Pages

Sebagai Ibu, Apa Yang Bisa Kubanggakan?

Selasa, 29 November 2016



Beribu kisah mengukir dinding. Menggelindingkan tangisan, tawa, canda yang menyuling jiwa-jiwa suci menuju perapian hati  matahari. Cahaya berpendar di langit-langit, menghujani setiap sudutnya dengan  kasih sayang abadi​​​​​​. ( FAS )

Bangga menjadi ibu? Sepertinya tak ada satu pun hal yang bisa aku banggakan atas diriku sendiri semenjak menjadi ibu. Terlalu banyak kekurangan dan hal yang mesti terus dipelajari dan perbaiki untuk sampai pada taraf bangga. Menjadi seorang ibu selalu merasa kurang baik, kurang sempurna, kurang maksimal, dan yang pasti masih sangat kurang stok sabarnya.

Jauh sebelum melahirkan Kresna, aku sudah menjadi ibu, tepatnya dipanggil ibu oleh anak perempuan orang lain. Anak perempuan  suami ( sekarang mantan ). Pertama dipanggil ibu rasanya péngin menjerit dan berkata,"pleasee, jangan panggil aku ibu!"

Naif bangêt ya? Hahaha.. begitulah dilema awal menjalani peran sebagai ibu. Ternyata menjadi ibu yang sesungguhnya  benar-benar tak mudah. Banyak pelajaran yang benar-benar tak terpikirkan sebelumnya.

"Apa sudah kamu pikiran baik-baik keputusananmu itu? Menjadi ibu tiri tidak mudah. Jadi ibu atas anak sendiri saja belum tentu semua orang bisa. Bagaimana mungkin kamu yang masih gadis bisa menjalani peran ibu?"

Pernyataan dan pertanyaan yang diungkapkan bapak sebelum aku menikah dulu ternyata benar adanya. Ketika aku tak bisa mendandani gadis kecil itu dengan ekor kuda misalnya, suara-suara tak menyenangkan sudah berdengung seakan aku ini orang jahat.  Secara, aku yang tak suka dandan dan apa adanya memang tak akrab dengan soal jalin menjalin rambut dan semacamnya.

Bermula dari hal-hal sepele itu rasanya hari-hari perdanaku "mendadak ibu" seperti kawah candradimuka. Ibu mertua dan ipar yang ajaib semacam jadi juri yang terus mengawasi dan menilai gerak gerikku sebagai ibu.

Sampai kemudian hamil Kresna dan melahirkan dengan caesar karena ketuban beracun. Momentum yang nyaris membuat nyawa kami tak terselamatkan karena keluarga suami tak mengijinkan dibawa ke rumah bersalin setelah sekian jam berkutat dengan sakit di bidan desa. Beruntung di detik terakhir suami mau tanda tangan dan menyetujui operasi. Meskipun dengan resiko semakin tak disukai.

Memiliki anak sendiri ternyata berbeda. Bayi yang selama 9 bulan lebih berada dalam kandungan seakan membuatku menjadi manusia baru. Naluri menjadi kuat, insting apalagi. Seperti di hari pertama ia lahir.  Tengah malam ada suara tangisan dari ruang bayi. Meskipun setelah operasi dan sampai menunggu obat bius pengaruhnya hilang belum sempat menggendong dan melihat wajahnya, aku yakin suara tangisan itu anakku. Saat kukatakan pada suami dan mertua, mereka bilang aku mengada-ada.

Ternyata feelingku benar. Sesaat kemudian suster mengabarkan kalau bayi kami mesti dibawa ke rumah sakit umum karena mengalami radang dan harus segera dilakukan tindakan, sementara rumah bersalin tak memiliki peralatannya.

Belum juga kami sempat bertemu keadaan memaksa untuk berpisah dan baru pada hari kelima bisa memeluknya.  Sepertinya, secara alami Kresna memang sudah dilatih "puasa" karena pada perjalanan berikutnya ia memang mesti jauh dari ibunya selama bertahun-tahun.

Menjadi ibu adalah belajar menemukan kekuatan yang tak terduga, belajar menghadapi kecemasan dan ketakutan yang belum pernah ada. Menjadi ibu membuat batin lebih peka, daya juang berlipat ganda. Terlebih jika tiba-tiba mesti mengalami keadaan yang bikin trauma. Saat baru dua tahun menjalani peran sebagai ibu dengan penuh dinamika, lelaki yang semestinya menjadi tiang dan pelindung kami berdua menghilang tanpa pesan.

Dunia terasa kiamat. Kemarahan, ketakutan, kecemasan, dan keputusasaan campur aduk menerpa jiwa. Namun ada satu jiwa yang lebih penting untuk dipikirkan dan diselamatkan dari pada meratapi kenyataan. Kekuatan cinta seorang ibu menjadi energi yang tak pernah kubayangkan untuk tetap kuat dan terus berjuang. Hasrat untuk melindungi, memberi penghidupan yang layak, tak memberikan ruang untuk terus menerus meratapi penderitaan.

Saat itu seorang bocah yang baru berusia dua tahun membuatku sadar; bahwasanya air mata bukanlah jawaban, bahwasanya meratapi seseorang yang tak lagi peduli bukan jawaban.

"Jangan menangis, Ma. Aku tak ada papa tak apa-apa!" Serunya seraya menangis sambil memeluk dan mengusap air mataku.

Hari ini bocah itu sudah berusia sepuluh tahun, empat bulan. Sudah delapan tahun badai itu berlalu dan berganti dengan pelangi yang menghiasi jiwa kami. Sebagai ibu, masih banyak hal yang belum bisa kuberikan untuk permata jiwa yang sudah demikian banyak mengajarkan makna kehidupan dan kebahagiaan. Ia yang senantiasa ceria membuat ibunya ketularan enteng di rasa menikmati perjalanan.

Sebagai orangtua terlebih ibu, dari anak-anaklah sesungguhnya kita belajar dimensi kehidupan yang mendasar. Jiwa mereka yang polos, hati mereka yang tulus, pikiran mereka yang masih jernih; mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang penuh cinta, kasih sayang, kepedulian, dan ketulusan. Jadi, apa yang bisa kita banggakan? #catatanfas



Jangan Ada Blokir Di Antara Kita

Selasa, 22 November 2016

Mumpung masih dalam nuansa Hari Guru, bernostalgia dikit ke masa-masa sma.  Emang pernah sma?!

Enggaak..cuman numpang  rehat setelah kulakan saja kok di sma keren  itu. 😛😁

Sudah sekolah keren, tempat berkumpulnya anak- anak berprestasi sekabupaten ponorogo, kok ndilalah daku disuruh masuk ke kelas fisika pula. Apa coba namanya kalau bukan keberuntungan? 😍😍

Memiliki kesempatan belajar dengan mereka yang mayoritas jenius,  apalah  apalah  daku ini. Hal ini yang membuatku  merasa kadang  tak betah  karena setiap kali pelajaran, kecuali matematika dan kimia,  mata  rasanya sulit  diajak kompromi. Penginnya cepat-cepat istirahat  biar bisa lari ke  perpustakaan untuk berburu novelnya Mira W atau ngelayap ke kelas sosial atau biologi.

  Berada  di sana rasanya diriku merasa betah karena suasananya lebih cair.  Maka  tak heran jika setelah puluhan tahun berlalu, ketahuan kan berapa usianya? 😛 setelah ketemu lagi sama teman- teman sma, daku sering  membatin," jan jane kelasmu ndisik ki ngendi to, Yem? 😁

Beruntung beberapa teman masih meyakinkanku kalau daku ini dulunya kelas fisika meskipun tak ada satu foto pun yang membuktikan hal itu, sebagian dari mereka masih ingat,  "Farida Sayem" sebagai teman sekelasnya.  Itu pun setelah beberapa Farida yang lain diingat duluan.  Mereka ingat bukan karena prestasiku yang hanya  ngantukan  di kelas, tetapi lebih kepada nama julukan yang sejak  smp  dihadiahkan seorang  teman, mungkin  dengan maksud biar  daku bisa "Mingkem" 😁😛. Sayem.  Nama ini yang membuatku gampang diingat  teman-teman sekalipun ada beberapa nama Farida di dua kelas fisika.

Jika dikaitkan dengan ilmu branding, ternyata, sejak dulu daku secara tak langsung sudah mulai  memupuknya  tanpa sengaja. Karena begitu ingat nama Sayem,  otomatis pikirannya ke manusia yang tak bisa mingkem ini. 😛😛

Maka daku ya heran ketika mengetahui diblokir sama teman yang kebetulan namanya sama. Apa mungkin Untuk menghindari kesalahpahaman nama atau yang lainnya? Daripada mikir dan berprasangka, maka dengan akun lain daku meminta maaf padanya.  Dan alasannya karena merasa tidak kenal dengan nama akunku setelah sekian tahun berteman dan guyon. Sediih pastinya, terlebih lagi ia sobat dari masa remaja. Andai seiring waktu kami berbeda pandangan dalam banyak hal, tapi tidak beginìi..'*Sambil nyanyi

Tapi  ya sudahlah, bener kata sabahatku, "Nggak usah sedih jeng. Toh masih banyak sahabat yang lainnya."

Ternyata bener ya, seribu  sahabat memang tak pernah cukup.  Meskipun rasanya sayang kenapa mesti memutuskan tali silaturahmi.

Untuk seluruh sahabatku,  Mohon Maaf Lahir Batin, ya. Di dunia maya atau nyata, beginilah daku apa adanya.  Terima kasih bagi yang masih berkenan menjalin silaturahmi denganku.  😍😍😍😍

#catatanfas_27Nov2016

Dinamika Dalam Menjaga Tali Persaudaraan

Senin, 21 November 2016

Saudara dan persaudaran itu beda. Saudara adalah mereka yang ada pertalian darah, sementara persaudaraan adalah mereka yang terhubung dengan  hati dan perasaan kita.  Maka tak mengherankan kalau ada istilah saudara sendiri jadi musuh, sementara orang lain malah bisa menjadi saudara.

Dalam bersaudara kita tak bisa lepas dari konflik, kesalahpahaman,  pertengkaran, dlsb. Akan tetapi kalau kita bisa cepat kembali akur itu artinya kualitas persaudaraan kita baik. Sebaliknya, kalau dengan saudara atau saudara kita sendiri  tak mudah memaafkan dan terus menerus menyimpan ketidaksukaan, bisa jadi ada yang perlu diubah dari cara kita memaknai keadaan. Kita tidak bisa mengubah orang lain, tetapi kita bisa mengubah pikiran dan cara menyikapi keadaan demi ketentraman.

Kita bisa memaknai kondisi tersebut sebagai cara Tuhan untuk meningkatkan kualitas kita sebagai manusia. Saat orang lain baik ke kita dan kita baik kepadanya itu sudah biasa, khan? Akan berbeda kalau kita bisa tetap baik kepada orang yang tak baik kepada kita. Emang sulit sih untuk merealisasikannya, tetapi bukan kebaikan dan kebahagiaan namanya kalau mudah melakukannya. Seringkalinya jalan kebaikan memang terlihat sulit, berliku-liku, mendaki, dan penuh dengan rintangan. Maka hanya mereka yang terpilih dan mau memilih saja yang mampu melakukannya. #catatanfas

Melati Untuk Arumi

Kamis, 17 November 2016

Bunga melati di depan rumah. Warna dan aromanya adalah kerinduan yang tercurah. Membilas resah dan susah. Membalut luka yang pernah singgah. Fas

***

Senja kembali menyapa. Gelisah yang sempat terlupa oleh kegiatan di ladang seharian kembali singgah. Sambil menghisap rokok yang telah menjadi sahabatnya bertahun-tahun, pandangan Herman singgah di halaman. Di pojok selatan, di bawah pohon kelapa, serumpun kembang melati menguarkan semerbaknya. Bunganya yang putih, memanjakan matanya. Sesosok perempuan berdiri di bawah temaram senja.

"Beberapa bulan ke depan, rumah kita akan selalu berbau wangi jika senja datang, Mas. Dan anak kita akan merasakan nyaman akan aromanya yang menyegarkan," tutur wanita manis itu saat menanam kembang di halaman bertahun-tahun silam kembali terngiang di telinganya. Ada rasa yang menghujam di dada Herman. Sebentuk penyesalan yang kian menggunung, menghantam dadanya. Untuk seberapa lama, ia terbatuk-batuk.

"Kenapa lagi, Mas! Sudah berapa kali Asih bilang jangan merokok sambil melamun. Masih memikirkan wanita itu, ya?!"

Kemunculan istrinya yang tanpa peringatan sambil berkacak pinggang di depannya membuatnya gelagapan dan serba salah. Herman hanya menjawab dengan tatapan kosong. Sekosong jiwanya yang telah bertahun-tahun mati. Hidup serupa malam tak bertepi. 

Impian Arumi, wanita sederhana yang pernah menanam kembang melati di halaman dan jiwa Herman tidak pernah menjadi kenyataan. Rumah ini memang selalu berbau melati sejak bertahun-tahun silam. Namun kenyamanan tidak pernah terwujud sampai detik ini.

"Semua kesalahanku, maafkan aku, Arumi," batin Herman sambil menyesap aroma melati.

Suara jangkrik menandakan malam semakin tenggelam di peraduan. Di bawah cahaya bulan purnama, Herman melihat sesosok perempuan berbaju putih sedang memetik kembang melati. Di pelukannya , bocah lelaki berumur 3 tahunan menyematkan sekuntum melati ke telinganya. Di leher bocah itu, roncean melati melingkari, ada cahaya yang berkilauan dan harum semerbak terluar dari tubuhnya. Sesaat Herman melihat keduanya menoleh ke arahnya sambil melambaikan tangan.

"Arumi, Nakula, Tunggu...tungguu aku!" Namun keduanya melesat tanpa menghiraukannya. Herman berlari mengejar keduanya. Ia menyeberangi hutan jati, sungai, dan ngarai, namun keduanya semakin jauh meninggalkannya dan lenyap tak berbekas. Ia hanya ingin mengucapkan satu kata yang selama bertahun-tahun mengendap di sudut laranya.

Tiba-tiba sebuah suara yang sangat dikenalinya sayup-sayup menerpa telinganya. "Mas, kamu sudah siuman. Alhamdulillah."

"Aku di mana?"

"Mas di rumah sakit. Pak Bakri menemukan Mas pingsan di pinggiran hutan jati."

Herman ingat. Tempat yang dimaksud istrinya adalah tempat ia mengambil bibit bunga melati yang ia bawa pulang dan di tanam Arumi. 

Masihkah sesal ini berguna, Arumi?" Rintihnya dalam hati sambil menatap kosong  dinding putih yang seakan mengejek dan mengingatkan betapa gelap hidupnya.

#FAS, 12022015

Belajar Mencari Dan Menemukan Kunci

Jumat, 11 November 2016

Ketika masalah yang sama terus menerus terjadi dalam hidup kita, pikiran apa yang terlintas dalam benak?

"Mengapa harus aku?"
"Sampai kapan semua ini akan berakhir?"

Alih-alih bertanya,
"Apa yang mesti kuperbaiki?"
"Apa yang salah dengan diriku?"
"Bagiamana aku harus berubah?"

Sebagian dari kita malah terlarut dengan kalimat penenang diri,"Semua akan indah pada waktunya?" #eaaaa terus kapan indahnya kalau tak mau mencari dan mendefinisikan keindahan hidup itu seperti apa?

Baiklah..baiklah..bisa dimaklumi kalau kalimat penenang itu bisa membuat kita seperti kecanduan sehingga setiap kali membutuhkan, menelan dan menelannya lagi. Hiks...menelan terus, kapan mengunyahnya? Hahaha...

Sudah ah..Mau ngomong apa to ini sebenarnya? Nggak sih, cuman mau ngomongin kesalahanku sendiri saja.

Sudah daftar kelas online jauh-jauh hari karena materinya klik di hati dan yang pasti sudah transfer jadi hakul yaqin kalau hari ini bakalan dapat mengikuti kelas dengan lancar apalagi waktunya juga mengijinkan.

Realitanya, apa yang terjadi? Ternyata oh ternyata, belum jatahnya saya dapat ilmu baru hari ini. :-D :-P

Tapii, apa pun keadaannya pantang bersedih berlama-lama dan untuk itu mesti dicari apa penyebab dan maknanya biar segera kembali syalalala.
Dan hasilnya adalah status yang barusan ku tulis:

"Setiap hal itu ada waktunya. Meskipun sudah dijatahkan untuk kita kalau wadahnya belum siap akan di tahan untuk sementara. Tugas kita hanyalah mempersiapkan dan memperbaiki kualitas saja, biar rezeki dan ilmu mendekati dengan cara-cara tak terduga."#selftalk

Apakah kejadian yang kelihatan sepele ini kebetulan? Tidak. Kejadian ini penyebabnya adalah kesalahan diriku sendiri   meskipun secara teknik bagian penyelenggara sudah meminta maaf atas keteledorannya.

Saat kuceritakan sama suami, belio spontan mengantisipasi,"Jangan bilang karena ayah lhoo, My."

"Nggak sih Yah, cuman memang ya ada kena mengenanya."

Jadi begini, pas awal péngin ikut kelas ini, diam-diam aku daftar tanpa meminta ijin atau persetujuan dari belio seperti biasanya. Pas hari itu emang lagi kesel sih, jadi ya gitu deh. Hahaha...

Pun saat transfer dananya. Biasanya setelah Pakne acc, belio yang bagian bayar-bayar, etapi karena lagi kesel, aku minta adik yang bantu transfer melalui atm yang kupercayakan sama dia.

Keesokan harinya aku baru cerita kalau ikut kelas dan sudah di bayar. Pas kejadian itu belio sih maklum dan bilang nggak papa. Tapi tetap saja ada rasa bersalah karena ngomong dan ijinnya belakangan. Secara menurut kesepakatan, apa pun harus dibicarakan terlebih dulu. *Dua kesalahan besar yang perlu digarisbawahi ini ya! #selfreminder

Kejadian hari ini memang membuatku gagal mendapatkan ilmu baru, namun juga memberi banyak pembelajaran yang berarti. Ternyata benar, suami itu "malati".  Bagi seorang istri, do'a dan restu suami itu kunci dalam menapaki hari. Maka kemana pun atau apa pun yang dilakukan harus diketahui dan mendapat ridhonya.

Dan tanpa kejadian barusan sudah pasti nggak bakalan ada tulisan ini. Nah, emang benar adanya bahwa di balik hal yang tak menyenangkan selalu ada nilai  yang bisa kita ambil untuk membuka pintu-pintu kebaikan. Meskipun tidak langsung bisa  kita gunakan, setidaknya bisa kita jadikan bekal jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Sungguh tak ada keadaan yang terjadi tanpa maksud dan tujuan. Semua sudah benar adanya. Sudah pas dan sesuai dengan apa yang kita kerjakan dan niatkan sebelumnya. Bagi diriku pribadi, ini semacam teguran keras, "Jangan mentang-mentang punya penghasilan sendiri, bisa semau-maunya memutuskan sesuatu, sekecil apa pun itu tanpa ijin dan persetujuan suami." #noted

Alhamdulillah banget selalu di beri teguran untuk memperbaiki diri yang membuat hidup dan hubungan semakin bersinergi. Dengan mengalami dan belajar mencari makna, perjalanan yang penuh dinamika terasa enteng menjalaninya. #catatanfas

Perempuan Dan Persimpangan

Rabu, 09 November 2016




"Maafkan saya sebelumnya mbak. Maafkan telah mengganggu kebahagiaan mbak. Saya tidak tahu dari mana harus memulai. Sekali lagi maaf. Sebagai sesama perempuan harusnya saya tidak melakukan hal ini. Saya tahu mbak akan segera menikah dengan Rama. Saya yakin mbak kaget dan bertanya-tanya bagaimana saya tahu ini semua, terlebih lagi mbak pasti terkejut karena saya mengenal calon suamimu."

"Mbak, sudah puluhan kali saya mencoba bersapa denganmu lewat inbox. Namun selalu gagal. Baru kali ini saya kuatkan hati untuk mengatakan kenyataan yang sebenarnya tentang siapa Rama dan saya...

Shinta tak sanggup lagi meneruskan mengeja kata-kata dari perempuan yang tidak pernah dikenalnya ini. Mungkin sebuah kecerobohan membiarkan facebooknya bisa dikirimi pesan oleh publik. Namun semua sudah diatur nampaknya oleh sang pemilik kehidupan. Bukankah tak ada yang benar-benar kebetulan?

Hati perempuan akhir dua puluh itu bergemuruh. Tetes-tetes rasa tak terbendung lagi. Ingin sekali ia tak mempercayai apa yang diungkapkan perempuan itu. Tapi hati kecilnya bisa merasakan kalau sedikitpun tak ada kebohongan dari ceritanya, meski sebagian hatinya yang lain menolak untuk mengakui.

Mendadak sebuah pesan masuk di Whats App. Pesan yang biasanya ia nantikan itu kini bagaikan
jarum yang menusuk jantungnya. 

"Selamat ulang tahun permaisuriku. Kanda berharap pernikahan kita
akan menjadi kado terindah dalam hidupmu. I love you."

Andai pesan itu ia terima sebelum membaca inbox, mungkin ia menjadi perempuan yang paling berbahagia malam ini. Seumur hidupnya. baru kali ini ada yang secara khusus mengucapkan ulang tahun tepat di tengah malam. Sangat romantis. Terlebih bila ingat acara makan malam mereka beberapa jam sebelumnya. Meskipun bertiga dengan sahabatnya, Rahma, sedikit pun tidak mengurangi kegembiraannya. Dan kini, dalam sekejap mimpinya tertelan ombak kenyataan yang tak mampu ia elakkan.

Pernikahan mereka tinggal beberapa minggu lagi. Semua persiapan hampir selesai. Dengan berbagai pertimbangan mereka memang hanya mengundang kerabat dan teman-teman terdekat. Bagaimana mungkin ia berani membatalkan pernikahannya? Terlalu besar resiko dan beban moral yang ia dan keluarganya sandang nanti. Apa ia sanggup dijadikan tertuduh seumur hidup sebagai pembawa tak keberuntungan keluarga? 

 Mungkin semua juga berkat keteledorannya yang kesekian. Ia terburu-buru menerima pinangan lelaki yang baru beberapa bulan dikenalnya. Ia percaya begitu saja ketika sahabatnya mengatakan kalau Rama akan menjadi pendamping yang baik baginya.Terlebih semenjak ia melihat perhatian dan kesungguhan lelaki yang telah menduda tiga tahun itu. Meski awalnya ia sempat ragu demi mengetahui ia telah memiliki anak. Dan setelah kedua orang tuanya bertemu dengan Rama, mereka berdua tak keberatan untuk merestui hubungannya. Shinta yakin salah satu alasan orang tuanya karena umurnya telah lebih dari cukup untuk menikah.

Entah sudah berapa puluh kali setiap ke kondangan mereka ditanya kapan akan ngunduh mantu. Bagi orang tua, pertanyaan itu tidak hanya menyedihkan, namun juga menjadi beban moral. Terlebih mereka hidup di perdesaan yang masih sangat tinggi menjunjung tradisi. 

"Sudahlah, Nak, ibu yakin dia laki-laki baik. Awalnya mungkin akan berat menjadi ibu pengganti buat anak-anaknya. Toh, kamu sudah biasa menghadapi anak-anak di sekolah. Kamu pasti bisa,"Nasehat ibu malam itu kembali terngiang.

Perempuan berparas manis itu semakin gundah. Detak jarum jam seakan mengejeknya. Bagaimana mungkin ia tega menghancurkan impian dan kebahagiaan ibunya? 

Berkali-kali nomer yang sudah ia hapal di luar kepala itu  ditekannya,  namun di detik terakhir ia urungkan. Ia belum siap mendengar pengakuan Rama seandainya ia berani mengatakan kenyataan yang sebenarnya. Terlebih utama ia tak ingin mendengar kebohongan dari lelaki yang telah terlanjur ia yakini sebagai malaikat itu. Sungguh ia belum sanggup.

Sesaat ia berubah pikiran. Sebaiknya ia segera menghapus pesan dari perempuan itu. Anggap saja semua hanya mimpi. Setelah sign in dan masuk ke kotak pesan, sebuah foto telah masuk  ke inboxnya. Kalau sesaat tadi sebagian hatinya bisa menuduh pengakuannya hanya rekayasa. Kali ini ia tak mungkin lagi sanggup menipu kenyataaan. Potret lelaki bermata tajam yang tengah memeluk perempuan muda itu tak bisa ia elakkan. Terlebih bayi mungil yang ada di pelukannya.

#FAS, 03022015

NOSTALGIA

Wajah cantik itu berkerut-kerut memandangi siapa yang baru saja ditabraknya, mencoba mengingat sosok yang kini berdiri di depannya. Mukanya pucat seakan melihat hantu

. "Tidak mungkin?!" Bantah hatinya.

"Mbak tidak apa-apa?" Suara bariton itu mengejutkan lamunannya. Suara yang sama. Suara yang pernah membuatnya begitu ceria setiap dering telpon berbunyi untuknya. Masih tetap sama, meski agak berat intonasinya. Tungguu...apa dia tidak salah dengar? Mbak?! Barusan lelaki yang bertahun-tahun ia rindukan memanggilnya mbak? Jadi...jadi..ia tak mengenaliku? Sudah sedemikian berubahnyakah diriku hingga ia tak mampu mengenaliku? Batinnya menggugat tak terima.

Tahun demi tahun, Siska, perempuan cantik yang telah di ambang senja itu membawa asa. Mengharapkan sebuah keajaiban membawanya kembali untuk berjumpa dengan lelaki yang terus hadir dalam mimpinya. Dan kini impian itu telah berhasil ia raih. Tanpa diduga pertemuan terjadi. Namun apa realitanya?? Ternyata semua hanya kesemuan belaka. Ia bermimpi sendirian. Mimpi yang telah membuatnya tersesat dan mengabaikan banyak kesempatan untuk menikmati kebahagiaan.

Tanpa menjawab pertanyaan lelaki itu, Siska buru-buru pergi. Hanya satu keinginannya, ingin segera sampai di rumah dan memeluk suaminya. Lelaki yang telah begitu baik dan sabar mencintainya meskipun tahu hati Siska tidak sepenuhnya bersamanya. Siska ingin menyulam hari -hari yang telah ia sia-siakan dengan tekad pengabdian dan kesetiaan.

Nostalgia oh nostalgia...seindah apapun cerita yang ada, semua hanyalah sisa-sisa cerita yang telah usai di telan masa.

Terkadang nostalgia bisa membuat terlena, membawa rasa untuk merajut kembali cerita-cerita yang belum selesai tertelan masa.Semanis apapun nostalgia, realita lebih indah untuk diberi makna.

FAS, 08112014




Balada Pahlawan Keluarga

Sabtu, 05 November 2016

Nemu coretan dua tahun silam ini di kenangan Facebook. Perlu di simpan sebagai pengingat diri.

Dalam rentang waktu sebulan dua peristiwa yang menimpa pekerja kita di negara beton menggemparkan sekaligus menggetarkan rasa. Ada rasa sendu, malu, kasihan, dsb. Terlebih bagi keluarga yang ditinggalkan, betapa dalamnya luka yang mereka rasakan. Bagi yang tua mungkin masih bisa mengatasinya, bagaimana dengan anak-anak mereka? Melihat potret anak almarhumah Sumarti Ningsih, salah satu korban mutilasi, air mata tak tertahankan lagi. Melihat kepolosan wajahnya, saya yakin ia belum paham atas apa yang menimpa ibunya. Namun, bagaimana nanti setelah ia tahu kalau cerita ibunya demikian tragis?

Di antara sekian pilihan, merantau sepertinya menjadi alternatif terakhir untuk dilakukan. Terlebih bagi kita ( termasuk yang nulis ) yang sudah berkeluarga. Ada banyak faktor yang harus kita pertimbangkan sebelum kita memutuskannya. Saat masih sendiri, di perantauan kita tidak terbebani oleh banyak pikiran. Berbeda saat sudah memiliki anak, rasa kawatir dan pikiran-pikiran yang tak menyenangkan kerap hadir karena rasa bersalah terhadapnya. Semua itu membuat hati tak tenang dan imbasnya pekerjaan sering keteteran. Belum lagi persoalan dalam beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru. Dengan kondisi demikian, maka liburan  ( seakan ) menjadi satu-satunya ruang yang bisa dijadikan pelepas lelah dan pelampiasan segala resah. Tak ayal, banyak jiwa yang akhirnya mencari penawar dengan sesuatu yang semestinya tabu untuk dilakukan.

Permasalahan berikutnya yang kerap muncul dan menjadi sumber masalah demi masalah yang taky ada ujung pangkalnya adalah uang. Tidak bisa dipungkiri, setiap orang yang melangkahkan kaki ke luar negeri, mereka jadi tumpuan harapan bagi keluarganya. Namun sayang, kebanyakan keluarga tidak/belum mampu memahami bagaimana situasi di perantauan. Mereka hanya berpikir kalau dengan merantau uang mudah didapatkan. Sementara di sisi lain, menurut banyak pengakuan, keluarga sangat jarang memberikan perhatian. Mereka sering lupa kalau berpisah dengan keluarga itu membuat hati demikian nelangsa, perasaan terbuang kerap hadir tanpa diminta. Sikap keluarga yang seakan tak mau tahu ini sering membuat banyak orang frustasi, terlebih kalau keluarga hanya menanyakan hasil kerja. Dalam banyak situasi, perantau seakan tersudutkan di antara buah simalaka. Di satu sisi, mereka ingin tak peduli, jika mengingat sikap yang tak sesuai harapan. Di sisi lain, perasaan malu dan bersalah kerap pula mampir dan membuat mereka nekat mengambil jalan pintas.

Jalan pintas? Yaa...di Hong Kong ada banyak lembaga keuangan yang menawarkan pinjaman dengan persyaratan mudah bahkan cenderung banyak pemalsuan dokumen demi mendapatkan banyak konsumen. Bagi yang mau meminjam, mereka cukup telpon dan membawa satu/dua teman sebagai penjamin, dalam hitungan hari mereka sudah bisa mendapatkan uang yang diinginkan. Cara mudah ini membuat banyak orang tergiur, terlebih bagi yang tak bisa menunggu saat menginginkan sesuatu, finance menjadi solusinya. Dengan gaji yang memadai, HK$4010,  mula-mula jumlah potongan yang harus dibayarkan bukan sesuatu yang memberatkan. Persoalan akan muncul jika salah satu teman yang jadi penjamin, biasanya orang yang bersedia jadi penjamin juga mengambil pinjaman, tidak membayar. Maka, mau tak mau penjamin lain harus menutupinya. Alhasil uang gaji tak lagi mencukupi, belum lagi kebutuhan lain yang seringkali tak bisa diprediksi, dari mana mendapatkan uang untuk menutupi?

Bukan rahasia umum lagi kalau bermula dari persoalan ini banyak orang lupa diri. Ada yang nekat, maaf, melacurkan diri karena tak ingin keluarga di rumah terbebani, ada yang lari dan tak tahu lagi dimana kabarnya, dan bulan lalu bahkan ada yang nekat bunuh diri.

Jadi ingat nasehat seseorang, "sebelum hati dan pikiranmu tenang, seberapa banyakpun uang yang kamu hasilkan tidak akan cukup. Karena hati dan pikiran yang tak tenang akan memunculkan banyak keinginan. Sebaliknya, hati dan pikiran yang tenang, akan menjadi cahaya dalam membedakan keinginan dan kebutuhan. Dan keduanya hanya bersumber dari ilmu dan iman."

FAS, 05112014

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS