Pages

Sketsa Victoria

Rabu, 21 September 2016

Siluet Senja


"Hitam putihmu adalah bagian yang tak bisa dihapus. Semua dihadirkan sebagai sarana untuk lebih mengenal sketsa utuh wajah kehidupan."

Rasanya tak akan ada habisnya menggali cerita dari Victoria Park. Maka tidaklah mengherankan jika ada pihak yang tertarik untuk mem-filmkan sketsa cerita dari Victoria. Jadi saya pikir sah-sah saja setiap orang menggali cerita dari wajah kehidupan penghuninya.

Victoria Park, dulunya adalah tempat pengungsian kapal-kapal yang berlindung dari badai angin topan yang secara berkala hadir di Hong Kong. Maka pada tahun 1950 pengungsian dan persinggahan pelaut ini direklamasi menjadi taman. Victoria sendiri berasal dari nama ratu inggris. Dan rasanya tak salah jika seiring perkembangan jaman, victoria juga berfungsi sesuai sejarahnya. Menjadi tempat mengungsi para sahabat BMI ( Buruh Migran Indonesia ) dari kejenuhan rutinitas selama sepekan. Di sini mereka bisa berjumpa dengan para saudara dan sahabat atau sekedar duduk santai sambil ngobrol ngalur ngidul sebagai pelepasan rasa.

 Di awal 1998,  saya sudah akrab dengan victoria. Bahkan sejak di penampungan, kami sudah familiar karena konon hanya di victoria kita bisa saling bertemu.

 Maklum, waktu itu komunikasi belum selancar sekarang. Kami masih menggunakan surat untuk menanyakan kabar dan tanggal ketemuan. Dan di awal 2000 Victoria semakin saya kenali sudut-sudutnya karena setiap minggu tiba, saya menambah penghasilan dengan menjajakan makanan dan minuman.

Ternyata, wajah Victoria sudah sangat berubah saat saya kembali lagi empat tahun yang lalu. Di setiap sudut, wajahnya berganti dengan atraksi-atraksi, orang mengaji dan yang tak kalah banyaknya juga bermunculan komunitas funky dan nganeh-nganeh yang menjadi amat menyolok dengan segala keanehan yang mereka miliki.

Berada jauh dari keluarga membuat banyak jiwa merasakan hampa dan terbuang dari akarnya. Terlebih buat mereka yang melangkahkan kaki ke negara Jacky Chan karena alasan sakit hati. Sangatlah bisa dimaklumi jika di tengah carut marut luka mereka mencoba berbagai cara untuk melupakan atau lari dari masalah. Belum lagi dengan masalah pekerjaan.

 Maka, hari minggu membuat banyak jiwa mencari setetes air di gersangnya tembok beton ini.
Dan Victoria menawarkan banyak pilihan buat mereka. Jika takdir membawa kaki pada jalan kebenaran, maka jiwa-jiwa akan  bertemu dalam komunitas yang membawa ke arah kebaikan. Bergabung di majelis taklim, mengikuti latihan kepenulisan.atau komunitas lain yang merangkul dengan tujuan membaikkan. 

Sayangnya, tidak semua jiwa bisa menangkap cahaya. Dan mereka lebih suka berada di gelapnya fatamorgana sambil berharap keajaiban masa membawa mereka keluar dari pekatnya bilik yang mereka buat sendiri.

Sketsa mereka yang sebenarnya minoritas ini, telah mencoreng banyak wajah tak berdosa. Entah sadar atau tidak, mereka merasa sangat biasa melenggang dengan tipuan kenyataan yang dipropaganda sebagai kewajaran semata.

Gemas dan malu. Itu sejujurnya yang saya rasakan saat bertemu dengan komunitas ini. Walau dalam diam saya bisa merasakan kegalauan dan ketidakmengertian mereka tentang lakon apa yang sedang mereka perankan. Saya yakin, saat malam menjelang dan sendirian, mereka juga tak mau menjadi seperti itu. Dan hanya Tuhan yang tahu, bagaimana kelak mereka mendapatkan jalan untuk kembali pada diri sejati mereka.

Sketsa Victoria, hitam putihmu adalah bagian yang tak bisa dihapus. Semua dihadirkan sebagai sarana untuk lebih mengenal sketsa utuh wajah kehidupan.

#Catatanfas, Hong Kong, 13 Juni 2012, dimuat di Berita Indonesia

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS