Pages

Catatan Seorang Mantan Demonstran

Senin, 05 September 2016



Setiap orang memiliki cara pandang berbeda. Apa yang menurut kita benar dan sepenuh hati kita perjuangkan, bisa jadi bagi orang lain itu sesuatu yang biasa saja. Salah satu contohnya adalah demo minta kenaikan gaji. Jangan heran jika ada yang pro dan kontra soal ini.

Saya termasuk yang kontra. Maaf. Bukan bermaksud mengecilkan arti perjuangan kalian. Pasti ada alasan mendasar mengapa saya memilih sikap ini. Sikap yang didasari keyakinan dan pengalaman akan menjadi prinsip dalam mengahadapi berbagai keadaan. 

Pun soal besar kecilnya gaji. Mayoritas orang beranggapan bahwa rezeki itu melulu soal gaji. Maka begitu tanggal muda mereka semangat bekerja karena mendapatkan apa yang dijadikan tujuannya. Setelah berganti hari dan minggu, semangat mengendur seiring berkurangnya nonimal di dompet. Maka, tanpa mau mencari sebab musababnya di dalam diri, akhirnya "menuduh" bahwa gaji yang tak sesuai yang menjadi penyebabnya.

Sementara dengan gaji yang sama, lingkungan kerja yang tak jauh beda; mengapa sebagian orang tetap bisa menabung dan tercukupi kebutuhannya? Dari mana akar masalahnya?

Masalah adalah jarak yang tercipta antara harapan dan kenyataan. Saat harapan yang kita berikan terlalu tinggi dan realitanya tak sesuai, masalah akan lebih sering mendatangi. Pun sebaliknya, saat kita tak terlalu berharap, dan realita yang terjadi sama dengan yang pertama tadi, kita akan biasa-biasa saja menghadapi. Keadaan yang sama akan menjadi berbeda jika ukuran yang kita pakai rasa syukur dalam hati.

Selain kurangnya rasa bersyukur; gaya hidup, kepribadian, niat dan tujuan bekerja juga sangat mempengaruhi kualitas rezeki. Bagi yang bekerja karena niatan untuk berguna dan sebagai media menjadi manusia seutuhnya, biasanya akan lebih semangat dalam menjalani hari. Seberat apa pun pekerjaan tidak akan mengeluh. Bahkan, mereka yang sudah begini, tak lagi memikirkan besarnya gaji, karena menyadari rezeki tak hanya berasal dari gaji. Kesehatan, anak-anak yang sehat, keluarga yang bahagia semua merupakan rezeki dari bersumber dari hati yang legawa. Mereka ini juga berjuang lho, bahkan lebih hebat, karena berjuang melawan ego dan hawa nafsu.

Sebagai orang yang pernah menjadi "demontran", sering menggugat keadilan, dan terus menerus mencari jawaban apa itu adil. Akhirnya pada suatu titik saya menyadari, bahwasanya percuma saja menuntut perubahan dari luar. Selama diri sendiri tidak pernah mau berubah, kalau pun ada perubahan soal besarnya gaji, itu hanyalah perubahan semu semata.  Semakin besar gaji, semakin besar keinginan, semakin jauh dari tujuan. Itulah realitanya. Maka, kawans, jangan marah jika ada yang tak setuju dengan perjuangan kalian ya. Kemungkinan besar karena mereka sudah menemukan keadilan itu ada pada keseimbangan hati, pikiran, dan perbuatan.

Teruslah berjuang, selama yang kau yakini itu benar. Jangan mencari siapa yang benar, tetapi apa yang benar.  Dengan begitu hidup akan lebih bersinar. #catatanfas

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS