Pages

Adil atau Tidak Adil Itu Hanya Persepsi Semata

Senin, 23 Juli 2018

Seringkali kita menyangka hidup ini tidak adil saat realita berbeda dengan definisi adil yang kita ketahui yakni, sama rata. Keadilan Tuhan dan keadilan menurut kita  ( ternyata ) tidaklah sama. Keadilan itu banyak dimensinya. Saat ukuran kita tak bekerja, mau tak mau kita harus mencari dan menemukan dimensi lain untuk menjawabnya.

Sebagai orang jawa kita pasti mengenal, "Wong nandur bakalé ngundhuh atau Becik katitik ala ketara." Keadilan menurut falsafah ini mengajarkan bahwa keadilan yang sebenarnya, menurut hukum dan ketentuan-Nya tidak berlaku serta merta. Melainkan membutuhkan waktu untuk membuktikannya demi menguji kesabaran dan keyakinan kita.

Semisal, saat seseorang menyakiti kita, kalo menuruti emosi, kita ingin sekali orang itu juga merasakan dan mendapatkan balasan yang sama. Tetapi harapan itu kadang tidak terjadi dan malah menambah kecewa, bukan?  Lain cerita apabila kita  mengejawantahkan pesan sakit hati ( kegagalan ) yang kita terima itu sebagai cara Tuhan memberi kita kesempatan untuk mengeluarkan kualitas terbaik kita sebagai manusia untuk mendapatkan hal-hal berharga yang selama ini kita harapkan. Respon kita pasti berbeda. Kita akan memiliki energi dan tujuan yang lebih pasti sehingga lupa akan sakit hati. Pada suatu titik kita menyadari bahwa keikhlasan kita untuk memaafkan dan menerima dibalas dengan kehidupan yang lebih baik oleh-Nya.  Bahkan, kita akan berterimakasih padanya karena sudah memberi kesempatan untuk belajar menggali dan menemukan  kualitas terbaik kehidupan dan kekuatan batin.

Di titik ini kita akhirnya sadar bahwasanya tidak semua keadaan bisa dihadapi dengan logika karena yang tidak kita ketahui jauh lebih banyak ketimbang pengetahuan manusia yang hanya setitik debu. Terkadang, keadaan yang kita labeli ketidakadilan atau penderitaan   adalah jalan terindah yang Tuhan berikan agar kita mampu menyelami lebih dalam akan makna keyakinan, keberanian, ketulusan, dan kepekaan.

Tugas kita hanya belajar dan terus belajar meskipun seringkali salah, banyak kekurangan, khilaf; semua bukan alasan untuk berhenti untuk terus belajar  nandur dan gembira dalam perjalanan. Karena hidup adalah proses berkesinambungan untuk menjaga keseimbangan antara hati, pikiran  keadaan dan kehendak-Nya.
#catatanfas

Menjadi Manusia

Rabu, 18 Juli 2018

Waktu kecil cita cita Kresna ingin  jadi polisi. Terus dari kelas 3 SD cita citanya sederhana. Ingin jadi manusia. 😂😂😂 Jadi manusia yang bermanfaat bagi semesta maksudnya. 💝💝💝💝
.
.

Sebenarnya kalau dipikir lebih dalam, jadi manusia itu tidak mudah lho. Selama belum bisa memanusiakan manusia, menggunakan akal dan pikiran secara seimbang,  mampu bertenggang rasa, memiliki empati, dan berguna  belum pantas kita menyebut diri sebagai manusia seutuhnya.

Entah dari mana ide menjadi manusia itu muncul di benaknya.  Nah, pas kebetulan, percakapan tentang cita citanya waktu itu  muncul di kenangan FB. 😍😍😍
.
. 👩:"Kalau besar nanti kamu mau jadi apa, Kis?"
👱:"Jadi manusia. Emang mau jadi apalagi, Buk?"
👩: "Bukannya kamu dulu pingin jadi polisi?"
👱: "Enakan jadi manusia, Buk. Bisa bebas kapan mau makan, minum, main. Kalau polisi kan nggak?"
👩: "Alasan lainnya?"
👱: "Hmmm...kalau polisi itu manusia. Tapi, kalau manusia kan tidak hanya polisi."
👩: Iya, ya. Jadi, kalau gula itu manis, yang manis belum tentu gula, ya?"
👱: "Ya iyalah, Buk. Permen, roti, es krim, juga manis..."
( ndlongop dengar logikanya) 👩: Emang dari mana kamu tahu?"
👱: "Kan merasakan, masa nggak tahu?"
#skakmat! 😀😀
.
.
Meskipun tidak pernah ada yang final dalam hidup ini, Nak, tetaplah bercita cita jadi manusia yang baik. Teruslah jadi cahaya kebaikan bagi semesta. Kresna Nur Ikhsan. 💖💖💖💖💖
#catatanfas
#spiritoflife
#findingtruehappiness
#anaklanang

Sekolah Unggulan Bukan Jaminan Masa Depan

Kamis, 12 Juli 2018

Sebagian orang tua meyakini bahwasanya dengan memasukkan anaknya ke sekolah unggulan masa depannya akan terjamin dan cerah. Sementara sebagai orang tua Daku malah sangat santai akan hal ini.

Pas Kresna mau masuk SD dulu, ada sekolah baru yang konon sangat bagus kualitasnya. Saat itu Kresna kutanya, mau nggak masuk ke sekolah itu? Dengan tegas dia menolak. Yowes. Tidak perlu memaksakan kehendak, kalau dia maunya sekolah di SD negeri kampung kami ya nggak masalah. Yang penting dia bisa menikmati masa-masa sekolahnya dengan riang gembira tanpa perlu dibebani dengan banyak PR yang tanpa disadari menyita hak anak untuk tetap menjadi kanak-kanak yang menurut Pakne salah satu kebutuhan mendasarnya adalah bermain.

Pasti bukan tanpa sebab mengapa Daku begitu santai. Jadi begini, dulu pas lulus SD orang tua memintaku melanjutkan  sekolah di kecamatan saja karena mayoritas anak-anak dari desa kami sekolah di sana termasuk mbakku. Dan dengan tegas Daku menolak. Pokoknya kalau nggak sekolah di sekolah paling the best di Ponorogo nggak mau sekolah. Emang dasar keras kepala. 😀😀😛😛

Sampai hari terakhir pendaftaran akhirnya Ibuk luluh dan mengijinkan untuk sekolah di sana. Sekolah yang mayoritas muridnya anak-anak orang kaya, pinter dari seluruh penjuru daerah Ponorogo.  Bahkan teman sekelasku dulu anak pak Bupati. Bisa dibayangkan, kan, betapa cah ndeso ini seperti orang yang masuk hutan belantara, lebih lebih dari kampungku cuman sendirian.  Demi apa coba Daku ngeyel masuk ke sana selain karena merasa pengin disebut unggul juga? Pencitraan banget ya, 😛😛padahal realitanya sejak kelas satu sampai kelas tiga prestasiku biasa biasa saja.  Secara memang bangga banget sih masuk sekolah yang sampai sekarang masih debes itu.  😂😂

Nah, lulus dari sana pilihan masuk sma unggulan juga terbuka dan pilihanku jatuh pada sma negeri yang kualitasnya debes juga. Pas penjurusan masuk kelas fisika entah karena alasan apa. Paling gurunya pas khilaf kali ya? 😄😄karena setelah masuk kelas fisika mata pelajaran yang kusuka hanya dua,  kimia dan matematika.

Dan apakah kedua sekolah unggulan tadi jadi jaminan masa depan? Jawabannya tidak. Yang lebih menjamin masa depan kalau dilihat dari sisi mapan atau tidak mapan ya warisan dan pekerjaan. 😂😂😛😛*peaace

Sebaliknya, kalau masa depan anak-anak biar sesuai dengan kehendak-Nya, jaminan utama mereka adalah keikhlasan orang tua menerima apa pun pilihan hidupnya. Tidak memaksa mereka menjadi atau berprestasi demi gengsi karena setiap anak terlahir dengan maksud dan tujuan yang berbeda. Sekolah unggulan atau bukan, yang terpenting anak menikmati proses belajarnya. Toh belajar itu sepanjang hayat dan di mana pun bisa jadi ruang belajarnya?
#catatanfas

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS