Pages

Mendadak Mak Comblang

Senin, 31 Oktober 2016


Pernah berperan sebagai perantara kedua belah pihak yang sedang cari pekerjaan atau pasangan? Saya pernah beberapa kali dan endingnya Alhamdulillah  mereka sukses bekerja atau pun  menikah dengan gembira. Ikut gembira dong pastinya?  Bukan gembira, cuman bahagia saja karena bisa menjadi jalan bagi kebaikan hidup orang lain meskipun juga ada suka dukanya.

 Beda ya gembira dan bahagia itu? Jelas beda. Gembira itu saat kita mendapatkan kesenangan dari luar diri dan sifatnya sementara. Sedangkan bahagia itu melalui proses pencarian dalam batin  sehingga menemukan keseimbangan di saat kenyataan tak sesuai harapan. Sifat kebahagiaan itu permanen karena merupakan kekayaan batin yang tak akan habis sekalipun dibagikan.

Jadi begini ceritanya mengapa kok mendadak mak comblang....

Entah karena  alasan apa yang membuat beberapa orang datang dan meminta tolong untuk dicarikan kerja/pekerja. Beberapa lagi juga sama. Datang untuk minta tolong dicarikan kenalan untuk teman hidupnya. Ladalah, mendadak mak comblang ceritanya. :-P :-D

Bakat terpendam ini, yaelah segitunya, hahaha...mulai terlihat sejak SMA. Masa itu pak lik saya yang kerja di luar pulau menggunakan lagu rayuan pulau kelapa untuk mencarikan jodoh untuknya. Maklum pak lik saya ini orangnya selain ganteng juga tidak pernah pacaran. :-D Jadi alhasil sebagai ponakan yang pengen balas budi dan baik hati #uhuuk kami ( saya dan mbak ) mencoba mengenalkan dan menghubungkan dengan orang yang kemungkinan cocok jadi pasangannya.

Mbak yang pertama mengenalkan belio dengan temannya. Entah karena Mbak yang tidak mewarisi bakat ibuk dalam hal percomblangan, ngomong opo iki, hahaha..setelah sekian lama menjalin LDR lewat surat menyurat; masa itu boro boro telepon seluler, telepon rumah saja belum masuk ke desa, mereka tak jadi ke pelaminan. Maka selanjutnya saya yang berusaha mencarikan jodoh. Bukan lewat rubrik jodoh di koran koran yang pada masa itu ngetrend lho ya...:-D entah dapat bisikan dari mana kok malah sahabat satu kelas yang coba saya "bribik" untuk saya jadikan bulik. 

"Ndilalah" kok sahabatku itu mau. Setelah setahun tunangan akhirnya mereka menikah dan anak sulungnya kini sudah masuk  kuliah saja padahal seperti baru kemarin kejadiannya. Mau tak mau ternyata saya sudah tua ya? :-D :-P


Pasangan lainnya yang Alhamdulillah juga nampaknya akan mengikuti jejak paklik saya adalah dua orang yang secara fisik belum pernah ketemu tetapi kenal di dunia maya.  Ternyata di éra yang serba canggih ini masih ada yang menggunakan cara konvensional untuk menemukan jodohnya. Secara GPS sudah ada kenapa pula mesti minta tolong orang lain coba? Hahaha...

Dua tahun lalu ia berkata,"Mbak, tolong dicarikan kenalan biar segera mengikuti jejakmu." Jejak  di sini maksudnya sebagai wanita yang sudah sekian tahun jadi single parent dan ketemu pasangan lagi. Secara kebetulan nasib kami berdua  sama. Pas kebetulan dalam waktu yang bersamaan juga ada dua sahabat pria yang juga minta dicarikan kenalan. Begitulah cara jodoh saling menemukan. Ketika si pria pertama belum membuatnya sreg karena tak sesuai kriteria, pria kedua yang juga sudah lama menjomblo dengan dua anak itu menjadi target berikutnya. Target? Kek bisnis MLM saja...:-D

Lhaa emang mirip sih sistemnya dengan MLM. Kalau ini profitnya bukan nominal melainkan bertambah jaringan paseduluran.

Dua tahun setelah mereka mengalami hubungan yang naik turun, pas naiknya sih jarang tahu, kalau pas turun saya dicolek colek...hihihi..begitulah resikonya, meskipun paiit harus tetap disesap seperti kopi; mereka sepertinya beberapa hari yang lalu sudah ketemuan.

Kok sepertinya? Iyaah, Karena secara kebetulan saya melihat profile si pria (yang sejak mereka jadian demi kenyamanan saya unfriend ) lewat di beranda dan memakai foto mereka berdua. Setelah saya lihat dindingnya, ternyata teman perempuan ini memang sudah balik dari seberang. Syukurlah jika pada akhirnya sang waktu berpihak dengan mereka. 

Mungkin  memang seperti inilah nasib orang yang mendadak mak comblang. Saat mereka telah menemukan muara bahagia kita mesti belajar legawa untuk dilupakan begitu saja.  Dan semoga saat kehidupan lagi turun mereka atau salah satunya tidak menyalahkan saya. Karena bahagia atau tidaknya hubungan rumah tangga bukan siapa yang mengenalkan, melainkan bagaimana kita menjaga cinta dan keseimbangannya.

Coretan akhir oktober ini sebagai pelepasaan rasa biar tetap syalalalala. Oktober sepertinya memang bulan yang penuh dengan keadaan yang menjadi bahan untuk menguatkan jiwa. Selamat tinggal Oktober, selamat datang November, semoga rezeki semakin meluber! #catatanfas


Merayakan Perbedaan

Jumat, 28 Oktober 2016


Perbedaan itu niscaya. Kita diciptakan dengan berbagai perbedaan agar saling melengkapi, kaya sudut pandang, dan kaya pemahaman. Sayangnya sebagian orang entah mengapa sangat anti dengan perbedaan sehingga berusaha memerangi yang berbeda agar supaya semua seragam dengannya.

Mungkin mereka yang anti perbedaan itu perlu sesekali piknik  dan tinggal di negara yang homogen agar paham betapa menjenuhkan dan bosannya hidup dalam satu bahasa, warna kulit, dan tradisi yang sama. Beberapa kali saya pernah ke Tianjin dan Beijing, China. Tinggal sampai hampir sebulan di sana. Berada di antara mereka seperti berada di kerumunan robot. Kaku dan dingin. Waktu terasa melambat, tak ada keindahan yang bisa dirasakan kecuali kebosanan.

Dilahirkan menjadi orang Indonesia itu rahmat luar biasa. Dengan keanekaragaman suku, bahasa, dan budaya kita menjadi manusia yang penuh daya cipta dan daya guna.

Di luar negeri, orang Indonesia akan sangat mudah beradaptasi dengan budaya setempat dan mudah mempelajari bahasanya karena secara alami sudah memiliki kemampuan dan ketrampilan luar biasa dalam menyikapi perbedaan.

Setiap kali ada yang bertanya,"Mengapa orang Indonesia mudah belajar bahasa kami, sedangkan orang dari negara lain mengalami kesulitan?"

Dengan bangga saya  menjawab,"Karena bahasa kami memiliki kesulitan yang lebih tinggi dan lebih kaya kosakata, maka bahasa kalian menjadi hal yang mudah dipelajari."

Jangankan dengan orang lain, mereka yang terlahir kembar saja pasti memiliki perbedaan, bagaimana mungkin yang jelas terlahir dari ibu, daerah, dan suku yang berbeda mau dibuat sama? Bukankah justru yang berbeda itu unik dan menjadi ciri khas yang membuat kita istimewa?

Belajar perbedaan dimulai dari diri sendiri. Dengan belajar menemukan perbedaan dan menerimanya kita akan mudah bertoleransi dan berdamai.

Saya belajar perbedaan sedari kecil. Secara kebetulan hidung saya memiliki bentuk yang unik dan beda sehingga menjadi bahan bully teman-teman sepermainan dan sekolah. Keadaan itu membuat saya bertekad tidak mau sama dengan mereka. Saya membalas olokan mereka dengan prestasi di sekolah. Saya berteman dengan buku-buku di perpustakaan dan mencoba mencari jawaban,"Mengapa saya berbeda, Tuhan?"

Ternyata maksud Sang Pencipta menciptakan perbedaan itu agar saya menggali lebih dalam dan menemukan apa kehendak-Nya. Semenjak saya sadar bahwa secara fisik tak cantik dan memiliki "kelebihan" semangat untuk belajar dan mencari membara di dada. Itu salah satu alasan mengapa saya tertarik dengan ilmu ilmu pemgembangan diri.

Sebelum mampu menerima orang lain  apa adanya, hal pertama yang harus ada adalah belajar berdamai dengan diri sendiri. Dengan memiliki kesadaran tentang siapa diri, Who Am I , kita akan mampu berkata, "Aku menerima diriku apa adanya, karena aku yakin Tuhan tidak pernah salah menciptakan hamba-Nya. Tidak perlu iri atau membandingkan diri dengan orang lain, ya, karena setiap orang terlahir dengan masing-masing keunikannya dan hanya satu-satunya di dunia. Percaya diri saja!"

Percaya diri bukanlah soal tehnik semata, melainkan lebih kepada menguatkan pemahaman yang baik tentang nilai-nilai kehidupan yang membuat diri berguna dan bahagia. Memahami siapa diri dan apa peran kita terlahir ke dunia."

Apakah PD itu datang serta merta? Tidak. Kita butuh proses yang panjang dan melelahkan untuk meraihnnya. Kita butuh mengalami banyak hal untuk menemukan kelemahan, kekurangan, dan kelebihan diri sebagai media pembelajarannya. Kita akan mengalami banyak rintangan, melakukan banyak kesalahan, tetapi semua hanyalah bagian proses yang mesti kita lewati untuk menumbuhkan kekuatan jiwa.

Saya dulu minder luar biasa dalam
penampilan fisik. Saya selalu merasa diri tak memiliki daya tarik karena tidak cantik. Seiring waktu saya sadar kecantikan wanita dan daya tarik wanita itu tak melulu soal fisik semata. Kecantikan bisa dibangun lewat kepribadian, kecerdasan, dan terlebih lagi dari dalam. Selama kita mampu menjaga kebersihan hati, kejernihan pikiran, dan sikap; tanpa diminta kecantikan akan terpancar dengan sendirinya.

Berbagai hal keadaan yang berbeda akan membawa kita pada keindahan dan keajaiban hidup. Terlebih sejak menikah dengan suami yang berbeda suku, karakter, dan budaya; makin warna warni dan indah perjalanan yang ada.

Perbedaan bukan sesuatu yang perlu dihindari. Justru dari perbedaan kita akan menemukan keseimbangan untuk mencapai tujuan.   Mari kita rayakan perbedaan dengan syalalalala. Dengan spirit sumpah pemuda,  saya buat sumpah atau janji kepada sendiri untuk merayakannya agar senantiasa ingat bahwa belajar menerima perbedaan itu akan mudah selama memiliki persamaan nilai yang diperjuangkan bersama.

Kami adalah dua jiwa yang terlahir menjadi satu, oleh rahim cinta dan ruang waktu.

Kami adalah dua jiwa yang berjanji dan bertujuan satu, mencari Ridho-Mu.

Kami adalah dua jiwa yang bersumpah saling mendengar dan  berbahasa satu, bahasa kalbu.

#catatanfas_28 Oktober 2016
#sumpahkamiberdua
#spiritsumpahpemuda

Titik Nol

Jumat, 21 Oktober 2016


Terkadang kita berpikir hidup sangat tidak adil dan benar-benar tidak menyediakan pilihan  sekedar celah untuk bergerak. Awalnya Aku pun berpikir demikian. Sepanjang perjalanannya aku selalu merasakan ketidakadilan selalu menjadi bagian dari nasibku, sampai aku dihempaskan dan ditempatkan pada berbagai keadaan yang membawaku pada pemahaman "Titik Nol" atau titik balik kehidupan.

Terlahir sebagai anak yang sering "merasa" diperlakukan beda karena terlahir tak sesuai harapan, membuatku tumbuh menjadi pribadi yang keras dan enggan kalah dengan lelaki. Aku ingin membuktikan terlahir sebagai perempuan tak kalah membanggakan dibanding anak lelaki seperti yang orangtua harapkan. Tanpa kusadari  Aku mulai memahat "dendam" itu sedari kecil. Aku selalu bermimpi ingin keliling dunia dan bertemu banyak orang. Cita-citaku satu,  ingin keluar dari rumah dan bebas dari rutinitas yang seakan tak memberi celah untuk menikmati masa kecil dan remaja. Menjaga warung sembako hingga kulakan merupakan kegiatan yang tak boleh absen sejak kelas tiga SD sampai SMA. *Masa-masa yang pada akhirnya ku sadari sebagai cara ibu mempersiapkan dan menempa diriku sebagai tulang punggung.

Sepertinya do'aku mulai terkabul sejak lulus sma. Dengan penuh keterpaksaan, lebih tepatnya tekanan, aku berangkat ke luar negeri. Umur belum genap 19 tahun. Terlempar jauh di negeri Arab membuatku seperti debu yang dibawa angin dan jatuh di padang pasir yang kering, semakin membuat jiwaku meranggas dalam kumparan dendam. Rasa tak pantas dicintai dan terbuang membuatku semakin sedih dan sakit hati.  Sudah pasti aku menggugat, mengapa mereka tega memintaku pergi dengan alasan dami masa depan keluarga, tanpa pernah sedikit pun bertanya kemauanku sebagai anak.

"Di mana keadilanmu, Tuhan? Mengapa harus aku, apa salahku?!" Gugatku berulang kali. Aku terus meraba-raba dan tak henti mencari keadilan. Jiwaku rapuh dan luluh, begitu banyak pertanyaan dan kenyataan yang tak sanggup aku hadapi.

"Aku ini anak siapa, Bu?!" 

Begitu  dulu pertanyaan yang sering terlontar setiap kali perlakuan tak adil ( menurutku) aku terima. Pertanyaan konyol yang akhirnya terjawab saat aku berada puluhan ribu mill dari ibu.

Hari itu aku sudah benar-benar di ujung keputusasaan atas keadaan. Penderitaan yang aku rasakan selama tiga belas bulan di negara terkaya dunia itu membuatku menyerah. Entah sudah berapa kali aku ingin loncat dari lantai dua dan melarikan diri. Tetapi selalu aku  urungkan karena memikirkan kemungkinan selamatnya hanya sekian persen.

Di titik itu, antara keputusasaan dan penderitaan; kurang makan, mendapatkan pukulan, sampai cuaca ekstrim yang membuat hidung setiap hari berdarah, aku seakan mendengar suara ibu meminta dan menyuruh pulang. Masa itu, tahun 1996/1997,  kami hanya bisa terhubung dengan surat, itu pun harus menunggu dua atau tiga bulan. Dan ternyata hubungan batin seorang ibu dan anak benar tak terpisahkan oleh ruang dan waktu. Aku yakin ibu merasakan apa yang aku rasakan. Di titik ini pertanyaan konyolku dan gugatanku mulai mendapatkan jawaban. Setiap ibu pasti mencintai dan sayang dengan anaknya, meskipun caranya seringkali tak sesuai keinginan, aku akhirnya mengerti sudah sesuai dengan wadah dan kebutuhan.

Hari itu dengan tekad kuat setelah mengatakan pada pada diriku sendiri, terus di sini sia-sia atau berjuang apa pun resikonya, aku nekat mengambil perjanjian kontrak yang selama ini dijadikan mereka alasan  untuk menahan dan tak mau memulangkan.  Bahkan demi menahanku, uang gaji langsung dikirimkan ke keluarga. Setelah aku ambil dari kamar yang biasanya mereka kunci dan hari itu lupa  maka kubakar surat itu.

Mereka baru menyadari kecolongan setelah keesokan harinya aku minta pulang dan masih menolak dengan alasan dalam perjanjian kontrak masa kerjaku dua tahun. Kutantang mereka untuk menunjukkan mana suratnya. Setelah menyadari kalau surat itu sudah tak ada, cambukan dan tendangan yang berakhir dengan dikuncinya aku dalam kamar mandi menjadi hadiah yang mesti ku terima untuk memperjuangkan kebebasanku.

Dalam ruangan sempit itu hidup matiku aku pasrahkan kepada Allah. Aku menyadari semua itu karena kesalahanku selama ini terhadap ibu. Dalam kepasrahan aku terus berdo'a dan memanggil ibu.

Di hari ketiga, aku tidak akan lupa hari itu hari kamis, mereka membuka pintu dan menyuruhku bersiap-siap untuk ke bendara. Aku tidak lagi memikirkan bagaimana nantinya, yang terpenting aku bisa pulang. Titik yang membuatku begitu lega dan mensyukuri betapa sang pencipta masih memberiku kesempatan untuk pulang dan meminta maaf ke ibu. Kesempatan untuk menebus salah-salahku terhadap beliau.

Kepualanganku itu ternyata memang menjadi kesempatan terakhirku bertemu beliau. Setelah sebulan di rumah, aku kembali memutuskan kerja ke Hong Kong.

"Kamu kerja buat sekolah adik-adikmu dan biarkan mbakmu di rumah membantu ibu menjaga mereka." Pesan ibu sebelum berangkat yang akhirnya menjadi wasiat karena dua minggu begitu aku kerja di Hong Kong ibu dipanggil yang Maha Kuasa. Ibu berpulang dengan meninggalkan adik bungsu yang masih usia dua tahun. Tiga yang lainnya baru 10, 12, dan 15 tahun.

Kepulangan ibu meninggalkan rasa sesal dan berbagai rasa yang tak bisa diungkapkan. Kepulangan yang mengubah seluruh pandanganku tentang beliau dan menemukan kesadaran mengapa aku dulu di didik begitu keras. Ternyata semua seakan sudah dipersiapkan agar aku kuat menghadapi kerasnya kehidupan.

Dengan tanggung jawab yang tak ringan dinamikanya sungguh luar biasa.  Masa-masa yang demikian sulit, sakit, dan panjang itu sudah delapan belas tahun berlalu. Si bungsu kini sudah semester lima. Demi menjaga dan menuntaskan amanah serta janji, maka apa pun resikonya sampai detik ini aku masih bekerja. Beruntung suami mau memahami posisiku sehingga beliau mengijinkan.

Masa dimana aku menggugat hak dan keadilan terhadap Tuhan itu membuatku paham, semakin keras aku berteriak, semakin keras kehidupan menamparku. Aku dilemparkan sampai ke dasar, dimana aku benar-benar berada di titik nol. Titik terendah yang membuatku pasrah dan berkata,"oke deh, Tuhan. Hamba pasrah. Sekehendak-Mu saja. Hamba manut."

Dan sepertinya  Tuhan tersenyum melihat kekerasan hati dan kepala ini meleleh, makanya sejak kesadaran itu k u jaga, aku terus dipeluk-peluk Nya.  Aih, konyol benar masa-masa itu. Puluhan tahun membuang waktu untuk menuntut hak dan keadilan, sementara siapalah diri ini? Sungguh tak tahu diri benar, sedang apa-apa yang kini ada semua hanyalah titipan semata. Nafas dipinjamkan oleh-Nya. Jiwa raga milik-Nya. Hak mana yang mau kita tuntut?
#catatanfas

Tulisan ini untuk menjawab ajakan mbak Inda Chakim untuk menuliskan momen yang tak terlupakan. Meskipun banyak banget momentum yang tak terlupakan, momen di Arab merupakan yang paling. berkesan karena menjadi titik awal jawaban tentang kehidupan. Terimakasih ajakannya, Mbak. Semoga bermanfaat.

Tulisan ini diikutkan dalam Irawati Hamid First Giveway "Momen Yang Paling Berkesan & Tak Terlupakan."
Si bungsu yang sekarang semester lima
Bapak yang tetap setia sampai tua bersama ke-enam anak dan cucu-cucunya

Menerima Sepenuh Jiwa

Jumat, 07 Oktober 2016





When God Made You"
(with Natalie Grant)

It's always been a mystery to me
How two hearts can come together
And love can last forever
But now that I have found you, I believe
That a miracle has come
When God sends the perfect one
Now gone are all my questions about why
And I've never been so sure of anything in my life

[Chorus:]
I wonder what God was thinking
When He created you
I wonder if He knew everything I would need
Because He made all my dreams come true
When God made you
He must have been thinking about me

I promise that wherever you may go
Wherever life may lead you
With all my heart I'll be there too
From this moment on I want you to know
I'll let nothing come between us
And I will love the ones you love

[Bridge:]
He made the sun He made the moon
To harmonize in perfect tune
One Can't move without the other
They just have to be together
And that is why I know it's true
You're for me and I'm for you
'Cause my world just Can't be right
Without you in my life

[Tag chorus:]
He must have heard every prayer I've been praying
Yes He knew everything I would need
When God made you
When dreams come true
When God made you
He must have been thinking about me

Saat sedang melow dan dengar lagu di atas, rasanya seperti diayun-ayun, syahdu dan mengena banget. :-D Terlebih setelah mendengar pembukaaan kalimat pak Arvan sebagai  nara sumber acara yang kutunggu-tunggu tiap Jum'at pagi ini, rasanya pagi yang semula mendung langsung pengen bersenandung.

"Kita ini diciptakan dengan sangat sempurna, detail, dan istimewa. Tetapi sebagian besar masih bertanya-tanya "Mengapa aku Tuhan." 

 Demanding banget, khan? Aku dulu juga begitu...*tutup muka

Oke lanjut, bahasan Smart Happiness bareng mbak Olla dan Pak Arvan Pradiansyah yang secara rutin saya ikuti pagi ini memang pas banget dengan sikon yang lagi ku alami. Sehari kemarin melow dan tamu bulanan tidak bisa dijadikan alibi lagi. Nyeseknya tuh tambah lagi karena sadar ada yang salah dengan diri sendiri.  Apakah ini kebetulan? Big Noo! Setiap kali bad mood atau mengalami situasi yang tak menyenangkan begitu ujug-ujug nemu artikel atau bahasan yang nyambung dengan sikon, saya mengartikan atau berkhusnudzon yang begini ini cara Allah memeluk dan menunjukkan cinta-Nya.

Pola dan tanda-tanda yang terus terulang ini  pada akhirnya membuat suami yang semula hanya melihat hidup  dari kaca mata orang tehnik semata mulai menyadari bahwasanya hidup ini sangat luas dan tidak bisa diatasi dengan logika dan hal hal yang sifatnya kasat mata belaka . Ada sisi sisi yang mesti menggunakan rasa dan kepekaaan nurani kita. Bahwa setiap hal terjadi dengan maksud dan tujuan tertentu, pun dengan kelahiran kita di dunia. Dengan menemukan kehendak Tuhan maka segala sesuatu bisa kita terima dengan legawa.

Kunci itu yang membuat kami belajar legawa dan "manut" kehendak sang pencipta atas hidup kami. Kami rela LDM untuk sementara waktu. Pasangan mana sih yang punya cita-cita jauh dari suami atau istrinya? Saya yakin tidak ada. Dan kami sadar pilihan ini akan memiliki konsekuensi dan tak luput dari berbagai persoalan.

"Yah, terkadang Amy péngin banget menjelaskan ke mereka mengapa kita memilih cara ini. Jujur Amy capek disalah-salahkan dan disudutkan. Tapi kalau dipikirkan lagi, apa gunanya orang lain tahu, toh yang terpenting kita berdua sama-sama ridho atas pilihan dan komitmen yang sudah kita sepakati bersama." Curhatku beberapa hari yang lalu dalam obrolan malam saat membicarakan masalah yang tengah kami hadapi.

"Nggak usah My....untuk apa orang lain tahu? Biarkan saja mereka dengan pikiran mereka sendiri. Semua nggak ngefek bagi ayah. Menceritakan sama halnya mengurangi nilai dari apa yang kita niatkan. Ini hidup kita. Kita yang menjalani dengan segala konsekuensinya."

Mendengar jawaban suami, seperti biasa adêm lagi pikiran. Sejak awal saya memang sudah minta ijin untuk tetap bekerja sementara waktu karena masih ada janji dan tanggung jawab terhadap keluarga.  Di sisi lain, pasti ada rasa bersalah juga dengan anak-anak, terlebih Kresna yang sejak usia dua tahunan sudah kutinggalkan untuk bekerja.

Memang tidak mudah berada di posisiku. Dan semenjak suami hadir dalam kehidupanku, ucapan  seorang karib terbukti,"Percayalah suatu saat nanti kamu akan temukan seseorang yang benar benar tulus mencintaimu dan menerimamu apa adanya. Kamu akan merasakan kebahagiaan yang semestinya."

Begitu pun dengan Kresna. Ia dengan caranya sendiri juga memahami posisi dan tanggung jawab ibunya. Meskipun semua itu tak serta merta membuatku merasa tenang dan tak punya rasa bersalah. Menjadi ibu itu ternyata tak mudah. Jadi ingat bagaimana dulu sering protes dengan almarhumah ibu. *Maafkan Buuu...ternyata menjadi ibu itu selalu merasa tak sempurna, tak cukup baik,  meskipun anak tak pernah menuntut kesempurnaan dan tulus menerima apa adanya, Namun tetap saja sebagai working mom rasa bersalah itu ada.

Setiap kali rasa bersalah itu datang, biasanya ia kuajak ngobrol dan secara tidak langsung ingin tahu pikirannya dengan  memberi pertanyaan;
"Kamu marah nggak, Nak, ibu kerja?"
"Nggak."
"Beneran nggak kecewa atau merasa kurang kasih sayang dan perhatian?"
"Nggak kok Buk. Kan ada Akung dan yang lainnya."
"Ibuk berdosa kalau sampeyan marah. Syukur kalau kamu bisa ngerti. Maafkan ibuk ya, sayang"

Secara mental Kresna memang lebih matang dari usianya yang baru sepuluh tahun. Sebagai produk broken home  Ia tumbuh dengan keceriaan dan perkembangan yang bahkan jauh di atas rata-rata teman sebayanya. Nilai akademis, perilaku, dan mengajinya lancar-lancar saja. Hal ini membuat ibunya tak begitu kuatir atas dirinya. Sepertinya ia terlahir memang  untuk menjadi sosok yang kuat dan menguatkan. Selalu ada hal yang tak terduga terlontar dari pernyataan atau sikapnya. 

Dulu banget, awal-awal ayahnya ( mantan ) pergi meninggalkan kami tanpa kabar, ia yang masih berusia dua tahun ujug-ujug sambil nangis mengusap air mata ibunya sambil ngomong,"Jangan nangis Ma. Tidak ada papa tak apa-apa. Jangan nangis-nangis lagi..." ( dulu ia mmemanggil ibunya mamah, kemudian seiring waktu memanggil Ibuk ).

Di lain waktu ia juga tampil sebagai pelindung ibunya ketika ada yang nyeletuk  atas keadaan kami. Pernah dalam suatu acara di tetangga, ada seseorang yang  entah sadar atau tidak ngomong,"Kresna tidak punya bapak."
Tanpa diduga ia berdiri sambil berkacak pinggang,"Aku nggak punya bapak ora popo."

Setiap kali mengingat moment moment itu dan keajaiban demi keajaiban sehingga bisa keluar dari masa-masa pahit , rasanya tak pantas diri ini berkeluh kesah atau larut dalam kesedihan. Masalah terasa mengerucut dan tak lebih sebagai bumbu semata. Semua yang tengah kami alami memang sudah menjadi cara dan jalan terbaik untuk menemukan makna dan jawaban hidup yang sesungguhnya. 

Diriku yang sedari kecil merasa hidup ini tak adil dan bertanya, "Di mana keadilanmu, Tuhan?" Lewat kehadiran suami, Kresna, dan jiwa jiwa yang tulus menguatkan pada akhirnya menemukan betapa berharga dan maksud istimewa diri ini dilahirkan ke dunia. Sungguh tak ada yang sia-sia, sekecil apa pun kejadian semua ada kehadiran-Nya.

Setiap orang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Dilahirkan untuk menjadi perpanjangan tangan Tuhan agar impian dan hidup orang lain dimudahkan. Hal ini  yang kami simpulkan dan rasakan sejak hidup bersama. Sebagai dua orang yang suka bekerja, kami memiliki kebutuhan untuk bermanfaat dan bermakna. Bekerja membuat kami bahagia.

 Seperti kesimpulan yang kusalin dari bahasan pagi ini, "Kita akan bersemangat menjalankan tugas-tugas kita di mana saja, termasuk di tempat kerja kita masing-masing jika mau mengubah mindset. Mindset tersebut adalah "Sent by God".
Setelah mindset baru terbentuk, maka akan membuahkan perilaku baru. Dengan memahami kata kunci itu kita akan memandang dan menjalani hidup dengan cara pandang, sudut pandang, dan sikap baru.


hours

#catatanfas_07102016

My Dancing Words

Senin, 03 Oktober 2016



Writing is not only about the words, it's about our soul, heart, and worlds. Our writing  is powerful when we are using feelings and mind works together.

I can't write happiness's  theme when my mood is lowered. I feel like lying to myself even though I knew the rules of happiness.  Big difference when  I am happy. My fingers dance without ordering. They are working themselves. I am sure, my feeling throughout their heart while reading it.

Happiness is the essential thing of life. Without happiness, the world is just a place without melody and sunshine. But, mostly people don't know what is happiness. How to build up and create it?

People are always worried about what's happening next. They are often finding it difficult to stand still, to occupy the now without worrying about the future. People are not generally satisfied what they have; they are very concerned what they are going to have. That's the reason why happiness difficult to capture it. Happiness is the present times. It's not about tomorrow, but now.

Happiness is creativity without limit. We should live beyond our soul to research what gives to us since born. The God gives us treasures and orders the human to follow the path and find the way for listening murmured of guidance. We called it Love. 

We are feeling emptiness and trying to fill it. There's something missing and we knock on spirit of door for awakening. Happiness is combining with bad and good condition along the journey to find the answers. It looks like sunshine and raining. Without them, the plant will not grow. Without them, the rainbow will not existed. So, happiness is the art and qualities of human senses and skill. It's balanced by heart, mind, and body.

Mostly people thinking they will be happy when their dreams come true.  When they get married,  wealthy, and etc. The moment they pursue it, the soul is still empties.  The material or others can't make them happy, they are feeling disappointed and started to find the answers. What's wrong?

I was demanded before. I feel the world  is unfair. My life was so terrible. At last, in my lowest condition, God gave me the answer. How come?

I have read before,"Suffering make people energizing hundred times than normal times."
That's the reason I was surviving and finding what is the meaning of happiness. Happiness existed when we are realized as human beings, not only physically but spirituals too. Suffering is the moment I could recognise my other powerful side.

Nothing is impossible when HE helps and love us. He has thousands of ways and sometime we call it coincident.

Nothing is coincident in the world. Everything happens by reason and design. When our awareness are working, we will easily feel and see His Love and Power working along the journeys.

So, only grateful and graceful should fill our days. Grateful can make happiness. We should try to accept and love ourselves, path, and people around us without a reason. That is the one and only way to the peaceful life. #catatanfas #learningbywriting
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS