Pages

Mendadak Mak Comblang

Senin, 31 Oktober 2016


Pernah berperan sebagai perantara kedua belah pihak yang sedang cari pekerjaan atau pasangan? Saya pernah beberapa kali dan endingnya Alhamdulillah  mereka sukses bekerja atau pun  menikah dengan gembira. Ikut gembira dong pastinya?  Bukan gembira, cuman bahagia saja karena bisa menjadi jalan bagi kebaikan hidup orang lain meskipun juga ada suka dukanya.

 Beda ya gembira dan bahagia itu? Jelas beda. Gembira itu saat kita mendapatkan kesenangan dari luar diri dan sifatnya sementara. Sedangkan bahagia itu melalui proses pencarian dalam batin  sehingga menemukan keseimbangan di saat kenyataan tak sesuai harapan. Sifat kebahagiaan itu permanen karena merupakan kekayaan batin yang tak akan habis sekalipun dibagikan.

Jadi begini ceritanya mengapa kok mendadak mak comblang....

Entah karena  alasan apa yang membuat beberapa orang datang dan meminta tolong untuk dicarikan kerja/pekerja. Beberapa lagi juga sama. Datang untuk minta tolong dicarikan kenalan untuk teman hidupnya. Ladalah, mendadak mak comblang ceritanya. :-P :-D

Bakat terpendam ini, yaelah segitunya, hahaha...mulai terlihat sejak SMA. Masa itu pak lik saya yang kerja di luar pulau menggunakan lagu rayuan pulau kelapa untuk mencarikan jodoh untuknya. Maklum pak lik saya ini orangnya selain ganteng juga tidak pernah pacaran. :-D Jadi alhasil sebagai ponakan yang pengen balas budi dan baik hati #uhuuk kami ( saya dan mbak ) mencoba mengenalkan dan menghubungkan dengan orang yang kemungkinan cocok jadi pasangannya.

Mbak yang pertama mengenalkan belio dengan temannya. Entah karena Mbak yang tidak mewarisi bakat ibuk dalam hal percomblangan, ngomong opo iki, hahaha..setelah sekian lama menjalin LDR lewat surat menyurat; masa itu boro boro telepon seluler, telepon rumah saja belum masuk ke desa, mereka tak jadi ke pelaminan. Maka selanjutnya saya yang berusaha mencarikan jodoh. Bukan lewat rubrik jodoh di koran koran yang pada masa itu ngetrend lho ya...:-D entah dapat bisikan dari mana kok malah sahabat satu kelas yang coba saya "bribik" untuk saya jadikan bulik. 

"Ndilalah" kok sahabatku itu mau. Setelah setahun tunangan akhirnya mereka menikah dan anak sulungnya kini sudah masuk  kuliah saja padahal seperti baru kemarin kejadiannya. Mau tak mau ternyata saya sudah tua ya? :-D :-P


Pasangan lainnya yang Alhamdulillah juga nampaknya akan mengikuti jejak paklik saya adalah dua orang yang secara fisik belum pernah ketemu tetapi kenal di dunia maya.  Ternyata di éra yang serba canggih ini masih ada yang menggunakan cara konvensional untuk menemukan jodohnya. Secara GPS sudah ada kenapa pula mesti minta tolong orang lain coba? Hahaha...

Dua tahun lalu ia berkata,"Mbak, tolong dicarikan kenalan biar segera mengikuti jejakmu." Jejak  di sini maksudnya sebagai wanita yang sudah sekian tahun jadi single parent dan ketemu pasangan lagi. Secara kebetulan nasib kami berdua  sama. Pas kebetulan dalam waktu yang bersamaan juga ada dua sahabat pria yang juga minta dicarikan kenalan. Begitulah cara jodoh saling menemukan. Ketika si pria pertama belum membuatnya sreg karena tak sesuai kriteria, pria kedua yang juga sudah lama menjomblo dengan dua anak itu menjadi target berikutnya. Target? Kek bisnis MLM saja...:-D

Lhaa emang mirip sih sistemnya dengan MLM. Kalau ini profitnya bukan nominal melainkan bertambah jaringan paseduluran.

Dua tahun setelah mereka mengalami hubungan yang naik turun, pas naiknya sih jarang tahu, kalau pas turun saya dicolek colek...hihihi..begitulah resikonya, meskipun paiit harus tetap disesap seperti kopi; mereka sepertinya beberapa hari yang lalu sudah ketemuan.

Kok sepertinya? Iyaah, Karena secara kebetulan saya melihat profile si pria (yang sejak mereka jadian demi kenyamanan saya unfriend ) lewat di beranda dan memakai foto mereka berdua. Setelah saya lihat dindingnya, ternyata teman perempuan ini memang sudah balik dari seberang. Syukurlah jika pada akhirnya sang waktu berpihak dengan mereka. 

Mungkin  memang seperti inilah nasib orang yang mendadak mak comblang. Saat mereka telah menemukan muara bahagia kita mesti belajar legawa untuk dilupakan begitu saja.  Dan semoga saat kehidupan lagi turun mereka atau salah satunya tidak menyalahkan saya. Karena bahagia atau tidaknya hubungan rumah tangga bukan siapa yang mengenalkan, melainkan bagaimana kita menjaga cinta dan keseimbangannya.

Coretan akhir oktober ini sebagai pelepasaan rasa biar tetap syalalalala. Oktober sepertinya memang bulan yang penuh dengan keadaan yang menjadi bahan untuk menguatkan jiwa. Selamat tinggal Oktober, selamat datang November, semoga rezeki semakin meluber! #catatanfas


Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS