Pages

Jejak Kenangan

Rabu, 08 Maret 2017

"Setiap keping kenangan adalah bagian tak terpisahkan dari kekinian dan masa depan. Sekalipun masa telah menenggelamkannya dalam lipatan perjalanan, jejak-jejak yang tertinggal akan menjelma utuh sebagai lukisan kehidupan." #FAS

Tahun 1997, saat kepulanganku dari Saudi, setelah turun dari pesawat sebuah bus Damri telah menunggu kami di bandara Cengkareng. Saat itu aku masih awam dan hanya mengikuti mereka yang sudah pengalaman.

Setelah dinaikkan bus, kami dibawa ke sebuah rumah yang di sana telah menunggu wajah-wajah yang siap memangsa para TKI.  Setelah masuk, paspor kami diminta dan satu persatu mulai dipanggil. Dengan alasan demi keamanan, kami dimintai uang yang jumlahnya berbeda sesuai daerah tinggal.

Aku yang tak memegang uang karena memang pulang dengan penuh perjuangan, selama menunggu sibuk mencari akal agar bisa keluar dari sarang mereka. Tibalah giliranku.

"Keluarkan uangmu!" Bentak lelaki berwajah kasar itu.
"Maaf pak...saya tak punya uang. Saya dipulangkan tanpa dikasih uang." Jawabku sambil gemeteran dan memutar otak, agar uangku yang hanya cukup untuk naik bis ke daerah asalku tak sampai diketahuinya.
Braak! Kamu kerja 13 bulan di sana, nggak mungkin tak ada uang. Buruan keluarkan uangmu!"
"Benar pak. Silahkan geledah kalau tak percaya..."

Lelaki itu kukuh memaksaku memberi sejumlah uang, seingatku 300 ribu. Kalau dibandingkan, mungkin 3 jutaan uang sekarang.  Tapi aku juga bersikeras tak punya. Memang kenyataannya uangku tak lebih 35 ribu. Setelah habis kesabaran, ia menyuruhku menandatangani kertas yang isinya pernyataan setelah sampai di rumah, aku bersedia membayar 300 ribu. Spontan aku menolak. Aku katakan,"Percuma saja bapak anterin saya sampai rumah. Orang tuaku juga gak punya duit buat bayar."

"Terus kamu mau pulang jalan kaki?!" Sahutnya kasar

"Di luar sana ada polisi, pak. Saya akan minta tolong dengan mereka."

Ucapanku disambut tawa oleh mereka.
"Ini Jakarta, Neng. Siapa yang mau peduli menolongmu?!"

Menjelang sore, tinggal aku dan beberapa teman dari NTB yang belum keluar dari sana. Yang lainnya sudah diberangkatkan ke tujuan masing-masing dengan travel. Aku tak tahu, bagaimana nanti bisa keluar dari sana. Setelah semua hampir selesai aku dipanggil oleh lelaki lain yang mau naik mobil.

"Ayo aku antar kamu ke pulogadung. Sekalian antar  dua orang yang mau pulang ke sumbawa itu. Moga-moga kamu ketemu orang baik hati yang mau menolongmu."

Akhirnya, aku diturunkan di Pulogadung. Sesaat setelah turun aku bilang ke lelaki itu,"Terima kasih ya, pak. Ketipu deh! Dadaa......teriakku sambil berlari ke terminal.

Seingatku, setelah membayar bus jurusan Jakarta-ponorogo, uangku tinggal 1000 rupiah. Di perjalanan, aku dikasih makan orang yang duduk di sebelahku. Ia turun di solo. Semoga orang yang menolongku waktu itu, diberi banyak berkah.

#catatanfas

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS