Pages

Menerima Sepenuh Jiwa

Jumat, 07 Oktober 2016





When God Made You"
(with Natalie Grant)

It's always been a mystery to me
How two hearts can come together
And love can last forever
But now that I have found you, I believe
That a miracle has come
When God sends the perfect one
Now gone are all my questions about why
And I've never been so sure of anything in my life

[Chorus:]
I wonder what God was thinking
When He created you
I wonder if He knew everything I would need
Because He made all my dreams come true
When God made you
He must have been thinking about me

I promise that wherever you may go
Wherever life may lead you
With all my heart I'll be there too
From this moment on I want you to know
I'll let nothing come between us
And I will love the ones you love

[Bridge:]
He made the sun He made the moon
To harmonize in perfect tune
One Can't move without the other
They just have to be together
And that is why I know it's true
You're for me and I'm for you
'Cause my world just Can't be right
Without you in my life

[Tag chorus:]
He must have heard every prayer I've been praying
Yes He knew everything I would need
When God made you
When dreams come true
When God made you
He must have been thinking about me

Saat sedang melow dan dengar lagu di atas, rasanya seperti diayun-ayun, syahdu dan mengena banget. :-D Terlebih setelah mendengar pembukaaan kalimat pak Arvan sebagai  nara sumber acara yang kutunggu-tunggu tiap Jum'at pagi ini, rasanya pagi yang semula mendung langsung pengen bersenandung.

"Kita ini diciptakan dengan sangat sempurna, detail, dan istimewa. Tetapi sebagian besar masih bertanya-tanya "Mengapa aku Tuhan." 

 Demanding banget, khan? Aku dulu juga begitu...*tutup muka

Oke lanjut, bahasan Smart Happiness bareng mbak Olla dan Pak Arvan Pradiansyah yang secara rutin saya ikuti pagi ini memang pas banget dengan sikon yang lagi ku alami. Sehari kemarin melow dan tamu bulanan tidak bisa dijadikan alibi lagi. Nyeseknya tuh tambah lagi karena sadar ada yang salah dengan diri sendiri.  Apakah ini kebetulan? Big Noo! Setiap kali bad mood atau mengalami situasi yang tak menyenangkan begitu ujug-ujug nemu artikel atau bahasan yang nyambung dengan sikon, saya mengartikan atau berkhusnudzon yang begini ini cara Allah memeluk dan menunjukkan cinta-Nya.

Pola dan tanda-tanda yang terus terulang ini  pada akhirnya membuat suami yang semula hanya melihat hidup  dari kaca mata orang tehnik semata mulai menyadari bahwasanya hidup ini sangat luas dan tidak bisa diatasi dengan logika dan hal hal yang sifatnya kasat mata belaka . Ada sisi sisi yang mesti menggunakan rasa dan kepekaaan nurani kita. Bahwa setiap hal terjadi dengan maksud dan tujuan tertentu, pun dengan kelahiran kita di dunia. Dengan menemukan kehendak Tuhan maka segala sesuatu bisa kita terima dengan legawa.

Kunci itu yang membuat kami belajar legawa dan "manut" kehendak sang pencipta atas hidup kami. Kami rela LDM untuk sementara waktu. Pasangan mana sih yang punya cita-cita jauh dari suami atau istrinya? Saya yakin tidak ada. Dan kami sadar pilihan ini akan memiliki konsekuensi dan tak luput dari berbagai persoalan.

"Yah, terkadang Amy péngin banget menjelaskan ke mereka mengapa kita memilih cara ini. Jujur Amy capek disalah-salahkan dan disudutkan. Tapi kalau dipikirkan lagi, apa gunanya orang lain tahu, toh yang terpenting kita berdua sama-sama ridho atas pilihan dan komitmen yang sudah kita sepakati bersama." Curhatku beberapa hari yang lalu dalam obrolan malam saat membicarakan masalah yang tengah kami hadapi.

"Nggak usah My....untuk apa orang lain tahu? Biarkan saja mereka dengan pikiran mereka sendiri. Semua nggak ngefek bagi ayah. Menceritakan sama halnya mengurangi nilai dari apa yang kita niatkan. Ini hidup kita. Kita yang menjalani dengan segala konsekuensinya."

Mendengar jawaban suami, seperti biasa adêm lagi pikiran. Sejak awal saya memang sudah minta ijin untuk tetap bekerja sementara waktu karena masih ada janji dan tanggung jawab terhadap keluarga.  Di sisi lain, pasti ada rasa bersalah juga dengan anak-anak, terlebih Kresna yang sejak usia dua tahunan sudah kutinggalkan untuk bekerja.

Memang tidak mudah berada di posisiku. Dan semenjak suami hadir dalam kehidupanku, ucapan  seorang karib terbukti,"Percayalah suatu saat nanti kamu akan temukan seseorang yang benar benar tulus mencintaimu dan menerimamu apa adanya. Kamu akan merasakan kebahagiaan yang semestinya."

Begitu pun dengan Kresna. Ia dengan caranya sendiri juga memahami posisi dan tanggung jawab ibunya. Meskipun semua itu tak serta merta membuatku merasa tenang dan tak punya rasa bersalah. Menjadi ibu itu ternyata tak mudah. Jadi ingat bagaimana dulu sering protes dengan almarhumah ibu. *Maafkan Buuu...ternyata menjadi ibu itu selalu merasa tak sempurna, tak cukup baik,  meskipun anak tak pernah menuntut kesempurnaan dan tulus menerima apa adanya, Namun tetap saja sebagai working mom rasa bersalah itu ada.

Setiap kali rasa bersalah itu datang, biasanya ia kuajak ngobrol dan secara tidak langsung ingin tahu pikirannya dengan  memberi pertanyaan;
"Kamu marah nggak, Nak, ibu kerja?"
"Nggak."
"Beneran nggak kecewa atau merasa kurang kasih sayang dan perhatian?"
"Nggak kok Buk. Kan ada Akung dan yang lainnya."
"Ibuk berdosa kalau sampeyan marah. Syukur kalau kamu bisa ngerti. Maafkan ibuk ya, sayang"

Secara mental Kresna memang lebih matang dari usianya yang baru sepuluh tahun. Sebagai produk broken home  Ia tumbuh dengan keceriaan dan perkembangan yang bahkan jauh di atas rata-rata teman sebayanya. Nilai akademis, perilaku, dan mengajinya lancar-lancar saja. Hal ini membuat ibunya tak begitu kuatir atas dirinya. Sepertinya ia terlahir memang  untuk menjadi sosok yang kuat dan menguatkan. Selalu ada hal yang tak terduga terlontar dari pernyataan atau sikapnya. 

Dulu banget, awal-awal ayahnya ( mantan ) pergi meninggalkan kami tanpa kabar, ia yang masih berusia dua tahun ujug-ujug sambil nangis mengusap air mata ibunya sambil ngomong,"Jangan nangis Ma. Tidak ada papa tak apa-apa. Jangan nangis-nangis lagi..." ( dulu ia mmemanggil ibunya mamah, kemudian seiring waktu memanggil Ibuk ).

Di lain waktu ia juga tampil sebagai pelindung ibunya ketika ada yang nyeletuk  atas keadaan kami. Pernah dalam suatu acara di tetangga, ada seseorang yang  entah sadar atau tidak ngomong,"Kresna tidak punya bapak."
Tanpa diduga ia berdiri sambil berkacak pinggang,"Aku nggak punya bapak ora popo."

Setiap kali mengingat moment moment itu dan keajaiban demi keajaiban sehingga bisa keluar dari masa-masa pahit , rasanya tak pantas diri ini berkeluh kesah atau larut dalam kesedihan. Masalah terasa mengerucut dan tak lebih sebagai bumbu semata. Semua yang tengah kami alami memang sudah menjadi cara dan jalan terbaik untuk menemukan makna dan jawaban hidup yang sesungguhnya. 

Diriku yang sedari kecil merasa hidup ini tak adil dan bertanya, "Di mana keadilanmu, Tuhan?" Lewat kehadiran suami, Kresna, dan jiwa jiwa yang tulus menguatkan pada akhirnya menemukan betapa berharga dan maksud istimewa diri ini dilahirkan ke dunia. Sungguh tak ada yang sia-sia, sekecil apa pun kejadian semua ada kehadiran-Nya.

Setiap orang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Dilahirkan untuk menjadi perpanjangan tangan Tuhan agar impian dan hidup orang lain dimudahkan. Hal ini  yang kami simpulkan dan rasakan sejak hidup bersama. Sebagai dua orang yang suka bekerja, kami memiliki kebutuhan untuk bermanfaat dan bermakna. Bekerja membuat kami bahagia.

 Seperti kesimpulan yang kusalin dari bahasan pagi ini, "Kita akan bersemangat menjalankan tugas-tugas kita di mana saja, termasuk di tempat kerja kita masing-masing jika mau mengubah mindset. Mindset tersebut adalah "Sent by God".
Setelah mindset baru terbentuk, maka akan membuahkan perilaku baru. Dengan memahami kata kunci itu kita akan memandang dan menjalani hidup dengan cara pandang, sudut pandang, dan sikap baru.


hours

#catatanfas_07102016

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS