Pages

Makna Syukur

Kamis, 25 Mei 2017

Setiap kali ada orang yang mengeluhkan keadaan, reaksi spontan kebanyakan dari kita adalah,"orang kok nggak ada bersyukurnya"
Memang tidak salah kalimat di atas kita jadikan sebagai peringatan untuknya, tetapi alangkah baiknya jika sepaket dengan solusinya. Saat kita mengeluhkan keadaan artinya kita secara tak langsung menyadari ada yang tidak beres dengan diri dan hidup kita. Itu artinya secara naluri kita sedang "memaksa" diri untuk melihat kekurangan/kelemahan agar menemukan jalan untuk memperbaiki diri. Apakah dengan mengatakan, bersyukurlah, serta merta ia akan langsung melihat sisi-sisi positip dalam kehidupannya? Tidak bukan?

Alangkah baiknya kalau kita dengarkan dulu, jangan langsung menghakimi seakan ia orang yang tak tahu diri. Setelah memahami apa yang ia rasakan, pelan-pelan kita ajak ia melihat permasalahannya dengan sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang yang selama ini mungkin belum pernah ia lihat dan pikirkan. Kalau ia bisa melihat hal-hal positip, pelan-pelan ia akan menemukan banyak hal yang pantas ia syukuri dan belajar menerima apa pun keadaannya.

Bersyukur bukanlah membandingkan keadaan kita dengan sesama. Bersyukur adalah menemukan anugerah demi anugerah yang diberikan secara kasat mata atau yang tersembunyi di baliknya. Bersyukur adalah memaksimalkan apa pun yang dianugerahkan oleh-Nya tanpa merasa lebih rendah/tingggi dari yang lainnya. #catatanfas

Balada Orang Tua

Rabu, 24 Mei 2017

Tutoring children" adalah satu-satunya job desk yang ada dalam kontrak kerjaku selama ini. Bagiku, dunia anak merupakan hal yang menarik dan penuh kejutan. Bersama mereka hidup lebih berwarna, penuh dinamika, dan tetap ceria.

Namun, semua itu ternyata belum cukup sebagai bekal menjadi orang tua yang baik. Seringkali saat anak-anak melakukan tindakan di luar harapan, masih sering kecewa dan mesti belajar lagi memahami apa yang kurang dan salah sebagai orang tua.

Menjadi pengasuh anak dan mengasuh anak ternyata memiliki perbedaan yang besar. Kepada anak-anak sendiri lebih sulit bersikap obyektif karena didominasi perasaan, sedangkan sebagai pengasuh anak, meskipun rasa kasih sayang itu ada obyektivitas masih terjaga karena diri hanya mengerjakan sebatas tugas di bawah komando orang tuanya. Kalau ada yang salah dengan anak-anak asuh bukan sepenuhnya tanggung jawab diri.   Sementara sebagai orang tua, tugas ini tanggung jawabnya langsung kepada sang pencipta. Bisa jadi ini yang membuat tekanan lebih tinggi sehingga tanpa disadari kita bersikap lebih tegas dan kadang keras agar mereka tetap terarah.

Lebih-lebih saat anak sudah mulai remaja, mesti kudu lebih ekstra belajar untuk memahami dan menjaganya. Sikap posesif bukan solusi, apalagi  otoriter. Kita mesti bersedia mendengarkan penjelasan darinya dan membuang rumus bahwasanya orang tua selalu benar, maka anak harus menurut dan mendengar, karena realitanya  seringkali anak itu lebih bijaksana dari orang tua.

"Terserah kaka ga pengen urusan sama orang yang nyindir kaka. Mereka ga tau apa yang terjadi kan mereka hanya mandang dri luar dan ngegosip yang engga engga karna kaka pulang malem. Terserah kaka ga peduli toh yang dosa mereka"

Begitulah jawaban yang bijak dari anak 16 tahun saat kami mencoba memberi pandangan atas konsekuensi dari kegiatannya  karena akhir-akhir ini si kaka pulang malam terus demi tugas sekolahnya.

Kami sebagai orang tua sadar, kemampuan kami untuk menjaga mereka terbatas. Terlebih saat mereka sudah banyak aktifitas di luar sana. Kekuatiran kami terkadang tak beralasan. Tetapi, kami menyadari sepenuhnya mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu menjadi dirinya sendiri. Bukan diperlakukan seperti keinginan kami yang cenderung hanya ingin memuaskan harapan dan ego semata.

Beruntung mereka memiliki cara-cara tersendiri untuk membuat orang tuanya tetap tenang dan percaya bahwa dalam segala keadaan yang "istimewa" mereka tumbuh menjadi anak-anak yang percaya diri dan Alhamdulillah berprestasi.

Menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya, namun semua itu bukan halangan untuk menjadi orang tua yang baik. Bersama anak-anak kita mesti lebih banyak  belajar lagi agar terus mampu memahami dan mengimbangi tumbuh kembang mereka. #catatanfas

What Makes You Beautiful?

Jumat, 12 Mei 2017

"What Makes You Beautiful?"

🖊Everybody is beautiful. Setiap orang itu indah karena pencipta kita Sang Maha Indah

🖊 Ciptaan itu menggambarkan Sang Pencipta

🖊Kita harus bisa membedakan antara "beautiful" dengan "pretty". Indah berbeda dengan cantik

🖊Beauty is not in the face; beauty is a light in the heart.” —Khalil Gibran

🖊Ketika jiwa berpisah dengan badan, maka sehebat apa pun badan itu sudah tidak ada artinya lagi

🖊Keindahan itu ada pada hati, pada jiwa. Bukanlah badan

🖊Jiwa yang indah adalah jiwa orang-orang yang bahagia

🖊Senyum bisa dipalsukan, tapi kebahagiaan tidak bisa dipalsukan 

🖊Senyum yang indah adalah senyuman yang memancarkan aura, cahaya yang menggambarkan hati kita

🖊Penelitian neuroscience membuktikan bahwa orang yang bahagia memancarkan senyuman dari seluruh tubuhnya

🖊Setiap hari kita mendapatkan banyak hadiah dari Tuhan

🖊Kita sering lupa bahwa setiap hari kita menerima banyak hadiah dari Tuhan

🖊Dan setiap hari kita membuka 2 hadiah dari Tuhan: mata kita

🖊Orang yang bahagia menerima (accepting) dan mengeksplorasi (exploring) hadiah-hadiah dari Tuhan

🖊Setelah mamahami, barulah kita bisa merayakan (celebrating) hadiah-hadiah dari Tuhan

🖊Setelah mengeksplorasi, kita baru paham (understanding) tentang anugerah dari Tuhan

🖊Accepting, exploring, understanding, celebrating adalah ciri orang yang bersyukur

🖊Orang yang bersyukur menjadi orang yang otentik

🖊Tuhan menurunkan masalah untuk "mencubit" kita, membangunkan kita

🖊Orang yang otentik adalah orang yang apa adanya, tidak dibuat-buat

🖊Orang yang otentik tidak mementingkan image

🖊“Fake people have image to maintain, real people just don't care.” ―Hikigaya Hachiman

🖊Setiap orang membawa cahaya keindahan dari Tuhan, tetapi banyak yang menutup diri dari cahaya tersebut 

🖊Kesempurnaan seorang manusia adalah ketidaksempurnaannya

🖊Kita tidak harus sempurna untuk menjadi indah

🖊Yang terindah itu bukanlah yang bisa kita lihat, tetapi sesuatu yang bisa kita rasakan dari dalam hati 

🖊Untuk menjadi indah, kita harus menjadi otentik, baik, dan tertarik pada orang lain

🖊"If you want to be interesting, be interested." -David Ogilvy

🖊Keindahan bukan pada raga Anda, tetapi ada pada hati kita

🖊Beautiful people are not always good, but good people are always beautiful.” -Sayyidina Ali bin Abi Thalib 

🖊If you wanna be happy, be happy NOW! #SmartHappiness @RadioSmartFM


Can Writing Make You Happier?

Jumat, 05 Mei 2017

Can Writing Make You Happier?

“Writing is an exploration. You start from nothing and learn as you go.” —E. L. Doctorow

Menulis bukan semata untuk menjadi penulis.
Tidak semua orang ingin menjadi penulis karena menulis memang tidak selalu bertujuan ke sana, namun menulis bisa menjadi cara agar sehat dan  bahagia. Dengan menulis kita bisa ki mencurahkan isi hati, pikiran, dan perasaan.

Dengan menulis, kita bisa melepaskan tekanan-tekanan yang bisa membuat kita stress. Penelitian dari Prof. James W Pennebaker membuktikan bahwa menulis bisa membuat kita lebih sehat. Kekebalan tubuh meningkat karena stress yang menumpuk bisa dikeluarkan.

Bagi sebagian orang yang belum memahami manfaat dari menulis, sepertinya aktivitas menulis itu membuang waktu. Menulis memang memakan waktu. Kita harus meluangkan waktu utk mencurahkan isi hati, pikiran, dan perasaan kita.

Menulis ekspresif adalah terapis healing yang efektif. Dengan menulis apa adanya di diary kita tak perlu memikirkan mulai dari mana, kosakata, atau grammarnya. Menulis, menulis saja karena menulis yang spontan dengan tujuan melepaskan perasaan, isi hati  dan pikiran.

Menulis yang kreatif adalah tulisan yang mengalir apa adanya. Tidak perlu berpikir dari mana memulai, karena setelah mulai jari-jari akan menari dengan sendirinya.

Menulis merupakan penjernih pikiran kita. Dengan menulis pikiran kita lebih terstruktur. Pikiran kita berjalan terlalu cepat, bertumpuk, membuat pikiran di atas pikiran. Dengan menulis, kita memperlambat pikiran kita yang berjalan terlalu cepat. Efek menulis sama seperti meditasi yang memperlambat pikiran kita.

🖊2 tahap dlm menulis:
1. Tahap kreatif yg menggunakan otak kanan
2. Tahap kritikal yg melibatkan otak kiri.

Dalam tahap kreatif, tuliskan saja pikiran Anda tanpa peduli dengan segala aturan kebahasaan. Dalam tahap kritikal, barulah merapikan tulisan Anda mengikuti aturan kebahasaan.

🖊Ada 2 tujuan menulis:
1. menulis untuk diri sendiri
2. menulis agar dibaca oleh orang lain

Menulis di media sosial ditujukan agar dibaca oleh orang lain. Tulisan tersebut digunakan sebagai media untuk mengekspresikan apa yang kita pikirkan dan rasakan.

Menulis adalah media untuk move-on. Orang yang menjalankan terapi menulis untuk merilis stress terbukti lebih bahagia dan sukses di masa depan.

Menulis adalah salah satu cara untuk memecahkan masalah, bukan satu-satunya cara. Kita harus cermat memilih cara untuk menyelesaikan masalah yang kita hadapi.

Menulis adalah untuk diri kita sendiri, untuk menyembuhkan luka-luka batin  kita. Saat kita menghadapi masalah yang mengganggu pikiran dan perasaan kita, maka mulailah menulis. Tuliskan apa pun yang terlintas dalam benak kita karena orang yang bahagia adalah orang yang punya kanal untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya.

Menyimpan isi pikiran dan perasaan menguras energi yang mengganggu kebahagiaan dan kesehatan kita. Menulis adalah kanal utk mencurahkan isi pikiran dan perasaan kita, dan membuat pikiran dan perasaan plong.

If you wanna be happy, be happy NOW! #SmartHappiness #ArvanPradiansyah
#catatanfas

Sumber: Talk Show Smart Happiness, Jum'at, 05 Mei 2017 di Radio Smart FM

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS