Pages

Listyorini, Perempuan Inovatif Dari Desa Kami

Kamis, 01 September 2016




"Kita melanjutkan hidup dari apa yang kita dapatkan, namun kita akan terus hidup lewat perbuatan." ( unknown )

Di antara deretan rumah penduduk  Desa Lembah, Kecamatan Babadan, Ponorogo, ada satu rumah istimewa yang tak pernah sepi dari keceriaan anak-anak sepanjang hari. Mulai dari balita hingga remaja,  setiap harinya mereka bergantian mengisi hampir seluruh bagian rumah yang difungsikan pemiliknya sebagai ruang belajar mereka. Rumah perubahan yang memberi banyak inspirasi dan kebahagiaan.


Dua puluh tahun terakhir, hampir separuh ibu-ibu di desa kami merantau ke luar negeri. Secara ekonomi pendapatan rata-rata penduduk memang mengalami perubahan yang signifikan. Tetapi, di sisi lain juga menimbulkan berbagai permasalahan yang seringkali tidak disadari, baik oleh keluarga atau pemerintah daerah setempat. Salah satunya adalah masalah kurangnya pengawasan dan pendampingan anak-anak dalam proses belajar sepulang sekolah.

Berangkat dari keprihatinan itulah Listyorini, seorang mantan Buruh Migran, mengambil langkah untuk inovasi daerah kami. Upaya yang ia lakukan menjadi kabar baik bagi warga desa  karena keresahan mereka mendapatkan solusi. Terlebih bagi orangtua yang tak bisa mengikuti perkembangan mata pelajaran di sekolah anaknya.

  Anak-anak yang haus kasih sayang ibunya disentuhnya lewat nasehat, pelajaran moral, disiplin yang ia sisipkan dalam kegiatan belajar yang santai dan penuh suasana kekeluargaan. Jika orangtua yang berada di Luar Negeri ingin mengetahui perkembangan anaknya, ia juga menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan mereka.

Bagian keceriaan bocah-bocah kampung kami

"Lembaga ini didirikan bukan semata-mata untuk kepentingan materi, saya lebih menekankan dan mengarahkan semua ini untuk media mengembangkan dan memperluas jangkauan untuk saling berbagi. Anak-anak tidak hanya kami ajari untuk mengejar angka atau prestasi di sekolah, secara tidak langsung kami juga menanamkan nilai-nilai kehidupan, karakter, dan agama dalam proses belajar mengajar. Manfaat lainnya secara tidak langsung lembaga ini juga bisa menambah lapangan kerja. Dengan merekrut tenaga pengajar yang mayoritas masih mahasiswa atau guru-guru honorer. Tak ketinggalan saudara atau tetangga yang lain juga bisa ikut memiliki pemasukan tambahan. Mereka menitipkan jajanan di warung yang kami sediakan untuk memenuhi kebutuhan anak didik." Tuturnya lugas dan tegas sebagaimana karakternya yang menyukai tantangan saat saya telepon beberapa hari yang lalu.


Apa yang ia ungkapkan di atas sesuai dengan  nama dan motto lembaga belajar " LBB SIMPLY MISSION, TAKE AND GIVE."

Banner Lembaga Belajar
suasana di dalam kelas


Bersentuhan dengan sosoknya yang ramah dan ramai siapa saja pasti bisa langsung akrab dengannya. Anak-anak di kampung kami memanggilnya dengan Bu Rin. Pemilik akun facebook Sekar Mlathi ini  empat tahun terakhir perannya dalam membawa perubahan di daerah kami sangat besar. "Ingin bahagia dan bermanfaat bagi sesama" menjadi alasan utamanya dalam mendirikan lembaga belajar. Sebuah cita-cita sederhana tetapi tak setiap orang mampu mewujudkannya.

Perjalanan perempuan yang senantiasa semangat ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Melihat kiprahnya di dunia pendidikan ini, perjalanannya tak sesederhana misinya untuk memberi cahaya bagi warga sekitar. Mbak Rin, begitu saya memanggilnya adalah anak pertama dari enam bersaudara. Ia menyadari sebagai kakak tertua tanggung jawab yang ada di pundaknya besar. Maka selepas SMU demi mendapatkan biaya sekolah untuk adik-adiknya ia memutuskan merantau. Satu tekad lahir di hatinya, adik-adiknya harus sekolah lebih tinggi dan menjadi orang yang berguna.

Tahun 1995 menjadi tonggak perjuangannya dalam membawa perubahan. Masa itu sangat jarang warga di kampung kami yang merantau ke Hong Kong, dan sudah jadi jalan hidupnya kalau perempuan berkulit kuning langsat ini menjadi sosok yang menginspirasi dan penuh inovasi.
Pekerja keras, ulet, disiplin, dan bertanggungjawab membuatnya  dipercaya bos dan agency. Lewat perpanjangan tangannya, banyak jiwa telah ia tolong untuk bekerja di keluarga besar bosnya. Kerja keras dan ketulusannya dibalas dengan manis lewat kesuksesan adik-adiknya. Mereka bisa menyandang sarjana dan mewujudkan harapannya.

Formasi utuh keluarga Lisytorini
Setelah adik-adiknya mentas, Mbak Rin memutuskan pulang. Sebelum memulai langkah baru dalam hidupnya, ia diberi kesempatan istimewa melaksanakan ibadah haji. Sebuah langkah yang luar biasa dan langka dilakukan oleh kebanyakan orang. Semua semakin mengukuhkan sosoknya sebagai perempuan yang beda dan berkarisma.

Langkah yang diambilnya mematahkan pandangan banyak orang bahwa sukses tidaklah tertera pada banyaknya harta benda yang dikumpulkan dan dinikmati sendirian, melainkan sukses sejati milik mereka yang mau berbagi dan mengutamakan pandangan sang pemberi rezeki.
Tidak penting apa pekerjaan yang sedang kita hadapi, selama niat kita bekerja untuk kebaikan, disinilah tugas mulia kita sebagai manusia  menemukan makna sukses yang sesungguhnya. Tidak penting seberapa banyak harta yang kita miliki, selama mau berbagi, kekayaan yang sejati telah dimiliki. #catatanfas



Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS