Pages

Prioritas Dan Komitmen Dalam Pernikahan

Kamis, 25 April 2019

"Cinta selalu menemukan cara untuk memaafkan, berbagi, dan menerima keadaan apa adanya agar syalalalala sepanjang masa." #fas

Dalam melakukan apa pun kita mesti paham apa tujuan dan prioritasnya. Dengan memahami keduanya saat keadaan memaksa untuk memilih, kita tidak akan dilema terlalu lama. Semisal, saat harus memilih antara kepentingan pribadi atau orangtua/saudara/orang lain yang sangat membutuhkan.

Bagi yang prioritas hidupnya untuk nandur dan bermanfaat bagi liyan, pasti nggak pakai mikir lama mana yang harus dikedepankan.

Nah, bagi yang sudah berumah tangga, prioritas juga mesti dibicarakan atau diputuskan bersama. Maka dari itu mengapa komitmen perlu dibuat dan mesti diperbaharui saat dirasa tidak berjalan dengan semestinya. Harus selalu ada komunikasi yang bersinergi agar kedua belah pihak ( suami isteri ) sama sama ridho agar enteng dalam menyikapi resiko dari keputusan yang diambil. Jangan sampai hanya prioritas sendiri yang dikedepankan, tanpa mau memahami dan menjaga perasaan pasangan. Kalo yang begini namanya egois.

Komitmen bukanlah janji yang kita buat di depan penghulu. Yang kita ucapkan saat itu baru janji. Komitmen baru hadir setelah dalam perjalanan kita menghadapi keadaan demi keadaan yang tidak sesuai harapan.

Faktor yang meruntuhkan komitmen adalah:

1. Persepsi
Banyak yang menyangka pernikahan adalah puncak sebuah hubungan. Maka banyak yang menurun setelah janji diucapkan. Realitanya Pernikahan adalah awal dari perjalanan yang panjang.

2. Mitos pernikahan
Banyak orang yang mengira setelah menikah mereka medapatkan kado yang di dalamnya terdapat cinta, perhatian, keintiman, kasih sayang, dan hal-hal yang kita impikan. Sejatinya, pernikahan adalah kotak kosong yang harus kita isi dengan cinta, perhatian, keintiman selama perjalanannya.

Banyak orang setelah menikah sekian tahun saling menemukan ketidakcocokan yang membuat keduanya saling salah paham. Saat situasi seperti ini kita mesti memahami apa penyebabnya. Penyebabnya adalah tak ada laginya kedekatan emosi di antara keduanya. Kedekatan emosi hadir jika keduanya terus berlomba saling memberi perhatian, cinta, kepercayaan.

Godaan dalam pernikahan terjadi karena kita tak fokus. Maka hendaknya tak menyalahkan pihak luar saat hal ini terjadi. Semua mesti dikembalikan kepada diri sendiri dan mengakui ketidakmampuan dalam menjaga fokus dalam hubungan.

Bertumbuh bersama berarti mempersiapkan diri untuk mau menghadapi konflik demi konflik yang akan terus terjadi sepanjang pernikahan. Konflik adalah media untuk saling memahami di antara suami istri. Untuk meminimalisir konflik, sekecil apa pun unek-unek mesti dikeluarkan dan diselesaikan.

#catatanfas

Tidak ada komentar:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS