Pages

Hidup Adalah Pilihan

Selasa, 17 Januari 2017


Setiap orang yang kita temui adalah guru kehidupan.  Tanpa disadari atau tidak ada banyak hal yang bisa kita ambil ilmunya.  Begitupun nenek tua yang sedang merapikan kardus-kardus di bawah jembatan, depan China Travel, tempatku janjian bertemu Lisa. Di sebelahnya, perempuan yang lebih muda, dengan pakaian kumal memijati tengkuk nenek itu. Anganku melayang jauh ke tanah kelahiranku. Di sana, entah berapa ribu jiwa melakukan hal serupa. Kerasnya kehidupan seringkali membuat banyak jiwa tak memiliki banyak pilihan. Melihatnya ada semacam perasaan malu betapa tak tau dirinya jika keluhan masih saja ada, sementara usia masih memiliki banyak kesempatan untuk berkarya. 

"Hi Alfa!" Suara Lisa yang ceria membuyarkan lamunanku.Lisa adalah sahabat Mom yang baru datang dari London.  Perempuan di pertengahan empat puluhan yang masih terlihat muda dan cantik. Siapa yang pernah menyangka ia juga pernah mengalami nasib seperti nenek tua itu?

Tidak ada yang pernah menduga. Seandainya dia yang tak cerita, rasanya sukar dipercaya. Jauh sebelum ia di bawa suami keduanya ke London, Lisa dan anak-anaknya menjadi korban seorang lelaki yang tak bertanggung jawab. Sebagai pengantin asing di Hong Kong, semenjak ayah anak-anaknya pergi, Lisa berjuang sendirian. Mereka tinggal di rumah kumuh di bawah jembatan layang tak jauh dari tempatku tinggal sekarang. Demi dua anak yang masih kecil, Lisa menguatkan diri. Sampai sebuah peristiwa, membuatnya tak sanggup lagi bertahan  dan balek keTianjin, China.

Ternyata, di titik nadir inilah sang takdir membawanya bertemu lelaki yang kini menjadi suaminya. Ia bersama kedua anaknya diboyong ke London, dan kehidupan mereka berubah total.
Setelah urusan selesai, kami berpisah.

 Sambil menunggu bis yang akan membawaku pulang, iseng-iseng masuk ke Rajawali untuk menikmati koran gratis.  Dan tak kusangka, di meja kasir, seorang sahabat yang telah puluhan tahun tak jumpa, berada di sana.
Dari penampilan dan pekerjaan, aku yakin dia pun telah menjadi warga sini. Dan tak perlu menunggu lama, setelah bertukar kabar ia berujar, "Aku sudah memutuskan untuk menikah dan tinggal di sini, Fa."

Yaah! Apapun kisah yang mereka eja, semua adalah pilihan mereka. Dan sebaik baik pilihan adalah yang membuat-Nya ridha. Hal ini mengingatkan obrolanku dengan Mbak pada suatu hari saat ngobrol dari hati ke hati...

"Kita beruntung. Semua yang pernah kita alami sedari kecil, remaja, hingga kini menjelang senja merupakan rencana dan kemauan Tuhan atas hidup kita. Melalui kesulitan dan air mata kita membangun karakter dan mendapatkan nilai-nilai yang menjadi bekal perjalanan. Kita tak gampang menuduh orang lain atau menghakimi  pilihannya, karena kita pernah mengalami betapa hidup seringkalinya menepikan langkah pada tikungan tajam yang seakan tak menyediakan pilihan kemana arah dan langkah mesti dikayuh. Di titik itu bukankah kita benar-benar luluh dan sadar bahwa satu-satunya tempat bersandar dan mengadu hanyalah pemilik jiwa raga? Kalau seseorang memilih jalan yang berbeda bisa saja itu memang sudah kehendak-Nya agar kita bisa belajar dan bercermin dari sana. Kita tidak pernah tahu apakah keadaan itu baik atau tidak baik dari penilaian luar saja. Terkadang sesuatu yang nampak menyenangkan itu justru menjauhkan langkah dan hati kita dari kebaikan, pun sebaliknya, di balik segala ketidakmudahan dan kepahitan ternyata tersembunyi mutiara."

#Catatanfas, Hong Kong, 14 Januari 2013

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS