Pages

Perceraian Bukan Akhir Dari Kehidupan

Jumat, 02 Desember 2016




Bercerai? Saya yakin tak ada satu orang yang punya cita-cita mengalami perceraian saat membangun rumah tangga.  Tetapi kehidupan seringkali  sangat jauh dari impian sehingga mau tak mau memaksa kita untuk berani menghadapi realita.

Perceraian memang sesuatu yang amat berat bagi perempuan. Terlebih bagi mereka yang mendadak ditinggalkan begitu saja. Dengan harga diri yang luluh lantak, perasaan hancur, belum lagi rasa malu terhadap keluarga dan lingkungan sosial; bagaimana mungkin mampu menghadapi?

Pasca sang mantan meninggalkan saya dengan anak yang baru berumur dua tahun dan hutang puluhan juta; pertanyaan di atas juga terus menerus bergaung di kepala. Semua jalan terasa gelap. Kesedihan, kekecewaan, ketakutan dan kecemasan membuat hati dan pikiran seakan tak memiliki kekuatan untuk melihat dan mencari solusi. Terlebih tanpa uang dan pekerjaan.

Ternyata Tuhan selalu memiliki cara untuk mengetuk pintu kesadaran dan memberikan kekuatan.  Melalui keceriaan si kecil,  mendadak sebuah kesadaran muncul bahwasanya masih ada yang lebih pantas dan penting untuk diperjuangkan dari pada terus menerus meratapi keadaan.

Dengan tekad demi masa depan dan memberikan penghidupan yang lebih baik, kekuatan yang pada dasarnya sudah disematkan dalam diri sejak lahir muncul ke permukaan. Saya memutuskan untuk bekerja dengan resiko harus berpisah dan menitipkan anak ke keluarga untuk sementara. Sebuah keputusan yang berat, namun keadaan tak memberi banyak pilihan.

"Ketika keadaan tak memberi pilihan, teruslah berjalan. Di tengah perjalanan akan ada banyak kejutan yang membawa ke tujuan."

Demikian kutipan yang pernah saya baca dalam sebuah buku. Hidup yang penuh ketidakpastian dan perubahan hanya bisa dihadapi dengan terus bergerak seberat apa pun beban dan terjalnya jalan yang kita lalui. Selama mau bergerak pelan namun pasti solusi akan hadir dengan sendirinya.

Ibarat mengayuh sepeda,  hanya dengan terus menggerakkan kaki, keseimbangan akan terjaga. Dengan fokus pada niat dan tujuan, kita akan terus menerus memiliki semangat dan kekuatan.

Namun, semua itu tak serta merta hadir dalam diri kita. Saya butuh waktu sekian tahun untuk bisa lepas dari  melepaskan trauma sehingga mampu menerima  bahwasanya kegagalan bukan akhir dari kehidupan.
Bagaimana caranya  agar kita bisa terus melangkah dengan harapan dan kebahagiaan?

Bersyukur dan Mendekatakan   Diri  Kepada Sang Pencipta
Dalam keadaan apa pun selalu ada hal yang bisa kita syukuri. Kita masih bernafas itu sudah lebih cukup sebagai modal untuk mensyukuri kehidupan. Dengan bersyukur, kita akan menemukan hikmah dan memahami ternyata di balik kegagalan ada banyak nilai kehidupan yang bisa kita jadikan bekal untuk meneruskan perjalanan. Dengan semakin dekat dengan pemilik kehidupan, hati dan pikiran menemukan ketenangan.

Bergaul Dengan Orang Positip

Setelah nyaris setahun diliputi kemarahan dan dendam,  saya memutuskan untuk menggunakan media sosial facebook sebagai pelipur lara.  Niatan awalnya ingin mengalihkan perhatian. Ternyata lebih dari yang saya bayangkan apa yang saya dapatkan.  Dengan bergaul dengan mereka yang memiliki pemikiran-pemikiran positif dan menebarkan energi kebaikan; pikiran mulai terbuka, cara pandang berubah, dan secara perlahan kebahagiaan kembali hadir.

Berdamai Dengan Diri Sendiri

Tidak ada akibat tanpa sebab.  Pun dengan perceraian. Berdasarkan pengalaman diri sendiri dan mereka yang mengalami,  kasus perceraian terjadi akibat kesalahan kedua belah pihak. Tidak ada keadaan yang ujug-ujug tanpa ada percikan percikan api yang terjadi sebelumnya. Namun sayangnya,  kebanyakan dari kita lebih suka  m9enyebut diri sebagai korban, sehingga memiliki alasan dan pembenaran untuk mencari-cari kesalahan di luar diri.

Alangkah baiknya kalau kita mulai berani instropeksi dan mengakui kekurangan. Dengan menyelam ke dalam diri kita akan menemukan kesadaran bahwasanya hanya dengan memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri akan tercipta rasa nyaman. Dengan kondisi batin yang demikian secara otomatis kita juga akan mudah memaafkan mantan dan keadaan.

Meningkatkan Kualitas dan Kepercayaan  Diri
Setiap yg menikah pasti berpisah. Entah oleh kematian ataupun perceraian. Keduanya sama-sama proses kehilangan.  Namun perceraian lebih menyakitkan,  karena mereka tidak/belum mampu menganggapnya sebagai jalan takdir. Yang lebih menyakitkan lagi sebab rasa tak berharga dan kehilangan kepercayaan diri. Rasa sakit hati pada korban perceraian lebih kepada  ketidakmampuan untuk menerima perlakuan orang yang semula menjadi belahan jiwanya.
Memperbaiki diri, menambah nutrisi jiwa dan hati, dan segera menemukan seseorang untuk membuat hidup kembali berarti; menjadi cara yang tak bisa ditawar lagi bagi kita yang ingin segera bangkit dari keterpurukan.

Berbagi

Ditinggalkan oleh pasangan membuat diri terasa hampa dan kehilangan makna. Merasa diri tak berarti ini yang membuat kita seakan kehilangan harapan dan tujuan.  Berbagi menjadi salah satu cara yang efektif untuk membangkitkan rasa percaya diri.

Berbagi bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Berbagi senyuman,  sapaan, perhatian,  atau waktu untuk mendengarkan orang lain yang sedang membutuhkan.

Melalui media sosial saya menemukan cara berbagi yang efektif dan terbukti berdaya guna. Menulis.  Melalui tulisan saya bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan.  Lewat tulisan,  meskipun hanya sekedar status,  akhirnya dipertemukan dengan mereka yang memiliki persamaan nilai sehingga hidup lebih hidup dan berdaya guna.  Apalagi yang lebih memuaskan batin selain bisa bermanfaat bagi sesama?


Perceraian membuat saya memahami bahwa  kegagalan bukanlah kesuksesan yang tertunda, melainkan kesuksesan yang tak terjadi. Kegagalan adalah sekolah termahal karena mesti di bayar dengan penderitaan lahir batin, pengorbanan yang tidak sedikit,  dan perjuangan yang berat untuk berhasil melewatinya.  Bagi saya pribadi, perceraian menjadi titik balik untuk mewujudkan kehidupan yang selama ini saya impikan . 
#catatanfas




Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS