Pages

Meretas Batas

Jumat, 28 Desember 2018

Di antara sekian pilihan, merantau sebenarnya  menjadi alternatif terakhir untuk dilakukan. Terlebih bagi  yang sudah berkeluarga. Ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskannya. Makane jadi muncul slogan, orang merantau itu kalau tidak karena wirang, ya kurang.

Wirang artinya banyak orang meninggalkan rumah karena lari dari kenyataan. Malu karena hidupnya gagal, rumah tangganya berantakan, atau bisa karena niatnya ingin menghidari keadaan. Secara, mau lari kemana pun, toh keadaan tetap tidak berubah karena yang bermasalah dirinya sendiri. 😛😛😂😂

Ups! Maaf banget yaa bukan maksud menyinggung siapa siapa lho. Tulisan di atas ngomongin diriku sendiri dulu kala kok. Kalau ada peristiwa yang mirip pastinya cuman kebetulan atau memang senasib dan beda tanggungan. 🤗🤗

Ngomongin tanggungan, sebenarnya alasan pertama nekat merantau dan menitipkan Kresna ke keluarga dulu ya karena untuk melepaskan diri dari tanggungan. Hidupku saat itu bukan hanya di titik nol, melainkan di titik minus yang sangat mengenaskan. Sudah ditinggali anak, masih pula ditinggali tanggungan. Andai masa itu sudah ngetren bakulan online dan kenal #Mouzaindonesia sepertinya bisa jadi pilihan ya? 😀😀 Etapi, semua memang sudah jalan hidup yang mesti dilampaui karena tanpa masa itu daku juga nggak bakalan mengenal FB dan terhubung dengan sedulur sedulur yang secara langsung dan tak langsung mengubah hidupku.  *Matur nuwun selalu...🙏🙏😗😗😗

Awal kerja sampai  dua tahun pertama,  gajiku kugunakan untuk menutupi lubang lubang yang menganga makanya sampai punya cita cita mulia, pengin hidup tanpa dibebani hutang atau cicilan. Berhubung mulia akhirnya dikabulkan. #eaaa😄😄

Memiliki hutang itu seperti hidup di ujung tanduk. Mau makan lauk seenak apa pun, kalau ingat angka angka tagihan jadinya kan hilang selera. Wajar kalau badan kurus kering. Asli sangat menyedihkan kalau melihat foto jaman kae. Sudah kurus, kurang tidur, raut  mukanya melampaui eranya. Pokomen nelangsa banget dah.  Huhuhu...

Memang sih berhutang atau punya cicilan itu sudah menjadi gaya hidup mayoritas orang jaman now. Karena mayoritas berpikir, kalau tidak pakai hutang, terus mau sampai kapan bisa mencapai impian. Eh, sebenarnya sih lebih pada keinginan, bukan kebutuhan, jadi kalau diomong sebagai impian sepertinya kurang tepat ya?

Toh banyak pula yang bisa mewujudkan impian tanpa harus berhutang asal mau tirakat dulu. Dulu, dengan tanggungan yang sekian banyak, rasanya juga mustahil kalau bisa lepas dan membangun rumah tanpa hutang. Tapi realitanya tak ada yang tak mungkin selama kita mau berusaha.

Iya. Usaha pertama yang harus kita lakukan agar bisa lepas dari keinginan berhutang adalah merasakan nikmatnya hidup tanpa tanggungan. Biar ibarat kata lauk seadanya, makan tetap nikmat, tidur nyenyak, makanya ya jangan tanya kenapa kalau endutnya susah dikondisikan. 😀😀😀

Usaha berikutnya ya harus mau menabung dan mengubah gaya hidup.  Syukur syukur dari tabungan bisa  dipakai modal untuk modal  usaha. Usaha pun  juga harus bisa lepas dari godaan   pengin cepat sukses dengan memakai cara instan alias pakai dana suntikan. Harus tetap mau berproses.  Karena tidak bisa dipungkiri, hasrat untuk menuruti gaya hidup itu susah dikendalikan. Jadinya ingat nasihat seseorang yang terus kujadikan pegangan karena terbukti benar dan ampuh khasiatnya.

"Sebelum hati dan pikiranmu tenang, seberapa banyakpun uang yang kamu hasilkan tidak akan cukup. Karena hati dan pikiran yang tak tenang akan memunculkan banyak keinginan. Sebaliknya, hati dan pikiran yang tenang, akan menjadi cahaya dalam membedakan keinginan dan kebutuhan. Dan keduanya hanya bersumber dari ilmu dan iman."

#catatanfas
#storytellingAL
#Akademilangit1

Modal Usaha Bukan Uang Semata

Terlahir di tengah keluarga pedagang dan mulai belajar dagang sejak dini  membuatku sedikit banyak mengerti bagaimana jatuh bangunnya orang jualan. Berdagang itu tidak melulu soal uang dan keuntungan. Ada banyak faktor yang harus mampu kita lihat, jaga, dan pertahankan. Terutama soal kepercayaan.

Seandainya yang  kita lihat dan jadikan sudut pandang hanya soal keuntungan, berbagai cara akan dilakukan demi mencapai apa yang jadi tujuan. Sementara selain kepercayaan, seorang pedagang juga memiliki tanggung jawab moral dan kemanusiaan terhadap konsumen. Semisal jika barang dagangan kita berupa makanan, kita harus mampu menjamin bahwa makanan yang kita jual tidak membuat pembeli sakit perut karena telah kita jaga kebersihan bahan dan peralatannya.

Jangan sampai karena hanya mengejar nominal kita tidak jujur terhadap kondisi barang yang kita tawarkan. Seperti pengalamanku jauh sebelum memulai bisnis online.  Waktu itu seorang teman meminta tolong untuk membeli smartphone second secara online dan berakhir dengan transaksi cod antara penjual dengan temanku. Setelah dipakai sehari ternyata barangnya tidak sesuai dengan apa yang dia tawarkan. Sebagai perantara, secara tidak langsung daku harus bertanggung jawab karena taruhannya kepercayaan dan persahabatan.

Awalnya dia mengelak...

  "Aku tidak menipumu.  Aku menggunakannya sehari dan menjualnya karena ini bisnisku."

"Kamu bilang tidak menipu? Kamu tulis di situ keadaan 98 persen baik. Di atas bisnis  masih ada tujuan yang lebih tinggi. Kepercayaan dan kejujuran. Bagaimana mungkin kalau kamu jujur hal ini terjadi? Apa pun alasanmu, aku minta kembalikan uangnya!"

"Dalam transaksi online tidak ada jaminan uang kembali setelah barang diterima." Elaknya

"Uang tidak bisa membeli kepercayaan. Di sini kita menggunakan kepercayaan  untuk transaksi.  Aku bertransaksi untuk temanku. Ia percaya padaku, makanya dia minta tolong."

Setelah negosiasi yang alot akhirnya dia sadar berurusan dengan emak emak itu tidak mudah. 😂😂😂😛😛

"Oke. Uang segitu nggak ada artinya bagiku. Kamu ke sini ambil duitnya!"

Bermodalkan pengalamanku dan pengalaman mereka yang kecewa dengan transaksi online, saat memulai jualan produk #Mouzaindonesia dulu juga tidak sembarangan. Melalui berbagai pertimbangan, terlebih setelah mengetahui profil ownernya, dan membuktikan kualitas barangnya akhirnya daku yakin dan percaya.

Alhamdulillah tak terasa sudah hampir tahun menjadi bagian dari Mouza. Selama rentang perjalanan, memang terbukti saat yang kita kedepankan kapercayan, keuntungan yang kita dapatkan lebih dari sekedar materi. Berkah dari jualan bisa bertemu dengan banyak sedulur baru, makin terbuka kesempatan untuk melakukan silaturahmi, dan menikmati indahnya paseduluran. Terima kasih selalu, #sedulurfasgallery, tanpa kepercayaan dan kehadiran kalian, sebanyak apa pun modal uang tidak akan ada artinya. 😘😘😘😘💖💖💖😀😀😀

#catatanfas
#storytellingAL
#AkademiLangit1

Bahagia Tanpa Alasan

Kamis, 23 Agustus 2018

Bahagia itu mudah asal tau formulanya. Bahagia itu bukan berarti semua keadaan sesuai keinginan atau harapan kita. Bukan berarti sama sekali tidak punya beban atau masalah. Kalau rumusan bahagia seperti itu, sampai kapan pun ya gak bakal ketemu karena selama masih bernafas dinamika hidup itu terus ada. Susah dan senang itu akan terus menerus hadir seperti siang dan malam yang konsisten.

Nah, biar mudah bahagia, menurut Marchi Shimofff, penulis buku Happy For No Reason,  kuncinya ada tiga. Intention, Attention,  No Tension.

Niat, tujuan, dan santai

Niat: Segala yang kita lakukan niatnya harus jelas dan bersih. Biasanya, segala yang kita niatkan dengan Lillahitaala, apa pun rintangannya pasti ada jalan keluar dan dimaksudkan untuk kebaikan kita. Maka, memperbaiki niat  itu harus terus menerus dilakukan untuk merecharge energy kita.

Tujuan: memahami untuk apa tujuan dilahirkan dan peran apa yang menjadi bagian itu sangat penting agar supaya kita tidak mudah menyerah dan membandingkannya dengan  jalan hidup orang lain.

Santai : Terima apa adanya dan gembira. Urip harus urup. Hidup  tanpa kegembiraan itu ibarat sayur tanpa garam. Ada banyak cara untuk tetap bisa merayakan kehidupan, terlepas apa pun yang tengah kita hadapi. Maka, memiliki hobby dan berada di lingkaran orang orang yang satu frekuensi itu kebutuhan yang tidak bisa hindarkan agar tetap santai menjalani hari hari.
#catatanfas
#happyfornoreason

Adil atau Tidak Adil Itu Hanya Persepsi Semata

Senin, 23 Juli 2018

Seringkali kita menyangka hidup ini tidak adil saat realita berbeda dengan definisi adil yang kita ketahui yakni, sama rata. Keadilan Tuhan dan keadilan menurut kita  ( ternyata ) tidaklah sama. Keadilan itu banyak dimensinya. Saat ukuran kita tak bekerja, mau tak mau kita harus mencari dan menemukan dimensi lain untuk menjawabnya.

Sebagai orang jawa kita pasti mengenal, "Wong nandur bakalé ngundhuh atau Becik katitik ala ketara." Keadilan menurut falsafah ini mengajarkan bahwa keadilan yang sebenarnya, menurut hukum dan ketentuan-Nya tidak berlaku serta merta. Melainkan membutuhkan waktu untuk membuktikannya demi menguji kesabaran dan keyakinan kita.

Semisal, saat seseorang menyakiti kita, kalo menuruti emosi, kita ingin sekali orang itu juga merasakan dan mendapatkan balasan yang sama. Tetapi harapan itu kadang tidak terjadi dan malah menambah kecewa, bukan?  Lain cerita apabila kita  mengejawantahkan pesan sakit hati ( kegagalan ) yang kita terima itu sebagai cara Tuhan memberi kita kesempatan untuk mengeluarkan kualitas terbaik kita sebagai manusia untuk mendapatkan hal-hal berharga yang selama ini kita harapkan. Respon kita pasti berbeda. Kita akan memiliki energi dan tujuan yang lebih pasti sehingga lupa akan sakit hati. Pada suatu titik kita menyadari bahwa keikhlasan kita untuk memaafkan dan menerima dibalas dengan kehidupan yang lebih baik oleh-Nya.  Bahkan, kita akan berterimakasih padanya karena sudah memberi kesempatan untuk belajar menggali dan menemukan  kualitas terbaik kehidupan dan kekuatan batin.

Di titik ini kita akhirnya sadar bahwasanya tidak semua keadaan bisa dihadapi dengan logika karena yang tidak kita ketahui jauh lebih banyak ketimbang pengetahuan manusia yang hanya setitik debu. Terkadang, keadaan yang kita labeli ketidakadilan atau penderitaan   adalah jalan terindah yang Tuhan berikan agar kita mampu menyelami lebih dalam akan makna keyakinan, keberanian, ketulusan, dan kepekaan.

Tugas kita hanya belajar dan terus belajar meskipun seringkali salah, banyak kekurangan, khilaf; semua bukan alasan untuk berhenti untuk terus belajar  nandur dan gembira dalam perjalanan. Karena hidup adalah proses berkesinambungan untuk menjaga keseimbangan antara hati, pikiran  keadaan dan kehendak-Nya.
#catatanfas

Menjadi Manusia

Rabu, 18 Juli 2018

Waktu kecil cita cita Kresna ingin  jadi polisi. Terus dari kelas 3 SD cita citanya sederhana. Ingin jadi manusia. 😂😂😂 Jadi manusia yang bermanfaat bagi semesta maksudnya. 💝💝💝💝
.
.

Sebenarnya kalau dipikir lebih dalam, jadi manusia itu tidak mudah lho. Selama belum bisa memanusiakan manusia, menggunakan akal dan pikiran secara seimbang,  mampu bertenggang rasa, memiliki empati, dan berguna  belum pantas kita menyebut diri sebagai manusia seutuhnya.

Entah dari mana ide menjadi manusia itu muncul di benaknya.  Nah, pas kebetulan, percakapan tentang cita citanya waktu itu  muncul di kenangan FB. 😍😍😍
.
. 👩:"Kalau besar nanti kamu mau jadi apa, Kis?"
👱:"Jadi manusia. Emang mau jadi apalagi, Buk?"
👩: "Bukannya kamu dulu pingin jadi polisi?"
👱: "Enakan jadi manusia, Buk. Bisa bebas kapan mau makan, minum, main. Kalau polisi kan nggak?"
👩: "Alasan lainnya?"
👱: "Hmmm...kalau polisi itu manusia. Tapi, kalau manusia kan tidak hanya polisi."
👩: Iya, ya. Jadi, kalau gula itu manis, yang manis belum tentu gula, ya?"
👱: "Ya iyalah, Buk. Permen, roti, es krim, juga manis..."
( ndlongop dengar logikanya) 👩: Emang dari mana kamu tahu?"
👱: "Kan merasakan, masa nggak tahu?"
#skakmat! 😀😀
.
.
Meskipun tidak pernah ada yang final dalam hidup ini, Nak, tetaplah bercita cita jadi manusia yang baik. Teruslah jadi cahaya kebaikan bagi semesta. Kresna Nur Ikhsan. 💖💖💖💖💖
#catatanfas
#spiritoflife
#findingtruehappiness
#anaklanang

Sekolah Unggulan Bukan Jaminan Masa Depan

Kamis, 12 Juli 2018

Sebagian orang tua meyakini bahwasanya dengan memasukkan anaknya ke sekolah unggulan masa depannya akan terjamin dan cerah. Sementara sebagai orang tua Daku malah sangat santai akan hal ini.

Pas Kresna mau masuk SD dulu, ada sekolah baru yang konon sangat bagus kualitasnya. Saat itu Kresna kutanya, mau nggak masuk ke sekolah itu? Dengan tegas dia menolak. Yowes. Tidak perlu memaksakan kehendak, kalau dia maunya sekolah di SD negeri kampung kami ya nggak masalah. Yang penting dia bisa menikmati masa-masa sekolahnya dengan riang gembira tanpa perlu dibebani dengan banyak PR yang tanpa disadari menyita hak anak untuk tetap menjadi kanak-kanak yang menurut Pakne salah satu kebutuhan mendasarnya adalah bermain.

Pasti bukan tanpa sebab mengapa Daku begitu santai. Jadi begini, dulu pas lulus SD orang tua memintaku melanjutkan  sekolah di kecamatan saja karena mayoritas anak-anak dari desa kami sekolah di sana termasuk mbakku. Dan dengan tegas Daku menolak. Pokoknya kalau nggak sekolah di sekolah paling the best di Ponorogo nggak mau sekolah. Emang dasar keras kepala. 😀😀😛😛

Sampai hari terakhir pendaftaran akhirnya Ibuk luluh dan mengijinkan untuk sekolah di sana. Sekolah yang mayoritas muridnya anak-anak orang kaya, pinter dari seluruh penjuru daerah Ponorogo.  Bahkan teman sekelasku dulu anak pak Bupati. Bisa dibayangkan, kan, betapa cah ndeso ini seperti orang yang masuk hutan belantara, lebih lebih dari kampungku cuman sendirian.  Demi apa coba Daku ngeyel masuk ke sana selain karena merasa pengin disebut unggul juga? Pencitraan banget ya, 😛😛padahal realitanya sejak kelas satu sampai kelas tiga prestasiku biasa biasa saja.  Secara memang bangga banget sih masuk sekolah yang sampai sekarang masih debes itu.  😂😂

Nah, lulus dari sana pilihan masuk sma unggulan juga terbuka dan pilihanku jatuh pada sma negeri yang kualitasnya debes juga. Pas penjurusan masuk kelas fisika entah karena alasan apa. Paling gurunya pas khilaf kali ya? 😄😄karena setelah masuk kelas fisika mata pelajaran yang kusuka hanya dua,  kimia dan matematika.

Dan apakah kedua sekolah unggulan tadi jadi jaminan masa depan? Jawabannya tidak. Yang lebih menjamin masa depan kalau dilihat dari sisi mapan atau tidak mapan ya warisan dan pekerjaan. 😂😂😛😛*peaace

Sebaliknya, kalau masa depan anak-anak biar sesuai dengan kehendak-Nya, jaminan utama mereka adalah keikhlasan orang tua menerima apa pun pilihan hidupnya. Tidak memaksa mereka menjadi atau berprestasi demi gengsi karena setiap anak terlahir dengan maksud dan tujuan yang berbeda. Sekolah unggulan atau bukan, yang terpenting anak menikmati proses belajarnya. Toh belajar itu sepanjang hayat dan di mana pun bisa jadi ruang belajarnya?
#catatanfas

Khasiat Cuka Apel Untuk Wajah

Selasa, 27 Februari 2018

Seumur umur baru mengalami galau masalah wajah. Bukan soal karena tidak cantik, kalau itu udah biasa dan kuterima apa adanya. Terlebih setelah paham kalau kecantikan itu bukan soal fisik semata. #eh 😂😂😂
.
.
Ini soal iritasi kulit. Sebagai orang yang nggak pernah neko neko pakai skin care, sungguh merasa kaget saat ujug ujug kulit di area dagu panas, pecah pecah, dan menghitam. Memang sih cuaca sedang ekstrim di sini. Banyak yang tidak kuat dengan efek dinginnya Ada yang pusing, ada yang wajahnya penuh bintik merah. Bagiku yang sudah sekian lama berdamai dengan musim dingin saja masih kena efek yang tak terduga. .
.
Sudah mencoba berbagai cream untuk mengatasi iritasi tapi belum terlihat hasilnya sampai dua minggu. Masih terasa perih dan bengkak tuh wajah. Jujur galaau bangeet. Biar bagaimana pun, sebagai wanita tetap merasa nggak pede kalau wajah kita belang gitu. nggak rela saja. 😛😛
.
.
Sampai suatu hari ketemu teman dan menyarankan untuk pakai cuka apel. Dan taraaaa...setelah seminggu mencoba sarannya, udah kelihatan banget perbedaannya, khan? Masih ada sedikit sisanya, tapi so far udah nggak bikin daku galaau lagi. Hahaha...
.
.
Ternyata untuk perawatan  bahan bahan alami tetap cocok dan pas buat daku yang memang nggak suka pakai kosmetik ini. Bagi yang memiliki problem flek hitam atau bekas jerawat, bisa dicoba ya. Untuk hasilnya bisa berbeda bagi setiap individu. Selamat mencoba...😀😀😀

Caranya: Cuka apel satu sendok makan ditambah air satu sendok makan. Bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Perbandingannya 1:1.

Celupkan kapas ke campuran cuka apel dan air tadi, terus tempelkan pada bagian yang diinginkan.

Diamkan selama 10 menit. Bilas pakai air hangat.

Saya pakai sehari dua kali. Terima kasih. 🙏🙏😀😀
.
#catatanfas
#bahanalami
#cukaapel

Titik Awal Perubahan Penampilan

Jumat, 26 Januari 2018

Pakai gamis? oh tidaaak!  Sepertinya pakai gamis itu bukan diriku bangeet deh. Boro boro pakai gamis, pakai rok saja nggak pantes. 😛😛😂😂

Iyaa..begitu pemikiranku dulu. So, meskipun ada banyak model gamis bersliweran di beranda ya cuek saja. Blaas nggak ngaruh. Dan semua berubah sejak setahun terakhir. Ternyata bener yaa...kalau sudah waktunya segala sesuatu itu bisa berubah, siapa saja bisa hijrah. 💕💕💕

Tepatnya setelah daku tahu sosok teh Dinii Fitriyah Dinifi. Jika kebanyakan orang kenal produknya dulu  baru mencari tahu siapa ownernya, daku kebalikannya. Lebih tahu dulu sosok tangguh ini karena bergabung di komunitas IIDN, Ibu Ibu Doyan Nulis dan #TNB18  yang foundernya juga perempuan inspiratif owner #Indscript. Teh Indari Mastuti. Berawal dari membaca kisahnya yang dimuat di Emakpintar.asia, daku penasaran dengan produknya yang baru launching langsung laku 2000 pcs.

Dengan jurus SKSD, daku inbox teh Dinii dan melamar jadi marketer. Asli nekat banget. Maaf ya, Teh. 🙏🙏🙏
Alasanku nekat dan pengin jadi bagian dari Mouza sederhana, "Produk yang dikerjakan oleh seseorang yang sudah mengalami perjalanan hidup yang luar biasa pasti memiliki nilai spiritual tinggi  karena dikerjakan dengan penuh cinta dan niat yang sudah pasti istimewa."

Pesanku diterima dan dibalas dengan cepat oleh beliau. Sesuai prosedur akhirnya daku digabungkan dengan para marketer wilayah jatim di bawah CSO Mbak  Pipit Uminya Stevin. Eh, hari ini kita pas setahun bertemu ya, mbak. 😘😘😀

Dan sejak bergabung dengan group #sahabatgriyamouza perjalananku sebagai Bakuler produk Mouza Dinifii menemukan dan mendapatkan rejeki yang tak ternilai. Bukan hanya bertambahnya pendapatan, seiring bakulan produk Mouza bertambah sedulur, pengalaman, ilmu, dan kebahagiaan. Alhamdulillah...berkah..berkah...💖💖💖

Terima kasih Teh Dini,  Mak Cicik Rosida, mbak Pipit, dan terutama untuk suami yang sudah memberikan ijin, ridho, dan  kepercayaan atas usahaku. Tak lupa terima kasih buat keluarga dan sedulur sedulur yang senantiasa setia menunggu produk baru dari Mouza. Tanpa kaliaan apalah apaalah artinya daku. 😘😘😘🙏🙏😀😀😀

#fasgallery
#yourhijrahstory
#miladmouza
#BanggaPakeMouza

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS