Pages

Melati Untuk Arumi

Kamis, 17 November 2016

Bunga melati di depan rumah. Warna dan aromanya adalah kerinduan yang tercurah. Membilas resah dan susah. Membalut luka yang pernah singgah. Fas

***

Senja kembali menyapa. Gelisah yang sempat terlupa oleh kegiatan di ladang seharian kembali singgah. Sambil menghisap rokok yang telah menjadi sahabatnya bertahun-tahun, pandangan Herman singgah di halaman. Di pojok selatan, di bawah pohon kelapa, serumpun kembang melati menguarkan semerbaknya. Bunganya yang putih, memanjakan matanya. Sesosok perempuan berdiri di bawah temaram senja.

"Beberapa bulan ke depan, rumah kita akan selalu berbau wangi jika senja datang, Mas. Dan anak kita akan merasakan nyaman akan aromanya yang menyegarkan," tutur wanita manis itu saat menanam kembang di halaman bertahun-tahun silam kembali terngiang di telinganya. Ada rasa yang menghujam di dada Herman. Sebentuk penyesalan yang kian menggunung, menghantam dadanya. Untuk seberapa lama, ia terbatuk-batuk.

"Kenapa lagi, Mas! Sudah berapa kali Asih bilang jangan merokok sambil melamun. Masih memikirkan wanita itu, ya?!"

Kemunculan istrinya yang tanpa peringatan sambil berkacak pinggang di depannya membuatnya gelagapan dan serba salah. Herman hanya menjawab dengan tatapan kosong. Sekosong jiwanya yang telah bertahun-tahun mati. Hidup serupa malam tak bertepi. 

Impian Arumi, wanita sederhana yang pernah menanam kembang melati di halaman dan jiwa Herman tidak pernah menjadi kenyataan. Rumah ini memang selalu berbau melati sejak bertahun-tahun silam. Namun kenyamanan tidak pernah terwujud sampai detik ini.

"Semua kesalahanku, maafkan aku, Arumi," batin Herman sambil menyesap aroma melati.

Suara jangkrik menandakan malam semakin tenggelam di peraduan. Di bawah cahaya bulan purnama, Herman melihat sesosok perempuan berbaju putih sedang memetik kembang melati. Di pelukannya , bocah lelaki berumur 3 tahunan menyematkan sekuntum melati ke telinganya. Di leher bocah itu, roncean melati melingkari, ada cahaya yang berkilauan dan harum semerbak terluar dari tubuhnya. Sesaat Herman melihat keduanya menoleh ke arahnya sambil melambaikan tangan.

"Arumi, Nakula, Tunggu...tungguu aku!" Namun keduanya melesat tanpa menghiraukannya. Herman berlari mengejar keduanya. Ia menyeberangi hutan jati, sungai, dan ngarai, namun keduanya semakin jauh meninggalkannya dan lenyap tak berbekas. Ia hanya ingin mengucapkan satu kata yang selama bertahun-tahun mengendap di sudut laranya.

Tiba-tiba sebuah suara yang sangat dikenalinya sayup-sayup menerpa telinganya. "Mas, kamu sudah siuman. Alhamdulillah."

"Aku di mana?"

"Mas di rumah sakit. Pak Bakri menemukan Mas pingsan di pinggiran hutan jati."

Herman ingat. Tempat yang dimaksud istrinya adalah tempat ia mengambil bibit bunga melati yang ia bawa pulang dan di tanam Arumi. 

Masihkah sesal ini berguna, Arumi?" Rintihnya dalam hati sambil menatap kosong  dinding putih yang seakan mengejek dan mengingatkan betapa gelap hidupnya.

#FAS, 12022015

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS