Pages

The Science of Optimisme

Selasa, 17 Januari 2017

The Science of Optimisme

Optimis atau pesimis adalah cara berpikir dalam memandang hidup. Optimisme ini sebenarnya sebuah ilmu karena bisa diamati, diukur, diulangi, dilakukan, dan bisa diuji.

Orang yang optimis tidak bisa dinilai dari apa yang dikatakan kepada dunia, melainkan apa yang  kita katakan pada diri sendiri dan bersumber dari suara hati kecil. Maka, bagaimana mungkin kita mampu membuat orang lain optimis sementara kita sendiri tak yakin?

Dalam hidup segala hal itu berawal dari dalam. Kalau yang di dalam kuat, apa yang ada di luar akan mengikuti. Untuk itu kita harus membangun dasar-dasar optimis dari dalam untuk mengeluarkan potensi yang terpendam.

Kita harus menyadari bahwa optimis itu adalah kekuatan mental yang luar biasa. Orang yang optimis sesungguhnya telah menang 50% dari keseluruhan hal yang sedang ia perjuangkan.

Tidak bisa dipungkiri manusia dari waktu ke waktu selalu berhadapan dengan masalah. Masalah ada sesungguhnya bukan untuk melemahkan, melainkan untuk membuat kita lebih kuat. Untuk itu Tuhan memberi kita kesempatan menghadapinya agar kita menyadari potensi apa yang bisa kita gali dari dalam diri, serta memahami bahwasanya dalam hidup selain hukum sebab akibat, campur tangan Tuhan itu mutlak adanya.

Orang yang optimis ketika mengalami hal yang buruk akan berkata kalau semua ini hanya sementara,   dan saat mengalami hal yang baik ini akan menyadari bahwa kebaikan adalah hal yang pasti ada.  Sebaliknya, orang yang pesimis saat mengalami hal tak baik ia berpikir itu permanen, dan saat mengalami hal baik ia bilang,"ah, paling hanya sebentar saja..."

Bagaimana menumbuhkan optimisme? Optimis terlahir dari pribadi yang bermental kuat. Mental yang kuat lahir dari proses  dan kreasi-kreasi yang dibentuk oleh upaya dan pengalaman hidup yang pernah ada. Optimisme diinstall dengan kata-kata yang kita pilih dan gunakan kepada diri sendiri. Biasanya orang optimis berkata,"Aku pasti bisa!" Pun untuk sesuatu yang ia sendiri belum lakukan. Karena pada dasarnya optimis memang berlaku untuk hal-hal yang belum terlihat. Itu sebabnya mengapa orang yang optimis selalu memiliki harapan.

Sumber: Talk Show Smart Happiness di radio Smart Fm bersama Arvan Pradiansyah, Jumat, 17 Januari 2014

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS