah.

"Aku tadi selama jam kuliah unhappy, benar-benar sedih memikirkannya." Lanjutnya sambil menghempaskan diri ke sofa dengan gerutuan khas keluar dari mulutnya.

"Wong cuman sapu tangan saja kok segitunya. Ya nanti beli lagi." Sahutku pura-pura tak peduli. 

Entah ada apanya dengan sapu tangan kecil bergambar katak yang setiap hari ia cuci kering itu. Meski diam-diam aku memperhatikan tingkahnya yang tak biasa, namun aku memilih tak bertanya. Di antara ketiganya, ia yang paling susah adat. Butuh trik tersendiri untuk mendekatinya.  Terlebih sejak masuk kuliah. Dia sudah wanti-wanti kalau apa-apa bisa sendiri.

"Beli di mana?! Sapu tangan itu belinya kan waktu aku ke Taiwan dulu." Sahutnya dengan sewot

"Ada apanya sapu tangan itu, apa ada magicnya, kok kamu segitu sayangnya? Coba perhatikan, semakin kamu tak bisa lepas dari sesuatu, ia akhirnya mudah hilang, bukan?"

Ia terdiam. Mungkin sedang mengingat samsung S4 yang dulu baru beberapa saat dinikmati dan pecah. Ingat dompetnya yang hilang. 

"Begitu ya, Fa?" Terus, seharusnya bagaimana?"

"Jangan terlalu melekat sama benda atau orang. Contohlah ibumu. Meski ia tidak selalu bisa menemani dan jarang bersama kalian, Mom tetap happy dan enjoy, bukan?  Karena ibumu tahu cara mencintai bukanlah menggenggam, melainkan membebaskan kalian tumbuh dengan memberikan kepercayaan. Ibarat sapu tanganmu itu. Mungkin selama ini, seandainya ia bisa bicara, dengan caramu yang terus menerus membawa kemana-mana dan tak bisa lepas itu ia tersiksa. Coba pikirkan. Seandainya Mom mengekang dan terus menerus menelponmu, kamu senang nggak?"

"Hmmm...tapii, aku kan butuh sapu tangan itu untuk menyemangatiku, Fa. Melihatnya aku seperti melihat Min Ho.

"Emang kamu pikir, Mom juga tidak menjadikan kalian sebagai penyemangat? Sama. Mom pun begitu, Dear. Tapi toh ibumu tidak membawa kalian ke kantor. Karena Mom sudah membawanya di hati. Maka kemana pun seorang ibu pergi,Ia sebenarnya bersama anak-anaknya. Sapu tanganmu memang sudah hilang, tetapi, kamu masih ingat bentuk, warna, dan kenangan bersamanya, bukan? Secara fisik ia memang sudah tak ada, namun secara batin ia tetap ada. Dan, siapa tahu ia sekarang malah senang karena tak lagi memiliki tugas yang kau bebankan. Kalau kamu benar sayang sama dia, melihatnya bahagia, akan membuat hatimu lebih lega. Aku tahu sulit menerima rasa kehilangan itu. Hanya waktu dan momentum yang akan menyembuhkannya..."
#catatanfas_19092014

                                                                      ******
Jangan Menghakimi

Siang itu supermarket Fusion ramai. Akhir pekan dimanfaatkan mayoritas warga di area Sham Tseng untuk berbelanja setelah aktifitas hari kerja tak memberi ruang dan waktu pada mereka untuk memikirkan kebutuhan sehari-hari. Setelah menengok sana-sini akhirnya ada satu antrian yang memungkinkanku untuk bisa cepat keluar dan pulang. Jam makan siang sudah hampir tiba, anak-anak pasti sudah kesal menunggu. Sambil antri sesekali kuperhatikan wajah-wajah yang antri dengan keterpaksaan. Sekalipun budaya antri sudah menjadi tradisi di sini bukan berarti mereka rela menghabiskan waktu  untuk berlama-lama.

Setelah berapa lama antrian tempatku menunggu tak bergeser juga. Sementara barisan sebelah yang lebih panjang suda berkurang banyak.

“Huuft, dasaar nenek-nenek, beli melon saja kayak beli berlian. Dasar peliit!” Gerutu orang yang antri di depanku.

“Memang ada apa?” tanyaku menimpali omongannya.

“Itu tuh, si nenek. Dia nggak percaya dengan receipt yang diterimanya. Dia ngeyel, kenapa 6.9 ditambah 6.3 bisa 13 dolar lebih. Sudah dijelaskan dari tadi tetap tak percaya.”

Setelah melewati beberapa punggung, pandanganku menangkap seorang  nenek yang masih bersikukuh kalau kasir  keliru menghitung belanjaannya. Bukan rahasia umum lagi kalau nenek-nenek di sini terkenal dengan “keampuhan”  mereka.

Anehnya, sementara kami yang antri menggerutu tak sabar, kasir dengan penuh kesabaran menjelaskan. Sepertinya bukan semata-mata karena profesional, kasir itu memiliki kesabaran yang luar biasa menghadapi ulah  nenek yang benar-benar menjengkelkan.

“Sudah, panggil managermu saja biar dia yang menjelaskan.” Sebuah suara tak sabar mengusulkan.

“Atasanku tak punya waktu untuk urusan begini.” Sahut kasir dengan suara kalem.

Setelah melalui nego yang menyita waktu dan emosi akhirnya nenek menyerah dalam ketidakmengertiaannya. Bagaimana mungkin 6 ditambah 6 sama dengan 13??”, dasaar bodoh!” gerutu sang nenek sambil pergi tanpa rasa bersalah.

Setelah tiba giliranku, seperti biasanya, rasa ingin tahuku kutumpahkan. Daripada penasaran lebih baik diutarakan, kan?" *Ups,dasar orang spontan!

“Cece, bagaimana kamu bisa sabar menghadapi ulah nenek tadi?”

“Haah…aku hanya berpikir kalau sudah tua nanti bisa saja aku begitu. Kita tidak  tahu khan seperti apa setelah tua nanti?”

*Jleeb* kalimatnya benar-benar tepat mengena.  Ternyata, selama ini kita begitu mudah menghakimi orang lain, menganggap pemikiran mereka keliru tanpa mau memahami latar belakang apa yang membuatnya bersikap begitu.  Dan seringkali kita lupa bagaimana kalau kita ada di posisi mereka. Ah, ternyata dalam hidup tidak semua hal bisa terjemahkan dengan logika dan penglihatan mata. Setelah mendengar kata-kata kasir tadi, dalam sekejab si nenek yang menjengkelkan tadi berubah jadi sosok yang inspiratif karena telah memberi pembelajaran berharga.
#catatatanfas_19 September 2013

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS