Pages

Permintaan Kedua

Minggu, 04 September 2016




"Tidak! Bapak tidak setuju kamu menikah lagi. Cukup sekali kamu bikin malu keluarga. Sekarang yang terpenting, kamu baik-baik kerja di sana dan pulang bawa uang. Titik. Jangan pernah bicarakan lagi niatmu itu."

"Braaak..." Suara telpon ditutup dengan kemarahan yang menyisakan gerimis di hati Sisi. Sebegitu tak berharganyakah semua pengorbanan dan pengabdiannya selama ini? Hati sisi bergemuruh. Terulang lagi putaran-putaran kisah hidupnya di kepala. Begitu lama ia terombang-ambing di lautan. Timbul tenggelam dihempaskan gelombang dan badai. Siapa peduli kalau jiwanya kering kerontang rindukan kasih sayang dan perhatian?? Tidak ada!! Hanya uang dan uang yang mereka pikirkan, dan melupa kalau ia juga membutuhkan masa depan.

Wanita mana yang tidak bermimpi hidup bersama dengan lelaki, sekalipun kegagalan pernah ia alami? Lima tahun telah berlalu sejak hari itu. Membawa luka dalam ia melangkahkan kaki ke Hong Kong. Meninggalkan anaknya yang baru berumur 2 tahun. Sebuah perpisahan yang menyakitkan. Dalam hitungan bulan, dua perpisahan yang tak diharapkan menenggelamkannya di lautan kenyataan.

Kegagalan dalam rumah tangga bukanlah keinginan, apalagi cita-cita manusia. Begitupun dengan Sisi. Di usia 30, setelah pernikahannya membuahkan seorang anak, suaminya pergi tanpa kabar. Berbagai cara telah ia lakukan untuk mendapatkan secuil kabar dan kepastian. "Kami tidak tahu. Tidak ada pesan apanpun yang ia tinggalkan. Kami pikir ia menyusulmu ke Semarang..." Feeling Sisi mengatakan, ada yang mereka sembunyikan. Terlebih mertua dan iparnya yang ajaib memang tidak pernah menyukainya.

"Enak benar ya, kamu. Begitu menikahi kakakku langsung menikmati kemewahan," kata iparnya, Rumi, suatu hari. Kemewahan yang ia maksud adalah rumah yang telah siap huni. Mereka sungguh tak rela karena tanpa bersusah payah, Sisi menikmati kemudahan. Sungguh pemikiran yang picik. Tapi semua sudah resiko baginya, mengingat niatan awalnya ia mau menikah dengan Deni.Tetapi kata menikahi membuatnya merasa terusik.

Menikahi?? Bukankah dengan diantar keluarga, Roni datang meminang dan memboyongnya ke Malang? Tukas Sisi dalam hati. Dan kepergiaan Roni tanpa kabar seakan memberitahukan, usaha keluarganya untuk memisahkan keduanya telah umumkan kemenangan. Seraut wajah sendu itu ternyata tak mampu lagi bertahan di antara dua pilihan.

Berhari-hari Sisi menangis dan tenggelam dalam kesedihan. Namun Tuhan masih menyayanginya.Malam itu, tangisan Sisi dihentikan oleh suara anaknya. "Jangan menangis lagi, Mama.Aku tidak apa-apa tanpa Papa," sambil mengusap airmata di wajah ibunya, anak lelakinya memeluknya sambil menangis. Hati Sisi tercekat. Suara kecil itu menyadarkannya, bahwa ada yang masih pantas ia perjuangkan untuk menapaki hari. Ia adalah sumber kekuatan yang dianugerahkan Tuhan.

"Maafkan Mama, Nak. Mama berjanji tidak menangis lagi. Mama masih punya kamu" Jerit hati Sisi sambil memeluk erat buah hatinya. Sepertinya kerasnya hidup yang telah ia rasakan sejak dalam kandungan, menempanya menjadi anak yang lebih kuat dan mandiri. Sisi merasakan semangat kembali mengapi di hatinya.

Dengan setengah hati, tiga bulan kemudian ia memutuskan untuk ke luar negeri. Sebuah keputusan yang tak mudah. Namun harus ia lakukan. Selain pergi tanpa pesan, suaminya juga meninggalkan hutang. Usaha Roni untuk kembali bekerja ke Luar Negeri mempertemukannya dengan calo yang semakin membawanya ke arah yang tak terduga. Nafsu ingin cepat membuatnya bertindak tanpa berpikir dan nekad.

Hari-hari yang sulit ia lewati dengan sepenuh keyakinan. Untuk sementara ia melupakan kebutuhan jiwanya sebagai wanita normal. Hari-harinya diisi dengan kerja dan kerja. Sampai seorang sahabat mengenalkannya dengan Deni. Bersama Deni hari-harinya terasa berbeda. Deni juga mengalami kegagalan yang sama dalam rumah tangga. Bahu membahu mereka menutup luka yang pernah ada. Saling memperbaiki kesalahan apa yang menjadi sebab kegagalan. Dan sekian waktu bersama, sayap-sayap patah mereka kembali mengepak dengan indahnya. Sekalipun belum pernah bertemu, ruang dan waktu tidak menjadi penghalang. Terbukti kebersamaan mereka telah membawa perubahan dalam kehidupan. Sisi merasakan kenyamanan yang selama ini ia impikan.

Sampai hari dimana kepulangannya   tinggal hitungan bulan, Sisi memberanikan diri untuk mengutarakan keinginannya untuk kembali menata masa depan. Namun kesabarannya kembali diuji. Orang yang selalu ia jaga dan turuti keinginannya, menolak permintaan keduanya. Permintaan kedua yang baru ia utarakan selama ia gagal menjadi anak kebanggaan. #catatanfas

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS