Pages

Bahagia Itu (Tidak) Sederhana

Rabu, 07 September 2016



Kebahagiaan itu ibarat secangkir kopi. Saat kita mampu memadukan rasa pahit dan manis dengan temperatur panas yang sesuai akan menghasilkan rasa yang aduhai. Kebahagiaan itu bukan dicari, tetapi, untuk diciptakan dan dinikmati. ( FAS )

Bahagia dan gembira itu dua hal yang berbeda. Saat sedang gembira belum tentu kita bahagia. Sebaliknya, orang yang sudah menemukan kebahagiaan di dalam dirinya akan mudah gembira dalam situasi suka maupun duka. Gembira bersumber dari hal-hal di luar diri, sedangkan bahagia berasal dari dalam diri sendiri. 

Kita seringkali juga  mendengar atau membaca ungkapan, bahagia itu sederhana. Bahagia itu cukup mensyukuri keadaan dan menerima apa adanya diri kita. Benarkah semudah itu bahagia itu menjelma? Sepertinya tidak. Untuk benar-benar bisa berkata," Bahagia itu sederhana!" kita mesti melewati proses yang lebih panjang dari waktu kepompong  menjelma jadi kupu-kupu. Untuk membuka pintu kesadaran bahwa bahagia itu ada di dalam diri, bukan karena faktor dari luar atau pemberian orang lain, kita mesti terguncang-guncang dulu dengan pergulatan batin yang luar biasa. Untuk mampu tersenyum antara ada dan tiada pastinya kita harus melewati proses yang panjang dalam membentuk karakter dan mental baja. Sungguh tak ada yang abrakadabra untuk mencapai kebahagiaan jiwa. 

Faktor apa saja yang mempengaruhi kebahagiaan kita?

1. Suka mengukur dirinya dengan ukuran orang lain sedangkan, bisa saja jenis keduanya berbeda. Maka ya wajar saja kalau membuatnya semakin jauh dari muatan-muatan positif yang semestinya berguna untuk membuatnya lebih mensyukuri hidupnya karena banyak hal istimewa yang tak ada pada selain dirinya. Ikan vs burung, gimana mungkin  membandingkan kemampuan berenang dengan terbang? 

2. Suka menilai orang lain dan meyakini itu sebagai kebenaran tentangnya, sedangkan yang ia maksud kebenaran hanyalah asumsi atau representasi  pikirannya sendiri. Sungguh sia-sia dan menghabiskan energi bukan? alih-alih bisa bahagia, kebanyakan mah malah kebalikannya.
Jaré simbah: wong urip ki mung sawang sinawang, ojo mbok pikir sing kok sawang kuwi kasunyatan bèn ora gampang ngajak pêrang ati lan pikiran.

3. Terlalu kaku melihat segala sesuatu dan aturan-aturan  yang diyakini sebagai kebenaran hanya karena mayoritas orang memakainya. Semisal: sukses itu kalau sudah memiliki jabatan, harta, dlsb. Jaré sopo? Sukses itu menurut aturan-Nya bukan pada itu semua, melainkan pada prosesnya. Dan selama kita bisa bermanfaat bagi sesama dan semesta, kita telah sukses menjadi manusia.

4.  Keinginan vs Kebutuhan

Selama ini mayoritas dari kita sulit mengenali apa perbedaan di antara keduanya, jadi ya wajar kalau semakin suliit tidur nyenyak dan bahagia.  

Emang apa hubungannya dengan kebahagiaan? Ya sudah pasti ada dan memang satu bulatan dalam kehidupan kita. Orang yang sudah mampu membedakan keduanya, bisa memilih dan memilah sikap apa yang mesti dimbilnya ketika realita tak sesuai harapannya. Sebaliknya, bagi yang belum mampu membedakan, ujung-ujungnya ya menderita. Bahkan, menurut survey, mayoritas yang masuk ke RSJ gegara tak tercapai keinginannya.

Kebutuhan adalah segala yang bisa diukur dan subtansial dalam kehidupan. Sandang, pangan, papan adalah kebutuhan. Ketiganya akan berubah menjadi keinginan kalau sudah ada embel-embel;  pakaian mahal, rumah mewah, atau makanan enak. Nah kan, benar kan, ya hal hal itu yang pada akhirnya membuat banyak orang nekat kredit sana kredit sini, demi gengsi yang akhirnya tau ah, kok habis gajian saldo malah minus begini? 

Keinginan lainnya yang memuat banyak orang juga sulit tidur adalah péngin pasangan yang sempurna. Péngin punya bojo yang kek di tipi tipi atau yang sering beredar di dunia maya. Saking tingginya keinginan jadi banyak yang lupa memijak bumi, lupa kapan terakhir kali mandi dan bercermin diri?

Kebutuhan juga erat kaitannya dengan pemahaman akan siapa diri. Who Am I? Ibarat tanaman, ada yang diciptakan sebagai pohon jati, bunga hias, pohon mangga, dlsb. Dengan mengetahui kita jenis yang apa, secara otomatis akan mengetahui apa saja yang dibutuhkan untuk menjaga dan memberdayakannya. 


Bahagia memang tak sesederhana mengucapkannya. Tetapi bukan sesuatu yang sulit selama kita mengetahui kuncinya. Happiness is a qualities of thoughs. Bahagia itu tergantung kualitas pikiran. Pikiran adalah sumber dari perilaku dan kebiasaan. Bagi mereka yang sudah menemukan kebahagiaan di dalam hidupnya, pasti sudah terlatih untuk memilih dan memilah isi pikirannya. Mereka yang sudah terlatih mengelola pikiran dan rasa memiliki kematangan jiwa sehingga menemukan bahwasanya kesederhanaan adalah puncak dari pencarian untuk kenyamanan hidupnya. 

AHA!-Bahagia itu syalalala....#catatanfas

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS