Pages

Merayakan Perbedaan

Jumat, 28 Oktober 2016


Perbedaan itu niscaya. Kita diciptakan dengan berbagai perbedaan agar saling melengkapi, kaya sudut pandang, dan kaya pemahaman. Sayangnya sebagian orang entah mengapa sangat anti dengan perbedaan sehingga berusaha memerangi yang berbeda agar supaya semua seragam dengannya.

Mungkin mereka yang anti perbedaan itu perlu sesekali piknik  dan tinggal di negara yang homogen agar paham betapa menjenuhkan dan bosannya hidup dalam satu bahasa, warna kulit, dan tradisi yang sama. Beberapa kali saya pernah ke Tianjin dan Beijing, China. Tinggal sampai hampir sebulan di sana. Berada di antara mereka seperti berada di kerumunan robot. Kaku dan dingin. Waktu terasa melambat, tak ada keindahan yang bisa dirasakan kecuali kebosanan.

Dilahirkan menjadi orang Indonesia itu rahmat luar biasa. Dengan keanekaragaman suku, bahasa, dan budaya kita menjadi manusia yang penuh daya cipta dan daya guna.

Di luar negeri, orang Indonesia akan sangat mudah beradaptasi dengan budaya setempat dan mudah mempelajari bahasanya karena secara alami sudah memiliki kemampuan dan ketrampilan luar biasa dalam menyikapi perbedaan.

Setiap kali ada yang bertanya,"Mengapa orang Indonesia mudah belajar bahasa kami, sedangkan orang dari negara lain mengalami kesulitan?"

Dengan bangga saya  menjawab,"Karena bahasa kami memiliki kesulitan yang lebih tinggi dan lebih kaya kosakata, maka bahasa kalian menjadi hal yang mudah dipelajari."

Jangankan dengan orang lain, mereka yang terlahir kembar saja pasti memiliki perbedaan, bagaimana mungkin yang jelas terlahir dari ibu, daerah, dan suku yang berbeda mau dibuat sama? Bukankah justru yang berbeda itu unik dan menjadi ciri khas yang membuat kita istimewa?

Belajar perbedaan dimulai dari diri sendiri. Dengan belajar menemukan perbedaan dan menerimanya kita akan mudah bertoleransi dan berdamai.

Saya belajar perbedaan sedari kecil. Secara kebetulan hidung saya memiliki bentuk yang unik dan beda sehingga menjadi bahan bully teman-teman sepermainan dan sekolah. Keadaan itu membuat saya bertekad tidak mau sama dengan mereka. Saya membalas olokan mereka dengan prestasi di sekolah. Saya berteman dengan buku-buku di perpustakaan dan mencoba mencari jawaban,"Mengapa saya berbeda, Tuhan?"

Ternyata maksud Sang Pencipta menciptakan perbedaan itu agar saya menggali lebih dalam dan menemukan apa kehendak-Nya. Semenjak saya sadar bahwa secara fisik tak cantik dan memiliki "kelebihan" semangat untuk belajar dan mencari membara di dada. Itu salah satu alasan mengapa saya tertarik dengan ilmu ilmu pemgembangan diri.

Sebelum mampu menerima orang lain  apa adanya, hal pertama yang harus ada adalah belajar berdamai dengan diri sendiri. Dengan memiliki kesadaran tentang siapa diri, Who Am I , kita akan mampu berkata, "Aku menerima diriku apa adanya, karena aku yakin Tuhan tidak pernah salah menciptakan hamba-Nya. Tidak perlu iri atau membandingkan diri dengan orang lain, ya, karena setiap orang terlahir dengan masing-masing keunikannya dan hanya satu-satunya di dunia. Percaya diri saja!"

Percaya diri bukanlah soal tehnik semata, melainkan lebih kepada menguatkan pemahaman yang baik tentang nilai-nilai kehidupan yang membuat diri berguna dan bahagia. Memahami siapa diri dan apa peran kita terlahir ke dunia."

Apakah PD itu datang serta merta? Tidak. Kita butuh proses yang panjang dan melelahkan untuk meraihnnya. Kita butuh mengalami banyak hal untuk menemukan kelemahan, kekurangan, dan kelebihan diri sebagai media pembelajarannya. Kita akan mengalami banyak rintangan, melakukan banyak kesalahan, tetapi semua hanyalah bagian proses yang mesti kita lewati untuk menumbuhkan kekuatan jiwa.

Saya dulu minder luar biasa dalam
penampilan fisik. Saya selalu merasa diri tak memiliki daya tarik karena tidak cantik. Seiring waktu saya sadar kecantikan wanita dan daya tarik wanita itu tak melulu soal fisik semata. Kecantikan bisa dibangun lewat kepribadian, kecerdasan, dan terlebih lagi dari dalam. Selama kita mampu menjaga kebersihan hati, kejernihan pikiran, dan sikap; tanpa diminta kecantikan akan terpancar dengan sendirinya.

Berbagai hal keadaan yang berbeda akan membawa kita pada keindahan dan keajaiban hidup. Terlebih sejak menikah dengan suami yang berbeda suku, karakter, dan budaya; makin warna warni dan indah perjalanan yang ada.

Perbedaan bukan sesuatu yang perlu dihindari. Justru dari perbedaan kita akan menemukan keseimbangan untuk mencapai tujuan.   Mari kita rayakan perbedaan dengan syalalalala. Dengan spirit sumpah pemuda,  saya buat sumpah atau janji kepada sendiri untuk merayakannya agar senantiasa ingat bahwa belajar menerima perbedaan itu akan mudah selama memiliki persamaan nilai yang diperjuangkan bersama.

Kami adalah dua jiwa yang terlahir menjadi satu, oleh rahim cinta dan ruang waktu.

Kami adalah dua jiwa yang berjanji dan bertujuan satu, mencari Ridho-Mu.

Kami adalah dua jiwa yang bersumpah saling mendengar dan  berbahasa satu, bahasa kalbu.

#catatanfas_28 Oktober 2016
#sumpahkamiberdua
#spiritsumpahpemuda

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS