Pages

Mencari Dan Menemukan Koordinat Diri

Kamis, 22 Desember 2016

Ngaji Bareng Cak Nun

Jangan melewati apa pun tanpa menemukan ilmu dan kegembiraan" -EAN-

Memasuki gedung Islamic Chaiwan College  yang bekapasitas 1500 orang itu, kata-kata beliau terngiang dengan jelas. Dalam hati berharap semoga bisa sungkem dengan beliau selain berkesempatan bertatap muka langsung dan menimba ilmu. Separuh gedung sudah terisi saat kami bertiga tiba. Mendadak seorang ibu panitia mempersilakan kami duduk di barisan paling depan. Sungguh, bukan sebuah kebetulan, sejak mendapatkan tiketnya, impian untuk bisa sedekat mungkin dengan tempat  beliau itu sudah ada. Ternyata, temanku yang satu juga begitu. Tadinya ia sudah setengah jengkel karena aku datang telat. Setelah duduk aku berseloroh padanya,"Nah, terbukti kan, mbak. Kalau memang sudah rezeki kita, ya tetap akan diperuntukkan bagi kita..."

Tak seberapa lama, gedung sudah penuh. Sambil cek sound, para vokalis kiai kanjeng: mas Imam Fatawi, Zainul, Doni, dan Islamiyanto melantunkan satu tembang dan puji-pujian agar kami tidak mmenunggu dengan pasif. Acara resmi segera dimulai dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran dari mas Zainul. Disusul dengan bergabungnya mbak Via, Hayya, dan Rampak di tengah panggung. Acara semakin hangat saat para vokalis kiai kanjeng turun dan mengajak kami bersama-sama menyanyi, pepujian, dan shalawatan. Dilanjutkan dengan mbak Novia yang mempersembahkan lagu "Keluarga Cemara". Para hadirin yang mayoritas bekerja demi keluarga, nampak semangat dan gembira menyanyikan bersama beliau.

Dan acara semakin hangat saat sosok yang kami tunggu hadir di tengah kami disambut shalawatan. Dengan nada penuh kasih dan ngemong, beliau menyapa dan membuka pintu kesadaran kami dengan caranya yang khas.

Mula-mula kami diajari cara bersyukur dan menikmati hidup dari hal-hal sederhana dari cara menentukan standar hidup. "Kalau ukuranmu mobil, melihat sepeda motor kamu tidak akan bersyukur. Sebaliknya kalau ukuranmu sepeda pancal, memiliki motor rasanya sudah luar biasa, bukan?"

Pun saat melihat apa yang tidak dimiliki orang Hong Kong; seperti kesadaran akan hidup sesudah mati, tetangga, tanah yang luas dan subur mestinya harus lebih banyak bersyukur. "Jangan dianggap gedung-gedung menjulang itu sebagai kemewahan. Mereka hidup seperti di gupon dara itu karena keterpaksaan. Kasihan mereka. Makanya kalian datang ke sini itu untuk menghibur dan membantu mereka. Ada tugas kemanusiaan dan kemuliaan di balik peran kalian."

Acara jeda kurang lebih satu jam dan dilanjutkan dengan pembahasan tentang ibadah mahdoh, muamalah, bid'ah, serta penjelasan tentang aliran-aliran islam, tentang cara sedekah yang tepat, dan penjelasan bagaimana agar tidak mudah tertipu dengan penampilan. Semua digambarkan dengan cara mudah dan gampang dipahami. Menjelang jam 4:14 acara harus segera diakhiri karena tepat jam 5:00 pm gedung harus bersih. Sebelum diakhiri, di tengah lantunan ilir-ilir, do 'a yang beliau panjatkan membuat suasana syahdu dan kusyuk.

"Hidup itu mudah selama kita tahu porsi, posisi, arah, dan tujuan."

Sekalipun acara sudah  berakhir, masih ada satu hal yang belum terlaksana, yakni: sungkem dengan beliau. Sambil berjalan keluar, aku masih menyisakan harap semoga dikabulkan. Dan “ndilalalah" begitu mau keluar pintu, beliau keluar bersama rombongan. Tanpa membuang waktu saat berada di sebelahnya, kuberanikan bertanya,"Mbah saya mau sungkem dengan panjênêngan" Alhamdulillah.....beliau mengulurkan tangannya. Lengkap sudahlah impianku selama ini.....kabuul ...kabuul....kabuul....:-) :-)

#FAS_22122014

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS