Pages

Sebagai Ibu, Apa Yang Bisa Kubanggakan?

Selasa, 29 November 2016



Beribu kisah mengukir dinding. Menggelindingkan tangisan, tawa, canda yang menyuling jiwa-jiwa suci menuju perapian hati  matahari. Cahaya berpendar di langit-langit, menghujani setiap sudutnya dengan  kasih sayang abadi​​​​​​. ( FAS )

Bangga menjadi ibu? Sepertinya tak ada satu pun hal yang bisa aku banggakan atas diriku sendiri semenjak menjadi ibu. Terlalu banyak kekurangan dan hal yang mesti terus dipelajari dan perbaiki untuk sampai pada taraf bangga. Menjadi seorang ibu selalu merasa kurang baik, kurang sempurna, kurang maksimal, dan yang pasti masih sangat kurang stok sabarnya.

Jauh sebelum melahirkan Kresna, aku sudah menjadi ibu, tepatnya dipanggil ibu oleh anak perempuan orang lain. Anak perempuan  suami ( sekarang mantan ). Pertama dipanggil ibu rasanya péngin menjerit dan berkata,"pleasee, jangan panggil aku ibu!"

Naif bangêt ya? Hahaha.. begitulah dilema awal menjalani peran sebagai ibu. Ternyata menjadi ibu yang sesungguhnya  benar-benar tak mudah. Banyak pelajaran yang benar-benar tak terpikirkan sebelumnya.

"Apa sudah kamu pikiran baik-baik keputusananmu itu? Menjadi ibu tiri tidak mudah. Jadi ibu atas anak sendiri saja belum tentu semua orang bisa. Bagaimana mungkin kamu yang masih gadis bisa menjalani peran ibu?"

Pernyataan dan pertanyaan yang diungkapkan bapak sebelum aku menikah dulu ternyata benar adanya. Ketika aku tak bisa mendandani gadis kecil itu dengan ekor kuda misalnya, suara-suara tak menyenangkan sudah berdengung seakan aku ini orang jahat.  Secara, aku yang tak suka dandan dan apa adanya memang tak akrab dengan soal jalin menjalin rambut dan semacamnya.

Bermula dari hal-hal sepele itu rasanya hari-hari perdanaku "mendadak ibu" seperti kawah candradimuka. Ibu mertua dan ipar yang ajaib semacam jadi juri yang terus mengawasi dan menilai gerak gerikku sebagai ibu.

Sampai kemudian hamil Kresna dan melahirkan dengan caesar karena ketuban beracun. Momentum yang nyaris membuat nyawa kami tak terselamatkan karena keluarga suami tak mengijinkan dibawa ke rumah bersalin setelah sekian jam berkutat dengan sakit di bidan desa. Beruntung di detik terakhir suami mau tanda tangan dan menyetujui operasi. Meskipun dengan resiko semakin tak disukai.

Memiliki anak sendiri ternyata berbeda. Bayi yang selama 9 bulan lebih berada dalam kandungan seakan membuatku menjadi manusia baru. Naluri menjadi kuat, insting apalagi. Seperti di hari pertama ia lahir.  Tengah malam ada suara tangisan dari ruang bayi. Meskipun setelah operasi dan sampai menunggu obat bius pengaruhnya hilang belum sempat menggendong dan melihat wajahnya, aku yakin suara tangisan itu anakku. Saat kukatakan pada suami dan mertua, mereka bilang aku mengada-ada.

Ternyata feelingku benar. Sesaat kemudian suster mengabarkan kalau bayi kami mesti dibawa ke rumah sakit umum karena mengalami radang dan harus segera dilakukan tindakan, sementara rumah bersalin tak memiliki peralatannya.

Belum juga kami sempat bertemu keadaan memaksa untuk berpisah dan baru pada hari kelima bisa memeluknya.  Sepertinya, secara alami Kresna memang sudah dilatih "puasa" karena pada perjalanan berikutnya ia memang mesti jauh dari ibunya selama bertahun-tahun.

Menjadi ibu adalah belajar menemukan kekuatan yang tak terduga, belajar menghadapi kecemasan dan ketakutan yang belum pernah ada. Menjadi ibu membuat batin lebih peka, daya juang berlipat ganda. Terlebih jika tiba-tiba mesti mengalami keadaan yang bikin trauma. Saat baru dua tahun menjalani peran sebagai ibu dengan penuh dinamika, lelaki yang semestinya menjadi tiang dan pelindung kami berdua menghilang tanpa pesan.

Dunia terasa kiamat. Kemarahan, ketakutan, kecemasan, dan keputusasaan campur aduk menerpa jiwa. Namun ada satu jiwa yang lebih penting untuk dipikirkan dan diselamatkan dari pada meratapi kenyataan. Kekuatan cinta seorang ibu menjadi energi yang tak pernah kubayangkan untuk tetap kuat dan terus berjuang. Hasrat untuk melindungi, memberi penghidupan yang layak, tak memberikan ruang untuk terus menerus meratapi penderitaan.

Saat itu seorang bocah yang baru berusia dua tahun membuatku sadar; bahwasanya air mata bukanlah jawaban, bahwasanya meratapi seseorang yang tak lagi peduli bukan jawaban.

"Jangan menangis, Ma. Aku tak ada papa tak apa-apa!" Serunya seraya menangis sambil memeluk dan mengusap air mataku.

Hari ini bocah itu sudah berusia sepuluh tahun, empat bulan. Sudah delapan tahun badai itu berlalu dan berganti dengan pelangi yang menghiasi jiwa kami. Sebagai ibu, masih banyak hal yang belum bisa kuberikan untuk permata jiwa yang sudah demikian banyak mengajarkan makna kehidupan dan kebahagiaan. Ia yang senantiasa ceria membuat ibunya ketularan enteng di rasa menikmati perjalanan.

Sebagai orangtua terlebih ibu, dari anak-anaklah sesungguhnya kita belajar dimensi kehidupan yang mendasar. Jiwa mereka yang polos, hati mereka yang tulus, pikiran mereka yang masih jernih; mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang penuh cinta, kasih sayang, kepedulian, dan ketulusan. Jadi, apa yang bisa kita banggakan? #catatanfas



Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS