Pages

Titik Nol

Jumat, 21 Oktober 2016


Terkadang kita berpikir hidup sangat tidak adil dan benar-benar tidak menyediakan pilihan  sekedar celah untuk bergerak. Awalnya Aku pun berpikir demikian. Sepanjang perjalanannya aku selalu merasakan ketidakadilan selalu menjadi bagian dari nasibku, sampai aku dihempaskan dan ditempatkan pada berbagai keadaan yang membawaku pada pemahaman "Titik Nol" atau titik balik kehidupan.

Terlahir sebagai anak yang sering "merasa" diperlakukan beda karena terlahir tak sesuai harapan, membuatku tumbuh menjadi pribadi yang keras dan enggan kalah dengan lelaki. Aku ingin membuktikan terlahir sebagai perempuan tak kalah membanggakan dibanding anak lelaki seperti yang orangtua harapkan. Tanpa kusadari  Aku mulai memahat "dendam" itu sedari kecil. Aku selalu bermimpi ingin keliling dunia dan bertemu banyak orang. Cita-citaku satu,  ingin keluar dari rumah dan bebas dari rutinitas yang seakan tak memberi celah untuk menikmati masa kecil dan remaja. Menjaga warung sembako hingga kulakan merupakan kegiatan yang tak boleh absen sejak kelas tiga SD sampai SMA. *Masa-masa yang pada akhirnya ku sadari sebagai cara ibu mempersiapkan dan menempa diriku sebagai tulang punggung.

Sepertinya do'aku mulai terkabul sejak lulus sma. Dengan penuh keterpaksaan, lebih tepatnya tekanan, aku berangkat ke luar negeri. Umur belum genap 19 tahun. Terlempar jauh di negeri Arab membuatku seperti debu yang dibawa angin dan jatuh di padang pasir yang kering, semakin membuat jiwaku meranggas dalam kumparan dendam. Rasa tak pantas dicintai dan terbuang membuatku semakin sedih dan sakit hati.  Sudah pasti aku menggugat, mengapa mereka tega memintaku pergi dengan alasan dami masa depan keluarga, tanpa pernah sedikit pun bertanya kemauanku sebagai anak.

"Di mana keadilanmu, Tuhan? Mengapa harus aku, apa salahku?!" Gugatku berulang kali. Aku terus meraba-raba dan tak henti mencari keadilan. Jiwaku rapuh dan luluh, begitu banyak pertanyaan dan kenyataan yang tak sanggup aku hadapi.

"Aku ini anak siapa, Bu?!" 

Begitu  dulu pertanyaan yang sering terlontar setiap kali perlakuan tak adil ( menurutku) aku terima. Pertanyaan konyol yang akhirnya terjawab saat aku berada puluhan ribu mill dari ibu.

Hari itu aku sudah benar-benar di ujung keputusasaan atas keadaan. Penderitaan yang aku rasakan selama tiga belas bulan di negara terkaya dunia itu membuatku menyerah. Entah sudah berapa kali aku ingin loncat dari lantai dua dan melarikan diri. Tetapi selalu aku  urungkan karena memikirkan kemungkinan selamatnya hanya sekian persen.

Di titik itu, antara keputusasaan dan penderitaan; kurang makan, mendapatkan pukulan, sampai cuaca ekstrim yang membuat hidung setiap hari berdarah, aku seakan mendengar suara ibu meminta dan menyuruh pulang. Masa itu, tahun 1996/1997,  kami hanya bisa terhubung dengan surat, itu pun harus menunggu dua atau tiga bulan. Dan ternyata hubungan batin seorang ibu dan anak benar tak terpisahkan oleh ruang dan waktu. Aku yakin ibu merasakan apa yang aku rasakan. Di titik ini pertanyaan konyolku dan gugatanku mulai mendapatkan jawaban. Setiap ibu pasti mencintai dan sayang dengan anaknya, meskipun caranya seringkali tak sesuai keinginan, aku akhirnya mengerti sudah sesuai dengan wadah dan kebutuhan.

Hari itu dengan tekad kuat setelah mengatakan pada pada diriku sendiri, terus di sini sia-sia atau berjuang apa pun resikonya, aku nekat mengambil perjanjian kontrak yang selama ini dijadikan mereka alasan  untuk menahan dan tak mau memulangkan.  Bahkan demi menahanku, uang gaji langsung dikirimkan ke keluarga. Setelah aku ambil dari kamar yang biasanya mereka kunci dan hari itu lupa  maka kubakar surat itu.

Mereka baru menyadari kecolongan setelah keesokan harinya aku minta pulang dan masih menolak dengan alasan dalam perjanjian kontrak masa kerjaku dua tahun. Kutantang mereka untuk menunjukkan mana suratnya. Setelah menyadari kalau surat itu sudah tak ada, cambukan dan tendangan yang berakhir dengan dikuncinya aku dalam kamar mandi menjadi hadiah yang mesti ku terima untuk memperjuangkan kebebasanku.

Dalam ruangan sempit itu hidup matiku aku pasrahkan kepada Allah. Aku menyadari semua itu karena kesalahanku selama ini terhadap ibu. Dalam kepasrahan aku terus berdo'a dan memanggil ibu.

Di hari ketiga, aku tidak akan lupa hari itu hari kamis, mereka membuka pintu dan menyuruhku bersiap-siap untuk ke bendara. Aku tidak lagi memikirkan bagaimana nantinya, yang terpenting aku bisa pulang. Titik yang membuatku begitu lega dan mensyukuri betapa sang pencipta masih memberiku kesempatan untuk pulang dan meminta maaf ke ibu. Kesempatan untuk menebus salah-salahku terhadap beliau.

Kepualanganku itu ternyata memang menjadi kesempatan terakhirku bertemu beliau. Setelah sebulan di rumah, aku kembali memutuskan kerja ke Hong Kong.

"Kamu kerja buat sekolah adik-adikmu dan biarkan mbakmu di rumah membantu ibu menjaga mereka." Pesan ibu sebelum berangkat yang akhirnya menjadi wasiat karena dua minggu begitu aku kerja di Hong Kong ibu dipanggil yang Maha Kuasa. Ibu berpulang dengan meninggalkan adik bungsu yang masih usia dua tahun. Tiga yang lainnya baru 10, 12, dan 15 tahun.

Kepulangan ibu meninggalkan rasa sesal dan berbagai rasa yang tak bisa diungkapkan. Kepulangan yang mengubah seluruh pandanganku tentang beliau dan menemukan kesadaran mengapa aku dulu di didik begitu keras. Ternyata semua seakan sudah dipersiapkan agar aku kuat menghadapi kerasnya kehidupan.

Dengan tanggung jawab yang tak ringan dinamikanya sungguh luar biasa.  Masa-masa yang demikian sulit, sakit, dan panjang itu sudah delapan belas tahun berlalu. Si bungsu kini sudah semester lima. Demi menjaga dan menuntaskan amanah serta janji, maka apa pun resikonya sampai detik ini aku masih bekerja. Beruntung suami mau memahami posisiku sehingga beliau mengijinkan.

Masa dimana aku menggugat hak dan keadilan terhadap Tuhan itu membuatku paham, semakin keras aku berteriak, semakin keras kehidupan menamparku. Aku dilemparkan sampai ke dasar, dimana aku benar-benar berada di titik nol. Titik terendah yang membuatku pasrah dan berkata,"oke deh, Tuhan. Hamba pasrah. Sekehendak-Mu saja. Hamba manut."

Dan sepertinya  Tuhan tersenyum melihat kekerasan hati dan kepala ini meleleh, makanya sejak kesadaran itu k u jaga, aku terus dipeluk-peluk Nya.  Aih, konyol benar masa-masa itu. Puluhan tahun membuang waktu untuk menuntut hak dan keadilan, sementara siapalah diri ini? Sungguh tak tahu diri benar, sedang apa-apa yang kini ada semua hanyalah titipan semata. Nafas dipinjamkan oleh-Nya. Jiwa raga milik-Nya. Hak mana yang mau kita tuntut?
#catatanfas

Tulisan ini untuk menjawab ajakan mbak Inda Chakim untuk menuliskan momen yang tak terlupakan. Meskipun banyak banget momentum yang tak terlupakan, momen di Arab merupakan yang paling. berkesan karena menjadi titik awal jawaban tentang kehidupan. Terimakasih ajakannya, Mbak. Semoga bermanfaat.

Tulisan ini diikutkan dalam Irawati Hamid First Giveway "Momen Yang Paling Berkesan & Tak Terlupakan."
Si bungsu yang sekarang semester lima
Bapak yang tetap setia sampai tua bersama ke-enam anak dan cucu-cucunya

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS