Pages

Balada Pahlawan Keluarga

Sabtu, 05 November 2016

Nemu coretan dua tahun silam ini di kenangan Facebook. Perlu di simpan sebagai pengingat diri.

Dalam rentang waktu sebulan dua peristiwa yang menimpa pekerja kita di negara beton menggemparkan sekaligus menggetarkan rasa. Ada rasa sendu, malu, kasihan, dsb. Terlebih bagi keluarga yang ditinggalkan, betapa dalamnya luka yang mereka rasakan. Bagi yang tua mungkin masih bisa mengatasinya, bagaimana dengan anak-anak mereka? Melihat potret anak almarhumah Sumarti Ningsih, salah satu korban mutilasi, air mata tak tertahankan lagi. Melihat kepolosan wajahnya, saya yakin ia belum paham atas apa yang menimpa ibunya. Namun, bagaimana nanti setelah ia tahu kalau cerita ibunya demikian tragis?

Di antara sekian pilihan, merantau sepertinya menjadi alternatif terakhir untuk dilakukan. Terlebih bagi kita ( termasuk yang nulis ) yang sudah berkeluarga. Ada banyak faktor yang harus kita pertimbangkan sebelum kita memutuskannya. Saat masih sendiri, di perantauan kita tidak terbebani oleh banyak pikiran. Berbeda saat sudah memiliki anak, rasa kawatir dan pikiran-pikiran yang tak menyenangkan kerap hadir karena rasa bersalah terhadapnya. Semua itu membuat hati tak tenang dan imbasnya pekerjaan sering keteteran. Belum lagi persoalan dalam beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru. Dengan kondisi demikian, maka liburan  ( seakan ) menjadi satu-satunya ruang yang bisa dijadikan pelepas lelah dan pelampiasan segala resah. Tak ayal, banyak jiwa yang akhirnya mencari penawar dengan sesuatu yang semestinya tabu untuk dilakukan.

Permasalahan berikutnya yang kerap muncul dan menjadi sumber masalah demi masalah yang taky ada ujung pangkalnya adalah uang. Tidak bisa dipungkiri, setiap orang yang melangkahkan kaki ke luar negeri, mereka jadi tumpuan harapan bagi keluarganya. Namun sayang, kebanyakan keluarga tidak/belum mampu memahami bagaimana situasi di perantauan. Mereka hanya berpikir kalau dengan merantau uang mudah didapatkan. Sementara di sisi lain, menurut banyak pengakuan, keluarga sangat jarang memberikan perhatian. Mereka sering lupa kalau berpisah dengan keluarga itu membuat hati demikian nelangsa, perasaan terbuang kerap hadir tanpa diminta. Sikap keluarga yang seakan tak mau tahu ini sering membuat banyak orang frustasi, terlebih kalau keluarga hanya menanyakan hasil kerja. Dalam banyak situasi, perantau seakan tersudutkan di antara buah simalaka. Di satu sisi, mereka ingin tak peduli, jika mengingat sikap yang tak sesuai harapan. Di sisi lain, perasaan malu dan bersalah kerap pula mampir dan membuat mereka nekat mengambil jalan pintas.

Jalan pintas? Yaa...di Hong Kong ada banyak lembaga keuangan yang menawarkan pinjaman dengan persyaratan mudah bahkan cenderung banyak pemalsuan dokumen demi mendapatkan banyak konsumen. Bagi yang mau meminjam, mereka cukup telpon dan membawa satu/dua teman sebagai penjamin, dalam hitungan hari mereka sudah bisa mendapatkan uang yang diinginkan. Cara mudah ini membuat banyak orang tergiur, terlebih bagi yang tak bisa menunggu saat menginginkan sesuatu, finance menjadi solusinya. Dengan gaji yang memadai, HK$4010,  mula-mula jumlah potongan yang harus dibayarkan bukan sesuatu yang memberatkan. Persoalan akan muncul jika salah satu teman yang jadi penjamin, biasanya orang yang bersedia jadi penjamin juga mengambil pinjaman, tidak membayar. Maka, mau tak mau penjamin lain harus menutupinya. Alhasil uang gaji tak lagi mencukupi, belum lagi kebutuhan lain yang seringkali tak bisa diprediksi, dari mana mendapatkan uang untuk menutupi?

Bukan rahasia umum lagi kalau bermula dari persoalan ini banyak orang lupa diri. Ada yang nekat, maaf, melacurkan diri karena tak ingin keluarga di rumah terbebani, ada yang lari dan tak tahu lagi dimana kabarnya, dan bulan lalu bahkan ada yang nekat bunuh diri.

Jadi ingat nasehat seseorang, "sebelum hati dan pikiranmu tenang, seberapa banyakpun uang yang kamu hasilkan tidak akan cukup. Karena hati dan pikiran yang tak tenang akan memunculkan banyak keinginan. Sebaliknya, hati dan pikiran yang tenang, akan menjadi cahaya dalam membedakan keinginan dan kebutuhan. Dan keduanya hanya bersumber dari ilmu dan iman."

FAS, 05112014

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS