Pages

Perempuan Dan Persimpangan

Rabu, 09 November 2016




"Maafkan saya sebelumnya mbak. Maafkan telah mengganggu kebahagiaan mbak. Saya tidak tahu dari mana harus memulai. Sekali lagi maaf. Sebagai sesama perempuan harusnya saya tidak melakukan hal ini. Saya tahu mbak akan segera menikah dengan Rama. Saya yakin mbak kaget dan bertanya-tanya bagaimana saya tahu ini semua, terlebih lagi mbak pasti terkejut karena saya mengenal calon suamimu."

"Mbak, sudah puluhan kali saya mencoba bersapa denganmu lewat inbox. Namun selalu gagal. Baru kali ini saya kuatkan hati untuk mengatakan kenyataan yang sebenarnya tentang siapa Rama dan saya...

Shinta tak sanggup lagi meneruskan mengeja kata-kata dari perempuan yang tidak pernah dikenalnya ini. Mungkin sebuah kecerobohan membiarkan facebooknya bisa dikirimi pesan oleh publik. Namun semua sudah diatur nampaknya oleh sang pemilik kehidupan. Bukankah tak ada yang benar-benar kebetulan?

Hati perempuan akhir dua puluh itu bergemuruh. Tetes-tetes rasa tak terbendung lagi. Ingin sekali ia tak mempercayai apa yang diungkapkan perempuan itu. Tapi hati kecilnya bisa merasakan kalau sedikitpun tak ada kebohongan dari ceritanya, meski sebagian hatinya yang lain menolak untuk mengakui.

Mendadak sebuah pesan masuk di Whats App. Pesan yang biasanya ia nantikan itu kini bagaikan
jarum yang menusuk jantungnya. 

"Selamat ulang tahun permaisuriku. Kanda berharap pernikahan kita
akan menjadi kado terindah dalam hidupmu. I love you."

Andai pesan itu ia terima sebelum membaca inbox, mungkin ia menjadi perempuan yang paling berbahagia malam ini. Seumur hidupnya. baru kali ini ada yang secara khusus mengucapkan ulang tahun tepat di tengah malam. Sangat romantis. Terlebih bila ingat acara makan malam mereka beberapa jam sebelumnya. Meskipun bertiga dengan sahabatnya, Rahma, sedikit pun tidak mengurangi kegembiraannya. Dan kini, dalam sekejap mimpinya tertelan ombak kenyataan yang tak mampu ia elakkan.

Pernikahan mereka tinggal beberapa minggu lagi. Semua persiapan hampir selesai. Dengan berbagai pertimbangan mereka memang hanya mengundang kerabat dan teman-teman terdekat. Bagaimana mungkin ia berani membatalkan pernikahannya? Terlalu besar resiko dan beban moral yang ia dan keluarganya sandang nanti. Apa ia sanggup dijadikan tertuduh seumur hidup sebagai pembawa tak keberuntungan keluarga? 

 Mungkin semua juga berkat keteledorannya yang kesekian. Ia terburu-buru menerima pinangan lelaki yang baru beberapa bulan dikenalnya. Ia percaya begitu saja ketika sahabatnya mengatakan kalau Rama akan menjadi pendamping yang baik baginya.Terlebih semenjak ia melihat perhatian dan kesungguhan lelaki yang telah menduda tiga tahun itu. Meski awalnya ia sempat ragu demi mengetahui ia telah memiliki anak. Dan setelah kedua orang tuanya bertemu dengan Rama, mereka berdua tak keberatan untuk merestui hubungannya. Shinta yakin salah satu alasan orang tuanya karena umurnya telah lebih dari cukup untuk menikah.

Entah sudah berapa puluh kali setiap ke kondangan mereka ditanya kapan akan ngunduh mantu. Bagi orang tua, pertanyaan itu tidak hanya menyedihkan, namun juga menjadi beban moral. Terlebih mereka hidup di perdesaan yang masih sangat tinggi menjunjung tradisi. 

"Sudahlah, Nak, ibu yakin dia laki-laki baik. Awalnya mungkin akan berat menjadi ibu pengganti buat anak-anaknya. Toh, kamu sudah biasa menghadapi anak-anak di sekolah. Kamu pasti bisa,"Nasehat ibu malam itu kembali terngiang.

Perempuan berparas manis itu semakin gundah. Detak jarum jam seakan mengejeknya. Bagaimana mungkin ia tega menghancurkan impian dan kebahagiaan ibunya? 

Berkali-kali nomer yang sudah ia hapal di luar kepala itu  ditekannya,  namun di detik terakhir ia urungkan. Ia belum siap mendengar pengakuan Rama seandainya ia berani mengatakan kenyataan yang sebenarnya. Terlebih utama ia tak ingin mendengar kebohongan dari lelaki yang telah terlanjur ia yakini sebagai malaikat itu. Sungguh ia belum sanggup.

Sesaat ia berubah pikiran. Sebaiknya ia segera menghapus pesan dari perempuan itu. Anggap saja semua hanya mimpi. Setelah sign in dan masuk ke kotak pesan, sebuah foto telah masuk  ke inboxnya. Kalau sesaat tadi sebagian hatinya bisa menuduh pengakuannya hanya rekayasa. Kali ini ia tak mungkin lagi sanggup menipu kenyataaan. Potret lelaki bermata tajam yang tengah memeluk perempuan muda itu tak bisa ia elakkan. Terlebih bayi mungil yang ada di pelukannya.

#FAS, 03022015

NOSTALGIA

Wajah cantik itu berkerut-kerut memandangi siapa yang baru saja ditabraknya, mencoba mengingat sosok yang kini berdiri di depannya. Mukanya pucat seakan melihat hantu

. "Tidak mungkin?!" Bantah hatinya.

"Mbak tidak apa-apa?" Suara bariton itu mengejutkan lamunannya. Suara yang sama. Suara yang pernah membuatnya begitu ceria setiap dering telpon berbunyi untuknya. Masih tetap sama, meski agak berat intonasinya. Tungguu...apa dia tidak salah dengar? Mbak?! Barusan lelaki yang bertahun-tahun ia rindukan memanggilnya mbak? Jadi...jadi..ia tak mengenaliku? Sudah sedemikian berubahnyakah diriku hingga ia tak mampu mengenaliku? Batinnya menggugat tak terima.

Tahun demi tahun, Siska, perempuan cantik yang telah di ambang senja itu membawa asa. Mengharapkan sebuah keajaiban membawanya kembali untuk berjumpa dengan lelaki yang terus hadir dalam mimpinya. Dan kini impian itu telah berhasil ia raih. Tanpa diduga pertemuan terjadi. Namun apa realitanya?? Ternyata semua hanya kesemuan belaka. Ia bermimpi sendirian. Mimpi yang telah membuatnya tersesat dan mengabaikan banyak kesempatan untuk menikmati kebahagiaan.

Tanpa menjawab pertanyaan lelaki itu, Siska buru-buru pergi. Hanya satu keinginannya, ingin segera sampai di rumah dan memeluk suaminya. Lelaki yang telah begitu baik dan sabar mencintainya meskipun tahu hati Siska tidak sepenuhnya bersamanya. Siska ingin menyulam hari -hari yang telah ia sia-siakan dengan tekad pengabdian dan kesetiaan.

Nostalgia oh nostalgia...seindah apapun cerita yang ada, semua hanyalah sisa-sisa cerita yang telah usai di telan masa.

Terkadang nostalgia bisa membuat terlena, membawa rasa untuk merajut kembali cerita-cerita yang belum selesai tertelan masa.Semanis apapun nostalgia, realita lebih indah untuk diberi makna.

FAS, 08112014




Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS